Hari berjalan sangat sibuk, membuatku lelah dan stuck, rasanya aku gaada ide untuk bikin konsep baru. Yang terbesit dalam otakku hanyalah menata halaman belakang dan membersihkan kolam diisi ikan-ikan. Musim hujan ini membuatku dingin dan ngantuk. Aku keatas mencari teman-teman, dan ternyata hanya ada Ambar yang rebahan di kamar.
"Mbar, kemana anak-anak yang lain?". Tanyaku.
" Loh, mereka pamit tadi kamu gatau?. mereka kan lagi ke kota sebelah untuk survey". Kata Ambar menjelaskan sambil main game di hp.
"Iyakah? Kok aku gatau yaa kapan mereka berangkatnya. keknya aku terlalu serius". Jawabku lemas.
"Tadi juga aku kerumah bu Hartanti minta izin untuk mengecat ulang rumah ini, tapi gabole katanya, minta cuma area kantor pun gabole. Kesal banget aku dah, ngapain juga dilarang, harusnya bersyukur yakan rumahnya jadi fresh tanpa keluarin duit". Ucap Ambar cerita dengan kesal nya.
"Ya emang aku rasa seperti terlalu muram ruangan bawah untuk dijadikan kantor, kurang hidup bikin aku gapunya inspirasi".
"Yaa maka dari itu si Toby minta aku sama Roy buat nemuin bu Hartanti. Beliau juga mau keluar kota mau nemuin anaknya yang sakit". Kata Ambar mengeluh.
Telfon berbunyi Toby telfon Ambar mencariku kenapa aku tak mengangkat telfon. Aku lupa hpku ada dibawah. Toby mengingatkan agar aku dan Ambar pulang jika sudah waktunya pulang. Jangan menginap di basecamp jika tidak rame-rame. Tapi karna hujan aku dan Ambar malas untuk pulang. Toby marah-marah dan ingin kami pulang lalu dijawab ketus oleh Ambar.
Kami berdua ke dapur membuat nasi goreng, tak lama ada yang mengetuk pintu, ternyata Gendhis anak kos sebelah. Kami makan nasi goreng bertiga. Gendhis kemari karna wifi di kosnya gabisa jadi minta wifi rumah ini karna ada tugas yang akan dia kerjakan.
"Kak, makasih ya nasi gorengnya enak. Gendhis lanjut bikin tugas dulu". Kata Gendhis senang.
"Iya santai aja ndis, kerjain aja tugasnya. aku mau keluar bentar yaa Bapakku ngechat katanya ada sodaraku datang dan minta aku nemuin dirumah". Kataku siap-siap sambil pamit pulang.
"Okey ca, pake aja mantelku. Kalau kemalaman gausa balik kesini. Nanti kalau terang aku pulang kok keknya". Ucap Ambar.
Aku yang cuek dan tak pedulian ini sedikit khawatir Ambar dirumah sendiri, tapi ada Gendhis harusnya tak jadi masalahkan. Aku juga gaperna ngobrol banyak sama Gendhis, dia dari mana dan sekolah dimana. Akhirnya aku terpaksa pulang hujan-hujan. Sambil mikir enaknya saudaraku ini dibelikan makan apa.
Sesampainya di rumah, aku senang sekali karna bertemu keponakan bayi yang belum aku temui padahal aku sudah membelikan kado, tapi belum sempat dikirim. Saking asyiknya aku lupa kabari Ambar, mungkin Ambar sudah pulang. Karna saudaraku menginap aku juga tetap dirumah ngobrol sampai malam.
Pagi buta Roy menelepon tapi tak kujawab karna aku sudah tertidur lelap. Ternyata banyak sekali chat dari anak-anak. Mereka semua bingung karna Ambar menginap sendirian dibasecamp. Aku pun sontak kaget, seingatku Ambar bilang akan pulang jika hujan reda, dan hujan reda itu saat aku sampai dirumahku. Harusnya dia pulang. Tapi aku juga heran, kenapa anak-anak harus khawatir. Rumah itukan aman saja. Lalu aku telfon Ambar tapi tak di angkat lalu ku telfon Roy.
"Halo Roy, dimana?". Kataku bertanya.
"Di jalan mau ke basecamp. Toby dan Ana khawatir ngeyel suruh aku kesana karna aku yang paling deket". Jawab Roy ngantuk.
"Emangnya ada apa?". Tanyaku penasaran.
"Ana di chat sama anak bu Hartanti, katanya lebih baik jangan dirumah sendirian kasian".
"Lah, emang mereka saling kenal? aku aja gaperna ketemu anaknya. Mungkin dibasecamp bareng gendhis kali". Jawabku.
Aku menutup telepon dan charge hp ku ku tinggal mandi dan bermain bersama keponakan sampai waktu berangkat kerja datang. Ternyata Toby menjemputku, menatapku tajam sambil mengomel panjang lebar. Toby ini benar-benar cerewet sekali jadi laki-laki, over protective banget. Aku hanya mengiyakan saja semua omelanya.
Sebelum kami ke basecamp, kami mampir ke pos pak Widyo karna pak Widyo memanggil.
Kata pak Widyo lampu teras rumah kemaren mati, apa lupa tidak di nyalakan. Dan aku menjawab kemarin semua sudah nyala, apa lampunya yang harus diganti ya. Pak Widyo menyarankan agar lampu selalu nyala saja, terutama tempat-tempat seperti kamar mandi, halaman belakang atau tempat yang kurang cahaya. Toby langsung mengiyakan, katanya karna rumah ini sudah lama tidak di tinggali.
Kami berdua langsung bergegas ke basecamp. Terlihat mobil Roy diparkiran. Kami langsung masuk memanggil mereka berdua, ternyata mereka ada dikamar Ambar. Ambar terluka karna jatuh dari tangga saat dia ingin menganti bohlam lampu. Tanganya tergores dan sudah di perban oleh Roy.
"Aku merinisiatif menganti sendiri, karna aku takut gelap, eh malah jatuh. Karna aku takut gelap dan semalam itu listrik mati, aku jadi ketakutan sampai ketiduran, batrai hpku mati. Aku hanya diam di kamar". Ucap Ambar menceritakan kejadian semalam.
"Astaga kan aku udah bilang, waktunya pulang tuh pulang. Ini sih kalau bebal, lain kali kalo aku sama Roy gak nginep, para wanita gak boleh nginep". Tegas Toby memperingati.
"Aku akan memanggil tukang listrik karna hanya rumah ini yang kongslet, dan membeli wallpaper mempercantik area kerja. Karna akan ada client yang meeting di kantor, sebaiknya kita mempunyai kesan baik dengan perbaiki interior dan lebih baik Ambar aku anter pulang aja dulu". Kata Roy menengahi.
Tak lama Ana dan Kris datang dan sedih mendengarkan cerita kami tentang Ambar.
Laras datang, anak pertama bu Hartanti. Memberitahu kalau kami harus berhati-hati jangan sampai sendirian. Kami memutuskan untuk jalan-jalan keluar karna disini listriknya mati. Karna aku ingin makan ice cream akhirnya kami berempat ke gelato ice cream sambil banyak ngobrol masalah kerjaan, tak ada satu pun yang membahas tentang basecamp.
Roy mengirimkan chat di grup kalau listrik sudah nyala, akhirnya kami kembali ke basecamp dan membantu Roy memasang wallpaper dinding. Setelah beberapa jam akhirnya selesai juga. Hasilnya sangat cantik dan estetik tak lagi kuno dan horror. Rasanya sangat senang. Aku kembali ke meja kerjaku mengerjakan tugasku yang sudah aku list harusnya selesai hari ini yang ternyata tak sesuai.
Roy dan Kris keluar untuk mencetak bahan. Toby dan Ana didapur masak. Hanya aku dan pc ku yang masih bergelut sampai mata merah. Aku tak dengar apa yang dibicarakan Toby dan Ana, tapi pembicaraan mereka sepertinya serius, mengingat Toby yang suka becanda dan selalu ada tawa. Bau terasi sangat tajam membuatku batuk-batuk yang aku pikir mereka membuat sambal terasi, saat ku hampiri mereka tidak masak sambal. Mereka hanya membuat tahu isi. Ini aneh gak mungkin indra penciumanku gak berfungsi. Saat aku ingin bertanya lebih lanjut aku merasa seperti Ana mengalihkan pembicaraan dan mengajakku bersantai di teras sambil makan tahu isi.
Tapi entah mengapa badanku terasa sangat pegal. Apa mungkin aku terlalu banyak duduk depan pc, atau kurang air putih. kaki ku biru-biru, pergelangan tanganku juga, apakah aku butuh jamu pegal linu. Toby langsung mengajakku keluar membeli koyo dan mengantarku pulang. Kata Toby aku kurang air jadi baiknya aku merefreshkan diri dirumah. Sedangkan Toby kembali ke kantor.
Ada satu hal yang tak aku ceritakan pada anak-anak, kalau hari ini aku seperti melihat diriku sendiri tersenyum tipis didepan cermin kamar mandi bawah, sedangkan aku hanya tak berekspresi, aku langsung sadar apa yang terlihat ketika aku keluar kamar mandi. Ini aku yang kelelahan atau memang ada sesuatu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 227 Episodes
Comments