"Kirana, kamu mau creambath?" tanya Aurora. Mereka kini berada di salon.
Selepas kepergian Abah dan Ambu, Aurora mengajak Kirana ke salon langganannya. Aurora ingin menghibur Kirana yang sedih karena berpisah dengan orang tuanya, dan juga batal bulan madu.
"Hm ... Kirana menemani Mamah aja." Kirana bingung, pasalnya dia tidak punya uang untuk creambath. Bintang tidak memberinya uang sama sekali, uang Kirana sudah menipis. Dia juga belum bayar kosan.
Kirana jadi teringat kamar kosnya yang sudah ditinggalkan berhari-hari, pasti kotor sekali. Dia harus menghemat uangnya, gajihan masih lama.
"Kok, menemani doang? Kamu juga harus ikutan creambath dan lulur. Sekalian merapikan rambut biar tambah cetar."
Aurora meminta perawatan lengkap untuk Kirana dan dirinya. Kirana benar-benar dimanjakan.
Tiga jam lebih Kirana dan Aurora melakukan perawatan. Kini penampilan Kirana sudah sangat berbeda. Kirana pun merasa tubuhnya lebih relax dan segar.
Pantas saja orang kaya selalu ingin ke salon, ternyata memang membuat badan enak. Kalau ada uang Kirana pun ingin kembali melakukan perawatan.
Kirana sangat malu karena semua dibiayai oleh mamah mertuanya. Uangnya tidak cukup untuk membayar biaya perawatan. Dia hanya bawa uang tiga ratus ribu rupiah, sedangkan harga l perawatan satu orang enam ratus ribu.
"Bagaimana, Kirana rasanya?" tanya Aurora.
"Segar Mah, badan Kirana rasanya relaks, tapi Kirana malu karena di bayarin Mamah. Nanti kalau Kirana gajian, gantian Kirana yang traktir Mamah, ya."
"Boleh, Mamah tunggu." Aurora tersenyum. Sebenarnya dia tidak perlu di traktir Kirana, toh dia juga ikhlas mentraktir Kirana. Dia ingin menikmati kebersamaannya dengan sang menantu.
Aurora sengaja mengiyakan, agar Kirana tidak merasa malu dan tidak enak hati padanya.
"Apa, Bintang tidak memberi uang pada istrinya? Awas itu anak masa masalah seperti ini saja harus di ingatkan! Dia harusnya mengerti kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Lihat saja nanti kalau pulang!" batin Aurora.
"Kirana, Mamah kok jadi lapar. Kita makan yuk!" ajak Aurora.
Kirana melihat jam tangannya. "Pantas Mamah lapar sekarang sudah siang, sudah pukul satu siang."
"Ah, iya benar. Yuk kita ke restoran langganan Mamah."
"Kita ... kita .... ayo Mah." Meski sempat ragu, Kirana akhirnya mau ikut mertuanya. Awalnya Kirana ingin mengajak Aurora ke tempat makan biasa di pinggir jalan. Namun, Kirana sangsi jika beliau mau makan di warung sederhana.
***
Mereka masuk ke dalam sebuah restoran yang besar. Banyak orang yang makan di sini. Seorang pelayan mengantar mereka ke sebuah meja yang kosong.
Saat berjalan, baju Kirana tersangkut di sebuah kursi. Dia membenarkan bajunya. Pada saat yang bersamaan datang pelayan membawa pesanan pelanggan, Kirana tidak mengetahuinya.
Saat dia membetulkan bajunya tangannya tanpa sengaja menyenggol nampan yang berisi makanan. Sehingga makanan tersebut jatuh berhamburan dan tumpah mengenai seorang pelanggan yang sedang duduk dekat Kirana.
"Aa ... ****, apa ini?" Suara seorang wanita berteriak marah melihat bajunya yang mahal ternoda makanan.
Dia lalu berdiri. "Kamu, panggil manager kamu ke sini! Kamu harus ganti rugi pakaian saya. Ini harganya dua tahun gaji kamu tahu!"
"Maaf, Nona." Pelayan ituketakutan.
Kirana yang merasa bersalah, langsung menyela mereka. "Maaf, Nona. Pelayan ini tidak bersalah. Ini semua salah saya. Saya akan mengganti semuanya. Maafkan saya."
Kirana mengaku bersalah dan membungkukkan sedikit badannya. Aurora ingin melihat bagaimana Kirana mengatasi semuanya. Dia akan turun tangan jika Kirana sudah terdesak.
Kirana adalah istri seorang Bintang Orion, dia harus bisa mengatasi masalah-masalah yang mungkin akan tejadi.
"Kamu, jadi kamu orang yang harus bertanggung jawab untuk semua ini." Wanita cantik itu menatap Kirana, dia menelisik dari bawah ke atas penampilan Kirana.
"Apa kamu sanggup membayar ganti rugi baju saya? Baju kamu saja terlihat murahan." Wanita itu tersenyum miring meremehkan Kirana.
"Saya, sanggup. Saya bukan orang yang lari dari tanggung jawab, saya akan ganti meskipun saya harus berkerja siang dan malam."
"Hm ... kamu yakin sekali, kamu tahu berapa harga gaun saya ini? Dua milyar."
Mata Kirana terbelalak, baju apa harganya dua miliar? Apa bajunya bisa terbang kaya Superman, atau anti peluru, apa keistimewaan gaun itu. Kirana melihatnya biasa saja. Sungguh orang kaya kelakuannya aneh-aneh.
"Dua miliar? Saya sanggup!" Kirana berkata dengan yakin. Namun, hatinya bingung bagaimana dia membayarnya.
"Oke, saya minta nomer telepon kamu. Saya akan kirim no rekening saya."
"Nyonya, maaf ini salah saya juga."
Pelayan tadi meminta maaf, pada Kirana. Dia juga merasa bersalah karena sebenarnya, dia yang tidak memegang nampan itu dengan benar. Senggolan tangan Kirana tidaklah kencang.
"Tidak apa-apa Mas. Sebaiknya Mas bereskan saja, kekacauan ini sebelum Mas ditegur," ucap Kirana seraya mengambil ponsel dalam tasnya.
"Ini," Kirana kemudian memberikan ponsel jadulnya pada Wanita sexy itu.
"Hahahaha ... ponselmu saja seperti ini, tapi gayamu mau mengganti baju saya. Kau menjual diri pun kau tidak akan sanggup membayarnya!" Wanita itu tertawa melihat ponsel Kirana yang hanya seharga empat ratus ribu rupiah.
Aurora geram mendengar perkataan wanita itu yang sangat merendahkan Kirana. Dia lalu mendekati wanita itu dan ....
Plak
Aurora menamparnya. "Jaga ucapanmu!" tunjuk Aurora pada wanita itu. Namun wanita itu menepis tangan Aurora yang menunjuknya.
"Anda yang harus menjaga sikap Anda, dasar nenek tua. Anda tidak tahu siapa saya! Saya ini anak pengusaha nomer satu dan juga calon istri dari keluarga Orion."
"Orion?" tanya Aurora. Apakah Bintang ada hubungannya dengan wanita ini.
"Anda pasti terkejut mendengarnya. Saya adalah kekasih Bintang Orion." Dia berkata dengan bangga dan sombong.
Aurora melirik Kirana, wajah Kirana tersenyum, entah bagaimana hatinya?
"Ada apa ini?" tanya seseorang. Aurora dan Kirana sangat mengenal suara ini.
"Sayang, lihat wanita ini sudah mengotori pakaianku." Wanita itu langsung mendekati Alkana.
Alkana melotot tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mamah dan istrinya ada di sini. Dia menyingkirkan tangan wanita itu yang memegang lengannya.
"Oh, jadi ini pekerjaan penting itu. Bagus ya. Lihat saja Tuan apa yang akan saya lakukan" Aurora marah, sangat marah pada Bintang. Anak yang sangat dia banggakan, tapi kini telah membuat hatinya kecewa dan hancur.
Aurora melihat Kirana. "Ayo sayang kita pergi dari sini. Maafkan Mamah Kiran. Mamah gagal mendidik anak Mamah." Aurora kemudian menarik tangan Kirana keluar dari tempat itu.
...----------------...
Alhamdulillah sudah 20 bab. Doakan semoga semuanya lancar. Terima kasih readers, ini semua karena kalian sejuta cinta untuk Kalian..❤️❤️❤️😘😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kinan Rosa
owowow ternyata benar apa kata Ambu
hai wanita cantik jangan kira kamu menang ya karena kamu telah salah orang
dan kamu pak bintang awas aja kamu ya pasti akan aku balas semua itu 😎😎
dasar orang kaya gak ada akhlak lo
2023-02-10
0
Purwanti San
baru simak ceritanya
2022-12-15
0