Acara pernikahan selesai sehabis isya. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kamar Bintang yang sudah di dekor menjadi kamar pengantin. Kirana merasa lelah dan gerah.
Kirana segera masuk ke kamar mandi dan hendak membuka baju. Namun dia mengalami kesulitan. Kirana kembali keluar dari kamar mandi.
"Pak, Maaf. Kiran minta tolong bukain resleting belakang baju Kirana," pinta Kirana sambil membelakangi Bintang yang sedang duduk di sofa.
Bintang menurunkan resleting baju Kirana perlahan. Tangan Bintang menyentuh kulit Kirana. Kirana merasa tubuhnya berdesir. Dia seketika menjadi canggung dan malu.
Wajah Kirana berubah menjadi merah. Bintang sendiri merasa canggung. Tubuhnya bereaksi karena bersentuhan dengan kulit punggung Kirana yang halus.
Kirana segera berlari ke kamar mandi setelah dirasa resletingnya cukup terbuka. "Makasih Pak." Kirana berteriak sambil menutup pintu kamar mandi.
Bintang segera duduk dan menghembuskan nafas lewat mulutnya. Dia mengipasi wajahnya yang juga merah, dengan tangannya. "Kenapa jadi gugup begini ya?" tanya Bintang pada dirinya sendiri.
Bintang menyalakan TV untuk mengalihkan pikirannya. Setengah jam kemudian Kirana keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan handuk yang dililitkan pada tubuhnya.
Namun, handuknya hanya menutupi sebatas dada sampai paha. Kirana lupa membawa baju ganti. Mata Bintang tak lepas dari Kirana.
Bintang menelan ludahnya melihat Kirana. Siapa yang tidak tergoda melihat sesuatu yang indah? Bintang juga seorang laki-laki, apalagi Kirana sudah sah menjadi istrinya.
Pikiran liar Bintang mulai berkelana. Dia terus memperhatikan Kiran yang sedang mencari pakainnya di lemari. "Pak, kok pakaian Kiran nggak ada ya? Belum di pindahin dari kamar, ya?"
Bintang tidak menjawab, dia sedang terpesona oleh Kirana. "Pak, bagaimana ini? Kiran pakai apa, dong?" tanya Kiran lagi.
Merasa tidak ada jawaban, Kirana melihat ke arah Bintang. "Pak, kok bengong? Baju Kiran gimana ini?"
Kirana tidak menyadari, jika dirinya menjadi objek fantasi liar Bintang. Kirana mendekati Bintang. "Pak, kenapa mukanya begitu, keringatan begini." Kirana menyentuh dahi Bintang dan mengusap keringatnya.
Bintang memegang tangan Kirana. Mereka saling tatap, Bintang kemudian perlahan mendekatkan wajahnya. Kirana menelan ludahnya dengan susah payah agar tidak terdengar Bintang.
Hampir saja mereka semakin dekat, Kirana langsung berlari dan mengambil asal pakaian dari lemari. Kirana lalu ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
Bintang mengipasi wajahnya dengan tangan, lalu membuka jasnya. Dia melempar jas itu ke sofa. Bintang lalu membuka kancing kemejanya satu per satu.
Pintu kamar mandi terbuka, Kirana keluar memakai kemeja Bintang tanpa bawahan. Kemeja itu kebesaran di tubuh Kirana sampai menutupi setengah pahanya. Kirana semakin terlihat sexy di mata Bintang.
Kirana segera berlari ke tempat tidur dan berbaring. Dia menutupi tubuhnya sampai leher dengan selimut. Sementara Bintang segera ke kamar mandi, sebelum pikirannya semakin liar dan menerjang Kirana.
"Aduh, semoga aja Pak Bintang, tidak menganggap aku menggodanya. Aku benar-benar lupa kalau pakai handuk doang. Udah gitu nggak ada pakaianku, terpaksa aku pakai aja yang ada di lemari." gumam Kirana pelan.
Dia lalu menutup kepalanya dengan selimut. "lebih baik aku segera tidur saja."
Kirana memejamkan matanya, tak lama kemudian dia membuka selimut yang menutupi wajahnya. "Huh, aku nggak bisa nafas."
Pintu kamar mandi terbuka, Kirana segera menutup mata. Namun jantungnya berdetak cepat. Bintang lupa membawa handuk.
Dia keluar kamar mandi dan mengambil handuk di lemari, kemudian kembali masuk kamar mandi, sekilas dia melihat ke arah Kirana yang pura-pura tidur. Terlihat bola matanya yang bergerak ke kanan dan kiri.
Bintang tersenyum, dan masuk kamar mandi. Kirana membuka mata kemudian merubah posisinya menjadi membelakangi kamar mandi. Kini posisinya lebih santai, dia dapat relax dan memejamkan mata kembali.
***
Pagi ini adalah hari pertamanya sebagai menantu di rumah ini. Kirana sedang memasak sarapan di bantu Bibi, asisten rumah tangga Bintang. Setelah sholat subuh tadi Kirana segera turun ke dapur.
Ambu datang ke dapur. "Loh, Kiran! Kamu kok sudah turun. Sudah sholat kamu nak?" tanya Ambu.
"Sudah Mbu."
"Kok rambutnya nggak basah?"
"Ya, 'kan aku kan nggak keramas jadi tidak basah."
"Kenapa nggak keramas."
"Kan sudah semalam sebelum tidur aku keramas. Nanti aku pusing keramas terus."
"Nggak apa-apa, dari pada suami kamu yang pusing atas bawah, kan kasihan."
"Hah, atas bawah gimana maksudnya, Ambu?" tanya Kirana bingung.
Bibi hanya tersenyum menahan tawanya. "Tuh, Bibi aja ngerti, senyum-senyum. Masa kamu nggak ngerti?"
"Ngerti apa Mbu?"
"Cape, deh! Tanya Bibi aja. Ambu mau masak."
"Ih ... Ambu orang aku nggak ngerti juga. Bi ... Bibi ngerti maksud Ambu?"
Bibi hanya menggaruk kepalanya. "Anu .. Nya, itu ... eh Ambu biar saya yang iris bawangnya." Bibi mengambil alih pisau yang di pegang Ambu.
Bibi lebih memilih menghindar. Dia bingung mau menjawab apa. Rasanya malu kalau harus membahas masalah itu dengan Nyonya barunya.
"Ih ... kalian bikin penasaran aja. Buatin nanti aku tanya sama Pak Bintang."
"Nih, cuci kangkungnya. mulut bicara tapi tangannya juga kerja. Kalau nggak mau bantuin nggak usah ke dapur." Ambu memberikan beberapa ikat kangkung pada Kirana.
"Dih ... yang pertama ke dapur 'kan Kirana. Berarti Kirana yang mau masak. Eh Ambu datang bikin bingung Kiran." Kirana protes, tapi tangannya membuka ikatan kangkung dan memetik daun kangkung.
"Kiran, kamu masih panggil 'Pak' sama suamimu?" tanya Ambu sambil memasukkan bawang merah yang sudah di iris ke dalam wajan berisi minyak panas.
"Iya, Mbu. Kirana bingung mau manggil apa?" jawab Kirana hidungnya menghirup wangi bawang goreng. Ah dia suka sekali di dapur bila Ambu sedang masak. Wanginya menggugah selera.
"Iya, tapi kamu harus rubah, kecuali kalau kalian di kantor dan posisi kamu karyawan, baru kamu panggil Pak. Kalau di luar kantor panggilannya di rubah."
"Iya, nanti Kirana coba. Ini udah Bi tinggal di cuci." Kirana memberikan kangkung dalam wadah pada bibi.
Mereka memasak beberapa menu masakan. Setengah jam kemudian masakan sudah selesai. Jika dikerjakan bersama semua jadi cepat.
Bibi mencuci piring dan membereskan dapur bekas masak. Kirana dan Ambu menata makanan di meja makan.
"Hm ... wanginya sampai masuk ke dalam. Masak apa, nih?" tanya Aurora.
"Ah ... masakan biasa aja, Jeng."
"Maaf, ya Ambu, saya baru turun. Biasanya saya baru mulai masak jam segini. Tapi sekarang malah udah rapi."
"Iya, Jeng nggak apa- apa. Saya biasa masak pagi- pagi. Maaf loh Jeng, dapurnya saya acak- acak."
"Nggak apa- apa."
"Ini mau ngobrol atau sarapan? Papah udah lapar nih Mah!" Galaksi protes pada istrinya yang terus mengajak ngobrol besan.
"Kirana, sayang, panggil suamimu. Dia kalau belum dipanggil nggak bakal turun."
"Iya, Mah."
Kirana segera beranjak memanggil suaminya.
...-------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Safni Mardesi
double up dong thoor...
2022-08-06
1