Kirana membuka kamarnya, dia melihat Bintang sedang memakai kaos. "Hp ... A, di panggil Mamah. Sudah di tunggu sarapan."
Kirana ingin manggil Pak, tapi tidak jadi. Dia teringat pesan Ambu untuk membiaskan diri pada suaminya, jadi Kirana putuskan memanggilnya Aa. Bintang justru merasa aneh dipanggil Aa, sebab ini baru pertama kali ada yang memanggilnya Aa.
"Iya, aku sudah rapi. Yuk." Bintang sudah selesai menyisir rambut lalu menghampiri Kirana. Dia menggandeng tangannya, dan keluar kamar.
"Aduh, penganten baru jalannya aja gandengan, udah kaya mau nyebrang aja."
Aurora menggoda Bintang dan Kirana, membuat Kirana malu dan menarik tangannya dari gandengan Bintang. Dia lalu bergegas duduk di samping Ambu. Bintang duduk di samping Kirana.
Mereka mulai sarapan bersama, Abah diminta oleh Galaksi untuk memimpin doa makan.
"Hm ... makanannya enak banget. Rasanya seperti makan di restoran," puji Galaksi.
"Benar Pah, Mamah sampai mau nambah lagi." Benar saja Aurora kembali menambah nasi dan lauk pauknya.
"Papah sekalian, Mah." Galaksi juga minta diambilkan nasi dan lauknya pada Aurora.
Ambu mencolek paha Kirana, membuat Kirana yang sedang makan, menoleh pada Ambu. Kemudian Ambu memberi kode pada Kirana dengan matanya untuk mengambilkan nasi buat suaminya.
Kirana menoleh pada Bintang. "A, mau nambah lagi." Bukan hanya Bintang yang menoleh tapi juga semua ikut menatap Kirana.
"Kenapa semua melihat Kirana?" tanya Kirana saat melihat semua menatapnya.
"Tidak apa-apa." Semua menjawab kompak lalu melanjutkan makannya.
"Aa, mau nambah nggak? Ditanya kok diam aja!" Ambu langsung mencubit paha Kirana.
"Aduh!" Kirana spontan menjerit.
"Yang sopan sama suami kamu!" bisik Ambu.
"Iya, iya." Kirana mengusap-usap pahanya yang dicubit Ambu.
"Ya Allah, cubitan Ambu dahsyat ih. Pasti langsung biru ini paha," batin Kirana.
"Aa ... mau nambah lagi?" tanya Kirana dengan suara yang lembut dan perlahan seperti putri Solo.
"Boleh, tapi banyakin kangkungnya."
"Iya, A."
Kirana mengambilkan nasi dan lauk pauknya, terutama Kangkung. Dia lalu memberikannya pada Bintang.
"Makasih."
"Bintang, kamu kapan mau bulan madu?" tanya Galaksi.
Uhuk ... uhuk ...
Kirana terbatuk mendengar pertanyaan Papah mertuanya.
"Kamu kenapa? Kalau makan pelan-pelan. Nih minum."
Bintang mengambilkan minum untuk Kirana.
"Terima kasih." Kirana menerima minum dari Bintang.
"Nanti siang kami pergi bulan madu, Pah."
Uhuk ... uhuk ...
Kirana kembali terbatuk mendengar ucapan Bintang.
"Kamu kenapa, sih? Kalau dengar kata bulan madu jadi batuk?" tanya Ambu.
"Kirana nggak apa-apa. Cuma keselek aja."
"Keselek, kok sampai berkali-kali!" Ambu menggoda Kirana.
"Kalian mau bulan madu di mana?" tanya Aurora.
"Di Korea aja Mah. Yang dekat aja dulu. Nanti lain kali baru ke Eropa." Bintang menjawab.
"A, bagaimana kalau di Indonesia aja? Aku belum pernah ke mana-mana selain Jakarta doang.
"Kamu, nggak mau keluar negeri?"
"Nggak A, di Indonesia aja, ya?"
"Iya deh." Bintang akhirnya setuju.
"Kemana pun kalian pergi, semoga nanti kalian pulang bawa oleh-oleh spesial."
"Amin, semoga Allah mengabulkan doa Mamah."
"Mamah, memangnya minta apa? Nanti biar Kirana ingatkan Aa."
Aurora senyam-senyum. "Mamah, minta cucu."
Uhuk ... uhuk ...
Kirana kembali batuk dahsyat kali ini dia benar-benar keselek ludah. Ambu sampai menepuk-nepuk punggung Kirana. Bintang dengan cepat mengambil minum.
"Minum dulu." Kirana pun minum, tapi tetap saja masih batuk.
"Duh, kamu itu sensitif sekali. Kirana. Nanti kalau kalian begitu, kamu juga batuk-batuk nggak ya?" Aurora membayangkannya.
Kirana sudah tidak sanggup lagi. Dia pun pamit dan pergi dari meja makan.
"Mamah kenapa, sih godain Kirana terus? Jadi ngambek kan." Galaksi menegur Aurora.
"Tidak apa-apa Pak Galaksi. Kirana nggak ngambek, dia cuma malu aja," ucap Abah.
"Bintang susul Kirana dulu."
Bintang pun pergi. Dia menaiki anak tangga satu per satu. menuju ke kamarnya.
Bintang membuka pintu kamarnya. Kirana sedang duduk di sofa. Bintang duduk di samping Kirana.
"Kamu, kenapa?"
"Kiran nggak apa-apa."
"Oh,"
"A, apa benar, kita mau ke Korea nanti siang?"
"Iya, saya suka di panggil Aa. Selama ini belum pernah ada yang manggil Aa."
"Kirana panggil Aa nya kalau di luar kantor aja ya. Kalau di kantor tetap Bapak."
"Iya."
"Sekarang kita packing dulu. Baju-baju yang mau di bawa untuk dua minggu."
"Oh, iya."
Kirana dan Bintang memilah pakaian yang mau di bawa. Untung saja tadi setelah sholat subuh Kirana memindahkan pakaian dari kamarnya ke kamar ini.
...---------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kinan Rosa
yah mama
gimana kalau Kiran batuk pas waktu ena ena kan gak lucu 🤣🤣🤣
2023-02-10
0