Orang tua Bintang sudah pulang, begitu juga dengan Bintang. Kini hanya ada Abah, Ambu dan Kirana.
Tangan Kirana saat ini sudah tidak diinfus lagi, Dokter bilang Kirana sudah baik-baik saja. Sebenarnya dia sudah minta pulang, tapi Bos Bintang yang terhormat dan keras kepala, tidak mengizinkan.
"Kiran, kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Abah.
"Iya, Bah."
"Abah tidak melarang kamu, Abah cuma takut kamu nanti menyesali pernikahan ini."
"Kiran juga tidak tahu bagaimana kedepannya? apakah Kiran akan bahagia atau menyesalinya? Hanya saja, Kiran merasa ini adalah yang terbaik."
"Kiran, kamu tidak harus melakukan ini. Kamu tidak usah takut untuk menolak biar nanti Ambu dan Abah yang akan bicara. Bintang yang bernazar bukan kamu. Jadi kamu tidak wajib untuk menikah." Ambu berpikir Kirana bersedia menikah karena merasa wajib melakukannya atau takut pada keluarga Bintang.
"Aku tahu Ambu, tapi menurut Kiran ini sudah ada yang mengaturnya yaitu Allah, tidak mungkin semua terjadi secara kebetulan. Semua sudah diatur. Kiran percaya itu. Mungkin Pak Bintang jodoh Kiran."
"Baiklah kami orang tua hanya bisa merestui keputusanmu, dan mendoakan agar kau selalu bahagia. Jika kau sudah yakin menjadikan dia suamimu, kau harus patuh padanya. Jangan seperti tadi selalu mendebatnya. Jadilah istri yang baik dan nurut sama suami, selama suami tidak berbuat dzalim padamu."
"Ingatkan suamimu jika dia melakukan kesalahan dengan cara yang baik. Hindari perdebatan yang akan berujung pertengkaran lebih baik mengalah." Abah memberi wejangan pada Kirana.
"Kiran, jangan pernah menceritakan masalah keluargamu pada siapa pun, sekali pun sahabatmu sendiri. Hati-hati pelakor kamu harus peka kalau ada wanita yang ingin menggoda suamimu, langsung singkirkan jangan didiamkan."
"Ambu." Abah menegur Ambu.
"Ih ... kenapa Bah? Suami Kiran itu kan cakep, terus kaya, pasti banyak yang mau sama dia, tidak perduli dia sudah punya istri. Sebagai seorang istri kita yang harus pandai menghalau mereka."
"Iya, Ambu benar, walaupun aku belum mencintainya tapi aku tidak mau ada pelakor nyempil di hubungan kami. Udah kaya upil aja."
"Iya, benar upil mah di buang aja."
"Abah kadang nggak paham omongan wanita. Abah mau tidur saja." Abah pun merebahkan tubuhnya di sofa yang empuk dan besar.
"Ih, si Abah mah begitu." Kirana terkekeh melihat Ambu dan Abahnya.
"Eh, Kiran, kamu pulang besok kan ya?"
"Iya, Ambu."
"Kalau begitu, kami juga pulang besok. Ambu akan ke tempatmu sebentar, buat beres-beres. Terus langsung pulang. Kasihan Abah kan nggak bisa masuk ke kosan kamu?"
"Ya, padahal Kiran masih kangen. Ambu nggak usah beres-beres kosan Kiran, nanti cape."
"Iya, Ambu mampir sebentar aja."
"Ih, bukan begitu. Mau nginep juga nggak apa-apa."
"Iya, Ambu tahu. Sayangnya kami nggak bisa. Sawah nggak bisa ditinggal lama-lama."
"Ya, udah. Sekarang Ambu tidur di sini saja aku. kasurnya besar kok."
"Iya." Ambu naik ke atas tempat tidur Kiran. Langsung Kiran memeluk Ambu.
"Kaya anak kecil aja," ucap Ambu sambil memeluk Kiran dan menguap punggungnya lembut.
"Kamu sudah besar nak. Ambu masih ingat saat pertama menggendongmu, pertama menyusuimu, pertama mendengar suaramu, pertama melihatmu berjalan, sepertinya baru kemarin ibu mengantarmu sekolah TK. Waktu cepat berlalu, kamu sudah mau menikah. Ibu bahagia tapi juga sedih."
Tidak ada tanggapan dari Kirana. Ambu melihat wajah Kirana, ternyata Kirana sudah tidur. Ambu tersenyum.
"Tidurlah yang nyenyak, selamat bermimpi indah." Ambu mencium kening Kirana dan memejamkan matanya.
Pintu ruangan Kirana terbuka, masuklah Bintang lalu menutup pintu kembali. Dia melihat Kirana yang tidur berpelukan dengan Ambu, sedangkan Abah tidur di sofa.
Bintang melihat jam di tangannya, sudah pukul sebelas malam. Bintang kemudian menyimpan kantong plastik berisi donat di atas meja.
Dia duduk di sofa sebrang Abah. Bintang menatap Kirana, pikirannya melayang berputar mengingat apa yang telah terjadi padanya.
Dia juga memikirkan keputusannya menikahi Kirana. Sesungguhnya Bintang merasa tersentuh saat mendengar Papahnya cerita bagaimana seorang Kirana menolongnya.
Dia yakin Kirana adalah wanita yang dipilihkan oleh Tuhan untuknya. Hidupnya sangat keras, banyak orang licik di sekitar mereka. Banyak yang mengharapkan kematiannya.
Dulu dia tidak ingin menikah, karena dia tahu keluarganya pasti akan terancam. Menikah hanya akan menjadi beban baginya dan istrinya kelak.
Namun, begitu mendengar kisah Kirana, pikiran itu berubah. Dia ingin menikahi Kirana karena dia yakin Kirana adalah wanita yang kuat. Dia wanita pilihan. Dia yakin mereka akan bahagia.
Bintang bersandar di sofa. Dia memutuskan akan menikah secepatnya, kalau perlu besok. Dia tidak ingin menundanya takut Kirana akan berubah pikiran. Tak terasa mata Bintang terpejam, di sambut kegelapan.
***
Dokter membolehkan Kirana pulang. Bintang sudah menyelesaikan administrasinya. Abah tadinya akan membayarnya, tapi Bintang melarang.
Bintang mengajak mereka pulang ke rumah Bintang.
"Kenapa, ke rumah Pak Bintang?"
"Karena besok kita menikah."
"Apa!" Kompak Kirana, Abah, Ambu terkejut.
"Bapak kebiasaan, ih!Memutuskan sesuatu tanpa tanya dulu sama Kiran. Bapak anggap Kiran ini apa? Nanti kalau sudah menikah, Kiran nggak mau seperti ini lagi. Semua harus diputuskan berdua."
"Iya, saya cuma tidak mau merepotkan kamu dan keluarga. Biar ini urusan pihak lelaki. Kamu tahu beres."
"Apa tidak terlalu cepat, nak?" tanya Abah.
"Tidak, Bah. Malah tadinya saya mau hari ini, tapi mengingat Kirana baru keluar dari rumah sakit jadi besok saja."
"Tapi nak pernikahan itu butuh banyak persiapan. Kirana adalah anak Ambu satu-satunya, Ambu ingin melakukan tahap-tahapan nikah sesuai adat."
"Begini saja, besok kita akad di rumahku dan syukuran dengan warga sekitar dan karyawan kantor. Nanti kita adakan resepsi di kampung Kirana. Bagaimana Ambu."
"Baiklah, Ambu setuju jika Kirana setuju."
"Ambu, boleh nggak kalau tidak usah ada acara adat hanya pengajian dan resepsi saja," pinta Kiran pada Ambu.
"Baiklah terserah kamu, yang penting harus ada resepsi di kampung biar semua tahu kalau kamu sudah menikah, jadi tidak ada fitnah." Ambu mengalah untuk Kirana.
"Iya, Ambu."
"Ayo, Abah, Ambu kita pulang sekarang." Bintang mengajak mereka pulang. Bintang berjalan lebih dulu sambil menenteng tas milik Abah dan Ambu juga Kirana.
"Nak Bintang, biar tasnya Abah yang bawa."
"Tidak, Abah. Biar Bintang saja." Bintang bicara sambil menarik tangan Kirana pelan agar berjalan di sisinya.
"Sini, biar aku bawa sebagian." Kirana mengambil tasnya.
"Biar, aku saja."
"Jangan berdebat cuma gara-gara tas ya! Biar aku yang bawa!" ucap Kirana tegas.
Bintang mengalah dan tidak berdebat lagi. Mereka berjalan ke lobi rumah sakit.
"Kamu tunggu di sini sama Abah dan Ambu, saya ambil mobil dulu." Bintang lalu pergi ke parkiran.
"Kiran, nanti kalau sudah menikah panggilan kalian di rubah. Masa ngomong sama suami istri sendiri formal banget! Yang satu panggil Bapak, yang satu saya kamu. Duh, kalian itu nggak ada manis-manisnya, kalah sama Abah dan Ambu."
"Ya, kan udah biasa begitu Ambu."
"Ya dirubahlah. Kedengarannya itu kaku nggak enak."
"Iya Ambu."
"Nanti juga mereka akan beradaptasi Mbu. Seperti kita dulu, kamu aja setelah menikah panggil Abah, nama bukan Abah. Setelah di tegur Amah baru berubah."
Ambu mencubit pinggang Abah, bisa-bisanya Abah mengungkit itu di depan Kirana, membuat harga dirinya jatuh.
"Aduh ... kenapa Abah dicubit?" Ambu melotot pada Abah.
"Ambu, ketahuan lebih parah dari Kiran. Mending Kiran panggilnya Bapak." Kirana terkekeh menggoda Ambunya.
Mobil pun datang. Bintang turun dan membukakan pintu untuk Abah dan Ambu di belakang. Kiran Akang masuk tapi langsung di tarik Bintang.
"Tempat kamu di samping saya," bisik Bintang pada Kiran, lalu membukakan pintu depan untuk Kiran.
Setelah semua masuk. Bintang berjalan ke pintu pengemudi, lalu dia membukanya dan masuk. Tak lama mobil pun menyala dan bergerak melaju menuju masa depan eh menuju rumah Bintang.
...-------...
Author ingin mengucapkan terima kasih banyak sudah membaca cerita author dan memberi komen.. 😭😭 Author sangat terharu, sambutan kalian.
Terima kasih banyak like, komen dan hadiahnya .Terima kasih sudah di masukkan ke dalam cerita favorit kalian. 🙏🙏🥰🥰 ikuti terus ya kisah Kirana dan Bintang.
❤️❤️❤️ Love You All ❤️❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
X'tine
karya othor,bagus gak bertele2 dan panjang konfliknya..JD bacanya lancar2 aja...dan asyikkk 👍
2023-07-04
0
Kinan Rosa
wah si bapak gercep ooi
takutnya ada yang nikung🤣🤣
2023-02-04
0
Nurmalia Irma
maklum kaku laah ambu kan tadinya boss sama og
2023-01-31
0