Saat ini Bintang dan Kirana sedang bersiap-siap untuk berangkat bulan madu. Suara telepon Bintang berdering.
Bintang mengangkatnya. Dia sedikit menjauh dari Kirana. Bintang diam dan hanya mendengarkan. "Baiklah, saya akan ke sana sebentar lagi." Bintang lalu menutup telponnya.
"Kirana, maafkan saya. Sepertinya kita batal berangkat hari ini." Dengan perasaan bersalah Bintang mengatakannya pada Kirana.
Kirana berhenti memasukkan pakaian ke dalam koper. Dia melihat ke arah Bintang. "Oh, nggak apa-apa A, Kirana kan nggak minta bulan madu."
Kirana lalu mengeluarkan kembali pakaian dari koper dan merapikannya kembali ke dalam koper. Bintang sungguh merasa tidak enak. Memang dia yang mengajak Kirana bulan madu, tapi justru dia yang membatalkan.
"Ada urusan penting di kantor, dan urusan ini tidak bisa di wakili. Aku harus menanganinya segera." Bintang menjelaskan pada Kirana, hal yang membuatnya batal bulan madu.
"Iya, A. Mau Kirana siapkan pakaian Aa buat ke kantor."
"Tidak usah. Kamu pasti lelah. Buat aku sendiri yang siapkan." Bintang mengganti bajunya dengan pakaian kerja.
"Ya, sudah," ucap Kirana. Walaupun dia memang tidak meminta bulan madu. Namun, hatinya sedikit sedih gagal bulan madu.
Kirana tidak pernah keluar kota, dia senang akan berwisata keliling Indonesia. Ternyata semuanya gagal. Memang kita jangan terlalu antusias akan sesuatu. Jika gagal kecewanya tidak ada lawan.
Kirana menyembunyikan kekecewaannya dengan tersenyum, dia sudah selesai merapikan baju. Kirana menatap Bintang yang bercermin. Bintang memang tampan, dengan jas dan dasinya. Pasti banyak wanita yang ingin merebut hatinya.
"Hey, Kirana?" Bintang memanggil Kirana.
"Apa?" tanya Kirana.
"Kenapa?" tanya Bintang.
"Apanya?" tanya Kirana.
"Kenapa, kamu tersenyum gitu lihat saya?"
"Tersenyum apa?"
"Ada yang lucu sama penampilan saya?"
"Nggak, biasa aja."
"Terus kenapa senyum?"
"Senyum apa, sih? Perasaan dari tadi biasa aja, aneh banget."
"Nggak, dari tadi saya lihat kamu senyum, kok!"
"Astagfirullah!" Kirana menepuk dahinya.
"Katanya mau ke kantor. Sana, gih berangkat. Sudah siang ini!" Kirana jengah dengan Bintang.
Bintang melihat jam tangannya. "Tolong ambilkan tas kerjaku!" Bintang menyuruh Kirana, seraya kembali bercermin. Takutnya ada yang aneh pada penampilannya.
"Ini," ucap Kirana, tangannya terulur memberikan tas kerja Bintang.
"Aku, pergi dulu. Baik-baik dirumah." Bintang lalu beranjak pergi keluar kamar.
Kirana mengikutinya. Para orang tua yang berada di ruang keluarga, melihat ke arah Bintang dan Kirana.
"Kok, kalian? Bintang mau ke mana? Kirana belum ganti baju?" tanya Aurora pada mereka.
"Bintang mau ke kantor ada urusan penting."
"Kamu ini bagaimana, sih? Kalian kan mau bulan madu. Kok, malah kerja?"
"Tidak apa-apa, Mah. Kerja lebih penting. Bulan madu bisa kapan-kapan, tidak pergi juga tidak apa-apa," ucap Kirana.
"Kalau begiu, kapan Mamah punya cucu."
"Kalau masalah itu, di rumah juga bisa."
"Masalah apa, A?"
"Sudah, sana kamu berangkat nanti terlambat!"
Galaksi menyela Kirana. Bintang pamit pada semua orang. Dia berjalan keluar diikuti Kirana.
"A," panggil Kirana.
Bintang berhenti dan berbalik. "Apa?"
Kirana mendekat, lalu mengambil tangan Bintang dan menciumnya. Bintang tertegun sesaat lalu dia mencium kening Kirana.
Bintang kembali berjalan dia memakai sepatunya, kemudian melangkah ke mobil.
Setelah mobil tidak terlihat, Kirana Kembali masuk ke dalam. Dia bergabung dengan Mamah, Papah, Ambu dan Abah.
"Pak Galaksi, sepertinya saya dan istri harus kembali ke kampung sekarang. Sawah saya sudah terlalu lama di tinggalkan."
"Sebenarnya, saya ingin kalian tinggal lebih lama. Tapi, memang susah kalau kita punya tanggung jawab pekerjaan."
"Betul, Pak Galaksi."
"Biar, nanti diantar supir saya sampai rumah."
"Tidak usah Pak, nanti merepotkan. Biar kami naik bus saja."
"Jangan menolak. Kalian sekarang adalah keluarga kami, tidak ada yang direpotkan." Galaksi menepuk bahu Abah.
"Iya, Pak. Terima kasih banyak. Sekarang kami akan siap- siap dulu." Ambu langsung menarik suaminya ke kamar.
"Kirana, maafkan Bintang ya, bulan madu kalian batal. Bintang malah pergi ke kantor."
"Tidak, apa-apa Mah, Kiran mengerti. Pak Bintang adalah CEO, tanggung jawabnya besar."
"Terima kasih. Sebagai gantinya biar kamu nggak jenuh kita ke salon yuk. Mamah selalu membayangkan pergi ke salon, menghabiskan waktu dengan menantu Mamah."
"Iya, Mah. Sekarang Kirana izin ke kamar dulu. Mau bantu Abah dan Ambu."
"Iya, silahkan sayang."
Kirana pergi ke kamar orang tuanya. Dia melihat Ambu dan Abah sedang memasukkan pakaian ke dalam tas. Kirana lalu menghampiri mereka.
"Abah, Ambu, kenapa pulang sekarang?" Kirana sedih harus berpisah kembali dengan mereka.
Apalagi saat ini status Kirana baru menikah, dia juga tinggal di rumah mertuanya. Rasanya sangat canggung dan bingung. Dia butuh orang tuanya untuk membimbing dia.
"Maaf, sayang. Kami harus pulang. Abah tidak bisa lama-lama meninggalkan sawah dan rumah." Abah menjelaskan pada Kirana. Dia tahu kalau Kirana merasa sedih.
"Iya, Kiran. Walau Abah sudah menitipkan sawah pada tetangga, tetap saja mereka juga ada sawah sendiri yang harus mereka urus." Ambu menambahkan.
"Terus, Kiran bagaimana? Di sini sendirian. Kiran 'kan takut."
"Takut kenapa?" tanya Ambu, seraya menutup resleting tasnya.
"Ya, ini kan hubungan yang baru, keluarga baru, dan Kiran merasa canggung aja, takut bikin salah, bikin malu." Ambu menarik tangan Kiran agar duduk di sampingnya.
"Dengar, ya sayang. Ambu mengerti kegelisahan kamu. Jadilah diri kamu sendiri. Ikuti apa kata hatimu. Mereka orang-orang baik kok. Kamu harus nurut sama suami, menghormati suami kamu."
"Nak, orang tua Bintang kini juga orang tuamu. Kamu juga harus berbakti pada mereka. Sayangi mereka seperti kamu menyayangi Ambu dan Abah. Hormati mereka, kamu juga berkewajiban menjaga nama baik keluarga ini, berpikirlah sebelum berkata dan bertindak." Abah menasehati Kirana.
"Jangan sampai, apa yang kau katakan dan kau lakukan menyakiti hati mereka, merusak nama baik keluarga ini. Abah dan Ambu akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu." Abah membelai rambut Kirana.
Kirana meneteskan air mata. Jari lentiknya kemudian menghapus air mata yang terjatuh di pipinya.
"Iya, Abah, Ambu. Kirana akan selalu ingat nasihat Abah dan Ambu. Kirana minta doanya untuk kebahagiaan Kirana." Kirana lalu memeluk Abah dan kembali terisak.
"Pasti sayang. Tanpa diminta orang tua akan selalu mendoakan kebahagiaan anaknya." Abah menepuk-nepuk punggung Kirana. Kirana kemudian melepaskan pelukannya lalu menghapus air matanya.
"Abah juga jaga diri baik-baik. Jangan terlalu memaksakan diri jika lelah, Ambu juga. kalian harus ingat umur. Kalian harus janji Jika ada apa-apa telepon Kirana."
"Iya, kami tahu, kami sudah tua! Nggak perlu diingatkan." Ambu cemberut, sementara Kirana terkekeh.
"Kiran, ingat pesan Ambu. Kamu jangan seratus persen percaya pada siapa pun. Termasuk suamimu. Bukannya Ambu mengajarkan suudzon tapi waspada itu perlu. Jangan biarkan pelakor masuk rumah tangga kamu."
"Ambu, kenapa bilang begitu sama Kiran?"
"Harus Abah, ini tuh penting. Ambu berkaca pada pengalaman sendiri."
"Abah pernah selingkuh?" Mata Kiran melotot tak percaya menatap Abahnya.
"Demi Allah, Abah nggak pernah selingkuh. Cinta Abah cuma buat Ambu." Abah langsung menyangkalnya.
"Bukan Abah yang selingkuh, tapi para pelakor yang berdatangan mengetuk pintu. Untung Abah tidak pernah membukakan pintu buat wanita manapun. Ambu juga menghalau mereka dengan jurus-jurus yang buat mereka mental dan kapok."
"Oh, Kiran bangga sama Abah." Kirana memeluk Abahnya.
"Kiran, janji ya kalau ada apa-apa telepon sama Ambu."
"Hus, jangan ikut campur urusan keluarga mereka. Sebagian orang tua kita hanya mendukung mereka dan mengawasi serta mendoakan saja. Biarkan mereka mengurus rumah tangganya sendiri."
"Iya, Abah." Ambu bangkit dan mengambil tas tangannya.
"Yuk, Kita berangkat sekarang."
Semua turun ke bawah, menemui Galaksi dan Aurora.
...-------...
Terima kasih sudah membaca cerita Kirana. Terus ikuti kisahnya, semoga kalian suka.. Maaf masih banyak Typo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kinan Rosa
,🤣🤣🤣🤣 ternyata orang yang kayak aku itu juga ada di novel ya
seperti Ambu yang selalu memberikan saran untuk tidak terlalu percaya pada orang lain dan suami cuma batas menghormati
sebab takut kena rayuan gombal dan bisa di bohongin
maka datang lagi si pelakor 🤣🤣🤣
bila suami sudah berbohong 🙈
2023-02-10
0