Mereka sampai di kantor masih pagi. Kirana segera keluar dari mobil. Dia takut kalau di lihat temannya yang lain, mereka bisa salah paham.
"Tuh anak malah main pergi aja. Ck ... kenapa, juga aku perduli?" Bintang kemudian masuk ke dalam kantornya.
Bintang sudah sampai di depan ruangannya. "Pagi, Pak. Bapak sudah di tunggu di ruang rapat." Sekretaris Billy segera menghampiri Bosnya.
"Baik, Bil. Tunggu sebentar saya harus ambil berkas untuk rapat di dalam"
Bintang membuka pintunya dan segera menuju lemari yang dia kunci. Kemudian dia mengambil berkas penting, untuk rapat.
"Ayo, kita pergi sekarang."
"Baik, Pak."
Mereka pergi, menuju ke ruangan rapat. Beginilah jadi CEO, pekerjaannya banyak kadang dia rapat harus pagi atau malam. Kadang harus sampai lembut, sampai rumah pun dia masih harus bekerja.
Kalau ada yang bilang CEO itu enak, kerjaannya santai duitnya banyak, rasanya ingin dia sumpal mulutnya dengan berkas- berkas yang menumpuk.
***
Sementara itu Kiran, langsung pergi ke ruangannya di samping ruang kebersihan. Dia menyimpan tasnya, lalu dia pergi ke ruang kebersihan untuk mengambil peralatan tempurnya dan mulai bekerja.
Dia, membersihkan toilet setelah beres, Kirana lalu membersihkan tiap ruangan di lantai dasar. Semua pegawai mulai berdatangan. Satu jam kemudian pekerjaan Kirana selesai.
Dia bisa bersantai sejenak mengistirahatkan badannya sambil minum kopi. Kirana pergi ke pantry.
"Kirana, di panggil Pak Joko." Datang teman Kiran, Tesa.
"Iya, Tes. Makasih." Kirana segera pergi ke ruangan Pak Joko di lantai dua.
Sesampainya di depan ruangan Pak Joko. Kirana mengetuk pintu. "Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?"
"Iya Kirana, sini masuk."
"Ada apa, ya Pak." Kirana bertanya setelah dia masuk dan berdiri di dekat meja Pak Joko.
"Ini, seragam kamu yang baru. pakai ini dan ganti baju kamu yang kotor. Kerja di sini penampilan harus rapi dan bersih walaupun kamu OG."
"Hah, eh ... iya Pak. Terima kasih."
"Pak Ardi yang menyuruh saya memberi kamu seragam baru."
"Iya, Pak Maaf."
"Sekarang kamu antarkan minuman untuk semua yang rapat. Biar Pak Ardi lihat kalau saya sudah memberikan kamu seragam baru, cepat ganti baju dulu."
"I-iya Pak." Kirana keluar dari ruangan dengan wajah bingung. Dia lalu berganti baju di toilet dan bergegas ke pantry di lantai enam di mana rapat sedang di adakan.
Saat sampai di lantai 6, Kirana langsung menuju pantry. Di sana semua orang melihat Kirana. Setiap lantai ada OG yang bertugas, mereka bingung untuk apa Kirana datang ke lantai 6 sedangkan dia bertugas di lantai satu.
"Maaf, permisi saya di suruh Pak Joko ke sini untuk membantu membawa makanan ke ruang rapat." Kirana langsung menjelaskan tujuan kedatangannya.
Sebenarnya dia sedikit gugup, melihat tatapan mereka yang tidak bersahabat. Sungguh mereka kelihatannya tidak friendly sama sekali.
"Oh, sebentar saya telepon Pak Joko dulu." Seorang wanita lalu menghubungi Pak Joko lewat intercom.
Tidak lama kemudian dia tersenyum pada Kirana dan menghampirinya. "Sekarang kamu bantu saya bawakan ini." Wanita itu memberikan Kiran satu dus berisi kotak makanan snack.
Mereka berjalan menuju ruang rapat. Sesampainya di sana wanita itu membuka pintu secara perlahan. Kirana merasa gugup, dia tidak pernah berhadapan langsung dengan orang-orang penting di perusahaan.
Kirana mengikuti langkah wanita tadi. Kirana bertugas membawa dua itu dan wanita tadi yang menaruh makanan di meja.
Bintang memperhatikan Kirana. Dia melihat penampilan Kirana sudah lebih baik. Ada satu orang lagi yang menatap lekat pada Kirana.
Wanita itu sudah selesai, makanan di dalam dus sudah kosong. Kirana beranjak keluar. "Tunggu!" Wanita itu dan Kirana berhenti lalu membalikkan badan.
"Sepertinya saya pernah melihat kamu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya seorang pria paruh baya.
Kirana melihat pada Pria itu, hanya sejenak lalu dia kembali menunduk, Kirana takut dibilang tidak sopan.
Kirana ingat, Bapak itu adalah orang yang bertemu dengannya di rumah sakit. Pria itu yang memberikan kartu nama pada Abah.
Kirana tidak menjawab. "Ah, saya ingat." Pria itu kemudian menoleh pada Bintang. "Bintang! Dia adalah gadis yang Papah ceritakan sama kamu. Gadis yang luar biasa yang menolongmu."
"Benarkah? Oke, rapat kita tunda sebentar. Pah, Kirana, ayo kita bicara di ruangan saya." Bintang mengajak Kirana dan Papahnya ruangannya. Mereka harus bicarakan ini dengan serius.
***
Kini mereka berada di ruangan Bintang.
"Pah, benarkah dia adalah orang yang menolong saya?"
"Ya, dalam badanmu mengalir darahnya. Dia juga menggendongmu di punggungnya dan membawa kamu ke rumahnya yang berjarak lumayan jauh di malam hari. Bayangkan saja badan kamu yang besar ini di gendong dia yang badannya lebih kecil dari kamu."
"Kalau bukan karena dia kamu sudah mati." lanjut Papahnya Bintang.
"Kirana, benarkah apa yang Papah saya bilang?"
"Maaf, Pak. Pak Galaksi terlalu berlebihan. Saya pikir semua orang juga akan melakukan hal yang sama. Kebetulan saja saya yang menemukan Pak Bintang di selokan dalam perjalanan pulang."
"Kamu memang rendah hati, Kirana. Kalian bahkan menolak uang yang kuberikan, kamu juga tidak menghubungi saya. Padahal saya sudah bilang akan bantu kalian, apa pun jika kalian butuh Saya. Ini kamu kerja di sini saja saya tidak tahu."
"Maaf, Pak. Saya ingin berusaha sendiri. Bagi saya dan Abah, menolong sesama manusia itu kewajiban dan kami tidak mengharapkan balasan apa pun. Kamu ikhlas, Pak."
"Kamu dididik dengan baik, Kirana. Saya senang bertemu denganmu."
Bintang memperhatikan Kirana, untunglah orang yang menolong dirinya adalah Kirana, wanita baik hati, cantik juga mandiri.
"Pah, masih ingat apa yang saya katakan pada Papah?" tanya Bintang.
"Yang mana?" Galaksi bingung.
"Nazar saya."
"Oh, Papah ingat. Kamu serius akan melakukannya?"
"Iya, untunglah dia Kirana, gadis baik dan rendah hati."
"Tapi, apa dia mau?"
"Harus mau, karena saya sudah bernazar."
Kirana memperhatikan mereka, bagaimana mereka bisa membicarakan orang yang ada di hadapan mereka? Apa mereka pikir Kirana ini tidak kasat mata.
"Khem." Kirana berdehem untuk mengingatkan kalau dia ada di ruangan ini bersama mereka.
Bintang dan Galaksi menoleh pada Kirana. "Begini Kirana, saya ingin mengatakan sesuatu padamu." Bintang berkata seraya menatap mata Kirana
"Saya sudah bernazar, jika saya bertemu dengan penolong saya, saya akan menikahinya, Papah sebagai saksinya."
"Apa?" Kirana terkejut. Dia bahkan belum berpikiran untuk menikah. Dia hanya. ingin bekerja untuk merubah hidup keluarganya, agar lebih baik dan tidak direndahkan oleh orang lain.
"Maaf, Pak ... tapi saya belum mau menikah, saya ingin bekerja dan membahagiakan orang tua saya."
"Kamu, tidak bisa menolak Kirana! Saya sudah bernadzar, dan nadzar itu harus di laksanakan." Bintang berkata dengan tegas.
"Saya ingin menemui orang tua kamu, selain untuk berterima kasih, saya juga ingin melamar kamu. Sekarang saya harus rapat. Kita bertemu nanti sore. Ayo, Pah." Bintang segera pergi keluar bersama Galaksi, agar Kirana tidak membantah perkataannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kinan Rosa
yah bintang kamu mah memaksa namanya
nadar ya nadar tapi kan si cewek harus mikir dulu bang🙈🙈😕
2023-01-22
0