Kirana dan Bintang kini sedang berada dalam perjalanan mencari tempat makan siang.
Berkali- kali Bintang bertanya pada Kirana mau makan di mana tapi hanya di jawab terserah. Namun, saat Bintang berhenti di sebuah restoran atau cafe, Kirana tidak mau makan di tempat itu.
Kalau saja Kirana ini bukan calon istrinya, dia sudah tendang Kirana ke Kutub Utara. Dasar tipikal wanita ditanya jawabannya terserah, giliran sudah di tentukan nggak mau.
"Kirana, kira mau makan di mana? Kita sudah lama berkeliling tapi belum makan juga. Nanti keburu abis jam istirahatnya." Bintang mengingatkan.
Kirana sengaja ingin membuat Bintang kesal biar dia itu illfeel sama Kirana, lalu perlahan menjauh. Namun, Kirana merasa lapar.
Kirana punya ide, dia akan makan di pinggir jalan aja. Bintang pasti merasa jijik dan beranggapan kalau mereka ini tidak selevel.
"Kita makan di pinggir jalan aja, di mana saja terserah. Aku gak mau makan di restoran atau cafe, aku nggak nyaman aja."
"Oke, kita cari makan di pinggir jalan." Bintang melajukan mobilnya, netranya mencari pedagang yang berjualan di pinggir jalan.
Tak lama, Bintang menemukannya, warung soto ayam. Senyumnya pun terbit, "akhirnya makan juga" batin Bintang.
Mobil Bintang berhenti di tempat yang aman, tidak menggangu lalu lintas kendaraan. "Ayo, kita makan di sini." Bintang turun dan menunggu Kirana keluar dari mobil.
Kirana membuka seatbeltnya. "Kok, malah semangat. Gimana, sih? Harusnya dia kan illfeel." Kirana menggerutu, lalu keluar dari mobil.
"Ayo, sepertinya makanannya enak, yang belinya aja banyak." Bintang menggandeng tangan Kirana.
Kirana berjalan mengikuti Bintang. Memang banyak yang makan di sini. Mereka lalu duduk dan memesan soto ayam dua porsi.
Tidak seperti bayangan Kirana. Bukannya jijik Bintang justru makan dengan lahap, bahkan dia sampai menambah nasi dan soto ayam.
"Hm ... ini benar-benar enak Kirana. Ternyata makanan pinggir jalan tidak kalah rasanya sama makanan di restoran. Ini bakal jadi tempat favorit saya." Bintang sudah menghabiskan makanannya.
"Kamu, udah makannya. Kalau udah kita kembali ke kantor sekarang."
"Dari tadi juga aku mah udah. Aku kan lagi nungguin Bapak yang nambah porsi."
"Ya, udah yuk." Bintang dan Kirana berdiri.
"Bu, saya mau bayar." Bintang memberikan uang merah satu lembar.
"Iya, Mas. Sebentar kembaliannya."
"Nggak usah Bu. Ambil aja kembaliannya, makasih ya Bu."
"Makasih, Mas."
Bintang lalu pergi bersama Kirana. Mereka harus segera sampai ke kantor. "Kirana!" Seseorang memanggil Kirana saat Kirana dan Bintang membuka pintu mobil.
Mereka berdua menoleh pada sumber suara yang memanggil. Mata Kirana melotot, ternyata Jakarta itu sangat sempit. Buktinya dia bertemu dengan Ujang. Bagaimana bisa?
Bintang tidak jadi masuk ke dalam mobil, dia menutup pintu mobilnya dan menghampiri Kirana. Sementara itu Ujang juga mendekati Kirana.
"Kirana, Alhamdulillah Akang ketemu kamu. Memang jodoh tak akan ke mana." Ujang berkata sambil memegang tangan Kirana, senyumnya sangat lebar, wajahnya begitu sumringah.
Dia sudah putus asa mencari Kirana di kota besar, sudah satu minggu dia si Ibu Kota. Namun, tidak bertemu Kirana. Alamat rumahnya saja dia tidak tahu.
Abah dan Ambu, tidak mau memberikan alamatnya pada Ujang. Dengan modal nekat dan Bismillah, dia berangkat ke Jakarta.
Padahal Ujang sudah berniat, jika hari ini tidak bertemu Kirana dia akan pulang ke kampungnya.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Akhirnya mereka bertemu juga. "Akang, kok bisa ada di sini?" tanya Kirana takjub. Pasalnya, dari kemungkinan 1: 1.000.000 teryata Ujang adalah si satu itu.
"Iya, Akang sengaja mencari kamu, Akang sudah menolak perjodohan Akang dengan Karin, demi kamu."
Bintang melepaskan tangan Ujang dari Kirana. Matanya menyelidik penampilan Ujang. Wajah tampan tapi penampilannya norak, menurut Bintang. Apalagi kacamata hitam yang membingkai matanya, begitu besar.
"Kiran, kamu kenal lelaki ini?" tanya Bintang.
"Iya, dia teman Kiran di kampung."
"Saya bukan temannya, tapi calon suaminya!" Ujang meralat perkataan Kirana.
"Ih ... Akang ngaku-ngaku. Kiran kan nggak cinta Akang. Kita nggak ada hubungan apa pun."
"Kiran, Akang cinta sama kamu. Bahkan Akang rela kabur dari rumah cuma buat nyari kamu."
"Itu mah Akang aja, yang ngeyel. Kirana kan udah bilang kalau Kirana nggak mau nikah sama Akang."
"Tapi kenapa? Akang kurang apa, Kirana? Keluarga Akang kaya dan terpandang, Akang juga tampan, si Karin aja ngejar-ngejar Akang. Kamu harusnya bersyukur Akang cintanya sama kamu."
"Ih ... Akang narsis, Kirana udah punya orang yang Kirana cintai, dan Kirana akan menikah dengannya."
"Siapa, siapa orangnya? Ini, orangnya?" Ujang menunjuk Bintang tepat di depan mata Bintang.
Bintang menepis tangan Ujang. "Jaga ya tangannya, jangan kurang ajar!"
"Iya, dia calon suami Kirana. Kami akan menikah sebentar lagi. Jadi Akang jangan ganggu Kirana lagi. Akang menikah saja dengan Karin." Kirana memeluk lengan kiri Bintang.
"Kamu, dengar! Saya calon suaminya. Jadi sekarang kamu pergi, jangan ganggu calon istri saya. Ayo sayang kita ke kantor sekarang." Bintang membuka pintu mobil untuk Kirana.
Kirana masuk ke dalam mobil. "BTW ... thank you, bro." Bintang berterima kasih pada Ujang, sambil menepuk pundaknya, kemudian dia melangkah ke sisi lain mobilnya dan membuka pintu mobil.
Setelah masuk ke dalam dan menyalakan mobilnya, Bintang memijit klakson lalu pergi dari tempat itu.
"Kurang asem, sia-sia Akang ke Jakarta Kirana." Ujang menendang kaleng minuman kosong.
"Aw." Ternyata kaleng minuman itu, mengenai pejalan kaki yang sedang lewat.
"Aduh gawat, kena cewek."
***
"Pak, hm ... itu ... anu ... masalah tadi, jangan dianggap serius, aku cuma asal ngomong biar Ujang nggak gangguin lagi."
"Kamu tidak bisa menarik lagi kata-kata yang sudah kamu ucapkan. Jadi kita setuju akan segera menikah. Saya akan secepatnya mengatur waktu untuk menemui orang tua kamu." Pandangan Bintang fokus pada jalan raya.
Kirana memijit pelipisnya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana? Semua gara-gara Ujang. Kalau saja dia tidak bertemu Ujang, semua ini tidak akan terjadi.
Dalam hati Bintang sangat berterima kasih pada Ujang, karena dia, Kirana mengakuinya sebagai calon suami.
Sampailah mereka di parkiran kantor. Kirana segera turun, dan melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun. Kirana buru-buru pergi karena takut ada yang melihatnya.
Bintang menatap kepergian Kirana. Senyum tipis tersungging di wajahnya. Bintang menelepon kedua orang tuanya.
"Assalamualaikum, Mah, Pah."
"Waalaikumsalam, ada apa Bin?" Suara Papahnya terdengar.
"Kirana sudah setuju, lebih baik kita segera ke rumah orang tua Kirana, sebelum dia berubah pikiran."
"Benarkah? Mamah dan Papah sangat senang mendengarnya. Mamah akan siapkan semuanya. Bagaimana kalau lusa kita berangkat?"
"Iya, mah. Atur aja, ya udah Bintang tutup dulu teleponnya. Bintang mau kerja lagi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sambungan pun terputus. Bintang keluar dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam gedung kantornya.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Nurmalia Irma
bintang pinteeerrrr 😆
2023-01-31
0