Dua jam kemudian Bintang kembali ke rumah sakit. Kirana sangat bersyukur karena dia masih merasa canggung pada orang tua Bintang.
"Saya sudah menelepon orang tua kamu. Mereka sekarang sedang berada di jalan."
"Bapak, ih. Kenapa telepon orang tua saya? harusnya nggak usah. Saya juga baik-baik aja, sebentar lagi pulang. Saya tidak mau membuat mereka khawatir."
"Tidak apa-apa, sebelum saya telepon, mereka bilang perasaan mereka tidak enak. Namanya orang tua pasti merasakan jika terjadi sesuatu pada anaknya. Mereka langsung berangkat, mungkin sebentar lagi sampai."
"Makasih Pak." Bagaimana pun, dia berhutang pada Bintang. Kirana teringat sesuatu.
"Pak, maaf. Bisa pindah kamar tidak? Ini kamarnya kebesaran pasti mahal. Saya pilih yang satu kamar bertiga atau berlima aja Pak, ada 'kan Pak?"
"Iya, ada banyak! Tapi nggak bisa!"
"Kenapa, nggak bisa?"
"Masa calon istri saya di tempatkan di kelas tiga. Apa kata dunia? Yang paling penting, apa kata orang tua kamu nanti?"
"Perduli amat, apa kata dunia. Dunia aja tidak perduli apa kata saya. Kalau orang tua saya, mereka tidak akan berpikir macam-macam."
"Tidak bisa sayang. Kamu lihat, orang tuaku dan aku akan duduk di mana kalau kamu kelas tiga, belum lagi nanti ada orang tua kamu. Mareka akan beristirahat di mana?"
Kirana tidak mendengarkan perkataan Bintang. Setelah dia mendengar kata 'sayang' terucap dari bibir Bintang, Kirana menjadi malu, wajahnya bersemu merah. Dia menunduk.
"Kirana, dengar saya tidak?"
"Hah, apa Pak?"
"Huh, kamu itu mikirin apa, sih! Kirana dengar ya. Kita itu harus memikirkan orang yang akan menjenguk atau menemani kita di rumah sakit. Kalau mereka tidak nyaman, kasihan mereka."
"Iya, Bapak benar."
"Kalian ini, kok lucu banget, sih! Mamah jadi gemes liatnya, ya Pah?"
"Iya, tapi panggilannya kok masih Bapak?"
"Eh, iya tuh! Ganti dong yang mesra. Bintang aja panggil sayang."
Wajah Kirana kembali merona. Orang tua Bintang ada-ada saja.
***
Orang tua Kirana sudah sampai di rumah sakit. Mereka terkejut mendengar dari bagian informasi kalau kamar Kirana adalah kamar VIP no 2A.
Mereka pun berjalan menuju kamar VIP. "Abah, pasti mahal kamarnya. Nanti bagaimana kita membayar biaya rumah sakitnya?"
"Kita jual aja sawah, Bu."
"Ya, mau bagaimana lagi? Yang penting anak kita sehat."
"Lewat mana ini?" tanya Ambu bingung, ketika lewat persimpangan.
"Sini, Bu! Tuh ada petunjuknya."
"Oh ... iya benar?"
Mereka berjalan menyusuri rumah sakit. Ini adalah kali pertama mereka berkunjung ke rumah sakit ini. Jadi mereka sedikit bingung.
Sampailah mereka di kamar yang dituju. Mereka mengetuk pintu dan mengucap salam.
Seseorang membuka pintu dan melihat orang tua Kirana.
"Assalamualaikum, ini kamar Kirana, benar?"
"Oh, iya benar. Ini orang tuanya Kirana?"
"Iya," Ambu menjawab sambil tersenyum.
"Mari, silahkan masuk."
Orang tua Kirana masuk ke dalam, mereka merasa takjub dengan suasana kamar VIP yang besar. Ambu melihat Kirana yang berbaring di brankar dengan tangan di infus, bergegas menghampiri Kirana.
"Sayang, kenapa bisa begini?" Ambu membelai rambut Kirana.
"Ambu." Kirana langsung memeluk ambu dan menangis. Dia tidak tahu kenapa menangis, tapi rasanya begitu melihat ambu dia ingin menangis.
"Sudah, sayang. Malu, ih! Di lihatin tuh sama mereka." Ambu meledek Kirana, untuk menghentikan Kirana menangis.
"Apa, kabar sayang?" Abah menghampiri Kirana.
"Alhamdulillah baik Abah."
"Maaf, Pak. kenalkan saya Bintang." Bintang memperkenalkan diri.
"Sepertinya saya pernah melihat kamu, di mana ya?"
"Dia itu cowok yang kita tolong, Bah." Kirana memberi tahu.
"Iya, Benar. Abah ingat sekarang. Syukurlah kamu sudah sehat."
"Iya, Abah. Berkat Abah dan Kirana juga Ibu."
"Panggil saja Ambu." Ralat Ambu Kirana.
"Iya, Ambu. Mari silahkan duduk dulu," ucap Bintang. Abah dan Ambu kemudian duduk di sofa.
"Perkenalkan Ambu, Abah, nama saya Bintang Orion dan ini Mamah saya Aurora Orion, ini Papah saya Galaksi Orion."
"Kami orang tuanya Kirana."
"Begini Abah, Ambu saya ingin mengucapkan terimakasih pada Abah sekeluarga, karena telah menolong saya waktu itu. Saya merasa sangat bersyukur dan sebagai rasa syukur saya, setelah sembuh saya bernazar."
"Nazar apa,Nak?" tanya Abah.
"Saya bernazar jika saya kembali bertemu dengan penolong saya, saya akan menikahinya."
Suasana mendadak hening, tidak ada yang mengeluarkan suara. Orang tua Kirana bengong melihat Bintang. Mereka terkejut mendengar nazar Bintang.
"Khem." Abah tersadar dan berdehem.
"Kalau Abah tidak salah dengar, tadi kamu bilang bernazar menikahi Kirana?"
"Iya, Bah. Abah tidak salah dengar. Saya saksinya waktu Bintang mengucapkan nazar itu,." Galaksi menjawab pertanyaan Abah.
"Tapi, Pak ... saya mengerti nazar itu harus dilaksanakan, tapi ini masalah pernikahan, ikatan seumur hidup. Apakah mereka akan bahagia jika menikah karena nazar?"
"Insyaallah, kami akan bahagia. Niat saya adalah menunaikan ibadah dan janji saya. Bukan berarti saya tidak mencintai Kirana. Saya rasa cinta akan datang setelah kita saling mencintai dan hidup bersama."
"Tapi, Pak. Lihat!" Kirana menyela Bintang dan menunjuk dirinya.
"saya berada di sini sekarang, karena mereka tidak menyukai saya bersama Bapak. Apalagi jika mereka tahu saya menikah dengan Bapak, saya bisa-bisa dianiaya."
"Kamu tidak usah khawatir, setelah menikah kamu tidak usah bekerja dan orang-orang yang telah menyiksa kamu sudah dilaporkan ke polisi. Sekarang mereka buronan polisi."
"Bagus, deh. Tapi Pak saya tidak mau berhenti bekerja."
"Itu berarti kamu setuju nak, menikah dengan Bintang? Alhamdulillah."
"Eh ... bukan, aduh gimana ini? Maksud saya ... nggak tahu ah!" Kirana menyadari kesalahannya, perkataanya memang seperti dia menerima Bintang. Padahal dia hanya berandai-andai dan membicarakan hal-hal yang memberatkan dan dia bisa menolak pernikahan itu.
"Abah bagaimana? Anak-anak sudah setuju, apakah Abah merestui mereka?"
"Kirana, kamu setuju nak."
"Baik, saya setuju tapi dengan syarat!" Kirana mau tak mau setuju. Namun dia akan mengajukan persyaratan pada Bintang. Dia tidak ingin berhenti bekerja.
Hubungannya dengan Bintang belum pasti. Bagaimana jika nanti tiba-tiba Bintang menceraikannya? Sedangkan dia sudah berhenti kerja. Siapa yang akan menanggung hidupnya?
"Syarat apa?"
"Saya tetap dibolehkan bekerja."
"Tapi, kamu kan istri saya. Buat apa bekerja? Kamu tinggal minta pada saya apa yang kamu inginkan. Saya akan kasih kamu uang saku perbulan. Jumlahnya berpuluh kali lipat dari gaji kamu sekarang."
"Saya biasa bekerja, uang saku, ya uang saku. Gaji saya beda lagi. Bapak terima nggak?"
"Oke, tapi bukan di kantor saya, melainkan saya akan buatkan kamu usaha."
"Tidak perlu. Saya akan buat usaha saya sendiri dengan modal sendiri. Beri saya waktu tiga bulan, lalu saya akan berhenti."
"Kenapa tiga bulan?"
"Saya rasa gaji saya tiga bulan bisa untuk membuat usaha."
"Kamu, keras kepala sekali!"
"Bapak juga sama."
"Lihat Abah, mereka sangat cocok. Begitulah cara mereka mendekatkan diri." Galaksi terkekeh.
Abah hanya tersenyum, terselip kekhawatiran dihatinya. Akankah anaknya bahagia?
"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kinan Rosa
jangan khawatir Abah mereka pasti akan hidup bahagia selalu
Abah cukup mendoakan saja
2023-02-03
0