Bintang terus memperhatikan Kirana, diam- diam dia mengikuti Kirana. Sampai Kirana masuk ke dalam sebuah rumah dengan bertuliskan 'kos-kosan khusus Putri'
"Jadi dia kos di sini," gumam Bintang.
Dia lalu melajukan mobilnya pergi dari tempat itu.
***
Kirana terlihat sangat sibuk. Dia berlari ke sana dan ke mari, menyiapkan keperluannya untuk bekerja. Bahkan Kirana makan roti sambil memakai sepatu.
Bagaimana tidak? Hari ini Kirana bangun terlambat. Semua gara-gara perkataan Pak Bintang. Dia memikirkannya sepanjang malam.
Selama apa pun dia berpikir, dan di pandang dari berbagai sudut, tetap saja Kirana merasa belum siap untuk menikah. Tidak ada bayangan bahagia antara pernikahan dia dengan Bintang.
Haruskah, dia menerima usul Bintang untuk pacaran dulu selama tiga bulan? Tapi kalau seandainya, dia menerima usul itu, bukankah itu berarti dia menerima lamaran Bintang? Kepala Kirana pusing memikirkannya.
Kirana bergegas keluar dari kamar kosnya dan mengunci pintu. Dia lalu berlari ke halte.
Ternyata berangkat siang tidak nyaman. Kirana yang biasa berangkat masih sepi, merasa tidak nyaman dengan suasana bus yang padat.
Dia harus berdiri, dan berhimpitan dengan penumpang lain. Begitu sampai di halte dekat gedung kantornya, Kirana turun dan berlari ke gedung kantornya. Dia sudah terlambat.
Kirana segera absen, dan pergi menuju ruangannya, dan mengambil peralatan tempurnya. "Kirana, kamu di panggil Pak Bintang." Tesa memberi tahu Kirana.
"Masa? Ada apa, ya?" Kirana balik bertanya dengan nafas yang masih terputus-putus, setelah dia berlari.
"Aku, nggak tahu. Kamu kenapa baru datang? Mungkin Pak Bintang tahu, dan ingin menegur kamu?"
"Rajin amat Pak Bintang, nggak ada kerjaan apa, dia? Ngurusin aku yang terlambat. Itu kan bukan bagiannya."
Tessa terkekeh, dia hanya ingin menakut-nakuti Kirana. "Udah, gih. Cepetan ke sana nanti malah kena tegur kalau lama-lama."
"Iya, aku ke sana sekarang."
"Eh ... eh, kamu ke toilet dulu, beresin rambut dan dandan!" Tesa mengingatkan Kirana. Sebab dia melihat penampilan Kirana saat ini sangat kacau.
"Hah, iya." Walau bingung Kirana mengikuti anjuran Tesa.
Dia belok ke toilet, dan wow ... Kirana terkejut melihat dirinya sendiri di cermin. Pantas saja Tesa menyuruhnya untuk dandan.
Kantung mata yang hitam, wajah pucat, rambut berantakan, persis seperti mayat hidup. Kirana segera menyisir dan mengikat rambutnya, lalu dia memakai sedikit bedak padat yang disimpan di saku celananya.
Kirana tidak membawa lipstik. jadi dia biarkan bibirnya berwarna alami. Kirana kemudian segera pergi ke ruangan Pak Bintang.
Tok ... Tok ...
Kirana mengetuk pintu. Tidak terlihat sekretaris Pak Bintang di luar.
"Masuk!"
Setelah mendengar suara Pak Bintang yang menyuruhnya masuk, Kirana membuka pintu. Terlihat Pak Bintang sedang membaca berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
"Pagi Pak." Kirana memberi salam pada Bintang setelah beberapa detik dia hanya berdiri menunggu Bintang.
Bintang yang mendengar suara Kirana, segera menoleh. Dia lalu menutup berkasnya.
" Sini, Kirana. Duduklah!" perintah Bintang.
"Iya, Pak." Kirana pun duduk.
"Kirana, kamu tahu kenapa saya panggil?"
"Tidak tahu, Pak."
"Saya ingin tahu jawaban kamu sekarang."
"Pak, nggak bisa gitu. Saya butuh waktu setidaknya satu bulan paling cepat dua minggu."
"Kamu mikir apa? Lama sekali, tinggal jawab iya atau setuju."
"Sama aja kali Pak, iya dengan setuju."
"Bagaimana? Cepat jawab."
"Maaf, Pak saya tidak bisa."
"Kenapa? Apa saya tidak memenuhi kriteria kamu?"
"Masyaallah Pak, yang ada melebihi kriteria saya. Justru itu, saya ini tidak pantas buat Bapak. Masih banyak perempuan lain yang jauh lebih baik dan sepadan dengan Bapak."
"Kirana, saya tidak pernah mempermasalahkan hal seperti itu. Bagi saya kamu itu pantas, kamu yang telah menyelamatkan saya. Kita ini jodoh. Dalam tubuh saya mengalir darah kamu, kurang apa lagi? Allah sendiri yang ingin kita bersama, bahkan darah kita sudah lebih dulu bersatu."
"Pak, saya bingung. Saya takut nanti setelah menikah Bapak menyesal telah menikah dengan saya dan meninggalkan saya. Pernikahan karena cinta saja banyak yang bercerai, apalagi pernikahan tanpa cinta."
"Kalau begitu kita mulai dari awal. Kita tumbuhkan perasaan cinta itu. Kita harus selalu bersama agar perasaan itu bisa hadir." Bintang lalu berdiri.
"Kenalkan nama saya Bintang Orion, umur saya 26 tahun." Bintang mengajak Kirana berkenalan.
Kirana menatap Bintang, lalu dia melihat ke arah tangan Bintang. Kirana menyerah mungkin tidak ada salahnya mencoba untuk dekat.
"Saya Kirana, umur saya baru 20 tahun." Kirana menyambut uluran tangan Bintang. Mereka berjabat tangan.
"Kita sudah melalui tahap perkenalan, selanjutnya kita ke tahap pendekatan. Nanti makan kamu makan siang dengan saya."
"Pak, itu namanya bukan tahap pendekatan tapi Bapak memaksa saya untuk makan siang bersama Bapak."
"Tidak ada yang salah?"
"Harusnya, Bapak bertanya bukan memaksa. 'Maukah kamu makan siang dengan saya?' begitu Pak harusnya."
"Terlalu betele-tele. Sudah kamu sana kembali bekerja, saya juga masih banyak pekerjaan."
"Yang gangguin Bapak kerja siapa? Bapak yang manggil saya. Pekerjaan saya malah tertunda gara-gara Bapak."
"Kamu protes sama Bos kamu?"
"Nggak Pak. Saya nggak protes. Kalau begitu saya permisi Pak."
"Hm ... jangan lupa nanti siang. Kalau kamu tidak ke sini saya yang akan jemput kamu ke ruangan kamu." Bintang berkata tanpa melihat Kirana, dia fokus melihat pada berkas di atas meja.
"Tunggu saja, Pak."
"Aku akan kabur duluan," batin Kirana.
Kirana lalu keluar dan menutup pintu.
***
Saatnya jam makan siang dan sholat, Kirana lebih dulu menunaikan sholat ketika sudah masuk waktu Dzuhur.
Setelah itu dia hendak pergi keluar untuk makan siang. Namun, ternyata di depan musholla sudah menunggu Pak direktur terhormat yang sedang dia hindari.
Kirana perlahan mundur dan berbalik badan dia bergegas pergi lewat jalan lain. Baru saja beberapa langkah, seseorang menarik belakang kerah bajunya.
"Saya sudah bilang makan siang dengan saya," ucap Bintang.
"Eh, Bapak. Iya, saya kan sholat dulu. Bapak tidak sholat?"
"Saya, sudah sholat. Saya harus jadi imam yang baik untuk keluarga saya. Ayo, sekarang kita berangkat."
Bintang menggandeng tangan Kirana agar dia tidak kabur. Kirana sendiri merasa malu. Dia tidak berani mengangkat wajahnya.
Kirana yakin, sekarang pasti banyak yang memperhatikannya. Sebentar lagi pasti akan tersebar gosip panas tentang dirinya dan Pak CEO.
Mereka pergi menuju parkiran. Benar yang di pikirkan Kirana. Mereka kini menjadi pusat perhatian. Para Karyawan saling berbisik. Ini adalah pemandangan langka.
Mereka tidak pernah melihat seorang Bintang menggandeng perempuan mana pun. Pak Bintang terkenal dingin dan sulit di dekati.
Banyak perempuan cantik yang mendekati Bos mereka, tapi semua mundur perlahan. Mereka tidak kuat dengan sikap Bintang yang cuek dan dingin.
Namun, kini seorang Bintang menggandeng seorang wanita biasa yang hanya berprofesi sebagai OG. Mereka penasaran akan sosok OG tersebut, yang bisa meluluhkan hati seorang Bintang.
...----------------...
Terima kasih sudah membaca cerita receh ini. Semoga kalian suka. Terima kasih juga dukungannya. 🥰🥰🥰❤️❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kinan Rosa
semoga kalian berjodoh
2023-01-22
0
Siti N
🤣🤣🤣
2022-11-11
0