Kirana terpaku mendengar perkataan Pak Bintang. "Yang benar saja menikah karena dia telah bernazar. Aku kan ingin menikah dengan orang yang mencintaiku dan kucintai," batin Kirana.
"Mba, Anda tidak mau keluar?" tanya sekretaris Bintang, Billy.
Menyadari dia hanya tinggal sendiri, Kirana segera keluar dari ruangan Bintang. Billy kemudian menutup ruangan Bosnya dan mengunci pintu.
Setelah kejadian itu, Kirana tidak bisa bekerja dengan baik. Ada saja kesalahan yang dia lakukan. Kirana akhirnya pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri.
Tempat kesukaannya adalah tempat yang sepi dan menenangkan. Kirana lalu menelepon Abah.
"Assalamualaikum, halo Abah." Kirana mengucap salam pada Abah di telepon.
"Waalaikumsalam, nak. Apa kabar?" Abah menjawab salam Kirana.
"Alhamdulillah kabar baik Abah, bagaimana kabar Abah dan Ambu?"
"Alhamdulillah, kami juga baik nak. Ada apa kamu telepon Abah, apa ada masalah?"
"Tidak, Abah, semua baik-baik saja. Kirana cuma kangen sama Abah."
"Kami juga kangen, nak. Jangan lupa makan, ya."
"Abah, sini telponnya,
Ambu mau ngomong sama Kirana."
Kirana tersenyum mendengar suar Ambu.
"*Halo, sayang. Ambu meni kangen sama kamu, di rumah teh meni sepi nggak ada Kirana. Kapan kamu bisa pulang?"
"Ambu, orang lagi kerja disuruh pulang. Nanti juga kalau ada waktu dia pasti pulang*."
"Iya, Ambu nanti kalau Kiran libur, Kirana pulang. Sekarang kan Kirana kerjanya baru, jadi belum sempat pulang. Kirana juga kangen sama Abah dan Ambu."
"Eh iya, Kiran ... kamu tahu nggak, kalau si Ujang pergi ke Jakarta? Dia gak mau di jodohkan sama si Karin, Ambu takut dia ke sana cari kamu. Hati- hati ya kalau ketemu dia."
"Ambu, kenapa itu diceritakan ke Kirana? Jangan ganggu Kirana dengan masalah si Ujang. Biar dia kerja dengan tenang."
"Justru Ambu harus cerita, biar dia waspada. Siapa tahu dia ketemu si Ujang di sana."
Kirana tidak berkomentar dia hanya mendengarkan perdebatan Abah dan Ambunya. Ada masalah apa lagi ini? Kenapa hidup Kirana dipusingkan oleh laki-laki?
"Ambu, Abah. Sudah dulu ya. Kirana harus kerja lagi. Nanti kalau ada waktu Kirana hubungin Ambu dan Abah lagi. Assalamualaikum." Kirana langsung menutup teleponnya.
Dia mengambil nafas panjang dan dikeluarkan perlahan untuk menenangkan hatinya. Maksud hati ingin bercerita pada Abah tentang pertemuannya dengan Bintang, tapi dia bingung mulai dari mana.
Sekarang malah dia mendapat informasi mengejutkan. Ujang ke Jakarta, Semoga saja mereka tidak bertemu. Jakarta ini luas dan banyak orang, pasti kecil kemungkinan mereka bertemu.
Lebih baik sekarang dia mulai bekerja. Kirana meninggalkan tempat dia menyendiri.
"Kirana!" Seseorang memanggilnya begitu dia sampai di pantry lantai bawah.
"Iya." Kirana melihat wanita yang tadi bersamanya membawa makanan ke ruang rapat.
"Apa maksud dari ucapan Pak Bintang tadi? Kamu sudah pernah bertemu beliau sebelumnya?"
Kirana berpikir, kenapa dia bertanya masalah itu. Semua bukan urusannya.
"Maaf, Kak. Aku tidak bisa menceritakannya. Kalau Kakak mau tahu tanyakan saja pada Pak Bintang. Saya takut salah bicara."
"Kamu, tinggal bilang aja susah benar."
"Maaf, Kak. Ini menyangkut privasi seseorang. Saya tidak berhak menceritakannya."
"Sok banget kamu. Merasa dekat dengan Pak Bintang?"
"Maaf, kak bukan begitu."
"Sudahlah, buang-buang waktu nanya sama kamu!" Wanita itu kemudian pergi.
"Dih, kepo." Kirana kembali bekerja.
***
Hari sudah mulai sore, perut Kirana terasa lapar. Tadi dia melewatkan makan siangnya. Untunglah sebentar lagi jam pulang.
Kirana membereskan peralatannya. Pas jam pulang Kirana segera berjalan keluar. Terdengar ponsel Kirana berdering.
Kirana segera mengangkatnya, tertera nomer asing. Kirana bimbang antar angkat atau tidak. Takutnya penting jadi Kirana mengangkatnya.
"Halo," ucap Kirana.
"Saya tunggu di parkiran. Kalau tidak ke sini, Saya akan jemput kamu ke sana."
Itu adalah suara Pak Bintang. Oh Tuhan, tidak bisakah dia hidup dengan tenang. Jika dia tidak ke parkiran, itu artinya Pak Bintang akan ke sini. Oh tidak itu akan menjadi pusat perhatian.
"Iya, Pak saya akan ke sana."
"Bagus, saya tunggu. Jangan lama-lama, saya bukan tipe orang yang sabar!"
Sambungan telepon terputus. Kirana menghela nafas. "Dasar arogan, diktator, pemaksa. Siapa yang nyuruh nungguin? Pergi aja sana. Dia yang minta ketemu." Kirana menggerutu sepanjang jalan.
"Aku nggak mau nikah sama cowok yang seperti itu. Ih ... kebayang nanti aku pasti tersiksa. Gak ada lembut-lembutnya, kasar, nggak sabaran, ih amit-amit."
Kirana pun sampai di parkiran, dia mengedarkan pandangan mencari mobil Bintang. Walaupun sebenarnya dia tidak tahu yang mana mobil Bintang.
"Kamu, ngapain di situ? Masuk!" Kirana terkejut mendengar suara di belakangnya. Rupanya mobil Bintang ada di belakang tubuhnya.
Kirana masuk di kursi depan samping kemudi. Dia tidak mau duduk dekat Bintang di kursi belakang.
"Pindah! Kenapa duduk di situ?"
"Aku di sini aja."
"Pindah!" Bintang berkata dengan tegas. Dia paling tidak suka di bantah.
"Aku bilang tidak! Aku duduk di sini atau aku keluar?" Namun, Kirana juga orang yang keras kepala.
Bintang menatap tajam Kirana. Mereka beradu tatapan.
"Jalan, Pak." Bintang akhirnya mengalah. Dia tidak boleh terlalu keras pada Kirana agar Kirana mau menikahinya.
"Hem." Kirana membuang muka dan menatap ke depan. Mulai sekarang Kirana tidak akan mengalah pada Pak Bintang. Dia harus tunjukkan pada Bintang kalau dia bukan wanita yang gampang di tindas.
"Kita mau ke mana?" tanya Kirana setelah lama terdiam.
"Nanti juga kamu tahu." Jawaban yang menyebalkan buat Kirana. Kirana akhirnya memilih diam, dari pada dia naik darah.
Sang supir menahan senyumnya. Baru kali ini dia melihat wanita seperti Kirana, dan baru kali ini dia melihat Tuannya mendapat lawan yang setimpal atau sama keras kepalanya.
Sampailah mereka di depan sebuah rumah yang besar. Gerbang pun terbuka, masuklah mobil ke dalam.
Nampak sebuah rumah yang terlihat mewah. Kirana memandang takjub rumah itu. Di kampungnya tidak ada rumah sebesar dan semewah ini.
"Ayo turun, ngapain masih di situ aja?" Bintang menegur Kirana.
"Ck ... nggak bisa ngomong baik-baik?"
"Nggak ayo turun, jangan norak!"
Kirana turun sambil cemberut. Dia kemudian mengikuti Bintang. Kirana memperhatikan sekitar. Ada taman yang luas, ada juga air mancur.
Dug
"Aduh." Kirana mengusap dahinya yang terbentur sesuatu. Ternyata dia menabrak punggung Bintang.
Saking terpesona dengan pemandangan rumah Bintang, Kirana tidak memperhatikan jalannya. Dia tidak tahu jika Bintang berhenti. Alhasi, dia menabrak Bintang.
"Jalan yang benar? Kalau jalan itu lihat ke depan!"
"Maaf."
Bintang lalu membuka pintu dan masuk ke dalam. Sementara itu, Kirana merasa ragu. Dia hanya berdiri di luar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kinan Rosa
kenapa namanya teman Kirana tesa sih kan manggil nya jadi tes kayak air jatuh se tidak nya itu Panggil Sa gitu kan lebih manis 😄🙏
ya si Abang Ujang nyari masalah kau
2023-01-22
0