Hari ini Kirana malas berangkat ke kantor, pasalnya di luar hujan sangat deras. Udara dingin, dan suara hujan merupakan perpaduan sempurna untuk bermanja di tempat tidur.
Kirana membayangkan kasur empuk, selimut tebal atau duduk sambil menonton TV, di temani Indomie dan kopi panas. Ingin bolos tapi nanti dia takut terkena SP.
Dengan langkah berat, Kirana berangkat ke kantor, payung biru melindungi dirinya agar tidak basah terkena hujan. Kirana berjalan kaki menuju halte.
Sepatu nya tidak selamat dari kotornya genangan air juga tanah yang becek. Saat hampir sampai di halte, ada sebuah mobil melintas dengan cepat melewati genangan air di samping Kirana.
Alhasil airnya muncrat mengenai baju Kirana. Reflek Kirana berteriak, "Aa ... mobil rese, aku sumpahin mobilnya mogok."
Kirana kembali berjalan, wajahnya terlihat kesal bajunya terlihat kotor. Ini adalah seragam kantor, tidak mungkin dia ganti baju. Semoga saja nanti dia tidak kena tegur ketika bekerja.
Kirana sampai di halte, dia melipat payungnya, agar tidak mengenai orang lain. Lagipula di halte tidak akan kehujanan. Kirana melihat ke sekitar lalu dia melihat mobil yang tadi membuat bajunya kotor.
Mobil itu berhenti di pinggir jalan, Kirana melihat seorang pria keluar dari mobil membawa tas kantor berlari menuju halte. Eh itu kan bosnya Kirana.
Benar, Kirana mengenali wajahnya, itu adalah pria yang telah menabraknya. Sungguh suatu kebetulan yang aneh. Jadi tadi yang membuat bajunya kotor adalah orang ini. Tidak heran, sih mengingat sikapnya yang cuek.
Pria itu sampai di halte dan berdiri di samping Kirana. Beberapa detik kemudian dia melihat ke sampingnya, ada seorang perempuan memakai seragam kantornya. Pakaiannya sedikit kotor, sepatunya juga kotor.
Dia tidak suka jika ada pegawainya yang berpenampilan seperti perempuan ini. Merusak citra perusahaan. Radar Kirana bekerja, dia merasa diperhatikan. Kirana melihat ke sampingnya di mana pria itu berada, benar saja. pria itu sedang menatapnya.
Namun, tatapan yang diberikan adalah tatapan jijik. Kirana tidak menyukai tatapan nya. Kirana berdehem dan melotot pada pria tersebut.
Dering ponsel mengalihkan perhatian si pria dari Kirana, dia mengangkat telepon. "Halo, saya sudah di jalan tapi mobil saya mogok. Jadi harap tunggu sebentar ... halo, halo." Dia melihat ke arah layar ponsel. Ternyata ponselnya kehabisan daya. Kirana tersenyum samar saat mendengar mobilnya mogok. Sumpahnya ternyata manjur.
Pria ini bingung, bagaimana ini? Sedangkan dia ada rapat penting pagi ini. Rapat pertamanya setelah dia menjabat menjadi CEO, di perusahaan orang tuanya.
Pria itu, kemudian melihat ke arah Kirana. Dia berdehem, "Khem, apa kau bekerja di perusahaan Orion?"
Kirana yang sedang fokus melihat jalan berharap mobilnya segera muncul tidak mendengar pria itu bertanya. Pria itu kemudian menyolek tangannya Kirana.
Kirana reflek menengok ke arah pria itu, tapi tidak bertanya dia hanya menatapnya "Kau, bekerja di perusahaan Orion?" tanya pria itu lagi pada Kirana.
Kirana mengangguk. Pria itu kemudian mengangkat tangan kanannya. Kirana menjabat tangan pria itu. Alis sang pria terangkat sebelah. "Saya pinjam ponsel kamu," ucapnya.
"Oh." Kirana tersenyum canggung lalu mengambil ponselnya di dalam tas.
"Kamu kan nggak bilang mau pinjam ponsel, cuma ngasih tangan doang, mana orang paham. Kirain ngajak salaman." Kirana menggerutu dalam hati.
Kirana memberikan ponselnya pada si pria. . Tak lama ponselnya di kembalikan. "Ini, terima kasih."
"Sama-sama," balas Kirana.
"Kamu tahu siapa saya?" tanya pria itu pada Kirana.
"Iya, Anda adalah orang yang saya tolong dan juga pria yang menabrak saya di toilet," batin Kirana.
"Maaf, tetapi saya tidak kenal siapa Anda." Kirana memang tidak kenal siapa namanya.
"Apakah kemarin kamu tidak ikut penyambutan CEO baru?"
"Tidak, saya sedang bekerja membersihkan toilet."
"Oh, pantas." Pria itu lalu teringat seorang perempuan yang ditabraknya di depan toilet, saat dia kebelet. Dia belum sempat meminta maaf. Mungkinkah perempuan ini orangnya?
Bus yang Kirana tunggu, akhirnya datang. Dia sudah bersiap akan naik bus tersebut. Namun, pria ini menarik tangannya.
"Kau pergi bersama saya ke kantor." Dia berkata dengan tegas.
"Tapi, itu busnya, nanti keburu pergi." Kirana mencoba menolak.
"Biar saja, kamu berangkat bersama saya."
Bus pun telah pergi meninggalkan halte. Kirana kesal bukan main. "Tuh, kan busnya pergi saya sudah menunggu lama. Nanti saya terlambat ke kantor. Anda mau tanggung jawab kalau saya telat?"
Kirana bertanya dengan suara kencang. Orang-orang yang berada di halte, menatap aneh pada Kirana. Semua terdiam melihat Kirana dan pria itu.
Pria itu merasa semua menatapnya. Ini pasti gara-gara perkataan Kirana yang ambigu. Dia menatap ke arah mereka.
"Aku tidak menghamilinya, maksud dia telat ke kantor." Pria itu mencoba untuk menjelaskan, tapi percuma saja. Mereka sudah membuat opininya sendiri.
"Siapa yang hamil? Enak saja. Aku tidak hamil, ya!"
"Mereka pikir kau hamil. Perkataanmu ambigu. Sudah ayo kita berangkat ke kantor."
Dia lalu menarik tangan Kirana, melihat mobil yang dia pesan sudah datang.
"Pak, tunggu dulu. Anda siapa? ke kantor siapa? Memangnya kita satu kantor?" tanya Kirana.
"Nanti saja, saya jawab. Ayo naik dulu." Pria itu mendorong Kirana masuk ke dalam mobil.
"Jalan, Pak."
"Ke kantor Orion, Pak."
"Iya,"
Mobil pun mulai melaju. Pria itu lalu menatap Kirana. "Saya akan jawab pertanyaan kamu. Saya adalah CEO di perusahaan kamu, kita akan ke perusahaan Orion Company tempat saya bekerja, dan terakhir kita satu kantor."
"CEO saya?"
"Iya," Kirana menatapnya lekat.
"Kenapa? Kamu tidak percaya kalau saya Bos kamu?"
Kirana menggeleng. Pria itu lalu memberikan kartu namanya pada Kirana.
Bintang Orion
Nama yang tertera pada kartu itu. Kirana teringat kartu nama yang diberikan bapak tua padanya yang bertuliskan nama 'Galaksi Orion'.
Benar, sekarang dia yakin kalau orang ini adalah pria yang di tolongnya.
"Sekarang kamu percaya?"
"Iya, maaf Pak."
"Kamu ke kantor pakai pakaian kotor seperti ini, sepatu kotor. Kalau bukan karena kamu telah menolong saya, Surat SP pasti sudah melayang ke ruanganmu."
Kirana melotot mendengar Bosnya menyinggung baju kotornya.
"Pak, dengar ya. Pertama Anda yang membuat baju saya kotor. Kedua, ini musim hujan jalanan becek pasti sepatu saya kotor!"
"Saya yang buat baju kamu kotor? Bagaimana bisa? lagi pula harusnya kamu pakai sendal dulu. Baru di kantor ganti sepatu."
"Bapak tadi lewat di genangan air pas kebetulan saya sedang lewat dan genangan airnya muncrat ke saya, dan masalah sepatu, nanti saya bisa mencucinya di kantor!"
Bintang tidak tahu jika tadi dia melewati genangan air karena dia memakai supir, Bintang juga tidak memperhatikan jalan. Sebab dia tadi sedang bermain ponsel.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kinan Rosa
oh bintang kamu itu telah berhutang nyawa pada kiran karena dia yang telah menolong mu dulu
2023-01-22
0