"Kirana?" tanya pria itu memastikan.
"Iya Abah. Tolong Abah, punggung Kirana sakit," pinta Kirana pada abahnya.
Abahnya segera membantu Kirana masuk dan melepaskan ikatan tali itu. Dia menahan tubuh si pria. Setelah talinya terlepas, abah mengangkat pria itu ke bale-bale yang ada di ruang tengah.
"Apa yang terjadi, Kirana?” tanya Abah.
"Kirana menemukan pria ini tergeletak di dalam selokan, dalam posisi tangan terikat dan bersimbah darah. Jadi, Kirana tolong dia dan bawa pulang."
"Kamu, tolong ambilkan baju dan celana Abah!"
"Iya Abah." Kirana pergi ke kamar orang tuanya. Sedangkan Abah pergi ke dapur untuk membuat ramuan obat.
Kirana mencari abah ke dapur. "Ini, Abah bajunya." Kirana menyodorkan baju dan celana Abah.
"Kamu teruskan membuat ramuan, biar Abah ganti baju pria itu." Abah mengambil baju dan celananya lalu bergegas kembali ke lelaki itu.
Begitu Abah membuka bajunya, terlihat luka tusukan di perut. "Seharusnya orang ini ke rumah sakit tapi kalau malam begini tidak ada kendaraan. rumah sakit juga jauh. Apa aku minta bantuan nak ujang saja? Tapi tidak enak ini sudah malam, biarlah, ini darurat menyangkut nyawa." Abah bergumam sendiri.
Datang Kirana membawa ramuan, dia mendekati abah dan memberikan ramuan itu. “Ini Abah.” Kirana memberikan ramuan itu. Abah mengambilnya dan mengoleskan pada luka tusuknya.
“Itu luka kenapa, Bah?” tanya Kirana melihat luka di perut polos pria itu.
“Entahlah, tapi sepertinya ini luka tusukan benda tajam. Kita harus membawa dia ke rumah sakit Kirana. Dia butuh tindakan operasi secepatnya. Kita tidak tahu seberapa dalam dan parah luka itu.” Ucap abah.
“Bagaimana caranya Abah?”
“Kiran, kamu teh ditanya malah pergi!” Datang ambu yang menegur Kirana. Tadi ambu memang bertanya, buat apa baju abah?
“Maaf, Bu. Kiran buru-buru.”
“Buru-bu ... astagfirullah! Siapa itu? Kenapa dia?” tanya Ambu, saat matanya melihat lelaki yang terbaring.
“Nanti saja menjelaskannya, Bu. Kiran, sekarang kamu telepon si Ujang, suruh ke sini bawa mobil kolbak!” Abah menyuruh Kirana.
“Iya Bah.” Kirana lalu menelepon Ujang.
Abah mengikatkan kain di atas ramuan tadi, kain itu di lilitkan ke badan si pria lalu diikat. Kemudian Abah memakaikan pria tadi baju. Sedangkan untuk celana dan ********** abah sudah memakaikannya lebih dulu.
10 menit kemudian terdengar suara mobil. “Tuh si Ujang sudah datang! Ayo Kiran bantu Abah, kita bawa dia ke belakang mobil.” Abah dan Kiran bersama mengangkatnya.
Saat mereka berjalan cepat, sambil mengangkat pria itu, di pintu mereka terhalangi oleh seorang pria. “Assalamu’alaikum. Loh Abah, Kiran, siapa ini?” tanya pria itu.
“Duh Ujang, nanti aja nanyanya, berat nih. Minggir, bantuin sini!” Kiran protes pada Ujang.
“Ih, si bebeb malah marah-marah. Sini, akang bantuin.” Ujang ikut membantu.
Mereka meletakkan pria itu di atas mobil bagian belakang yang terbuka. “Kiran, ambilkan selimut, cepat!” Kiran berlari mendengar instruksi abahnya. Tak lama Kirana datang membawa selimut.
“Kamu, duduk sama Ujang di depan.” Biasanya Kirana akan menolak. Namun, kali ini dia tidak mau berdebat karena situasi sedang darurat.
“Bah, Kiran, kalian hutang penjelasan sama Ambu. Ujang hati-hati nyupir mobilnya.”
“Iya, dah Ambu,” balas Kiran. Mobil pun melaju menuju rumah sakit.
Ambu sendirian di rumah. Dia membereskan pakaian pria tadi. Lalu membawanya ke belakang untuk di cuci. “ Ya ampun, pakaiannya penuh darah begini. Semoga pria itu selamat ya Allah.”
Ambu lalu mengepel bale-bale dan lantai. Setelah selesai dia menunggu Kirana dan Abah.
Gubrak ...
Ambu terbangun matanya terbuka, rupanya dia tertidur. Ambu kemudian mencari asal suara. Dia perlahan berjalan ke dapur, terlihat oleh Ambu talenan terjatuh, juga se-ekor kucing.
Meong ...
Kucing itu berjalan melewati Ambu. Kemudian Ambu membereskan talenan itu. Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 01.30.
Ambu kembali ke ruang tengah dan saat akan duduk di kursi, dia mendengar pintu di ketuk. Ambu pun membukanya. Ternyata abah dan Kirana.
Mereka menjelaskan kalau orang yang mereka tolong telah ada keluarganya dan akan di bawa pulang oleh keluarganya, setelah selesai operasi.
“Oh, jadi begitu. Terus bagaimana mereka bisa menemukan pria itu?” tanya Ambu.
“Entahlah Abah juga gak paham, yang penting sekarang kita bisa tenang. Dia sudah ditangani.”
“Abah yakin, mereka keluarganya? Bukan justru orang jahat yang ingin melukainya?” tanya Ambu.
“Abah yakin mereka keluarganya. Mereka menunjukkan identitas dan foto pria itu bersama mereka.”
“Iya Mbu. Mereka memberi kita uang sebagai rasa terima kasih tapi, Abah menolaknya. Mereka akhirnya memberikan kartu nama ini.” Kirana memberikan kartu nama pada Ambu.
“Buat apa kartu nama? Seharusnya, Abah terima saja uangnya,” ucap Ambu.
“Yang namanya menolong itu harus ikhlas tanpa pamrih. Kalau kita berbuat baik, orang lain juga akan berbuat baik pada kita. Semua yang kita lakukan pada orang lain akan berbalik pada kita sendiri.” Abah menasehati Ambu.
“Terserah Abah saja lah,” Ambu mengambil tangan Kirana lalu meletakkan kartu itu di tangan Kirana. Kemudian dia masuk ke dalam kamar, karena sejujurnya dia sudah mengantuk.
Kirana melihat kartu itu dan meletakkannya di meja. Dia lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Abah pun ke kamar mandi bergantian dengan Kirana.
Kirana masuk ke kamarnya tidak lupa dia mengambil kartu di meja dan berganti baju lalu berbaring di tempat tidur. Kirana termenung menatap langit-langit. Memorinya memutar kembali kejadian beberapa saat yang lalu. Dari awal dia bertemu pria itu sampai mengantarnya ke rumah sakit yang cukup jauh jaraknya sekitar 40 menit.
Kirana juga teringat wajah pria itu yang cukup tampan, menurutnya. Dia cukup penasaran, siapakah pria itu? Dia langsung di datangi oleh orang-orang yang berpakaian jas hitam-hitam. Dia juga di interogasi layaknya pelaku kriminal.
Namun, setelah di jelaskan olehnya dan abah mereka justru berterima kasih dan meminta maaf atas kecurigaan mereka. Bahkan mereka memberikan uang yang jumlahnya fantastis, lima ratus juta rupiah. Kalau Ambu tahu dia pasti akan bertambah protes.
Abah menolak pemberian itu dengan halus. Seorang pria tua, lalu memberikan kartu nama dan mengatakan, jika dia dan abah butuh bantuan, apa pun itu, hubungi saja nomer yang tertera di kartu itu, kapan pun. Lalu Abah menerimanya.
Kirana juga tadi mendonorkan darahnya, lelaki itu kehabisan darah sedangkan stok darah golongannya di rumah sakit sedang kosong. Kirana tidak bisa langsung pulang, karena dia merasa pusing setelah mendonorkan darah untuk pria itu. Sedangkan pria itu akan segera di bawa pulang setelah dilakukan operasi.
Kirana mengambil kartu yang tadi di taruhnya di atas meja samping tempat tidur. Dia menatap kartu yang berada di tangannya.
Orion Company nama perusahaan yang tertera di kartu itu. Juga ada nomer telepon dan namanya, Galaksi Orion. Di kartu itu juga ada tanda tangan beliau. Kirana meletakkan kartu itu di meja dan dia memejamkan matanya.
Dalam hati dia berdoa, semoga pria itu selamat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kinan Rosa
amin
semoga ceritanya bagus dan menarik sampai akhir
2023-01-22
0
vhe
buat awal awal aku suka....ngak bertele tele trus alur nya ringan....🥰🥰🥰
2022-11-30
1