Kirana akhirnya pindah duduk ke depan, di samping Bos yang diktator. Sepanjang perjalanan, dia duduk dengan tenang menatap jalan raya di depannya. Sesekali Kirana menoleh ke samping melihat pemandangan lewat jendela mobilnya.
Dia sama sekali tidak bersuara, dia tidak mau bicara pada Bintang. Sementara itu Bintang juga tidak perduli. Dia malah bersyukur Kirana duduk tenang, dan tidak menggangunya.
Perut Kirana mulai terasa perih, dia menahannya dengan meremas ujung bajunya. Tiba-tiba perut Kirana berbunyi memecah kesunyian di antara mereka. Bintang melirik Kirana lewat kaca spion tengah.
Wajah Kirana memerah, dia menoleh ke jendela mobil agar Bintang tidak melihatnya. “Malu-maluin banget, nih perut!” batin Kirana.
Bintang tidak berkomentar apa pun. Tak lama mobil berhenti di sebuah cafe. Bintang melepaskan seatbeltnya. “Ayo kita bicara di sini,” ucap Bintang.
Kirana lalu ikut membuka seatbeltnya, dia kemudian menghadap Bintang. “Bapak, memangnya mau bicara apa? Sampai bawa saya ke sini.”
“Nanti kita bicarakan di dalam. Ayo turun.”
“Bapak gimana, sih! Katanya bicara di sini. Tapi, kok malah ngajak turun?”
“Iya, bicara di sini bukan berarti di dalam mobil. Kalau cuma di mobil, ngapain saya bawa kamu jauh-jauh ke sini? Depan rumah juga bisa. Maksud saya di sini itu, di dalam cafe ini ... Oneng!” Bintang bicara dengan menggebu-gebu. Dia kesal karena Kirana salah paham terus.
“Oh, bilang yang jelas, Pak.”
Bintang memutar kedua bola matanya, dia sudah malas menanggapi Kirana. Lebih baik dia keluar saja. Bagaimana nanti jika mereka menikah? Bisa-bisa Bintang darah tinggi.
Namun, itu resiko yang harus Bintang ambil. Kirana sudah menolongnya, jika bukan karena dia, Bintang mungkin sudah tidak ada di dunia ini lagi.
Selain itu, dia juga sudah bernazar menikahi Kirana. Mau tidak mau, seperti apa pun kondisinya dia harus menikahi Kirana. Mereka bisa beradaptasi satu sama lain. Belajar untuk saling mengerti dan mengalah.
Kirana mengikuti Bintang keluar, dia melangkah di belakang Bintang. Mereka masuk dan Bintang duduk di meja yang agak mojok. Mungkin Bintang ingin sedikit privasi, mengingat mereka akan membahas masa depan.
Kirana dan Bintang, duduk berhadapan. Bintang memanggil waiter. “kamu silahkan pesan mau makan apa? Pilih makanan yang bikin kamu kenyang. Biar cacingnya nggak berisik kelaparan.”
Kirana merasa malu Bintang bicara seperti itu di depan waiter. Kirana merasa kehilangan selera makannya, perutnya yang lapar tidak terasa lagi.
“Saya, jus alpukat saja.” Kirana tersenyum canggung.
“Jus aja, Nggak mau yang lain?”
“Nggak, saya nggak lapar.”
“Ya udah Mbak, saya spageti yang ini aja 1 sama minumnya yang ini, ya.” Tunjuk Bintang di buku menu. Waiters tersebut kemudian pergi.
“Langsung aja Pak. Kita mau bicara apa? Jujur, Pak, saya sudah sangat lelah ingin segera istirahat.” Kirana langsung bicara to the point. Wajahnya memang terlihat lelah.
Bintang mengerti keadaan Kirana. Selain lelah dia juga pasti shock mendengar permintaannya. Bintang tidak marah pada Kirana, walau terdengar tidak sopan, Bintang memakai memakluminya.
“Kirana, aku ingin kita segera menikah. Ku harap kamu mau, menerima lamaranku.”
Kirana, tersenyum tipis. “ Pak, kita baru saling kenal, pacaran juga belum udah mau nikah aja. Setidaknya kalau mau menikah, kita harus saling tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Walau tidak saling mencintai, setidaknya ada rasa hormat dan menghargai itu saya rasa sudah cukup.”
“Sedangkan kita? Bapak lihat sendiri, dari tadi kita berdebat terus, saya merasa kesal dengan Bapak, begitu pun sebaliknya. Yakin Pak, mau menikah dengan saya? Apa nanti rumah tangga kita akan tenang? Jika kita saja tidak mau saling memahami dan mengalah.”
“Saya, tidak perduli! Bagi saya yang penting itu, nazar saya terlaksana.” Mendengar itu Kirana sontak berdiri.
“Jadi, semua ini agar Bapak bisa memenuhi nazar Bapak? Agar hati Bapak tenang, Bapak mengorbankan saya. Bapak tidak perduli, jika rumah tangga kita nanti bahagia atau tidak. Bapak juga tidak perduli jika saya bahagia atau tidak!” Nafas Kirana memburu. Matanya menyorot tajam kecarah Alkana.
“Kata siapa? Itu menurutmu. Duduk dulu.” Bintang menarik tangan Kirana pelan. Kirana pun kembali duduk.
Datang waiters membawa pesanan mereka. Setelah Waiters pergi, Kirana langsung menyedot jus alpukatnya.
“Dengar Kirana, walaupun kita menikah karena nazarku, aku ingin pernikahan itu bahagia. Aku ingin menikah hanya sekali seumur hidup. Aku ingin kau dan aku bahagia. Aku setuju denganmu, meskipun tanpa cinta setidaknya ada rasa hormat dan saling menghargai serta memahami karakter satu sama lain dan saling mengalah itu cukup untuk modal menikah.” Bintang meminum airnya
“Untuk itu, kita butuh waktu untuk saling dekat dan mengenal satu sama lain. Maka dari itu, ayo kita pacaran ... kita pacaran, selama tiga bulan lalu menikah. Bagaimana?”
Kirana diam saja tidak menanggapi Bintang. Dia masih bingung, hatinya berat untuk menerima Bintang.
“Ayolah Kirana, mungkin ini cara Allah menjodohkan kita. Dia menyatukan kita dengan cara ini.”
Kirana pikir, bisa saja seperti itu. Namun, tetap saja dia butuh waktu. Ini adalah masalah penting menyangkut masa depannya. Harus dia pikirkan baik-baik.
“Saya butuh waktu, Pak.” Bintang menghela nafas.
“Baiklah, saya beri kamu waktu. Semoga hati kamu terbuka dan kamu menerima saya di hidup kamu. Kenapa saya ngotot ingin menikahi kamu? Karena saya yakin, kamu memang jodoh saya, dan yang terbaik buat saya.”
Bintang mulai makan, sementara Kirana termenung seraya meminum jusnya. Kata- kata Bintang sedikit mempengaruhinya.
***
“Berhenti di sini aja, Pak.”
“kenapa berhenti di sini?”
“Nggak apa-apa Pak. Saya jalan kaki saja. Tidak enak kalau saya pulang malam dengan Bapak.”
“Oh, ya sudah. Tapi saya khawatir, ini sudah malam loh!”
“Nggak apa- apa Pak. Sudah biasa. Makasih Pak, sudah diantar juga traktirannya. Selamat malam.” Kirana kemudian turun dari mobil.
Bintang menatap Kirana yang berjalan pelan, dia kemudian mulai melajukan mobilnya perlahan melewati Kirana. Dari kaca spion kiri, Bintang melihat Kirana berbelok ke penjual nasi goreng.
“Pantas saja dia minta berhenti di situ, rupanya dia mau makan nasi goreng. Kirana ... Kirana, kenapa tadi tidak bilang di cafe? Biar aku bungkuskan.” Bintang bergumam sendiri. Dia kemudian menepikan mobilnya dan mematikan mesin mobil.
Bintang menunggu Kirana hingga Kirana selesai membeli nasi goreng. Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya Kirana selesai membeli nasi goreng.
Dia berjalan menyusuri jalan di gelapnya malam. Jalan ini memang tidak terlalu sepi. Walau sudah malam, banyak yang keluar dan berkumpul.
Kirana sudah sering berjalan malam di kampungnya. Dia tidak takut, apalagi di sini masih terlihat ramai. Dengan menenteng kresek hitam berisi sebungkus nasi goreng, Kirana berjalan santai.
...----------------...
Terima kasih pada semua pembaca Kirana. Ikuti terus kisahnya, ya. Terima kasih atas like dan favoritnya juga komentarnya. Salam dari Kirana dan Bintang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Kinan Rosa
emang cowok gak peka udah tau Kiran lapar gak di pesenin untuk di bungkus 😏
2023-01-22
0
Kinan Rosa
bikin orang emosi
2023-01-22
0
Kinan Rosa
kiran mah kayak cak lontong deh kalau di ajak ngobrol lucu 🤣🤣🤣
2023-01-22
0