Bintang merasa hatinya gelisah, entah kenapa? Namun dia teringat Kirana. Mungkinkah sesuatu terjadi pada Kirana?
Bintang menelepon sekretarisnya, untuk memanggil Kirana. Sekretaris pun menelepon ke bagian pantry.
Sementara itu Tesa sedang mencari Kirana. Pasalnya para karyawan yang memesan minuman pada Kirana sudah lama menunggu, tapi Kirana belum juga datang.
Tesa mencarinya ke mana-mana, tetapi tidak ketemu. Dia, kembali ke ruangan pantry.
Tes, kamu lihat Kirana? Sekretaris Pak Bintang tadi nelepon, tuh. Kirana disuruh naik ke atas." Yuyun, teman satu perjuangan memberi tahu.
"Aku udah nyari ke mana-mana tapi nggak ketemu, lelah aku," keluh Tesa.
"Ya udah, kamu menghadap aja sana ke Pak Ardi. Bilang apa adanya. Nanti dia malah marah, loh! Kalau nunggu lama."
"Kamu aja, 'kan kamu yang menjawab telepon sekretaris Bos Bintang."
"Kita berdua aja, yuk. Aku kalau sendiri nggak berani."
"Ya udah, ayo." Tesa dan Yuyun pun pergi ke ruangan Bintang.
***
"Apa? Kirana tidak ada?" tanya Bintang pada Tesa dan Yuyun.
"Iya, Pak. Saya sudah cari dia ke mana-mana tapi tidak ketemu. Para karyawan bingung Kirana belum mengantarkan minum pesanan mereka. Biasanya kirana akan mengerjakan tugasnya dengan baik. Makanya saya pikir telah terjadi sesuatu pada Kirana." Tesa menjelaskan panjang lebar.
"Oke, terima kasih. Kalian boleh pergi." Tesa dan Yuyun pun pergi.
"Tunggu!" teriak Bintang. Tesa yang baru saja memegang pintu pun berbalik badan.
"Iya, Pak."
"Kalau kalian melihat Kirana, tolong jangan ragu untuk kasih tahu saya."
"Baik, Pak."
Tesa kemudian kembali melangkah di ikuti Yuyun. Bintang segera menyuruh Sekretarisnya untuk mencari Kiran. "Perintahkan Security untuk mencari Kirana, sisir semua tempat jangan sampai ada yang terlewat."
"Baik, Pak."
Bintang kemudian menelepon pengawas CCTV. Dia minta disambungkan pada laptopnya. Setelah akses diterima, Bintang melihat rekaman CCTV hari ini.
Dia melihat Kirana membawa minuman dengan nampan, lalu terlihat Puspa dan Intan menghampiri. "Sepertinya mereka menemui Kirana sepulang mereka dari sini." Bintang bergumam sendiri.
Bintang melihat, Kirana ditarik ke arah tangga darurat, Sialnya di dalam tangga tidak ada CCTV. Dia akan memasangnya setelah ini.
Bintang mempercepat rekamannya. Dia kemudian melihat Puspa dan Intan keluar tanpa Kirana. Dia menunggu tapi Kirana tidak keluar. Dia melihat waktu, berapa lama mereka berada di dalam tangga darurat.
Bintang kemudian merekam video tersebut untuk bukti. Dia kemudian berlari ke arah tangga darurat. Bintang mengajak sekretaris untuk mengikutinya.
Dengan kencang Bintang membuka pintu tidak terlihat Kirana, dia hanya melihat beling-beling berserakan. Kemudian Bintang melihat ke bawah.
"Kirana!" Bintang melihat Kirana tergeletak di lantai. Bintang lari mendekati Kirana. Sekretaris berinisiatif menelepon ambulance.
Sekretaris memanggil Tesa dan menyuruhnya untuk membereskan beling-beling yang berserakan di lantai.
Ambulance datang dan petugas segera berlari menuju TKP. Kirana masih tidak sadarkan diri. Dia kemudian di angkat dan di baringkan di atas brankar yang di simpan di depan pintu tangga darurat.
Bintang mengikuti Kirana ke ambulance. Para pegawai heboh melihat ada pegawai mereka yang terluka dan di bawa ambulance. Mereka penasaran siapa yang terluka dan apa yang terjadi?
Bintang ikut di dalam mobil ambulance, tetapi dia menyuruh supir untuk mengikutinya. Bintang juga memberi perintah pada sekretarisnya untuk melapor ke kantor polisi.
Dia tidak akan membiarkan orang yang telah mencelakai calon istrinya melenggang bebas. Meraka akan menerima balasannya. Ambulance pun sampai di rumah sakit.
Bintang segera turun dari ambulance dan menyingkir. Dia memberi jalan untuk brankar Kirana lewat. Dokter dan perawat menyambut kedatangan Kirana.
Petugas ambulance menerangkan kondisi Kirana pada Dokter sambil berjalan dan Perawat mendorong brankar Kirana. Sedangkan Bintang mengikuti mereka dari belakang.
Di depan pintu IGD Bintang di larang masuk, dan diminta untuk mengurus adminstrasi Kirana.
***
Kirana kini berada di kamar VIP. Dia masih tidak sadarkan diri, padahal ini sudah berlalu dua jam. Dokter sudah melakukan pemeriksaan CT SCAN terhadap Kirana, hasilnya semua baik, tidak ada luka di dalam kepala Kirana.
Hanya ada luka memar di dahi. Tulang sendi kakinya mengalami sedikit dislokasi. Namun sudah di berikan tindakan.
Kirana masih pingsan mungkin karena shock. Bintang menelepon orang tuanya untuk datang dan menjaga Kirana. Dia ada urusan yang harus diselesaikan.
Bintang juga menelepon orang tua Kirana, dia tahu nomer mereka dari data karyawan. Mereka di minta untuk mengisi nomer darurat yang bisa dihubungi.
"Sayang, ada apa? Mamah terkejut mendengar Kirana masuk rumah sakit karena jatuh dari tangga. Bagaimana bisa?" tanya Aurora begitu dia masuk ke dalam kamar Kirana.
"Ada karyawan yang membully Kirana, mereka tidak suka aku dekat dengan Kirana."
"Apa hak mereka tidak suka dengan kedekatan kalian? Siapa mereka bisa menentukan siapa yang dekat denganmu? Mamah ingin menjenggut rambutnya dan mencakar wajahnya kalau ketemu."
"Aku tidak akan membiarkan mereka lolos, Billy sudah melaporkan polisi dan memberikan buktinya. Bintang mau ke sana untuk membereskannya."
"Pergilah, biar Mamah dan Papah yang jaga di sini."
"Maaf, Mah Bintang merepotkan Mamah."
"Tidak, sayang. Kamu tidak pernah merepotkan."
"Bintang sudah menghubungi orang tua Kirana. Nanti kalau mereka datang tolong kabari. Mungkin empat jam lagi mereka sampai."
"Mereka akan datang? Mamah siapkan apa, ya?"
"Mamah tenang saja aku sudah pesan makanan untuk makan malam juga kue-kue."
"Oke,"
"Aku berangkat sekarang, Mah, Pah."
"Iya, hati-hati nak."
Bintang beranjak meninggalkan kamar Kirana.
***
Kelopak mata Kirana terbuka, dia menatap langit-langit kamarnya. Kirana merasa asing dengan pemandangan yang di lihatnya. Dia kemudian menoleh ke samping kanan, tangannya terpasang infusan.
Kirana juga melihat seorang wanita paruh baya sedang fokus menonton TV, Kirana melihat ke arah kirinya dan terlihat jendela kaca besar.
Kirana merasa haus, dia melihat gelas minuman di atas meja samping tempat tidurnya. Namun tangan kirinya tidak bisa menggapai gelas itu. Akhirnya Kirana mengambilnya dengan tangan kanan yang terpasang infusan.
Prang
gelas itu terjatuh, tangan Kirana terasa sakit ketika mengangkat gelasnya. Aurora terkejut mendengar suara gelas terjatuh.
Dia, lalu melihat ke belakang. "Kirana!" Aurora terkejut melihat Kirana yang sudah bangun.
Aurora lalu menghampiri Kirana. Dia melangkah dengan hati-hati agar tidak terkena pecahan gelas. Galaksi, memijit tombol memanggil perawat.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?"
"Tidak, Mah. Maaf aku bikin Mamah kaget."
"Tidak sayang. Mamah tidak apa-apa. Kamu mau minum? Sebentar ya, Mamah ambilkan."
Saat Aurora akan mengambil minum, datang perawat dan petugas kebersihan membersihkan pecahan gelas.
Aurora kemudian memberikan minum di botol air mineral pada Kirana dengan memakai sedotan. Aurora membantu Kirana memegang botol.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Safni Mardesi
ayo ditungu kelanjutanya..
2022-08-04
2