Hari ini Kirana pulang dengan wajah yang kacau. Matanya terlihat sembab. Ambu yang berada di rumah untuk mengambil makan siang dan membawanya ke sawah, terkejut melihat Kirana yang pulang dalam keadaan wajah yang kacau.
“Kamu kenapa pulang-pulang mukanya kok jadi jelek begitu?” tanya Ambu.
“Ambu maafkan Kiran, Kirana gak mau kerja di tempat itu lagi. Kirana mau berhenti saja!”
“Aduh, bagaimana ini? Nanti saja bicaranya ya, Ambu harus segera ke sawah mengantar makanan untuk Abah. Kamu tenangkan dirimu dulu. Nanti kita baru bicara lagi.” Ambu bingung di satu sisi anaknya sedang butuh dirinya, disisi lain suaminya butuh makan setelah bekerja dari pagi. Akhirnya dia pilih ke tempat suaminya dulu dan langsung pulang.
“Iya Ambu,” ucap Kirana. Ambu segera pergi ke sawah membawa bekal untuk suaminya.
“Kirana, Kirana ... maafkan Akang! Akang tidak tahu kalau Tati akan melakukan itu.” Teriak seseorang dari luar. Kirana membuka pintu dan menghampiri Ujang.
“Kang Ujang, Kirana sudah bilang jangan mendekati Kirana dan membuat orang lain salah paham. Kita ini hanya teman tapi perlakuan Akang terlalu berlebihan. Bukannya Kirana tidak menghargai Akang, Kirana sangat berterima kasih atas semua kebaikan Akang, tetapi Akang sudah punya gadis yang akan dijodohkan dengan Akang. Semua orang berpikir kalau Kirana ini yang menggoda Akang. Semua orang di pabrik membicarakan Kirana. Bahkan Tati jodoh Akang itu, dia menghina Kiran dan membuli Kiran."
Kirana mengungkapkan kekesalannya pada Ujang. Dia sudah sering memperingati Ujang agar jangan mendekatinya. Ujang sudah di jodohkan oleh orang tuanya. Lagipula Kirana juga tidak mencintai Ujang.
“Maaf Kiran, Akang minta maaf. Percayalah Akang tidak cinta sama Tati dan tidak mau dijodohkan dengannya.”
“Aku gak perduli, Akang mau dijodohin sama siapa dan cinta sama siapa? Asal itu bukan aku. Aku tidak cinta sama Akang. Sekarang Kirana minta Akang pulang!"
“Bailklah Kiran, Akang pulang, tapi kamu harus ingat satu hal kalau Akang tidak akan menyerah dan berhenti mencintaimu. Akang akan terus berjuang untuk mendapatkan kamu.”
“Terserah Akang! Teruslah berjuang, tapi Akang juga ingat satu hal, perjuangan Akang akan sia-sia karena aku tidak akan mencintai Akang sampai kapan pun!” Kirana berkata dengan tegas kemudian dia masuk ke dalam.
Ujang yang ditinggalkan kemudian mengepalkan tangannya. “Ini semua terjadi karena Tati dan ibunya. Awas Tati, aku akan membalasmu,” gumam Ujang. Dia lalu pergi dari pekarangan rumah Kirana.
Kirana tidak tahu harus bagaimana? Dia bertambah kalut mendengar ucapan Ujang. Kirana lalu mengambil tas besarnya dan memasukkan baju-bajunya yang ada di lemari ke dalam tas. Dia juga memasukkan berkas-berkas penting, kemudian beberapa foto.
Kirana berganti baju setelah itu keluar kamar. Saat dia akan duduk, Ambu datang. “Assalamualaikum.” Ambu dan Abah datang memberi salam, lalu duduk d samping Kirana.
“Wa’alaikumsalam. Kebetulan Ambu dan Abah sudah pulang.” Kirana lalu mencium tangan kedua orang tuanya. Dia kemudian menceritakan semua yang terjadi. Dia juga mengatakan niatnya yang ingin pergi ke Ibu Kota, Jakarta. Dia ingin mengadu nasib di sana. Meskipun mereka bilang Ibu Kota lebih kejam dari pada ibu tiri.
Ambu awalnya tidak mengizinkan, tapi Kirana menjelaskan alasannya, akhirnya dengan berat hati Ambu mengizinkan Kirana pergi. Abah juga mengizinkan dan memberi beberapa wejangan singkat. Abah lalu pergi mandi, dia akan mengantar Kirana pergi ke Jakarta.
***
Mereka sampai sekitar pukul setengah tujuh malam di Kampung Rambutan. Kemudian Abah dan Kirana sholat magrib dahulu di mesjid yang ada di terminal. Setelah sholat mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Abah mengantar Kirana ke tempat teman Abah di daerah Kebun Jeruk Jakarta Barat. Bukan untuk tinggal di sana. Karena Abah tidak mau merepotkan orang lain. Selain itu dia tidak mau Kirana merasa tidak nyaman dan merasa canggung.
Abah minta di antar ke tempat kos di daerah itu, yang khusus perempuan. Alhamdulillah akhirnya mereka dapat tempat yang nyaman dan aman.
Malam itu juga Kirana langsung tinggal di kost-an, Abah akan langsung pulang ke kampung. Namun, sebelumnya Abah mengantar Kirana membeli perlengkapan makan dan mandi.
Kirana berjalan pulang setelah mengantar Abah ke jalan raya untuk naik bus menuju terminal. Sampai di kamar Kirana menyiapkan berkas lamaran kerja untuk besok. Dia akan langsung melamar pekerjaan. Semoga saja berhasil.
***
Satu bulan sudah berlalu, Kirana sudah bekerja di Perusahaan Property sebagai OG. Dia melamar lewat jalur resmi bukan jalur belakang. Bekerja di sini sangat melelahkan tetapi orangnya baik-baik. Suka memberi tip membuat dia semangat bekerja.
“Eh cepat, bos baru sudah sampai di lobi!” seru seorang pegawai wanita bertag nama Ririn.
“Aduh, gimana ini? Aku udah cantik belum? Sebentar bibirku kurang sexy,” timpal Eka.
“Aku juga, bedakku belum rata.” Suara wanita-wanita yang ribut berdandan di toilet, hendak menyambut kedatangan bos baru.
“Mba, disuruh ke ruangan secepatnya.” Kirana datang menyampaikan pesan dari manager.
“Iya Kir, makasih. Yuk cepat!” ajak Eka yang lebih dulu pergi, di susul teman-temannya.
“Cantik-cantik sekali. Mereka pasti ingin di lirik bos.” Kirana terkekeh.
Dia lalu mulai bekerja membersihkan toilet. Setelah selesai Kirana lalu keluar dari toilet. Kirana berjalan pelan, dia melihat para karyawan yang berbaris. Kirana segera kembali ke toilet.
"Mereka masih baris, berarti Bos barunya belum datang. Padahal ini sudah lima belas menit." Kirana bergumam sendiri.
Dia menunggu di dalam. Setelah lima belas menit berlalu, Kirana yakin Bos barunya pasti sudah datang. Kirana keluar dari toilet, dengan membawa senjata perangnya, berupa alat-alat kebersihan.
Baru saja satu langkah dia keluar, tiba-tiba ....
Brugh
"Aww." Kirana reflek teriak karena dia terjatuh setelah membentur sesuatu.
Peralatan Kirana jatuh berantakan di lantai. Kirana bangun dan mengusap celana belakangnya, rasanya sungguh sakit. Kirana melihat ke arah Pria yang ada di hadapannya.
Dia merasa wajah pria ini tidak asing. Di mana dia pernah melihatnya. Kirana berusaha untuk mengingat. Memorinya berputar lalu Kirana teringat saat dia menolong seseorang pria yang tertusuk pisau.
Benar, pria ini adalah pria itu, pria yang telah dia tolong. Jadi pria itu bekerja di sini juga, tetapi Kirana tidak pernah melihatnya. Kirana termenung menatap Pria di hadapannya.
"Hei, bisa kamu menyingkir? Saya mau ke toilet."
"Ha, oh iya. Maaf ... silahkan." Kirana tersadar dari lamunannya. Kemudian dia menggeser badannya sambil menunduk. Benarkah pria ini orang yang di tolongnya? Hati Kirana bertanya-tanya, tetapi sikap pria ini sombong sekali.
Kirana lalu mengedikkan bahu, dan membereskan peralatan perangnya. "Aduh, bokong gue sakit banget lagi. Itu badan apa tembok keras amat, sampai gue mental" Kiran bergumam seraya mengusap bokongnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Iiae Wesh
kok kosongnya banyak
2025-02-20
0
Kinan Rosa
Kiran itu bokong kamu yang kurus bukan yang di tabrak yang kaya tembok 😄
2023-01-22
0