Di pagi hari, Sandra bangun tidur lansung teringat akan pesan Vadeo, untuk membawakan hasil mmasakannya. Dia lalu bergegas menuju ke dapur. Terlihat Mbok Nah masih sibuk di dapur.
“Kalau sibuk tidak usah membantu Mbok, dari pada nanti telat masuk kerjanya.” ucap Mbok Nah saat melihat Sandra masuk ke dalam dapur.
“Ehm mau buat bekal untuk makan di kantor Mbok...” jawab Sandra. Mbok Nah hanya tersenyum sambil menatap sekilas Sandra yang sedang melihat lihat bahan di dapur. Akhirnya Sandra membuat makaroni skutel. Dengan cekatan dia mengeksekusi bahan bahan. Dia membuat lebih banyak, tidak hanya untuk Vadeo tetapi juga untuk Ibu Rina, Mbok Nah dan Pak No dan tentu saja untuk dirinya. Tidak lama kemudian aroma sedap skutel telah menguar di dalam ruangan dapur dan menjalar ke ruang lainnya terbawa oleh angin.
“Mbok, sudah matang, aku mandi siap siap ya biar nanti bisa berangkat bersama Ibu Rina.” ucap Sandra lalu meninggalkan Mbok Nah untuk bersiap diri. Mbok Nah tersenyum sambil memberikan ibu jarinya sebagai isyarat jawaban okey.
Sementara itu di lain tempat Vadeo masih tertidur di kamar mewahnya. Hapenya berdering terus menerus. Dengan malas dan mata masih terpejam dia meraba raba mencari hapenya yang berada di dekat tempat tidurnya. Dia berpikir itu Riris yang menghubunginya hanya untuk mengatakan selamat pagi sayang. Masih dengan mata terpejam.
“Hallo.” ucap Vadeo dengan suara parau khas orang bangun tidur.
“Deo, apa kamu menyuruh Sandra masuk ke dalam ruanganku?” tanya Justin di seberang sana. Mendengar yang menelpon Justin, Vadeo langsung membukakan matanya dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
“Ya aku pernah menyuruhnya.” jawab Vadeo karena dia memang pernah menyuruh Sandra ke dalam ruangan Justin.
“Kapan?” tanya Justin lagi.
“Aku lupa, memang ada apa?” jawab Vadeo sambil ganti bertanya.
“Ah kamu itu semua diurus sekretaris jadi mudah lupa. Percuma juga aku tanya kamu.” ucap Justin lalu menutup sambungan telponnya. Sedangkan Vadeo menatap hape yang sudah terputus sambungannya sambil mengangkat kedua bahunya.
Di ruangan CEO. Sandra terlihat wajahnya tersenyum ceria, misi dia bisa dibilang sudah hampir selesai tinggal menyelesaikan tugasnya menyamar menjadi Sandra dan menghilang secara alami tanpa menimbulkan kecurigaan.
Kotak skutel untuk Vadeo sudah ditaruh di atas meja kerja Vadeo di samping secangkir kopi. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan tampak sosok Vadeo yang tampan segar dan wangi. Vadeo melihat ada kotak makanan dan secangkir kopi.
“Hmmmm harum... “ ucap Vadeo sambil melihat apa yang ada di atas mejanya.
“Sepertinya enak.” ucap Vadeo sambil menaruh pantatnya di kursi kerjanya. Dia lalu mengambil cangkir kopinya setelah menyesap dan menaruh lagi cangkir di tempatnya lagi dia menarik kotak skutel dan membukanya....
“Wow ini makanan kesukaanku, meskipun aku sudah sarapan aku akan sarapan kedua San... sepertinya ini sedap sekali he...he...” ucap Vadeo sambil tertawa kecil dengan pandangan mata tidak lepas dengan skutel makaroni buatan Sandra yang menggoda. Sandra yang melihat Vadeo akan makan, dia lalu bangkit berdiri untuk menyiapkan keperluan Vadeo. Vadeo tampak puas dengan makanan buatan Sandra. Setelah selesai sarapan kedua, Vadeo terlihat memulai pekerjaan matanya sibuk menatap layar lap topnya. Sandrapun sibuk dengan pekerjaannya, dia berusaha saat dia resign nanti semua pekerjaannya beres dan sekretaris pengganti selanjutnya tinggal meneruskan dan tidak kerepotan dengan masalah masalah pekerjaan tertunda.
Namun tiba tiba terdengar suara dering di hape Vadeo. Vadeo meraih hapenya, Justin menelpon lagi. Meminta Sandra untuk mengambil berkas berkas di ruang kerjanya.
“San, kamu datang ke ruangan Justin ambil berkas berkas yang harus aku tanda tangani. Dia dan Dino sedang di survey di luar..” ucap Vadeo sambil menyerahkan secarik kertas bertulisan sebaris huruf dan angka pass word pintu Justin yang baru saja dia tulis.
Sandra menerima kertas itu, padahal tanpa diberi pass wordnya pun dia bisa masuk ke pintu ruangan Justin. Sandra lalu berjalan meninggalkan ruangan CEO dan berjalan menuju ke ruangan Justin, dia melewati ruangan Dino, ruangan yang berdinding kaca itu juga terlihat sepi. Sandra terus berjalan lalu berhenti di pintu ruangan Justin, ruangan yang terlihat dari luar seperti gudang namun di dalamnya merupakan ruangan VIP hampir menyerupai ruangan Vadeo. Setelah pintu terbuka Sandra berjalan menuju ke meja kerja Justin. Namun Sandra terlihat kaget sambil memegangi kacamatanya sebab radarnya bergetar sangat kuat. Juga hapenya mendapat banyak notifikasi. Sandra mengedarkan pandangan matanya ke seluruh isi ruangan Justin. Lalu dia berjalan mencari cari di mana sumber yang membikin getaran kuat di radarnya.
Sementara itu di dalam ruangan tersebut ada Justin yang bersembunyi di tempat yang aman. Dia bisa melihat tingkah Sandra namun Sandra tidak bisa melihat dirinya. Justin tersenyum puas permainannya berhasil.
“Hai tikus ini baru permainan awal, kamu sudah masuk di dalam perangkapku. Kamu bisa mengetahui ada sesuatu di ruanganku ini. Kamu ternyata bukan gadis yang lugu tetapi gadis yang licik kamu berkamuflase. Siapa yang mengirimmu.” gumam Justin dalam hati dan terlihat geram. Dia melihat Sandra berjalan menuju ke arah persembunyiannya.
Sandra terus berjalan maju di depannya ada sebuah lemari yang besar kokoh tempat Justin bersembunyi di dalamnya.
“Apa ada alat alat Justin di dalam.” gumam Sandra dalam hati, sambil tangannya berusaha untuk membuka lemari tersebut.
TOK! TOK! TOK!
Sandra menoleh ada suara ketukan di pintu ruang Justin. Sandra membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ke meja untuk mengambil berkas berkas yang harus dia bawa. Sementara Justin yang berada di dalam persembunyiannya terlihat senang sebab Sandra tidak jadi membuka lemari tempat dia bersembunyi.
“Apa Justin sudah datang, tetapi kenapa dia mengetuk pintu bukannya dia yang membuat pass word.” gumam Sandra dalam hati lalu melangkah menuju ke arah pintu dengan tangan yang sudah membawa berkas berkas yang harus ditandatangani Vadeo. Sandra membuka pintu pelan pelan. Saat daun pintu sudah terbuka terlihat sosok Dino dengan senyuman menyeringai.
“Hallo apa kamu sedang mencari idolamu?” tanya Dino dengan tatapan mata mengejek. Sandra hanya diam saja lalu dia berlalu meninggalkan ruangan Justin. Dalam hati Sandra mengerutu sebab kedatangan Dino menggagalkan dia yang hampir menemukan sumber radarnya yang bergetar kuat. Sandra terus berjalan sambil berpikir nanti akan mengecek ruangan Justin lewat CCTV ruangan Justin yang sudah terhubung dengan sistemnya.
Sementara itu, Justin keluar dari tempat persembunyiannya.
“Sialan kamu Din, kamu terlalu lama datang hampir saja, tikus got itu menemukanku.” ucap Justin sambil menutup kembali lemari besarnya.
“Maaf Bos, tadi ada sesuatu hal yang harus segera dikerjakan, bisa bahaya jika terlambat.” Jawab Dino dengan serius.
“Apa?” tanya Justin kuatir sebab dia merasa kini sedang dalam kondisi waspada setelah mengetahui Sandra adalah seorang mata mata.
“He... he... ke toilet Bos.” jawab Dino sambil terkekeh.
“Sialan kamu.” ucap Justin sambil menonjok pundak Dino.
“Aku masih ada rencana lanjutan bermain main dengan tikus got itu. Aku tidak ingin terlalu cepat. Biarlah dia bersenang senang dulu.” ucap Justin sambil tersenyum licik.
“Aku juga tidak akan memberi tahu pada Vadeo ataupun Om Jonathan. Ini adalah rahasiaku... Aku tidak ingin jika aku hanya dijadikan mesin oleh mereka aku nanti yang akan menguasai mereka. Kamu tahu itu Din..” ucap Justin dengan serius sambil menatap tajam pada Dino yang berada di depannya. Dino wajahnya terlihat antara kaget dan ketakutan. Dia tidak tahu harus berada di pihak mana di pihak Justin atau di pihak Tuan Jonathan.
“Dengarkan aku Din, jika sampai Om Jonathan atau Vadeo tahu itu berarti dari mulutmu, dan kamu tahu sendiri akibatnya.” ucap Justin sambil menarik erat baju depan Dino di bagian krah depannya hingga Dino merasa tercekik lehernya.
Justin lalu melepaskan dan mendorong tubuh Dino dengan kuat hingga Dino terhuyung dan hampir saja jatuh jika tidak bertopang dinding ruangan Justin. Justin lalu pergi meninggalkan ruangannya. Justin masih berpikir keras siapa sebenarnya Sandra, siapa orang yang menyuruh Sandra. Justin pun menaruh curiga pada Tuan Jonathan dan Video.
“Hmmmmm bisa saja mereka yang melakukan. Memang tidak bisa mempercayai orang seratus persen meskipun itu saudara sendiri. Aku harus lebih waspada.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Nurwana
kayaknya Justin pacarnya Riris.
2023-10-23
3
Santy Listyana Dewi
dasar pengkhianat kau Justin... semoga Sandra bisa menghandle kecurangan justin
2022-11-24
0
Azizah az
ketika silicik Justin dan sicerdas Sandra dipertemukan siapakah yg unggul
2022-11-22
1