Sandra telah resmi menjadi sekretaris pribadi Vadeo. Masa transisi yang rencananya akan dilakukan selama tiga bulan karena Sandra cekatan dan cepat paham menjadi lebih cepat dari waktu yang sudah direncanakan.
“San, selamat ya kamu sekarang sudah menjadi sekretaris pribadi CEO, maaf baru bisa ucapkan selamat sekarang... sebab baru ketemu kamu sekarang.” ucap Jojo dengan tulus. Saat dia ketemu Sandra di mini pantry, Sandra sedang membuat kopi untuk Vadeo, sedangkan Jojo bertugas mengantar logistik dan mengecek kesediaan logistik.
“Terimakasih Jo... Eh.. Jo kamu tahu tidak kopi apa yang biasa Nona Riris buat untuk Tuan Vadeo?” tanya Sandra pada Jojo, sebab Riris sudah memberitahu tetapi ternyata Vadeo tidak menyukai kopi buatannya. Pernah sampai beberapa kali diulang dan belum pas juga. Karyawan yang melihat Sandra mondar mandir membuat kopi dan masih terus salah tentu saja menjadi bahan pembicara mereka yang menyenangkan.
“Oooo itu.. ini nih... “ jawab Jojo sambil membuka lemari mini pantry di bagian paling pojok. Jojo lalu mengambil dua buah kotak kecil dan alat pemanas elektronik.
“Ini San, aku ajari kamu. Makanya aku cek kopi dan gula di tempat ini belum berkurang. Ternyata kamu belum pernah memakainya buat Tuan Vadeo.” ucap Jojo lalu membuka dua kotak yang berisi kopi dan gula khusus untuk Vadeo. Sandra terlihat mendekati Jojo dan melihat apa yang dilakukan Jojo.
“Ini kopi dan gulanya khusus?” tanya Sandra penasaran
“Iya, ini kopi jenis khusus harus pesan belinya, gulanya juga gula khusus. Terus gini nih buatnya, atur suhu di sini ya...” jawab Jojo sambil mengajari Sandra membuatkan kopi dengan alat pemanas itu dan memberi tahu takarannya dan suhu alat pemanasnya.
“Nih sudah selesai.” ucap Jojo sambil menuang kopi ke dalam cangkir. Sandra terlihat tersenyum senang. Ternyata masih ada beberapa orang baik di bumi ini, begitu batin Sandra.
“Terimakasih ya Jo, kamu baik.” ucap Sandra sambil tersenyum dan menaruh cangkir ke atas nampan dan akan membawakan untuk Vadeo.
“Sama sama San, eh bay the way kamu lebih baik begini tidak pakai make up seperti kemarin itu. Maaf.” ucap Jojo dengan hati hati sambil menatap wajah Sandra.
“He.. He.. kemarin kayak badut atau kayak nenek nenek ya....” ucap Sandra sambil tertawa kecil lalu meninggalkan ruangan mini pantry tersebut, Jojopun ikut tertawa kecil sambil menatap punggung Sandra.
Tidak lama kemudian Sandra sudah berada di dalam ruangan Sang CEO. Dia menaruh cangkir kopi di meja Vadeo. Aroma kopi menguar sampai di hidung Vadeo. Menghirup aroma kopi yang menggoda Vadeo lalu mengambil cangkir tersebut lalu menghirup aroma kopi tersebut dari dekat. Sedangkan Sandra sudah duduk di kursi kerjanya sambil mengamati dari sana. Melihat apa kopi buatan Jojo benar seperi yang Riris buat.
“Sepertinya kamu sudah bisa buat kopi seperti yang Riris buat.” ucap Vadeo yang masih menghirup hirup aroma kopi dari cangkirnya. Lalu dia menyesap dengan pelan pelan dan seterusnya dia tersenyum.
“Good...” gumam Vadeo sambil mengangguk anggukan kepalanya. Sandra yang melihat tersenyum senang. Jojo benar benar tulus membantunya, gumam Sandra dalam hati.
Sandra melanjutkan kerjanya. Sandra heran selama menjadi sekretaris pribadi Vadeo tidak belum pernah bertemu dengan Justin. Hanya Dino sang wakil direktur pelaksana yang sering datang ke ruangan Vadeo dan juga di saat saat ada meeting.
“Kenapa aku belum pernah bertemu lagi dengan orang itu ya? Apa dia juga ke luar negeri seperti Tuan Jonathan. “ gumam Sandra dalam hati.
“San.” ucap Vadeo agak keras dan Sandrapun terlonjak kaget.
“Iya Pak.” jawab Sandra sambil mendongak menatap Vadeo. Dia lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke meja Vadeo sebab saat menatap Vadeo, Vadeo menganggukkan kepalanya sebagai isyarat agar Sandra mendekat.
“Kamu antar ini ke tempat Justin. Penting ini harus sekarang.” ucap Vadeo sambil mengulurkan setumpuk dokumen. Sandra yang mendengar hal itu hatinya sangat senang ini yang ditunggu tunggu. Karena senangnya Sandra sampai gemetar.
“Apa satu ruangan dengan Pak Dino?” tanya Sandra dengan hati hati sebab yang sudah dikerjakan dia mengantar dokumen ke ruang kerja Dino.
“Di ruang kerja Justin, owh maaf kamu belum tahu ruangannya ya. Ini ruangannya dan ini pass word nya setelahnya hancurkan kertasnya .” ucap Vadeo sambil mencoret coret di atas kertas note lalu diserahkan pada Sandra.
“Aku sudah bilang pada Justin aku mau menaruh dokumen di ruangnya. Kamu langsung saja masuk dan taruh di mejanya. Justin sedang tugas meninjau pabrik sebentar lagi menuju ke sini.” ucap Vadeo selanjutnya. Sandra menerima secarik kertas dan membawa dokumen dokumen yang harus diantar ke ruangan Justin. Sandra senang namun juga berdebar debar. Dia berharap semua berjalan dengan lancar.
Sandra berjalan menuju ke ruangan yang sudah ditunjukkan oleh Vadeo, setelah di depan pintu dia memencet pass word yang diberikan benar pintu langsung terbuka. Sandra berjalan menuju ke meja Justin. Sandra membenarkan letak kacamata di wajahnya. Dia konsentrasi untuk mendengarkan informasi radarnya. Namun tidak di dapatkan.
“Apa karena tidak ada orangnya, sehingga radar tidak bergetar, apa memang bukan Justin orangnya. Tetapi alat kerja Justin di ruangan ini. Apa Tuan Jonathan pelakunya.” gumam Sandra dalam hati sambil pandangan matanya mengitari isi ruang kerja Justin.
“Kalau Tuan Jonathan pelakunya aku harus segera pergi dari sini dan mencari dimana Tuan Jonathan berada.” ucap Sandra lagi sambil terus mendekat ke meja Justin. Sandra lalu menaruh dokumen dokumen itu di meja Justin.
Namun saat Sandra akan meninggalkan meja kerja Justin, Sandra kaget sebab radarnya bergetar meskipun minim. Sandra dengan penasaran dan dengan hati hati menghidupkan komputer yang berada di meja Justin. Jantung Sandra berdebar debar sangat kencang, sebab radarnya bergetar sangat kuat.
Sandra lalu dengan cepat cepat mematikan komputer di meja itu. Dia kuatir Justin akan segera datang.
Sandra berjalan menuju pintu untuk keluar. Namun saat pintu mau dibuka, daun pintu sudah bergerak dan pintu sudah terbuka. Muncul sosok Justin di depannya, Justin menatap dirinya dengan tatapan mata tidak bersahabat bisa dibilang tatapan membunuh. Jantung Sandra berdebar sangat kencang antara kaget yang mendadak ada Justin di depannya dan juga radar Sandra bergetar begitu kuat saat ini. Justin melihat wajah Sandra yang memucat dia hanya mengira Sandra takut pada dirinya.
“Maaf Pak Justin.” ucap Sandra terbata bata.
“Hmmm.” gumam Justin lalu dia berjalan masuk ke dalam ruangannya. Setelah Sandra keluar dari pintu, Justin menutup pintunya rapat rapat.
Sandra setelah keluar dari ruangan Justin, memegang dadanya yang masih berdetak kencang. Sedangkan getaran radarnya sudah melemah setelah pintu ditutup Justin dan lama lama getaran menghilang.
“Sepertinya dia pelakunya.” gumam Sandra dalam hati sambil masih memegang dadanya, dia masih berdiri untuk menetralkan detak jantungnya. Di saat dia masih memegang dadanya tampak Dino berjalan dari ruang kerjanya menuju ke ruang kerja Justin.
“Hai kenapa kamu, wajahmu pucat sekali?” tanya Dino saat di depan Sandra sambil memandangi wajah Sandra.
“Ehmm kaget saat buka pintu ada Pak Justin di depan saya.” jawab Sandra sambil tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
“Kamu kaget apa terpesona pada Pak Justin.” goda Dino sambil tersenyum lalu berjalan ke pintu ruang Justin dan tampak dia mengetuk ngetuk pintu. Tidak lama pintu terbuka dan muncul sosok Justin.
“Ha... ha... ada fans barumu Tuan Justin, dia mungkin jatuh cinta kepadamu sampai wajahnya pucat pasi.” ucap Dino sambil tertawa dan menoleh ke arah Sandra. Sedangkan Sandra cepat cepat berjalan meninggalkan tempat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
aphrodite
dari satu perusahaan cuma 2 orang itu yg baik (Bu Rina Jojo)
2024-12-19
0
aphrodite
inget San jangan bertindak mencurigakan
2024-12-19
0
Tinna Augustinna
ternyata tersangkanya c Justin untung g pke Bieber
2022-12-12
2