Sandra sudah bekerja dengan seragam barunya. Postur tubuhnya yang ideal tampak indah dengan baju seragam baru. Hanya wajahnya saja tidak berubah masih tampak cupu dan lugu. Namun demikian tampilan Sandra dan job Sandra membuat iri banyak karyawan.
Sandra sudah mulai mengantar jamuan pada pertemuan pertemuan penting yang mana dihadiri oleh orang orang penting. Selama Sandra bekerja, dia selalu menguping pembicaraan pembicara para petinggi perusahaan. Dia juga membawa alat perekam yang tidak diketahui oleh siapapun. Kacamata dan hape Sandra adalah dua alat yang digunakan Sandra untuk menjalankan misinya.
Wika adalah orang yang dengan level paling tinggi tingkat irinya pada Sandra. Dia akan membuat celaka dengan mengambil kacamata Sandra atau membuat rusak kacamata Sandra. Wika mencari cara bagaimana agar Sandra lepas dengan kacamatanya atau membuat kacamata Sandra pecah.
“Sial benar kenapa aku bisa satu ruangan dengan teropong berjalan itu. Tugasku yang menyenangkan. sudah diambil alih olehnya juga. Aku tidak bisa mencuri curi pandang pada menejer muda yang keren.” gerutu Wika saat seorang diri di dalam ruang kerjanya. Sebab ibu Rina sedang meeting dan Sandra bertugas mengantar jamuan.
“Aha.. aku punya ide brilian. Kalau gembel cupu itu tidak pakai kacamatanya pasti dia tidak bisa bekerja.” ujar Wika dengan senang sebab dia mendapatkan cara untuk membuat Sandra celaka. Wika lalu melanjutkan kerjanya dengan bersenandung sebab merasa senang hatinya.
Dan tidak lama kemudian pintu terbuka, Wika menoleh ke arah pintu,
“San.” ucap Wika pada Sandra saat Sandra masuk ke dalam ruangan usai mengantar jamuan pertemuan penting kepala divisi yang mana ibu Rina juga masih berada di sana.
“Iya Kak Wika.”
“Kamu sudah tahu belum kalau perusahaan kita akan merayakan hari jadinya.”
“Belum Kak, kapan?”
“Masih 2 bulan lagi, tapi sudah ada persiapan. Kamu mau bantu kan persiapan di divisi kita.”
“Pasti Kak, tapi ibu Rina belum memberitahu.”
“Ah.. untuk masalah ini ibu Rina tahunya jadi.”
“Masalah apa?”
“Kan saat acara ada lomba olah raga antar divisi. Nah divisi kita sudah latihan kamu ikut latihan ya.”
“Olah raga apa?”
“Basket, volly, tepuk bulu.”
“Aku tidak bisa olah raga itu Kak.”
“Kalau tidak bisa main jadi supporter, harus dukung divisinya apalagi kamu anak baru harus memberi kontribusi.”
“Baik Kak, latihannya dimana?”
“Di belakang ada lapangan. Nanti ada latihan kamu ikut ya.”
“Aku ijin dulu dengan Ibu Rina.”
“Kayak anak TK saja apa apa minta ijin mentang mentang anak kesayangan ibu Rina.” ucap Wika lalu terlihat Wika menghubungi teman temannya dengan hapenya. Dan mereka semua sepakat untuk memberi pelajaran pada Sandra sepulang kerja di lapangan basket.
Sandra yang sudah duduk di kursinya mendadak ada notifikasi di hapenya. Dia mengambil hapenya setelah dibuka notifikasi terpampang sadapan pembicaraan Wika dan teman temannya yang akan memberi dia pelajaran di lapangan basket. Sandra lalu memasukkan lagi hapenya.
“Harus waspada aku.” gumam Sandra dalam hati. Sandra lalu kembali melanjutkan kerjanya.
“Paling juga sms dari operator seluler San, ga usah dibuka buka hape jadulmu itu.” ucap Wika mencibir
“Bukan Kak, ini tadi dari kominfo.” jawab Sandra dengan culunnya dan Wikapun percaya.
“Ha.... ha.... .” tawa Wika pecah menertawakan Sandra padahal Sandra membohonginya.
Saat sore hari Sandra dan Wika sudah selesai bekerja, mereka berdua sudah memberesi semua pekerjaannya. Sedangkan ibu Rina belum selesai meeting.
“Ayo San, tidak usah nunggu ibu Rina, meeting mereka mungkin belum selesai.”
“Kak, kan tidak membawa baju olah raga.” ucap Sandra berdalih agar tidak jadi latihan basketnya.
“Di bawah ada pakaian olah raga bersih.”
“Ayo.” ucap Wika sambil menarik tangan Sandra, dia sudah tidak sabar untuk memberi pelajaran pada Sandra.
Wika berjalan cepat sambil menggandeng tangan Sandra. Dan tidak lama kemudian mereka berdua sudah berada di halaman belakang gedung dan memang ada lapang basket, volly dan badminton. Tidak lama kemudian muncul beberapa karyawan pantry sudah memakai baju olah raga. Wika cepat cepat mengajak Sandra ke ruang ganti.
“Kak, aku kan tidak bisa main aku duduk nonton saja ya, tadi katanya aku hanya sebagai supporter saja.”
“Sudah latihan saja, kalau memang benar benar tidak bisa baru kamu duduk sorak sorak.”
Sandra akhirnya dengan terpaksa harus memakai baju olah raga tersebut. Saat masuk ke dalam kamar ganti Sandra bingung sebab baju olah raga tersebut tidak ada sakunya.
“Haduh bagaimana ini hape aku taruh dimana, tidak mungkin aku titipkan ke orang lain atau kubiarkan jauh dariku.” gumam Sandra sambil matanya melihat lihat isi di dalam kamar ganti itu. Namun tiba tiba Sandra tersenyum saat matanya melihat ada tas plastik besar. Dia lalu mengambil tas plastik itu lalu menaruh hape di dalamnya dan diikatkan di pinggangnya lalu dia menutupinya dengan kaos olah raga.
“Aman.” ucap Sandra pada dirinya sendiri. Dia lalu keluar dari ruang ganti sambil membawa seragam dan tasnya.
Terlihat teman temannya sudah menunggu. Wajah wajah dengan senyuman licik meremehkan dan ingin membully Sandra tampak pada mereka semua.
“Seragam, tas dan kacamatamu taruh di situ, kayak kita semua.” teriak Wika yang sudah berada di antara mereka sambil menunjuk tempat untuk menaruh barang. Wika sebenarnya sangat ingin Sandra melepas kacamatanya lalu dia akan mengambilnya.
“Wik, bagaimana mungkin Sandra tidak pakai kacamata. Bisa nabrak nabrak nanti.”
Sandra akhirnya menaruh seragam dan tasnya sama dengan teman teman yang lain. Lalu mereka semua masuk ke dalam lapangan basket. Mereka berlatih normal seperti tidak ada maksud jahat pada Sandra. Namun lama lama bola selalu mengarah pada kepalanya Sandra. Sandra selalu bisa menangkap bola atau menghindari kepalanya dari benturan bola.
Beberapa menit kemudian secara tiba tiba tubuh Sandra dipegangi oleh beberapa orang dan ada orang yang mengarahkan bola kepada kepalanya. Sandra memiringkan kepalanya namun sayang kacamatanya tetap terkena benturan bola, dan terjatuh. Semua orang yang memegang Sandra langsung melepaskan tubuh Sandra sambil mendorong tubuh Sandra. Sandra terhuyung jatuh. Wika yang melihat kacamata Sandra jatuh dengan cepat kakinya terarah akan menginjak kacamata itu. Namun sebelum kaki Wika menyentuh dengan cepat Sandra menyambar kacamatanya.
“Latihan hari ini cukup, baju olah raga di bawa pulang dan dicuci besok dikembalikan.” ucap Wika ketus cenderung kesal sebab gagal menginjak kacamata Sandra.
“Padahal kamu cantik tanpa kacamata, tapi kamu tidak bisa melihat apalagi hari sudah akan mulai gelap. Selamat meraba raba....” ucap salah satu dari mereka.
Lalu mereka semua pergi meninggalkan Sandra seorang diri. Sandra bangkit berdiri lalu mengamati kacamatanya, tidak pecah lensanya sebab lensa anti pecah nanti bingkai tampak bengkok. Wajah Sandra tampak sangat kuatir sebab di dalam bingkai itu ada instrumen instrumen halus untuk mendukung cara kerja radarnya.
Sandra memakai kacamata tersebut lalu berjalan ke ruang ganti. Tampak suasana sudah sepi sepertinya yang lain sudah beranjak pulang. Setelah selesai berganti Sandra cepat cepat menyusul keluar untuk pulang ke rumah ibu Rina dengan memakai transport umum.
Sesampai di rumah hari sudah gelap. Pak No yang berada di pintu gerbang menanyakan pada Sandra kenapa Sandra pulang malam dan tidak bersama ibu Rina. Sandra menjawab dengan jujur bahwa dia diajak latihan basket Wika. Setelah memberi keterangan pada pak No, Sandra langsung menuju ke kamarnya. Dia menyalakan lampu lalu membuka kacamatanya. Dia mengecek kerusakan yang terjadi dan dengan tekun membetulkan segala kerusakan, agar sistem radarnya bisa berfungsi lagi. Sampai larut malam Sandra masih berjibaku dengan alat alatnya, sampai sampai dia belum makan dan belum mandi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
💐Nie Surtian💐
Baru baca sampai bab ini... Bagus ceritanya... bikin penasaran... Suka sama Sandra, kuat mentalnya...
2024-02-28
2
Nia Sulistyowati
semangat mbak sandra,,author selalu bersamamu😁
2024-02-08
2
Zanora
semangat ya thor 😘
2023-02-11
2