Vadeo Jonathan, putra tunggal dari Tuan Jonathan pemilik perusahaan Jonathan Co. Sebuah perusahaan coklat besar yang akhir akhir ini berkembang pesat mengalahkan semua pesaingnya.
Setelah berjalan meninggalkan ruang divisi HRD, Vadeo melangkah menuju lift. Vadeo masih berdiri di depan lift menunggu pintu terbuka. Riris yang berjalan mengikutiya kinipun sudah berdiri di samping Vadeo. Tidak lama kemudian pintu lift terbuka, mereka berdua lalu masuk ke dalam lift. Riris sang sekretaris berpenampilan sexy, dengan baju belahan dada rendah dan rok mini. Riris berdiri di samping Vadeo di dalam lift dengan posisi yang sangat dekat tanpa skat.
“Kenapa orang seperti dia di terima kerja?” tanya Riris sambil membenarkan krah blazer Vadeo.
“Kenapa kamu cemburu?” ucap Vadeo dengan nada dingin. Vadeo menanyakan hal itu sebab sudah beberapa kali Riris mengungkapkan perasaan cintanya pada Vadeo. Tapi Vadeo belum memberi jawaban, belum menerima dan tidak menolaknya. Sebab Vadeo masih membutuhkan Riris sebagai sekretaris pribadinya.
“Mana mungkin aku cemburu dengan gembel cupu. “ jawab Riris
“Tidak level.” ucap Riris kemudian.
“Ya sudah tidak usah dibahas.” ucap Vadeo dengan nada datar.
“Jadi kamu terima aku sebagai kekasihmu.” Ucap Riris dengan tatapan menggoda. Sebelum Vadeo memberi jawaban pintu lift sudah terbuka. Vadeo lalu melangkah meninggalkan lift dan diikuti oleh langkah kaki Riris.
“Apa jadwalku pagi ini?” tanya Vadeo saat sudah masuk ke ruang kerjanya.
“Justin akan presentasi laporan kerjanya.” jawab Riris sambil melangkah menuju kursi kerjanya.
“Harusnya sudah dimulai, tapi kenapa Justin belum ke sini.” ucap Riris sambil melihat jam yang menempel di pergelangan tangan kirinya.
“Kamu hubungi dia!” perintah Vadeo lalu mendudukkan pantatnya di kursi kerjanya.
“Baik Tuan.” ucap Riris dengan gerakan tubuh menggoda. Vadeo hanya geleng geleng kepala.
Riris lalu terlihat sibuk dengan hapenya untuk menghubungi Justin sang direktur pelaksana. Terlihat agak lama Riris berkomunikasi dengan Justin. Dan setelah selesai Riris lalu meletakkan hapenya di meja kerjanya.
“Aku buatkan kopi buat Tuan Vadeo dan Tuan Justin.” ucap Riris lalu dia berjalan meninggalkan ruang kerja. Terlihat Vadeo hanya menganggukkan kepala. Tidak bisa dipungkiri memang hanya Riris yang bisa membuatkan kopi yang sesuai dengan seleranya. Beberapa pegawai pantry sudah mencobanya tetapi tetap saja tidak senikmat kopi yang dibuat Riris.
“Gila apa dia pakai guna guna sehingga aku kecanduan kopi buatannya.” gumam Vadeo dalam hati.
“Ah.. Tidak percaya hal seperti itu, mungkin Riris membuat dengan takaran yang pas dan dengan panas air yang pas.” gumam Vadeo menyangkal praduganya sendiri.
Tidak lama kemudian pintu terbuka tampak Justin yang membuka pintu lalu tidak lama kemudian Riris masuk dengan nampan berisi tiga cangkir kopi. Lalu Justin menutup pintu selanjutnya berjalan mengikuti Riris.
Riris lalu menaruh cangkir kopi di meja Vadeo selanjutnya menaruh dua cangkir kopi lainnya di meja sofa dimana Justin sudah duduk di situ. Justin tidak membuang kesempatan melihat belahan dada Riris yang mempesona saat menunduk menaruh cangkir kopi. Sedangkan Riris yang merasa dilihat nampak tersenyum lalu duduk di kursi sofa yang lain.
“Kenapa harus dipanggil baru datang?” tanya Vadeo pada Justin
“Sorry aku tadi sudah ke sini tapi kamu belum datang.” Jawab Justin dengan santai lalu mengambil cangkir kopi dan menyeruput isinya.
Justin adalah direktur pelaksana yang juga merupakan saudara sepupu Vadeo.
“Kita juga sudah sejak pagi datang tapi gara gara ngurus gembel jadi terlambat masuk ruang kerja.” ucap Riris dengan bibir mencebik
“Gembel?” tanya Justin sambil memandang Riris dan Vadeo secara bergantian.
“Ngapain harus sang CEO yang ngurus, pak Satpam kerja apa?” tanya Justin lagi
“Bukan gembel. Ada orang cari kerja, tapi dia tidak punya id card karena kecopetan.” jawab Vadeo.
“Terus?” tanya Justin kepo
“Diijinkan kerja oleh sang CEO yang baik hati, padahal divisi HRD sudah mengusirnya.” saut Riris dengan mimik wajah kesal.
“Sepertinya kamu tidak terlalu suka pada orang itu.” tebak Justin sambil menatap Riris.
“Iya dia cemburu.” ucap Vadeo dengan senyum tipis
“Sudah dibilang tidak level.” ucap Riris.
“Deo, apa kamu percaya begitu saja?” tanya Justin serius
“Tidak, sudah lah aku lakukan demi kemanusiaan. Dia anak panti, beri saja kesempatan. Aku juga pakai banyak syarat buat dia dan minta ibu Rina mengawasinya.” jawab Vadeo.
“Okey lah aku setuju jika demi kemanusiaan.” ucap Justin.
“Aku ingatkan pada kalian kalau Jonathan Co sebuah perusahaan bukan dinas sosial, kita juga sudah ada CSR untuk kemanusiaan. Sudah, kita sudah terlambat karena masalah gembel itu, sekarang di sini kita masih bahas dia.” ucap Riris
“Tuan Justin tujuan Anda diundang untuk melaporkan hasil kerja anda.” ucap Riris kemudian sambil menatap Justin
“Okey okey Nona Riris yang cantik, saya akan laporkan progres perusahaaan kita.” ucap Justin lalu membuka lap topnya sedangkan Riris menyiapkan proyektor mini. Agar Vadeo bisa melihat tampilan layar lap top Justin dari tempat duduknya.Justin lalu menyampaikan laporan hasil kerjanya. Tampak Vadeo mengangguk anggukan kepalanya nampak puas dengan pencapaian Jonathan Co.
Tidak lama kemudian Vadeo dan Riris bertepuk tangan memberi applaus. Dan setelahnya Justinpun ikut bertepuk tangan.
“Applaus buat kita semua, buat Jonathan Co.” Ucap Justin mantap sambil masih bertepuk tangan.
“Aku tidak menyangka Jonathan Co bisa secepat kilat melesat.” ucap Vadeo bangga dengan hasil kerja Justin.
“Iya tinggal satu langkah lagi kita jadi yang number one.” ucap Justin.
“Masih ada satu pemegang saham terbesar Wiliam Group yang setia di sana.” ucap Vadeo kemudian.
“William Group sudah mulai terjun, sebentar lagi akan terjungkal dan hancur lebur.” ucap Justin sambil tersenyum lebar.
“Kamu memang hebat Justin.” puji Vadeo.
“Sehebat hebatnya aku hanya sebatas pelaksana Tuan Deo.” ucap Justin sambil tersenyum.
“Okey okey untuk merayakan pencapaian kita bagaimana kalau nanti kita adakan pesta kecil kecilan.” usul Riris
“Setuju Nona Riris, atur saja.” ucap Vadeo.
“Ah resmi amat kalian berdua ini. Sudahlah aku sudah mencium aroma kalian ada afair.. tidak usah sungkan kamu kalau mau mesra mesra di depanku, Deo.” Ucap Justin sambil tersenyum memandang Vadeo dan Riris secara bergantian.
“Aku dukung kalian berdua sampai pelaminan. Kalau perlu aku bujuk Tante dan Om agar merestui kalian.” ucap Justin kemudian.
Riris tampak tersenyum senang, sedangkan Vadeo hanya diam, mau bilang dia tidak ada perasaan dengan Riris takut menyinggung perasaan Riris. Apalagi saat ini Riris sangat berperan untuk memajukan perusahaannya.
“Vadeo, habis ini kita ada meeting dengan calon investor baru.” ucap Riris memberi tahu jadwal Vadeo selanjutnya.
“Aku sudah siapkan semua materinya.” ucap Riris selanjutnya. Vadeo terlihat menganggukkan kepalanya.
“Okey Justin, kamu boleh kembali ke ruang rahasiamu.” ucap Vadeo pada Justin. Justin terlihat mengangkat jempolnya, lalu berjalan meninggalkan ruang kerja Vadeo dan menuju ke ruang kerjanya yang tidak sembarang orang mengetahuinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
aphrodite
jadi Vadeo cuma manfaatin kepintaran Riris..dan Riris melakukan yg terbaik karena rasa cintanya..tapi kalo ujung2nya Vadeo sama yg lain kamu bakalan sakit hati banget Ris
2024-12-19
0
Nit_Nit
mungkin saja hati hati Vadeo
2024-03-17
0
Nia Sulistyowati
masih nyimak
2024-02-08
1