Bab. 20. Melarikan Diri

Justin semakin memburu melihat Sandra yang gemetar dan ketakutan, dia menarik erat tubuh Sandra. Sedangkan Sandra meronta berusaha untuk melepaskan diri.

“Ternyata kamu cantik tanpa kacamata, tubuhmupun berisi. Aku tidak akan membunuhmu asal kamu mau memberikan tubuhmu ini.” ucap Justin sambil terus berusaha mendekap dan menciumi leher jenjang Sandra.

“Iya... iya... tapi jangan sekarang...” ucap Sandra dengan suara gemetar dan meronta menjauhkan wajahnya dari Justin.

Tiba tiba terdengar suara dering hape Justin. Justin lalu melepaskan Sandra dan berjalan ke mejanya untuk mengambil hapenya. Sandra berlari menuju ke pintu untuk keluar namun Justin yang sudah membawa hape berlari menarik Sandra dan memegang tangan Sandra dengan erat.

“Jangan pergi dulu, pembicaraan kita belum selesai. Dan ingat kacamatamu masih dibawa Dino apa kamu mau semua orang melihat wajah cantikmu. Aku pun tidak ingin Dino melihat wajah cantikmu apalagi Vadeo.” ucap Justin dengan suara lembut.

Sandra terlihat berpikir dan diam. Sementara Justin menerima panggilan telepon. Ternyata Vadeo menanyakan kenapa Sandra tidak segera kembali ke ruangannya.

“Justin, apa Sandra masih di ruanganmu, kenapa belum juga kembali, cepat suruh dia kembali, atau aku yang akan menjemput...” ucap Vadeo di dalam sambungan telpon. Justin tidak menjawab lalu dia menutup sambungan telpon. Setelahnya dia menelpon Dino agar segera ke ruangannya untuk memberikan kacamata dan hape Sandra.

Tidak lama kemudian Dino datang dan Justin yang keluar untuk mengambil kacamata dan hape Sandra.

“Ingat, perjanjian kita. Kalau kamu ingkar aku bisa membunuhmu kapan saja.” ucap Justin sambil menyerahkan kacamata dan hape Sandra. Sandra menerima alat alatnya. Lalu Sandra segera keluar dari ruangan Justin. Sandra menuju ke sebuah toilet yang berada di luar ruangan, dia merapikan kepangan rambutnya. Lalu dia segera keluar dan berjalan cepat menuju ke ruangan Vadeo.

“San, kamu baik baik saja.” ucap Vadeo saat pintu terbuka dan muncul sosok Sandra di depannya. Sandra menganggukan kepalanya. Lalu dia cepat cepat ke meja kerjanya mengambil tas dan berjalan ke toilet yang berada di ruangan tersebut. Dia akan merapikan make up untuk menutupi wajah cantiknya.

Vadeo melihat apa yang dilakukan oleh Sandra. Dia curiga Justin sudah melakukan hal buruk pada Sandra. Vadeo bangkit dari kursi kerjanya. Lalu dia berjalan menuju ke toilet. Diketuk ketuk pintu toilet tersebut. Tidak lama kemudian Sandra keluar.

“Apa Justin melakukan sesuatu yang tidak baik padamu?” tanya Vadeo sambil menatap wajah Sandra, pandangan matanya mengamati dengan teliti seluruh tubuh Sandra. Vadeo kembali merasakan desiran di jantungnya.

“Tidak Pak.” jawab Sandra sambil menggelengkan kepala.

“Besok lagi biar Pak Rio saja yang mengantar berkas ke ruangan Justin.” gumam Vadeo lalu kembali berjalan menuju ke meja kerjanya, demikian pula dengan Sandra.

“Tidak apa apa kok Pak, mari Pak kita berangkat meeting akan segera dimulai.” ucap Sandra kemudian mengingatkan agenda kerja selanjutnya.

Malam harinya Sandra sudah memutuskan untuk angkat kaki dari Jonathan Co. Bukti bukti sudah lengkap.

Namun tiba tiba....

Tok... Tok....Tok....

Terdengar suara ketukan pintu kamar Sandra. Sandra menoleh pada sumber suara. Ada rasa kuatir apa mungkin Justin atau orang suruhan Justin datang Sandra berjalan menuju ke pintu mengintip siapa yang mengetuk pintu dari celah yang ada.

“Mbok Nah.” gumam Sandra lega. Dia lalu mengambil kacamatanya.

“Ada apa Mbok?” tanya Sandra saat membuka pintu.

“Ibu Rina demam San. Beliau memanggil kamu.” ucap Mbok Nah.

“Sudah panggil Dokter Mbok?” tanya Sandra sambil menutup pintu lalu berjalan bersama Mbok Nah menuju ke rumah untuk menemui Ibu Rina di kamarnya. Tidak lama kemudian Sandra sudah berada di kamar Ibu Rina, tampak Ibu Rina terbaring di tempat tidur tampak tidak berdaya. Sandra yang sudah banyak ditolong oleh Ibu Rina tersentuh hatinya. Dia lalu mendekat.

“Bu... apa sudah panggil dokter?” tanya Sandra.

“Sudah San, hanya kecapekan, aku sudah ijin pada Tuan Vadeo besok aku tidak masuk kerja.” ucap Ibu Rina dengan suara pelan.

“Aku mau minta tolong, besok kalau kamu berangkat kerja, nitip itu ya.. berikan pada Pak Stave. Itu penting besok harus dikumpulkan dan sifatnya rahasia San, aku percaya pada kamu.” ucap Ibu Rina sambil menunjuk berkas berkas.

“Baik Bu.” jawab Sandra. Sandra tidak bisa menolak permintaan tolong Ibu Rina. Dia yang sudah berencana untuk tidak menginjakkan kaki ke Jonathan Co lagi gagal. Sandra lalu membawa berkas berkas Ibu Rina dan dibawa ke dalam kamarnya. Sesampai di kamar, Sandra berpikir keras. Dia lalu sibuk dengan alat alatnya.

Pagi hari Sandra datang lebih awal. Dia berencana setelah memberikan berkas berkas Ibu Rina pada Stave akan segera pergi dari Jonathan Co. Segala keperluan untuk Vadeopun telah disiapkan. Saat Sandra akan keluar dari ruangan Vadeo siap untuk pergi, pintu terbuka dan terlihat sosok Vadeo berjakan masuk.

“Wah kebetulan kamu sudah datang San. Tadi Papa bilang ke aku, ada meeting mendadak jam sepuluh. Kamu siapkan ruang VIP ya..” ucap Vadeo sambil berjalan menuju ke meja kerjanya.

“Baik Pak.” jawab Sandra lalu dia membatalkan niatnya untuk pergi dari Jonathan Co. Dia melangkahkan kaki menuju ke meja kerjanya dan menghubungi orang orang yang berkepentingan untuk menyiapkan ruang VIP dan keperluan meeting.

“Kamu batalkan semua agenda hari ini San, kita tidak tahu sampai jam berapa meetingnya. Kata Papa ini masalah penting.”ucap Vadeo lagi.

DEG!

Ucapan Vadeo yang pelan mengagetkan Sandra, dia berpikir masalah penting apa, apa Tuan Jonathan sudah mengetahui perbuatannya atau perbuatan Justin.

“San, kamu dengar tidak?” tanya Vadeo sambil menatap wajah Sandra yang bengong sesaat.

“Iya iya Pak, saya batalkan semua agenda hari ini.” jawab Sandra.

Waktu meeting pun tiba. Sandra dan Vadeo berjalan menuju ke ruangan VIP, semua petinggi Jonathan Co hadir di situ termasuk Justin. Wika juga berada di ruangan tersebut bersama Jojo, untuk melayani peserta meeting dengan jamuan yang sudah disiapkan. Wajah Wika terlihat tidak senang pada Sandra yang bisa duduk di samping Vadeo.

Tuan Jonathan menyampaikan hal penting agar waspada pada orang orang di perusahaan. Justin memandang Sandra. Sandra tetap fokus menatap Tuan Jonathan yang masih berbicara. Meskipun dalam hati dia menebak nebak apa Tuan Jonathan sudah mengerti rahasia dirinya atau rahasia Justin. Demikian juga Justin juga berpikir hal yang sama.

“Harus aku habisi tikus got itu. Mungkin rahasiaku sudah sampai pada Vadeo dan Om Jonathan.” gumam Justin sambil menatap tajam Sandra. Karena Justin juga menaruh curiga Sandra suruhan Vadeo.

Justin yang melihat Wika tampak tidak senang pada Sandra, dan bahasa tubuh Wika yang menggodanya, akan memanfaatkan Wika untuk menjebak Sandra. Sebab Sandra pasti sudah tidak mau datang ke ruangannya.

Setelah acara meeting selesai. Sandra menuju ke ruang Vadeo dia mendapat pekerjaan dari Vadeo. Sedangkan Vadeo mengantar Tuan Jonathan ada keperluan penting juga.

Sementara Justin yang tahu Ibu Rina tidak masuk kerja, dia mendatangi ruangan Ibu Rina terlihat Wika seorang diri. Justin merayu Wika, Wika yang sudah lama terpesona dengan Justin tentu saja sangat senang. Dia menerima tawaran dari Justin, Justin akan menjadikan Wika sebagai perempuannya asal dia nuruti perintahnya. Di ruangan Ibu Rina yang sepi hanya ada mereka berdua Justin mulai menggarap Wika. Wikapun dengan senang dan suka rela melayani Justin.

“Kamu sudah puas kan, sekarang kamu telpon Sandra, kamu suruh dia ke sini kamu bilang akan nitip sesuatu pada Ibu Rina.” ucap Justin sambil merapikan bajunya.

“Iya iya...” ucap Wika yang juga merapikan bajunya. Lalu dia terlihat menelpon Sandra seperti perintah Justin.

“Sekarang cepat kamu pergi, besok kamu datang ke ruanganku kalau mau lagi.” ucap Justin selanjutnya.

“Cepat! Aku tidak ingin Sandra melihatmu.” bentak Justin. Wika lalu cepat cepat pergi.

Tidak lama kemudian Sandra sudah berada di depan pintu ruangan Ibu Rina. Suasana sudah terlihat sepi, Sandra mendorong pintu pelan.

“Kak..” ucap Sandra sambil membuka daun pintu. Betapa kagetnya Sandra saat melihat Justin berada di ruangan tersebut.

“Hai... kelinci manis.. Kamu sudah paham SOP nya kan, berikan alat alatmu itu padaku.” ucap Justin sambil tersenyum licik. Sandra kaget dia tidak mau menyerahkan kacamata dan hapenya. Lalu Justin datang mendekati Sandra dan mengambil paksa alat alat Sandra. Sandra meronta namun kalah dengan tenaga kuat Justin. Lalu Justin melempar barang barang itu keluar. Sandra berjalan menuju ke pintu untuk mengambilnya. Namun Justin mengikutinya.

“Kamu tahu alat alatmu itu mengganggu.” ucap Justin sambil memeluk tubuh Sandra dari belakang. Justin siap melahap Sandra. Sandra menekuk salah satu kakinya ke arah belakang dengan kuat. Tepat high heelsnya mengenai junior Justin yang sudah menegang, membuat junior Justin terasa panas menyengat. Sandra tadi malam sudah menaruh senjata rahasia yang ditaruh di high heels nya.

“Aduhhhh panas.. burungku terbakar.” teriak Justin yang merasa juniornya panas menyengat. Mungkin sudah gosong atau menjadi puyuh bakar. Sandra cepat cepat berlari keluar, mencari kacamata dan hapenya yang dibuang oleh Justin.

Terpopuler

Comments

aphrodite

aphrodite

lagian Sandra kurang persiapan banget..punya dua ke kacamatanya yg satu biasa yg satu luar biasa..padahal kemaren udah ketahuan

2024-12-19

0

momi

momi

rasain lo jastin

2024-04-01

1

Nia Sulistyowati

Nia Sulistyowati

sampe begadang saking seru nya nikmatin alur ceritanya

2024-02-09

0

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1. Misi Dimulai
2 Bab. 2. Jonathan Co
3 Bab. 3. William Group
4 Bab. 4. Karyawan Baru
5 Bab. 5. Karyawan Kesayangan
6 Bab. 6. Kacamata Sandra
7 Bab. 7. Radar Bergetar
8 Bab. 8. Curiga
9 Bab. 9. Pindah Divisi
10 Bab. 10. Rahasia Sang Sekretaris
11 Bab. 11. Tawaran Sang Sekretaris
12 Bab. 12. Perjodohan Vadeo
13 Bab. 13. Pertunangan Vadeo
14 Bab. 14. Menjadi Sekretaris Pribadi Vadeo
15 Bab. 15. Titik Terang
16 Bab. 16. Curahan Hati Vadeo
17 Bab. 17. Mengumpulkan Bukti
18 Bab. 18. Jebakan Justin
19 Bab. 19. Dalam Bahaya
20 Bab. 20. Melarikan Diri
21 Bab. 21. Alarm
22 Bab. 22. Rumah Sakit
23 Bab. 23. Vadeo Mencari Sandra
24 Bab. 24. Kedatangan Alexandria
25 Bab. 25. Rencana Alexandria
26 Bab. 26. Laporan Alexandria
27 Bab. 27. Vadeo Memergoki Riris
28 Bab. 28. Rencana Baru Justin
29 Bab. 29. Proses Hukum Dimulai
30 Bab. 30. Justin Melarikan Diri
31 Bab. 31. Pertemuan Vadeo dan Alexandria
32 Bab. 32. Di Ambang Kebingungan
33 Bab. 33. Rencana Justin Operasi Plastik
34 Bab. 34. Menunda
35 Bab. 35. Balas Dendam Justin
36 Bab. 36. Sesuatu Syarat dari Alexandria
37 Bab. 37. Penguntit Alexandria
38 Bab. 38. Pengintai Di Mension William
39 Bab. 39. Menemukan Obyek Mencurigakan
40 Bab. 40. Menjebak Penguntit
41 Bab. 41. Penguntit Kedua
42 Bab. 42. Pertemuan Vadeo dan Alexandria
43 Bab. 43. Bungkam
44 Bab. 44. Senjata Api
45 Bab. 45. Data Pelaku
46 Bab. 46. Tembakan
47 Bab. 47. Tertembak
48 Bab. 48. Memori Alexandria
49 Bab. 49. Membujuk Tuan Jonathan
50 Bab. 50. Gelora di Dada
51 Bab. 51. Pertemuan Vadeo dengan Keluarga William
52 Bab. 52. Tim Indipenden
53 Bab. 53. Proses Akuisisi Dimulai
54 Bab. 54. Kecurigaan Vadeo
55 Bab. 55. Datang ke Jonathan Co
56 Bab. 56. Strategi Alexandria
57 Bab. 57. Salah Sasaran
58 Bab. 58. Rencana Menjebak Justin
59 Bab. 59. Ijin Tuan William
60 Bab. 60. Justin Panik
61 Bab. 61. Menghadap Tuan William
62 Bab. 62. Pembicaraan Serius dengan Tuan William
63 Bab. 63. Aksi Dimulai
64 Bab. 64. Strategi Alexandria Berhasil
65 Bab. 65. Strategi Lain
66 Bab. 66. Pingsan
67 Bab. 67. Penculikan
68 Bab. 68. Menuju ke Villa
69 Bab. 69. Mempertahankan
70 Bab. 70. Curiga
71 Bab. 71. Penambah Gairah
72 Bab. 72. Aku Alexandria
73 Bab. 73. Meneruskan Hasrat
74 Bab. 74. Ternoda
75 Bab. 75. Emosi Vadeo
76 Bab. 76. Segerakan
77 Bab. 77. Tidak Fair
78 Bab. 78. Hotel Bintang Lima
79 Bab. 79. Perlawanan
80 Bab. 80. Pemeran Pengganti
81 Bab. 81. Rencana Nanti Malam
82 Bab. 82. Salah Paham
83 Bab. 83. Menit Menit Terakhir
84 Bab. 84. Terjebak
85 Bab. 85. Suntik Kebiri
86 Bab. 86. Rencana Pulang untuk Pergi
87 Bab. 87. Menunggu
88 Bab. 88. Jaminan Justin
89 Bab. 89. Menanti Justin
90 Bab. 90. Pasrah
91 Bab. 91. Ke Mension Jonathan
92 Bab. 92. Penculikan Lagi
93 Bab. 93. Menit Menit Kedatangan Justin
94 Bab. 94. Kedatangan Justin 1
95 Bab. 95. Kedatangan Justin 2 (Perjuangan Justin)
96 Bab. 96. Rencana Menjemput Riris
97 Bab. 97. Keraguan Alexandria
98 Bab. 98. Serius
99 Bab. 99. Cincin Spesial
100 Bab. 100. Dingin
101 Bab. 101. Vadeo Harus Pergi
102 Bab. 102. Lamaran
103 Bab. 103. Lamaran 2
104 Bab. 104. Pengakuan Alexandria
105 Bab. 105. Hukuman?
106 Bab. 106. Reward
107 Bab. 107. Pesan Alexandria
108 Bab. 108. Pamit
109 Bab. 108. Dijemput Seorang Perempuan
110 Bab. 110. Pengawal Vadeo
111 Bab. 111. Ulah Chaterine
112 Bab. 112. Dibawa Kabur
113 Bab. 113. Bantuan Alexandria
114 Bab. 114. Curiga
115 Bab. 115. Kecelakaan
116 Bab. 116. Siapa?
117 Bab. 117. Kehilangan Jejak
118 Bab. 118. Hebohnya Keluarga William
119 Bab. 119. Berbagi Tugas
120 Bab. 120. Harapan pada Alexandria
121 Bab. 121. Mual
122 Bab. 122. Rencana Richie
123 Bab. 123. Undangan dari Chaterine
124 Bab. 124. Adu Skenario
125 Bab. 125. Satu Hotel
126 Bab. 126. Menunggu
127 Bab. 127. Melepas Rindu
128 Bab. 128. Rumah Sakit
129 Bab. 129. Emosi Richie
130 Bab. 130. Ancaman Richie
131 Bab. 131. Menemui Chaterine
132 Bab. 132. Pernyataan Vadeo
133 Bab. 133. Tertangkap
134 Bab. 134. Cemas
135 Bab. 135. Richie Lari
136 Bab. 136. Mengejar Richie
137 Bab. 137. Baku Tembak
138 Bab. 138. Pulas
139 Bab. 139. Jatuh?
140 Bab. 140.
141 Bab. 141. Mencari
142 Bab. 142. Ke Kantor Polisi
143 Bab. 143. Bertemu Mobil Richie
144 Bab. 144. Menyerahkan Diri?
145 Bab. 145. Kembali ke Frankfurt
146 Bab. 146. Gerrit Hansen
147 Bab. 147. Seleksi
148 Bab. 148. Fix
149 Bab. 149. Cemburu
150 Bab. 150. Delay
151 Bab. 151. Cemas
152 Bab. 152. Tiba di Indonesia
153 Bab. 153. Persiapan Pernikahan (Dipingit)
154 Bab. 154.
155 Bab. 155. Rencana Menggagalkan Pernikahan
156 Bab. 156. Observasi
157 Bab. 157. Gagal?
158 Bab. 158. Sah
159 Bab. 159. Ekor Alexandria
160 Bab. 160. Kamar Pengantin
161 Bab. 161.
162 Bab. 162.
163 Bab. 163.
164 Bab. 164. Sudah Isi?
165 Bab. 165. Saatnya Periksa
166 Bab. 166. Kabar Buruk
167 Bab. 167.
168 Bab. 168. Kesedihan Alexandria
169 Bab. 169. Penolakan Vadeo
170 Bab. 170. Hadiah
171 Bab. 171. Pengawal untuk Alexandria
172 Bab. 172. Rahasia Keluarga
173 Bab. 173. Tersiksa Gelisah Kecewa
174 Bab. 174. Anti Radiasi
175 Bab. 175. Pulau Alexandria
176 Bab. 176. Tiga Perempuan
177 Bab. 177. Take Off
178 Bab. 178. Rumah Baru
179 Bab. 179.
180 Bab. 180.
181 Bab. 181.
182 Bab. 182.
183 Bab. 183.
184 Bab. 184.
185 Bab. 185.
186 Bab. 186.
187 Bab. 187.
188 Bab. 188.
189 Bab. 189.
190 Bab. 190.
191 Bab. 191
192 Bab. 192.
193 Bab. 193.
194 Bab. 194.
195 Bab. 195.
196 Bab. 196.
197 Bab. 197.
198 Bab. 198.
199 Bab. 199.
200 Bab. 200.
201 Bab. 201.
202 Bab. 202
203 Bab. 203
204 Bab. 204
205 Bab. 205.
206 Bab. 206
207 Bab. 207.
208 Bab. 208.
209 Bab. 209.
210 Bab. 210.
211 Bab. 211
212 Bab. 212
213 Bab. 213.
214 Bab. 214.
215 Bab. 215.
216 Bab. 216
217 Bab. 217.
218 Bab. 218.
219 Bab. 219
220 Bab. 220.
221 Bab. 221.
222 Bab. 222.
223 Bab. 223.
224 Bab. 224.
225 Bab. 225
226 PENGUMUMAN
227 Bonchap 1. Inisial
228 Bonchap 2. Kedatangan Richardo
229 Bonchap 3. Ulah Baby Twins ( Anak Ajaib?)
230 Bonchap 4. Mengajak Baby Twins ke Pulau Alexandria
231 Bonchap. 5. Menuju Bukit Pohon Asam
232 Bonchap. 6. Berteman dengan Ular
233 Bonchap. 7. Vadeo Pingsan
234 Bonchap. 8. Ke Sungai
235 Bonchap. 9. Hadiah Buat Oma William
236 PROMO NOVEL BARU
237 PROMO NOVEL BARU
238 Promo Novel Married with Daddy
239 Promo Novel Baru
240 Promo Novel Baru
241 Promo Novel Sukses Setelah Dihina dan Dicerai
242 Promo Novel Baru
Episodes

Updated 242 Episodes

1
Bab. 1. Misi Dimulai
2
Bab. 2. Jonathan Co
3
Bab. 3. William Group
4
Bab. 4. Karyawan Baru
5
Bab. 5. Karyawan Kesayangan
6
Bab. 6. Kacamata Sandra
7
Bab. 7. Radar Bergetar
8
Bab. 8. Curiga
9
Bab. 9. Pindah Divisi
10
Bab. 10. Rahasia Sang Sekretaris
11
Bab. 11. Tawaran Sang Sekretaris
12
Bab. 12. Perjodohan Vadeo
13
Bab. 13. Pertunangan Vadeo
14
Bab. 14. Menjadi Sekretaris Pribadi Vadeo
15
Bab. 15. Titik Terang
16
Bab. 16. Curahan Hati Vadeo
17
Bab. 17. Mengumpulkan Bukti
18
Bab. 18. Jebakan Justin
19
Bab. 19. Dalam Bahaya
20
Bab. 20. Melarikan Diri
21
Bab. 21. Alarm
22
Bab. 22. Rumah Sakit
23
Bab. 23. Vadeo Mencari Sandra
24
Bab. 24. Kedatangan Alexandria
25
Bab. 25. Rencana Alexandria
26
Bab. 26. Laporan Alexandria
27
Bab. 27. Vadeo Memergoki Riris
28
Bab. 28. Rencana Baru Justin
29
Bab. 29. Proses Hukum Dimulai
30
Bab. 30. Justin Melarikan Diri
31
Bab. 31. Pertemuan Vadeo dan Alexandria
32
Bab. 32. Di Ambang Kebingungan
33
Bab. 33. Rencana Justin Operasi Plastik
34
Bab. 34. Menunda
35
Bab. 35. Balas Dendam Justin
36
Bab. 36. Sesuatu Syarat dari Alexandria
37
Bab. 37. Penguntit Alexandria
38
Bab. 38. Pengintai Di Mension William
39
Bab. 39. Menemukan Obyek Mencurigakan
40
Bab. 40. Menjebak Penguntit
41
Bab. 41. Penguntit Kedua
42
Bab. 42. Pertemuan Vadeo dan Alexandria
43
Bab. 43. Bungkam
44
Bab. 44. Senjata Api
45
Bab. 45. Data Pelaku
46
Bab. 46. Tembakan
47
Bab. 47. Tertembak
48
Bab. 48. Memori Alexandria
49
Bab. 49. Membujuk Tuan Jonathan
50
Bab. 50. Gelora di Dada
51
Bab. 51. Pertemuan Vadeo dengan Keluarga William
52
Bab. 52. Tim Indipenden
53
Bab. 53. Proses Akuisisi Dimulai
54
Bab. 54. Kecurigaan Vadeo
55
Bab. 55. Datang ke Jonathan Co
56
Bab. 56. Strategi Alexandria
57
Bab. 57. Salah Sasaran
58
Bab. 58. Rencana Menjebak Justin
59
Bab. 59. Ijin Tuan William
60
Bab. 60. Justin Panik
61
Bab. 61. Menghadap Tuan William
62
Bab. 62. Pembicaraan Serius dengan Tuan William
63
Bab. 63. Aksi Dimulai
64
Bab. 64. Strategi Alexandria Berhasil
65
Bab. 65. Strategi Lain
66
Bab. 66. Pingsan
67
Bab. 67. Penculikan
68
Bab. 68. Menuju ke Villa
69
Bab. 69. Mempertahankan
70
Bab. 70. Curiga
71
Bab. 71. Penambah Gairah
72
Bab. 72. Aku Alexandria
73
Bab. 73. Meneruskan Hasrat
74
Bab. 74. Ternoda
75
Bab. 75. Emosi Vadeo
76
Bab. 76. Segerakan
77
Bab. 77. Tidak Fair
78
Bab. 78. Hotel Bintang Lima
79
Bab. 79. Perlawanan
80
Bab. 80. Pemeran Pengganti
81
Bab. 81. Rencana Nanti Malam
82
Bab. 82. Salah Paham
83
Bab. 83. Menit Menit Terakhir
84
Bab. 84. Terjebak
85
Bab. 85. Suntik Kebiri
86
Bab. 86. Rencana Pulang untuk Pergi
87
Bab. 87. Menunggu
88
Bab. 88. Jaminan Justin
89
Bab. 89. Menanti Justin
90
Bab. 90. Pasrah
91
Bab. 91. Ke Mension Jonathan
92
Bab. 92. Penculikan Lagi
93
Bab. 93. Menit Menit Kedatangan Justin
94
Bab. 94. Kedatangan Justin 1
95
Bab. 95. Kedatangan Justin 2 (Perjuangan Justin)
96
Bab. 96. Rencana Menjemput Riris
97
Bab. 97. Keraguan Alexandria
98
Bab. 98. Serius
99
Bab. 99. Cincin Spesial
100
Bab. 100. Dingin
101
Bab. 101. Vadeo Harus Pergi
102
Bab. 102. Lamaran
103
Bab. 103. Lamaran 2
104
Bab. 104. Pengakuan Alexandria
105
Bab. 105. Hukuman?
106
Bab. 106. Reward
107
Bab. 107. Pesan Alexandria
108
Bab. 108. Pamit
109
Bab. 108. Dijemput Seorang Perempuan
110
Bab. 110. Pengawal Vadeo
111
Bab. 111. Ulah Chaterine
112
Bab. 112. Dibawa Kabur
113
Bab. 113. Bantuan Alexandria
114
Bab. 114. Curiga
115
Bab. 115. Kecelakaan
116
Bab. 116. Siapa?
117
Bab. 117. Kehilangan Jejak
118
Bab. 118. Hebohnya Keluarga William
119
Bab. 119. Berbagi Tugas
120
Bab. 120. Harapan pada Alexandria
121
Bab. 121. Mual
122
Bab. 122. Rencana Richie
123
Bab. 123. Undangan dari Chaterine
124
Bab. 124. Adu Skenario
125
Bab. 125. Satu Hotel
126
Bab. 126. Menunggu
127
Bab. 127. Melepas Rindu
128
Bab. 128. Rumah Sakit
129
Bab. 129. Emosi Richie
130
Bab. 130. Ancaman Richie
131
Bab. 131. Menemui Chaterine
132
Bab. 132. Pernyataan Vadeo
133
Bab. 133. Tertangkap
134
Bab. 134. Cemas
135
Bab. 135. Richie Lari
136
Bab. 136. Mengejar Richie
137
Bab. 137. Baku Tembak
138
Bab. 138. Pulas
139
Bab. 139. Jatuh?
140
Bab. 140.
141
Bab. 141. Mencari
142
Bab. 142. Ke Kantor Polisi
143
Bab. 143. Bertemu Mobil Richie
144
Bab. 144. Menyerahkan Diri?
145
Bab. 145. Kembali ke Frankfurt
146
Bab. 146. Gerrit Hansen
147
Bab. 147. Seleksi
148
Bab. 148. Fix
149
Bab. 149. Cemburu
150
Bab. 150. Delay
151
Bab. 151. Cemas
152
Bab. 152. Tiba di Indonesia
153
Bab. 153. Persiapan Pernikahan (Dipingit)
154
Bab. 154.
155
Bab. 155. Rencana Menggagalkan Pernikahan
156
Bab. 156. Observasi
157
Bab. 157. Gagal?
158
Bab. 158. Sah
159
Bab. 159. Ekor Alexandria
160
Bab. 160. Kamar Pengantin
161
Bab. 161.
162
Bab. 162.
163
Bab. 163.
164
Bab. 164. Sudah Isi?
165
Bab. 165. Saatnya Periksa
166
Bab. 166. Kabar Buruk
167
Bab. 167.
168
Bab. 168. Kesedihan Alexandria
169
Bab. 169. Penolakan Vadeo
170
Bab. 170. Hadiah
171
Bab. 171. Pengawal untuk Alexandria
172
Bab. 172. Rahasia Keluarga
173
Bab. 173. Tersiksa Gelisah Kecewa
174
Bab. 174. Anti Radiasi
175
Bab. 175. Pulau Alexandria
176
Bab. 176. Tiga Perempuan
177
Bab. 177. Take Off
178
Bab. 178. Rumah Baru
179
Bab. 179.
180
Bab. 180.
181
Bab. 181.
182
Bab. 182.
183
Bab. 183.
184
Bab. 184.
185
Bab. 185.
186
Bab. 186.
187
Bab. 187.
188
Bab. 188.
189
Bab. 189.
190
Bab. 190.
191
Bab. 191
192
Bab. 192.
193
Bab. 193.
194
Bab. 194.
195
Bab. 195.
196
Bab. 196.
197
Bab. 197.
198
Bab. 198.
199
Bab. 199.
200
Bab. 200.
201
Bab. 201.
202
Bab. 202
203
Bab. 203
204
Bab. 204
205
Bab. 205.
206
Bab. 206
207
Bab. 207.
208
Bab. 208.
209
Bab. 209.
210
Bab. 210.
211
Bab. 211
212
Bab. 212
213
Bab. 213.
214
Bab. 214.
215
Bab. 215.
216
Bab. 216
217
Bab. 217.
218
Bab. 218.
219
Bab. 219
220
Bab. 220.
221
Bab. 221.
222
Bab. 222.
223
Bab. 223.
224
Bab. 224.
225
Bab. 225
226
PENGUMUMAN
227
Bonchap 1. Inisial
228
Bonchap 2. Kedatangan Richardo
229
Bonchap 3. Ulah Baby Twins ( Anak Ajaib?)
230
Bonchap 4. Mengajak Baby Twins ke Pulau Alexandria
231
Bonchap. 5. Menuju Bukit Pohon Asam
232
Bonchap. 6. Berteman dengan Ular
233
Bonchap. 7. Vadeo Pingsan
234
Bonchap. 8. Ke Sungai
235
Bonchap. 9. Hadiah Buat Oma William
236
PROMO NOVEL BARU
237
PROMO NOVEL BARU
238
Promo Novel Married with Daddy
239
Promo Novel Baru
240
Promo Novel Baru
241
Promo Novel Sukses Setelah Dihina dan Dicerai
242
Promo Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!