Justin semakin memburu melihat Sandra yang gemetar dan ketakutan, dia menarik erat tubuh Sandra. Sedangkan Sandra meronta berusaha untuk melepaskan diri.
“Ternyata kamu cantik tanpa kacamata, tubuhmupun berisi. Aku tidak akan membunuhmu asal kamu mau memberikan tubuhmu ini.” ucap Justin sambil terus berusaha mendekap dan menciumi leher jenjang Sandra.
“Iya... iya... tapi jangan sekarang...” ucap Sandra dengan suara gemetar dan meronta menjauhkan wajahnya dari Justin.
Tiba tiba terdengar suara dering hape Justin. Justin lalu melepaskan Sandra dan berjalan ke mejanya untuk mengambil hapenya. Sandra berlari menuju ke pintu untuk keluar namun Justin yang sudah membawa hape berlari menarik Sandra dan memegang tangan Sandra dengan erat.
“Jangan pergi dulu, pembicaraan kita belum selesai. Dan ingat kacamatamu masih dibawa Dino apa kamu mau semua orang melihat wajah cantikmu. Aku pun tidak ingin Dino melihat wajah cantikmu apalagi Vadeo.” ucap Justin dengan suara lembut.
Sandra terlihat berpikir dan diam. Sementara Justin menerima panggilan telepon. Ternyata Vadeo menanyakan kenapa Sandra tidak segera kembali ke ruangannya.
“Justin, apa Sandra masih di ruanganmu, kenapa belum juga kembali, cepat suruh dia kembali, atau aku yang akan menjemput...” ucap Vadeo di dalam sambungan telpon. Justin tidak menjawab lalu dia menutup sambungan telpon. Setelahnya dia menelpon Dino agar segera ke ruangannya untuk memberikan kacamata dan hape Sandra.
Tidak lama kemudian Dino datang dan Justin yang keluar untuk mengambil kacamata dan hape Sandra.
“Ingat, perjanjian kita. Kalau kamu ingkar aku bisa membunuhmu kapan saja.” ucap Justin sambil menyerahkan kacamata dan hape Sandra. Sandra menerima alat alatnya. Lalu Sandra segera keluar dari ruangan Justin. Sandra menuju ke sebuah toilet yang berada di luar ruangan, dia merapikan kepangan rambutnya. Lalu dia segera keluar dan berjalan cepat menuju ke ruangan Vadeo.
“San, kamu baik baik saja.” ucap Vadeo saat pintu terbuka dan muncul sosok Sandra di depannya. Sandra menganggukan kepalanya. Lalu dia cepat cepat ke meja kerjanya mengambil tas dan berjalan ke toilet yang berada di ruangan tersebut. Dia akan merapikan make up untuk menutupi wajah cantiknya.
Vadeo melihat apa yang dilakukan oleh Sandra. Dia curiga Justin sudah melakukan hal buruk pada Sandra. Vadeo bangkit dari kursi kerjanya. Lalu dia berjalan menuju ke toilet. Diketuk ketuk pintu toilet tersebut. Tidak lama kemudian Sandra keluar.
“Apa Justin melakukan sesuatu yang tidak baik padamu?” tanya Vadeo sambil menatap wajah Sandra, pandangan matanya mengamati dengan teliti seluruh tubuh Sandra. Vadeo kembali merasakan desiran di jantungnya.
“Tidak Pak.” jawab Sandra sambil menggelengkan kepala.
“Besok lagi biar Pak Rio saja yang mengantar berkas ke ruangan Justin.” gumam Vadeo lalu kembali berjalan menuju ke meja kerjanya, demikian pula dengan Sandra.
“Tidak apa apa kok Pak, mari Pak kita berangkat meeting akan segera dimulai.” ucap Sandra kemudian mengingatkan agenda kerja selanjutnya.
Malam harinya Sandra sudah memutuskan untuk angkat kaki dari Jonathan Co. Bukti bukti sudah lengkap.
Namun tiba tiba....
Tok... Tok....Tok....
Terdengar suara ketukan pintu kamar Sandra. Sandra menoleh pada sumber suara. Ada rasa kuatir apa mungkin Justin atau orang suruhan Justin datang Sandra berjalan menuju ke pintu mengintip siapa yang mengetuk pintu dari celah yang ada.
“Mbok Nah.” gumam Sandra lega. Dia lalu mengambil kacamatanya.
“Ada apa Mbok?” tanya Sandra saat membuka pintu.
“Ibu Rina demam San. Beliau memanggil kamu.” ucap Mbok Nah.
“Sudah panggil Dokter Mbok?” tanya Sandra sambil menutup pintu lalu berjalan bersama Mbok Nah menuju ke rumah untuk menemui Ibu Rina di kamarnya. Tidak lama kemudian Sandra sudah berada di kamar Ibu Rina, tampak Ibu Rina terbaring di tempat tidur tampak tidak berdaya. Sandra yang sudah banyak ditolong oleh Ibu Rina tersentuh hatinya. Dia lalu mendekat.
“Bu... apa sudah panggil dokter?” tanya Sandra.
“Sudah San, hanya kecapekan, aku sudah ijin pada Tuan Vadeo besok aku tidak masuk kerja.” ucap Ibu Rina dengan suara pelan.
“Aku mau minta tolong, besok kalau kamu berangkat kerja, nitip itu ya.. berikan pada Pak Stave. Itu penting besok harus dikumpulkan dan sifatnya rahasia San, aku percaya pada kamu.” ucap Ibu Rina sambil menunjuk berkas berkas.
“Baik Bu.” jawab Sandra. Sandra tidak bisa menolak permintaan tolong Ibu Rina. Dia yang sudah berencana untuk tidak menginjakkan kaki ke Jonathan Co lagi gagal. Sandra lalu membawa berkas berkas Ibu Rina dan dibawa ke dalam kamarnya. Sesampai di kamar, Sandra berpikir keras. Dia lalu sibuk dengan alat alatnya.
Pagi hari Sandra datang lebih awal. Dia berencana setelah memberikan berkas berkas Ibu Rina pada Stave akan segera pergi dari Jonathan Co. Segala keperluan untuk Vadeopun telah disiapkan. Saat Sandra akan keluar dari ruangan Vadeo siap untuk pergi, pintu terbuka dan terlihat sosok Vadeo berjakan masuk.
“Wah kebetulan kamu sudah datang San. Tadi Papa bilang ke aku, ada meeting mendadak jam sepuluh. Kamu siapkan ruang VIP ya..” ucap Vadeo sambil berjalan menuju ke meja kerjanya.
“Baik Pak.” jawab Sandra lalu dia membatalkan niatnya untuk pergi dari Jonathan Co. Dia melangkahkan kaki menuju ke meja kerjanya dan menghubungi orang orang yang berkepentingan untuk menyiapkan ruang VIP dan keperluan meeting.
“Kamu batalkan semua agenda hari ini San, kita tidak tahu sampai jam berapa meetingnya. Kata Papa ini masalah penting.”ucap Vadeo lagi.
DEG!
Ucapan Vadeo yang pelan mengagetkan Sandra, dia berpikir masalah penting apa, apa Tuan Jonathan sudah mengetahui perbuatannya atau perbuatan Justin.
“San, kamu dengar tidak?” tanya Vadeo sambil menatap wajah Sandra yang bengong sesaat.
“Iya iya Pak, saya batalkan semua agenda hari ini.” jawab Sandra.
Waktu meeting pun tiba. Sandra dan Vadeo berjalan menuju ke ruangan VIP, semua petinggi Jonathan Co hadir di situ termasuk Justin. Wika juga berada di ruangan tersebut bersama Jojo, untuk melayani peserta meeting dengan jamuan yang sudah disiapkan. Wajah Wika terlihat tidak senang pada Sandra yang bisa duduk di samping Vadeo.
Tuan Jonathan menyampaikan hal penting agar waspada pada orang orang di perusahaan. Justin memandang Sandra. Sandra tetap fokus menatap Tuan Jonathan yang masih berbicara. Meskipun dalam hati dia menebak nebak apa Tuan Jonathan sudah mengerti rahasia dirinya atau rahasia Justin. Demikian juga Justin juga berpikir hal yang sama.
“Harus aku habisi tikus got itu. Mungkin rahasiaku sudah sampai pada Vadeo dan Om Jonathan.” gumam Justin sambil menatap tajam Sandra. Karena Justin juga menaruh curiga Sandra suruhan Vadeo.
Justin yang melihat Wika tampak tidak senang pada Sandra, dan bahasa tubuh Wika yang menggodanya, akan memanfaatkan Wika untuk menjebak Sandra. Sebab Sandra pasti sudah tidak mau datang ke ruangannya.
Setelah acara meeting selesai. Sandra menuju ke ruang Vadeo dia mendapat pekerjaan dari Vadeo. Sedangkan Vadeo mengantar Tuan Jonathan ada keperluan penting juga.
Sementara Justin yang tahu Ibu Rina tidak masuk kerja, dia mendatangi ruangan Ibu Rina terlihat Wika seorang diri. Justin merayu Wika, Wika yang sudah lama terpesona dengan Justin tentu saja sangat senang. Dia menerima tawaran dari Justin, Justin akan menjadikan Wika sebagai perempuannya asal dia nuruti perintahnya. Di ruangan Ibu Rina yang sepi hanya ada mereka berdua Justin mulai menggarap Wika. Wikapun dengan senang dan suka rela melayani Justin.
“Kamu sudah puas kan, sekarang kamu telpon Sandra, kamu suruh dia ke sini kamu bilang akan nitip sesuatu pada Ibu Rina.” ucap Justin sambil merapikan bajunya.
“Iya iya...” ucap Wika yang juga merapikan bajunya. Lalu dia terlihat menelpon Sandra seperti perintah Justin.
“Sekarang cepat kamu pergi, besok kamu datang ke ruanganku kalau mau lagi.” ucap Justin selanjutnya.
“Cepat! Aku tidak ingin Sandra melihatmu.” bentak Justin. Wika lalu cepat cepat pergi.
Tidak lama kemudian Sandra sudah berada di depan pintu ruangan Ibu Rina. Suasana sudah terlihat sepi, Sandra mendorong pintu pelan.
“Kak..” ucap Sandra sambil membuka daun pintu. Betapa kagetnya Sandra saat melihat Justin berada di ruangan tersebut.
“Hai... kelinci manis.. Kamu sudah paham SOP nya kan, berikan alat alatmu itu padaku.” ucap Justin sambil tersenyum licik. Sandra kaget dia tidak mau menyerahkan kacamata dan hapenya. Lalu Justin datang mendekati Sandra dan mengambil paksa alat alat Sandra. Sandra meronta namun kalah dengan tenaga kuat Justin. Lalu Justin melempar barang barang itu keluar. Sandra berjalan menuju ke pintu untuk mengambilnya. Namun Justin mengikutinya.
“Kamu tahu alat alatmu itu mengganggu.” ucap Justin sambil memeluk tubuh Sandra dari belakang. Justin siap melahap Sandra. Sandra menekuk salah satu kakinya ke arah belakang dengan kuat. Tepat high heelsnya mengenai junior Justin yang sudah menegang, membuat junior Justin terasa panas menyengat. Sandra tadi malam sudah menaruh senjata rahasia yang ditaruh di high heels nya.
“Aduhhhh panas.. burungku terbakar.” teriak Justin yang merasa juniornya panas menyengat. Mungkin sudah gosong atau menjadi puyuh bakar. Sandra cepat cepat berlari keluar, mencari kacamata dan hapenya yang dibuang oleh Justin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
aphrodite
lagian Sandra kurang persiapan banget..punya dua ke kacamatanya yg satu biasa yg satu luar biasa..padahal kemaren udah ketahuan
2024-12-19
0
momi
rasain lo jastin
2024-04-01
1
Nia Sulistyowati
sampe begadang saking seru nya nikmatin alur ceritanya
2024-02-09
0