Bab. 4. Karyawan Baru

Setelah Vadeo mengijinkan Sandra bekerja di perusahaan. Ibu Rina membawa Sandra ke ruang kerjanya di divisi pantry. Di sepanjang perjalanan menuju ke divisi pantry banyak mata menatap pada sosok Sandra karena penampilan Sandra. Tatapan mata mereka sangat meremehkan Sandra bahkan ada yang secara terbuka mengejek dan menertawakan penampilan Sandra.

“Ayo masuk San.” ucap Ibu Rina saat membuka pintu ruang kerjanya.

“O ya karena kamu belum punya locker sendiri kamu titipkan tasmu itu di tempat penitipan barang. DI sana itu.” ucap Ibu Rina saat melihat Sandra masih menenteng tas bajunya yang tampak kumal.

“Baik Bu.” jawab Sandra sambil berjalan menuju ke tempat penitipan barang.

Karyawan petugas penitipan barang langsung mengambil masker kemudian segera memakainya dan tidak lupa memakai sarung tangan.

“Bisa tetanus ya kalau tidak pakai sarung tangan.” ucap karyawan yang lain saat melewati tempat penitipan.

Sandra hanya diam saja lalu menaruh tasnya di meja. Petugas penitipan barang memberi kartu pada Sandra.

“Terimakasih.” ucap Sandra

“Sudah sana cepat pergi.” ucap petugas penitipan barang sambil mengibas ibaskan tangannya sebagai kode agar Sandra segera pergi.

Sandra lalu segera melangkah meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju ke ruangan Ibu Rina. Saat memasuki ruangan Ibu Rina, Sandra sudah tidak melihat sosok Ibu Rina, yang dilihat beberapa karyawan sedang sibuk dengan pekerjaannya.

“Maaf Kak, Ibu Rina dimana ya?” tanya Sandra dengan hati hati. Namun semua tidak menjawab pertanyaan Sandra.

Sandra mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali namun tetap saja semua cuek kepada dirinya. Akhirnya Sandra mengambil hapenya yang nampak jadul lalu memencet mencet sebentar. Dan selanjutnya dia kembali mengantongi hapenya lalu berjalan sesuai dengan alat radar yang mendeteksi keberadaan Ibu Rina, orang yang beberapa menit bersamanya. Sandrapun berhasil menuju ke suatu ruangan pimpinan divisi pantry. Orang orang yang ditanya Sandra tadi hanya menatap dengan heran. Sandra mengetuk pintu ruangan pimpinan divisi pantry tersebut.

“Masuk.” suara Ibu Rina dari dalam. Sandra memutar pelan handel pintu lalu mendorong daun pintu dengan hati hati. Terlihat Ibu Rina duduk di kursinya.

“San, kamu langsung kerja hari ini ya bergabung di bagian cuci cuci perkakas, ini job deskripsi.” ucap Ibu Rina sambil menyerahkan selembar kertas.

“Baik Bu.”

“Wik, kamu antar Sandra sekarang carikan seragam dan selanjutnya bawa ke bagiannya.” perintah Ibu Rina pada seorang pegawai yang juga berada di dalam ruangan Ibu Rina.

“San, kamu ikuti Wika dia yang akan mengantar kamu.”

“Baik Bu, terimakasih.” ucap Sandra lalu bangkit berdiri dan mengikuti langkah kaki Wika yang sudah lebih dulu keluar dari ruang Ibu Rina. Saat Sandra keluar sudah tidak terlihat sosok Wika. Sandra menoleh ke kiri dan kanan.

“Kalau tanya pasti tidak ada yang mau menjawab.” gumam Sandra dalam hati. Sandra mengambil hape dari sakunya lalu melakukan hal yang sama untuk mendeteksi dimana orang yang dicari.

Sandra lalu melangkahkan kakinya dan tidak lama kemudian tampak Wika sedang berbicara dengan salah satu orang pegawai.

“Hai anak baru kalau kerja di sini harus cepat dan cekatan. Nih baju seragammu.” ucap Wika sambil melemparkan seragam. Lalu Wika berjalan lagi, kali ini Sandra langsung berjalan mengikuti Wika. Dan benar dia masuk ke ruang tempat cuci perkakas.

“Kamu ganti baju ke situ.” tunjuk Wika pada suatu tempat di pojok. Sandra lalu berjalan menuju ke tempat yang ditunjukan oleh Wika. Sandra membuka pintu ternyata itu adalah sebuah kamar mandi dan toilet yang berada di dalam satu ruangan. Sandra membuka lipatan seragam tersebut, dilihatnya seragam dengan ukuran yang sangat besar. Sandra lalu keluar lagi. Tampak Wika masih berdiri sambil tersenyum.

“Kok belum dipakai?” tanya Wika dengan ketus.

“Kak, ini ukurannya sangat besar buat saya.”

“Tidak ada yang lain pakai saja itu. Itu baju seragam bekas ibu Rina siapa tahu kamu besok juga bisa jadi gemuk dan jadi pimpinan ha...ha....ha....” ucap Wika sambil tertawa.

“Sudah pakai saja, dan cepat kerja.” ucap pegawai lain sambil mencuci gelas gelas. Sandra lalu masuk kembali ke kamar mandi dia tidak berganti baju namun hanya memakai rangkap baju seragam tersebut. Sandra lalu cepat cepat keluar agar bisa segera bekerja. Saat keluar semua yang berada di ruangan tersebut langsung menatap dirinya dan menertawakannya, termasuk Wika masih berdiri dan tertawa terpingkal pingkal. Lalu dia pergi meninggalkan ruangan masih sambil tertawa dan diikuti oleh beberapa pegawai yang bekerja di bagian lain.

Sandra diam saja tidak menghiraukan mereka yang menertawakannya dia bekerja sesuai job deskripsi yang sudah diberikan ibu Rina kepadanya.

Waktu terus berjalan hingga sore hari beberapa karyawan terlihat sudah pulang. Pekerjaan Sandrapun sudah selesai.

“Sana kamu keluar dan temui Ibu Rina!” perintah seorang karyawan di ruangan itu. Sandra hanya menganggukkan kepala lalu Sandra berjalan meninggalkan ruang tempat cuci perkakas menuju ke tempat penitipan tasnya. Semua orang yang melihat Sandra menertawakan penampilan Sandra. Sandra tidak ambil peduli, setelah mendapatkan tasnya Sandra berjalan menuju ke ruang kerja Bu Rina. Tampak kantor sudah mulai sepi. Sandra mengetuk pintu dengan pelan.

“Masuk.” suara Ibu Rina dari dalam. Sandra lalu membuka pintu dan berjalan masuk. Tampak Ibu Rina masih terlihat sibuk ngecek daftar daftar menu.

“Masih sibuk Bu?” tanya Sandra sambil duduk di kursi depan meja Ibu Rina.

“Tidak, hanya ngecek menu menu untuk konsumsi meeting besok. Sudah okey kok.” jawab Ibu Rina lalu mendongakkan wajahnya dan betapa kagetnya dia saat melihat Sandra yang duduk di depannya dengan seragam kedodoran.

“San, kamu dari tadi pakai baju ini?”

“Iya Bu, katanya tidak ada yang lain.”

“Ya sudah, ayo kita pulang. Kamu tidak malu pakai baju kedodoran seperti ini?” tanya Ibu Rina. Sandra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Mereka berdua lalu berjalan meninggalkan ruangan divisi pantry menuju ke luar gedung. Karyawan yang masih tertinggal memandang Sandra dengan tawa tertahan sebab takut pada Ibu Rina yang berjalan di dekat Sandra.

Saat keluar gedung sudah ada mobil yang menjemput Ibu Rina. Beberapa menit kemudian mobil yang ditumpangi Ibu Rina dan Sandra memasuki halaman rumah setelah penjaga pintu gerbang membukakan pintu gerbang tersebut.

“Ayo turun San.” ucap Ibu Rina sambil membuka pintu. Sandra yang duduk di samping Ibu Rina ikut membuka pintu dan berjalan mengikuti ibu Rina.

Suasana rumah tampak sepi. Sandra tidak berani menanyakan sesuatu apapun. Ibu Rina terus berjalan tidak menuju ke pintu rumah tapi terus berjalan ke belakang. Di ujung tampak ada dua buah bangunan kecil. Ibu Rina berdiri di depan bangunan kecil tersebut lalu menekan saklar dan lampu menyala, setelahnya ibu Rina meraih kunci yang terletak di dekat pintu.

“San, maaf ya kamu tidur di sini. Ini gudang tetapi di dalam ada tempat tidur dan kasur yang tidak terpakai juga ada lemari lemari yang tidak terpakai di dalamnya ada sprai sprai dan baju baju bekas. Kamu bersihkan dulu mumpung masih sore.”

“Baik Bu.”

“Itu ada kamar mandi dan wc" ucap Ibu Rina sambil menunjuk sebuah bangunan yang lebih kecil dari gudang itu. Sandra menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala.

“Kamu tinggal di sini secara cuma cuma sebelum kamu mendapat gaji.”

“Baiklah aku ke dalam. Nanti malam mbok Nah atau pak No akan mengantar makan malammu.” ucap Ibu Rina lalu melangkah meninggalkan Sandra. Ibu Rina memberi tumpangan Sandra di gudang belakang karena masih dalam modus waspada pada orang yang baru dikenal.

Sedangkan Sandra lalu berjalan memasuki gudang tersebut. Dilihatnya di dalam gudang ada beberapa barang barang yang masih bisa digunakan. Sandra dengan cepat membersihkan isi gudang dari debu debu dan mengatur segalanya agar nyaman dia tinggal. Sandra justru senang tinggal di tempat ini karena akan mendukung misinya, sebab bisa dibilang ini tempat tersembunyi. Sandrapun melihat lihat semua sudut ruangan dan bisa dipastikan tidak ada CCTV di dalam gudang tesebut.

Setelah selesai membersihkan gudang, Sandra bermaksud akan mandi namun saat membuka pintu ada seorang perempuan yang terlihat lebih tua dari ibu Rina datang dengan membawa kotak makanan dan satu botol besar air mineral. Perempuan itu hanya memberikan makanan dan minuman tanpa bicara lalu pergi meninggalkan Sandra. Sandra lalu menaruh makanan dan minuman ke dalam gudang yang sudah menjadi kamarnya. Lalu dia pergi ke kamar mandi tidak lupa mengunci pintu kamarnya.

Setelah mandi Sandra masuk ke dalam kamar lalu mengunci kamar tersebut rapat rapat. Dia membuka kacamatanya dan menggerai rambutnya. Sandra lalu mengambil lap topnya yang sudah dimodifikasi, dari luar tampilannya hanya seperti sebuah buku tulis tebal. Sandra lalu membukanya saat dibuka sudah nampak layar monitor dan Sandra siap bekerja. Dia mengecek semua informasi mengenai perusahaan orang tuanya. Dahinya berkerut saat melihat kondisi perusahaan semakin darurat. Dia juga mendapat informasi tentang kegelisahan orang tuanya. Dia lalu mengirim email kepada nyonya William sang mama tercinta. Namun setelah email terkirim terdengar suara ketukan pintu. Sandra cepat cepat menutup lap topnya yang kini sudah terlihat seperti buku tulis biasa dan bolpen tergeletak di sampingnya. Sandra cepat cepat memakai kacamatanya dan memasang kerudung untuk menutup rambutnya yang tergerai. Sandra membuka pintu pelan pelan.Terlihat sosok Ibu Rina dengan kepala melongok ke dalam ruangan gudang yang sudah menjadi kamar.

“Hmmm sudah bersih dan rapi, lumayan kerjamu.” gumam Ibu Rina sambil pandangan matanya mengitari ruangan. Namun tiba tiba mata Ibu Rina menatap buku tulis yang tergeletak dan juga melihat kotak makan dan botol minuman yang masih utuh.

“Makan dulu, nulis buku diary bisa nanti kalau mau tidur.” ucap Ibu Rina lalu pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Sandra tampak lega lalu menutup kembali pintu kamarnya.

“Kenapa radarku tidak bergetar ya padahal tadi ketemu orang penting Jonathan Co. Apa ada yang salah dan eror.” gumam Sandra lalu mengecek kacamata yang juga berfungsi sebagai radar untuk mendeteksi orang yang dia cari.

Terpopuler

Comments

aphrodite

aphrodite

ini perusahaan besar tapi semua kary kecuali Bu Rina kok julid semua..jadi pengen nge bom dari bawah tanah biar ambruk nih gedung hancur

2024-12-19

0

Nit_Nit

Nit_Nit

kurang ajar bgt tuh, blm tahu siapa sebenarnya sandra

2024-03-18

0

Salmah

Salmah

tolong dong san hp jadul q d modif juga biar kepakek gitu ....😊😊😊😊😊

2023-05-15

2

lihat semua
Episodes
1 Bab. 1. Misi Dimulai
2 Bab. 2. Jonathan Co
3 Bab. 3. William Group
4 Bab. 4. Karyawan Baru
5 Bab. 5. Karyawan Kesayangan
6 Bab. 6. Kacamata Sandra
7 Bab. 7. Radar Bergetar
8 Bab. 8. Curiga
9 Bab. 9. Pindah Divisi
10 Bab. 10. Rahasia Sang Sekretaris
11 Bab. 11. Tawaran Sang Sekretaris
12 Bab. 12. Perjodohan Vadeo
13 Bab. 13. Pertunangan Vadeo
14 Bab. 14. Menjadi Sekretaris Pribadi Vadeo
15 Bab. 15. Titik Terang
16 Bab. 16. Curahan Hati Vadeo
17 Bab. 17. Mengumpulkan Bukti
18 Bab. 18. Jebakan Justin
19 Bab. 19. Dalam Bahaya
20 Bab. 20. Melarikan Diri
21 Bab. 21. Alarm
22 Bab. 22. Rumah Sakit
23 Bab. 23. Vadeo Mencari Sandra
24 Bab. 24. Kedatangan Alexandria
25 Bab. 25. Rencana Alexandria
26 Bab. 26. Laporan Alexandria
27 Bab. 27. Vadeo Memergoki Riris
28 Bab. 28. Rencana Baru Justin
29 Bab. 29. Proses Hukum Dimulai
30 Bab. 30. Justin Melarikan Diri
31 Bab. 31. Pertemuan Vadeo dan Alexandria
32 Bab. 32. Di Ambang Kebingungan
33 Bab. 33. Rencana Justin Operasi Plastik
34 Bab. 34. Menunda
35 Bab. 35. Balas Dendam Justin
36 Bab. 36. Sesuatu Syarat dari Alexandria
37 Bab. 37. Penguntit Alexandria
38 Bab. 38. Pengintai Di Mension William
39 Bab. 39. Menemukan Obyek Mencurigakan
40 Bab. 40. Menjebak Penguntit
41 Bab. 41. Penguntit Kedua
42 Bab. 42. Pertemuan Vadeo dan Alexandria
43 Bab. 43. Bungkam
44 Bab. 44. Senjata Api
45 Bab. 45. Data Pelaku
46 Bab. 46. Tembakan
47 Bab. 47. Tertembak
48 Bab. 48. Memori Alexandria
49 Bab. 49. Membujuk Tuan Jonathan
50 Bab. 50. Gelora di Dada
51 Bab. 51. Pertemuan Vadeo dengan Keluarga William
52 Bab. 52. Tim Indipenden
53 Bab. 53. Proses Akuisisi Dimulai
54 Bab. 54. Kecurigaan Vadeo
55 Bab. 55. Datang ke Jonathan Co
56 Bab. 56. Strategi Alexandria
57 Bab. 57. Salah Sasaran
58 Bab. 58. Rencana Menjebak Justin
59 Bab. 59. Ijin Tuan William
60 Bab. 60. Justin Panik
61 Bab. 61. Menghadap Tuan William
62 Bab. 62. Pembicaraan Serius dengan Tuan William
63 Bab. 63. Aksi Dimulai
64 Bab. 64. Strategi Alexandria Berhasil
65 Bab. 65. Strategi Lain
66 Bab. 66. Pingsan
67 Bab. 67. Penculikan
68 Bab. 68. Menuju ke Villa
69 Bab. 69. Mempertahankan
70 Bab. 70. Curiga
71 Bab. 71. Penambah Gairah
72 Bab. 72. Aku Alexandria
73 Bab. 73. Meneruskan Hasrat
74 Bab. 74. Ternoda
75 Bab. 75. Emosi Vadeo
76 Bab. 76. Segerakan
77 Bab. 77. Tidak Fair
78 Bab. 78. Hotel Bintang Lima
79 Bab. 79. Perlawanan
80 Bab. 80. Pemeran Pengganti
81 Bab. 81. Rencana Nanti Malam
82 Bab. 82. Salah Paham
83 Bab. 83. Menit Menit Terakhir
84 Bab. 84. Terjebak
85 Bab. 85. Suntik Kebiri
86 Bab. 86. Rencana Pulang untuk Pergi
87 Bab. 87. Menunggu
88 Bab. 88. Jaminan Justin
89 Bab. 89. Menanti Justin
90 Bab. 90. Pasrah
91 Bab. 91. Ke Mension Jonathan
92 Bab. 92. Penculikan Lagi
93 Bab. 93. Menit Menit Kedatangan Justin
94 Bab. 94. Kedatangan Justin 1
95 Bab. 95. Kedatangan Justin 2 (Perjuangan Justin)
96 Bab. 96. Rencana Menjemput Riris
97 Bab. 97. Keraguan Alexandria
98 Bab. 98. Serius
99 Bab. 99. Cincin Spesial
100 Bab. 100. Dingin
101 Bab. 101. Vadeo Harus Pergi
102 Bab. 102. Lamaran
103 Bab. 103. Lamaran 2
104 Bab. 104. Pengakuan Alexandria
105 Bab. 105. Hukuman?
106 Bab. 106. Reward
107 Bab. 107. Pesan Alexandria
108 Bab. 108. Pamit
109 Bab. 108. Dijemput Seorang Perempuan
110 Bab. 110. Pengawal Vadeo
111 Bab. 111. Ulah Chaterine
112 Bab. 112. Dibawa Kabur
113 Bab. 113. Bantuan Alexandria
114 Bab. 114. Curiga
115 Bab. 115. Kecelakaan
116 Bab. 116. Siapa?
117 Bab. 117. Kehilangan Jejak
118 Bab. 118. Hebohnya Keluarga William
119 Bab. 119. Berbagi Tugas
120 Bab. 120. Harapan pada Alexandria
121 Bab. 121. Mual
122 Bab. 122. Rencana Richie
123 Bab. 123. Undangan dari Chaterine
124 Bab. 124. Adu Skenario
125 Bab. 125. Satu Hotel
126 Bab. 126. Menunggu
127 Bab. 127. Melepas Rindu
128 Bab. 128. Rumah Sakit
129 Bab. 129. Emosi Richie
130 Bab. 130. Ancaman Richie
131 Bab. 131. Menemui Chaterine
132 Bab. 132. Pernyataan Vadeo
133 Bab. 133. Tertangkap
134 Bab. 134. Cemas
135 Bab. 135. Richie Lari
136 Bab. 136. Mengejar Richie
137 Bab. 137. Baku Tembak
138 Bab. 138. Pulas
139 Bab. 139. Jatuh?
140 Bab. 140.
141 Bab. 141. Mencari
142 Bab. 142. Ke Kantor Polisi
143 Bab. 143. Bertemu Mobil Richie
144 Bab. 144. Menyerahkan Diri?
145 Bab. 145. Kembali ke Frankfurt
146 Bab. 146. Gerrit Hansen
147 Bab. 147. Seleksi
148 Bab. 148. Fix
149 Bab. 149. Cemburu
150 Bab. 150. Delay
151 Bab. 151. Cemas
152 Bab. 152. Tiba di Indonesia
153 Bab. 153. Persiapan Pernikahan (Dipingit)
154 Bab. 154.
155 Bab. 155. Rencana Menggagalkan Pernikahan
156 Bab. 156. Observasi
157 Bab. 157. Gagal?
158 Bab. 158. Sah
159 Bab. 159. Ekor Alexandria
160 Bab. 160. Kamar Pengantin
161 Bab. 161.
162 Bab. 162.
163 Bab. 163.
164 Bab. 164. Sudah Isi?
165 Bab. 165. Saatnya Periksa
166 Bab. 166. Kabar Buruk
167 Bab. 167.
168 Bab. 168. Kesedihan Alexandria
169 Bab. 169. Penolakan Vadeo
170 Bab. 170. Hadiah
171 Bab. 171. Pengawal untuk Alexandria
172 Bab. 172. Rahasia Keluarga
173 Bab. 173. Tersiksa Gelisah Kecewa
174 Bab. 174. Anti Radiasi
175 Bab. 175. Pulau Alexandria
176 Bab. 176. Tiga Perempuan
177 Bab. 177. Take Off
178 Bab. 178. Rumah Baru
179 Bab. 179.
180 Bab. 180.
181 Bab. 181.
182 Bab. 182.
183 Bab. 183.
184 Bab. 184.
185 Bab. 185.
186 Bab. 186.
187 Bab. 187.
188 Bab. 188.
189 Bab. 189.
190 Bab. 190.
191 Bab. 191
192 Bab. 192.
193 Bab. 193.
194 Bab. 194.
195 Bab. 195.
196 Bab. 196.
197 Bab. 197.
198 Bab. 198.
199 Bab. 199.
200 Bab. 200.
201 Bab. 201.
202 Bab. 202
203 Bab. 203
204 Bab. 204
205 Bab. 205.
206 Bab. 206
207 Bab. 207.
208 Bab. 208.
209 Bab. 209.
210 Bab. 210.
211 Bab. 211
212 Bab. 212
213 Bab. 213.
214 Bab. 214.
215 Bab. 215.
216 Bab. 216
217 Bab. 217.
218 Bab. 218.
219 Bab. 219
220 Bab. 220.
221 Bab. 221.
222 Bab. 222.
223 Bab. 223.
224 Bab. 224.
225 Bab. 225
226 PENGUMUMAN
227 Bonchap 1. Inisial
228 Bonchap 2. Kedatangan Richardo
229 Bonchap 3. Ulah Baby Twins ( Anak Ajaib?)
230 Bonchap 4. Mengajak Baby Twins ke Pulau Alexandria
231 Bonchap. 5. Menuju Bukit Pohon Asam
232 Bonchap. 6. Berteman dengan Ular
233 Bonchap. 7. Vadeo Pingsan
234 Bonchap. 8. Ke Sungai
235 Bonchap. 9. Hadiah Buat Oma William
236 PROMO NOVEL BARU
237 PROMO NOVEL BARU
238 Promo Novel Married with Daddy
239 Promo Novel Baru
240 Promo Novel Baru
241 Promo Novel Sukses Setelah Dihina dan Dicerai
242 Promo Novel Baru
Episodes

Updated 242 Episodes

1
Bab. 1. Misi Dimulai
2
Bab. 2. Jonathan Co
3
Bab. 3. William Group
4
Bab. 4. Karyawan Baru
5
Bab. 5. Karyawan Kesayangan
6
Bab. 6. Kacamata Sandra
7
Bab. 7. Radar Bergetar
8
Bab. 8. Curiga
9
Bab. 9. Pindah Divisi
10
Bab. 10. Rahasia Sang Sekretaris
11
Bab. 11. Tawaran Sang Sekretaris
12
Bab. 12. Perjodohan Vadeo
13
Bab. 13. Pertunangan Vadeo
14
Bab. 14. Menjadi Sekretaris Pribadi Vadeo
15
Bab. 15. Titik Terang
16
Bab. 16. Curahan Hati Vadeo
17
Bab. 17. Mengumpulkan Bukti
18
Bab. 18. Jebakan Justin
19
Bab. 19. Dalam Bahaya
20
Bab. 20. Melarikan Diri
21
Bab. 21. Alarm
22
Bab. 22. Rumah Sakit
23
Bab. 23. Vadeo Mencari Sandra
24
Bab. 24. Kedatangan Alexandria
25
Bab. 25. Rencana Alexandria
26
Bab. 26. Laporan Alexandria
27
Bab. 27. Vadeo Memergoki Riris
28
Bab. 28. Rencana Baru Justin
29
Bab. 29. Proses Hukum Dimulai
30
Bab. 30. Justin Melarikan Diri
31
Bab. 31. Pertemuan Vadeo dan Alexandria
32
Bab. 32. Di Ambang Kebingungan
33
Bab. 33. Rencana Justin Operasi Plastik
34
Bab. 34. Menunda
35
Bab. 35. Balas Dendam Justin
36
Bab. 36. Sesuatu Syarat dari Alexandria
37
Bab. 37. Penguntit Alexandria
38
Bab. 38. Pengintai Di Mension William
39
Bab. 39. Menemukan Obyek Mencurigakan
40
Bab. 40. Menjebak Penguntit
41
Bab. 41. Penguntit Kedua
42
Bab. 42. Pertemuan Vadeo dan Alexandria
43
Bab. 43. Bungkam
44
Bab. 44. Senjata Api
45
Bab. 45. Data Pelaku
46
Bab. 46. Tembakan
47
Bab. 47. Tertembak
48
Bab. 48. Memori Alexandria
49
Bab. 49. Membujuk Tuan Jonathan
50
Bab. 50. Gelora di Dada
51
Bab. 51. Pertemuan Vadeo dengan Keluarga William
52
Bab. 52. Tim Indipenden
53
Bab. 53. Proses Akuisisi Dimulai
54
Bab. 54. Kecurigaan Vadeo
55
Bab. 55. Datang ke Jonathan Co
56
Bab. 56. Strategi Alexandria
57
Bab. 57. Salah Sasaran
58
Bab. 58. Rencana Menjebak Justin
59
Bab. 59. Ijin Tuan William
60
Bab. 60. Justin Panik
61
Bab. 61. Menghadap Tuan William
62
Bab. 62. Pembicaraan Serius dengan Tuan William
63
Bab. 63. Aksi Dimulai
64
Bab. 64. Strategi Alexandria Berhasil
65
Bab. 65. Strategi Lain
66
Bab. 66. Pingsan
67
Bab. 67. Penculikan
68
Bab. 68. Menuju ke Villa
69
Bab. 69. Mempertahankan
70
Bab. 70. Curiga
71
Bab. 71. Penambah Gairah
72
Bab. 72. Aku Alexandria
73
Bab. 73. Meneruskan Hasrat
74
Bab. 74. Ternoda
75
Bab. 75. Emosi Vadeo
76
Bab. 76. Segerakan
77
Bab. 77. Tidak Fair
78
Bab. 78. Hotel Bintang Lima
79
Bab. 79. Perlawanan
80
Bab. 80. Pemeran Pengganti
81
Bab. 81. Rencana Nanti Malam
82
Bab. 82. Salah Paham
83
Bab. 83. Menit Menit Terakhir
84
Bab. 84. Terjebak
85
Bab. 85. Suntik Kebiri
86
Bab. 86. Rencana Pulang untuk Pergi
87
Bab. 87. Menunggu
88
Bab. 88. Jaminan Justin
89
Bab. 89. Menanti Justin
90
Bab. 90. Pasrah
91
Bab. 91. Ke Mension Jonathan
92
Bab. 92. Penculikan Lagi
93
Bab. 93. Menit Menit Kedatangan Justin
94
Bab. 94. Kedatangan Justin 1
95
Bab. 95. Kedatangan Justin 2 (Perjuangan Justin)
96
Bab. 96. Rencana Menjemput Riris
97
Bab. 97. Keraguan Alexandria
98
Bab. 98. Serius
99
Bab. 99. Cincin Spesial
100
Bab. 100. Dingin
101
Bab. 101. Vadeo Harus Pergi
102
Bab. 102. Lamaran
103
Bab. 103. Lamaran 2
104
Bab. 104. Pengakuan Alexandria
105
Bab. 105. Hukuman?
106
Bab. 106. Reward
107
Bab. 107. Pesan Alexandria
108
Bab. 108. Pamit
109
Bab. 108. Dijemput Seorang Perempuan
110
Bab. 110. Pengawal Vadeo
111
Bab. 111. Ulah Chaterine
112
Bab. 112. Dibawa Kabur
113
Bab. 113. Bantuan Alexandria
114
Bab. 114. Curiga
115
Bab. 115. Kecelakaan
116
Bab. 116. Siapa?
117
Bab. 117. Kehilangan Jejak
118
Bab. 118. Hebohnya Keluarga William
119
Bab. 119. Berbagi Tugas
120
Bab. 120. Harapan pada Alexandria
121
Bab. 121. Mual
122
Bab. 122. Rencana Richie
123
Bab. 123. Undangan dari Chaterine
124
Bab. 124. Adu Skenario
125
Bab. 125. Satu Hotel
126
Bab. 126. Menunggu
127
Bab. 127. Melepas Rindu
128
Bab. 128. Rumah Sakit
129
Bab. 129. Emosi Richie
130
Bab. 130. Ancaman Richie
131
Bab. 131. Menemui Chaterine
132
Bab. 132. Pernyataan Vadeo
133
Bab. 133. Tertangkap
134
Bab. 134. Cemas
135
Bab. 135. Richie Lari
136
Bab. 136. Mengejar Richie
137
Bab. 137. Baku Tembak
138
Bab. 138. Pulas
139
Bab. 139. Jatuh?
140
Bab. 140.
141
Bab. 141. Mencari
142
Bab. 142. Ke Kantor Polisi
143
Bab. 143. Bertemu Mobil Richie
144
Bab. 144. Menyerahkan Diri?
145
Bab. 145. Kembali ke Frankfurt
146
Bab. 146. Gerrit Hansen
147
Bab. 147. Seleksi
148
Bab. 148. Fix
149
Bab. 149. Cemburu
150
Bab. 150. Delay
151
Bab. 151. Cemas
152
Bab. 152. Tiba di Indonesia
153
Bab. 153. Persiapan Pernikahan (Dipingit)
154
Bab. 154.
155
Bab. 155. Rencana Menggagalkan Pernikahan
156
Bab. 156. Observasi
157
Bab. 157. Gagal?
158
Bab. 158. Sah
159
Bab. 159. Ekor Alexandria
160
Bab. 160. Kamar Pengantin
161
Bab. 161.
162
Bab. 162.
163
Bab. 163.
164
Bab. 164. Sudah Isi?
165
Bab. 165. Saatnya Periksa
166
Bab. 166. Kabar Buruk
167
Bab. 167.
168
Bab. 168. Kesedihan Alexandria
169
Bab. 169. Penolakan Vadeo
170
Bab. 170. Hadiah
171
Bab. 171. Pengawal untuk Alexandria
172
Bab. 172. Rahasia Keluarga
173
Bab. 173. Tersiksa Gelisah Kecewa
174
Bab. 174. Anti Radiasi
175
Bab. 175. Pulau Alexandria
176
Bab. 176. Tiga Perempuan
177
Bab. 177. Take Off
178
Bab. 178. Rumah Baru
179
Bab. 179.
180
Bab. 180.
181
Bab. 181.
182
Bab. 182.
183
Bab. 183.
184
Bab. 184.
185
Bab. 185.
186
Bab. 186.
187
Bab. 187.
188
Bab. 188.
189
Bab. 189.
190
Bab. 190.
191
Bab. 191
192
Bab. 192.
193
Bab. 193.
194
Bab. 194.
195
Bab. 195.
196
Bab. 196.
197
Bab. 197.
198
Bab. 198.
199
Bab. 199.
200
Bab. 200.
201
Bab. 201.
202
Bab. 202
203
Bab. 203
204
Bab. 204
205
Bab. 205.
206
Bab. 206
207
Bab. 207.
208
Bab. 208.
209
Bab. 209.
210
Bab. 210.
211
Bab. 211
212
Bab. 212
213
Bab. 213.
214
Bab. 214.
215
Bab. 215.
216
Bab. 216
217
Bab. 217.
218
Bab. 218.
219
Bab. 219
220
Bab. 220.
221
Bab. 221.
222
Bab. 222.
223
Bab. 223.
224
Bab. 224.
225
Bab. 225
226
PENGUMUMAN
227
Bonchap 1. Inisial
228
Bonchap 2. Kedatangan Richardo
229
Bonchap 3. Ulah Baby Twins ( Anak Ajaib?)
230
Bonchap 4. Mengajak Baby Twins ke Pulau Alexandria
231
Bonchap. 5. Menuju Bukit Pohon Asam
232
Bonchap. 6. Berteman dengan Ular
233
Bonchap. 7. Vadeo Pingsan
234
Bonchap. 8. Ke Sungai
235
Bonchap. 9. Hadiah Buat Oma William
236
PROMO NOVEL BARU
237
PROMO NOVEL BARU
238
Promo Novel Married with Daddy
239
Promo Novel Baru
240
Promo Novel Baru
241
Promo Novel Sukses Setelah Dihina dan Dicerai
242
Promo Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!