🍃🍃Kediaman rumah Andra🍃🍃
Brum! Brum.
Sepeda motor sport milik Andra memasuki pagar putih yang terbuka sedikit. Andra menghentikan sepeda motor sport miliknya di samping mobil yang berada di dalam garasi. Andra membuka helmnya, sedikit ia menoleh kebelakang, menatap Yusi yang tampak heran.
“Walaupun rumahku tidak sebesar rumah kamu, tapi aku bangga bisa punya rumah sendiri dari hasil usahaku.”
“Emang aku ada nanya?” Sahut Yusi turun dari sepeda motor sport Andra.
“He he. Kalau begitu mari kita masuk.” Ajak Andra yang sudah jalan terlebih dahulu keluar dari garasi mobil.
“Sebaiknya aku tidak usah masuk.” Kedua mata Yusi mengedar ke sekeliling komplek yang terlihat elit. “Aku tidak enak sama tetangga kamu.”
Andra mengulas senyum tipis di bibir seksinya, kedua kaki berjalan mendekati Yusi, tangan kanan menggenggam erat pergelangan tangan kanan Yusi yang di letak di sisi badan. “Tidak perlu mencemaskan tetangga. Lagian kita tidak melakukan apa pun di sini, jadi kamu jangan kuatir.” Ucap Andra meyakinkan diri Yusi.
Grrttt!!!
Wajah Yusi memerah, dirinya menahan malu karena perutnya mendadak memberontak di depan Andra.
“Jangan pikirkan mulut tetangga, sekarang pikirkan saja perut kamu yang terus memberontak seperti itu.” Ucap Andra menarik tangan Yusi, membawanya masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, Yusi menghentikan langkah kakinya di ruang tamu. Terlihat jejeran foto lawas seorang sepasang suami dan istri duduk di kursi besar beserta seorang anak laki-laki berusia 10 tahun. Melihat Yusi menghentikan langkah kakinya, Andra juga ikut menghentikan langkah kakinya di sisi kanan Yusi.
“Apakah ini foto keluarga kamu?” Tanya Yusi kepada Andra.
Andra mengambil foto sepasang suami dan istri, menatap foto keluarga tersebut dengan penuh cinta. “Iya, mereka berdua adalah kedua orang tuaku, mereka meninggal dunia 6 tahun yang lalu. Foto ini adalah foto terakhir aku berjumpa dengan Papa dan Mamaku.”
“Eh, maaf jika aku sudah menyinggung kamu.” Ucap Yusi merasa bersalah.
Andra meletakkan kembali foto keluarga tersebut. “Tidak perlu minta maaf, lagian itu sudah berlalu.” Andra mengarahkan tangan kanannya ke sisi kanan, dimana ruang tamu terhubung dengan ruang makan. “Mari kita pergi makan.”
“Baik.” Sahut Yusi patuh.
.
.
💫💫2 jam kemudian💫💫
Setelah selesai makan, agar tidak terjadi sesuatu hal yang buruk kepada mereka berdua, Yusi berinisiatif meminta Andra untuk mengajak dirinya berkeliling rumahnya. Namun, Andra tidak mengiyakan ajakan Yusi, Andra mengganti ajakan Yusi menjadi membaca Novel bergenre horor, dengan judul “Teror Mahar Mewah”. Andra dan Yusi duduk di dalam ruangan khusus baca.
“Aku tidak suka baca cerita horor.” Ucap Yusi mengembalikan novel tersebut kepada Andra.
“Ini sebenarnya kisahnya sedih, seorang gadis yang polos harus terjebak akibat ulah Ayahnya yang SERAKAH. Seorang Ayah yang haus akan uang dan harta hingga merelakan putri kesayangannya menikahi seorang pria psikopat yang memiliki banyak harta. Tapi tidak sepenuhnya harta itu adalah milik pria psikopat tersebut, harta itu di dapatkan dengan menghabisi banyak orang kaya.” Ucap Andra menjelaskan sedikit tentang novel yang berjudul “Teror Mahar Mewah”.
“Tetap saja aku tidak suka membaca cerita seperti itu.” Tolak Yusi sopan. Bukan tidak mau membaca novel tersebut, Yusi hanya tidak suka jika ada perkataan seperti menyinggung dirinya padahal perkataan itu belum tentu mereka mengetahui perbuatan Yusi. Yusi berdiri, tangan kanan mengarah ke pintu. “Sebaiknya aku menumpang kamar mandi.” Yusi menatap jam di dinding. “Sebaiknya kita harus berangkat les sebelum kita terlambat.”
“Baiklah, aku akan menunjukkan kamarku di mana.” Sahut Andra. Andra berdiri, kedua kakinya melangkah terlebih dahulu membuka pintu ruangan dan menuntun Yusi menuju kamar miliknya yang berada di lantai 2.
Kedua kaki Yusi dan Andra terhenti tepat di depan pintu kamar milik Andra, tangan kanan Andra membuka pintu kamar. “Ini kamarku, semua keperluan buat mandi ada di dalam. Kamu bisa memakai handuk baru yang aku simpan di dalam lemari gantung kecil yang berada di dalam kamar mandi.” Andra menatap wajah Yusi yang terlihat serius melihat ke dalam kamarnya. “Apa kamu mendengar ucapanku?”
“Dengar.”
“Oh, aku pikir kamu tidak mendengarkan aku.” Tangan kanan Andra memegang pergelangan tangan kanan Yusi. “Aku punya ide, daripada kamu menghabiskan air untuk satu badan, lebih bagus aku ikut kamu mandi.”
Tak!!
“Bodoh.” Ucap Yusi meninggikan nada suaranya setelah menjitak dahi Andra. Yusi berbalik badan, kedua kakinya melangkah cepat menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar Andra. Bibirnya mengumpat kesal, sesekali ia menatap Andra yang masih berdiri di depan pintu kamar. “Ck. Dasar mesum. Bisa-bisanya dia berbicara tanpa pikiran.”
.
.
🍃🍃30 menit kemudian🍃🍃
Untuk sesaat Yusi merasa lega dan sedikit melupakan teror yang terus menghantui dirinya. Setelah Yusi selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk hanya sebatas paha, kedua kakinya melangkah mendekati tas miliknya yang di letakkan di atas meja rias milik Andra. Saat hendak mengambil baju yang berada di dalam tas, kedua mata Yusi membesar melihat botol obat herbal seperti milik mendiang Ayahnya dan tulisan kecil di atas meja rias.
“Keluar kamu! Jangan beraninya melakukan hal ini tanpa sepengetahuanku. Keluar kamu SE..TAN.” Ucap Yusi sedikit meninggikan nada suaranya, pandangan tak tentu arah ia tuju ke seluruh ruangan. “KELUAR.” Teriak Yusi sekali lagi.
“Ada apa Yusi?” Tanya Andra tanpa mengetuk pintu langsung membuka pintu dan masuk.
Yusi yang tidak sadar jika tubuhnya hanya berbalut handuk kecil berlari mendekati Andra yang berjalan ke arahnya. Tangan kanan Yusi memegang pergelangan tangan kiri Andra, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke meja rias. “Li-lihat di sana ada setan yang terus menerorku. Seolah dirinya adalah mendiang Ayahku.”
“Teror! Kalau begitu aku akan menemani kamu untuk melihatnya.” Sahut Andra. Tangan kiri Andra berbalik memegang tangan kanan Yusi. “Kamu jangan takut lagi, karena aku ada di sini untuk kamu.” Ucap Andra sedikit menenangkan hati Yusi.
Kedua kaki Yusi dan Andra melangkah perlahan mendekati meja rias, Yusi yang tadinya berjalan di samping kiri Andra berubah menjadi berlindung di belakang tubuh Andra. Kedua kaki Yusi dan Andra berhenti tepat di depan meja rias, betapa terkejutnya Yusi melihat meja rias sudah bersih tanpa tulisan berdarah yang berkata, ‘Anak seperti kamu tidak pantas hidup’ , tulisan menyeramkan tepat di samping botol obat herbal seperti bekas mendiang Ayahnya.
“Tidak ada apa-apa di atas meja ini.” Ucap Andra memberitahu Yusi jika yang ia lihat dan baru saja ia bicarakan tidak ada di atas meja rias miliknya.
Yusi menyingkirkan semua benda milik Andra dan tas miliknya dari atas meja rias milik Andra. “Tadi ada kok! Gak mungkin bisa hilang begitu saja.”
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
top 👍
2022-08-12
0
~~N..M~~~
Aku juga sudah baca sampek hbis "Teror Mahar Mewah". Di cerita itu kamu bisa mandapatkan Ayat kursi dll.
2022-08-11
0