Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.

Satu hari setelah Yusi membelikan obat herbal buat Ayahnya, yaitu Deni. Kini Deni terlihat tampak baik-baik saja. Deni, Azzam, Rabbani, Laras, dan Yusi sedang bercanda riang di ruang Tv keluarga.

Drrt! Ddrtt!!

Ponsel milik Yusi berdering, Yusi permisi untuk mengangkat telepon dari seseorang yang terlihat penting.

[“Apa kamu sudah gila, menelpon malam-malam begini.”]

[“Barangnya pesanan kamu sudah ada di tanganku. Mau ambil atau tidak? Kalau tidak, aku akan pergi.”]

[“Iya-ia. Tunggu aku di luar.”]

Yusi mengakhiri panggilan telepon dari orang misterius, Yusi kembali ke ruang Tv keluarga untuk berpamitan sebentar kepada Abang, Ayah dan Ibunya. Setelah berpamitan untuk menjumpai penelpon misterius yang sudah berada di depan rumahnya, Yusi berjalan cepat, sesekali ia memandang ke belakang, seperti sedang memastikan apakah ada orang lain yang sedang mengikutinya.

Sesampainya di depan gerbang terlihat seorang pria memakai jaket warna putih, topi hitam dan masker, duduk di atas kereta sport. Yusi yang masih terus berjalan, sesekali memandang ke belakang dengan wajah cemas.

Tanpa mengulur waktu, Yusi yang berada di depan gerbang mengulurkan tangan kanannya dari sela-sela gerbang.

“Mana barangnya, cepat berikan kepadaku.”

Pria tersebut turun dari sepeda motor miliknya, mengeluarkan botol seperti botol obat herbal yang pernah di beli Yusi buat Deni. Pria tersebut meletakkan botol obat herbal tersebut di atas telapak tangan Yusi.

“Pesanan sudah di terima.”

“Sudah aku bayar. Kamu boleh pergi.” Ucap Yusi.

Saat ia ingin berbalik badan, pria tersebut menarik baju Yusi, dan menariknya hingga menempel ke gerbang. Pria tersebut mendekat wajahnya yang terhalang besi gerbang. “Tidak aku sangka jika diri kamu ternyata cantik juga. Namun sayang, cantik-cantik jahat, licik, dan munafik menjadi satu tersembunyi di wajah cantik kamu.” Bisik pria tersebut.

“Lepaskan. Aku tidak mengenal kamu, dan aku tidak mau dengar apa yang kamu bicarakan. Kamu berani kurang ajar kepada pelanggan. Awas saja kamu, aku akan membuat usaha kamu tutup.” Sahut Yusi.

“Aku tunggu itu.” Pria misterius tersebut melepaskan Yusi saat ia melihat Azzam keluar dari pintu rumah. Pria misterius penjual obat dengan cepat naik ke atas sepeda motor sport miliknya, menghidupkan sepeda motor sport miliknya dan meninggalkan kediaman rumah Yusi.

“Apa yang kalian lakukan di luar sini?” Tanya Azzam sedikit meninggikan nada suaranya, karena Azzam sedang berdiri di teras rumah.

Yusi melangkah cepat menuju teras rumah, langkah Yusi terhenti saat dirinya hendak melewati Azzam. “Bukan urusan Abang.” Sahut Yusi bernada kesal. Yusi terus melangkahkan kedua kakinya memasuki rumah, bibirnya terus mengumpat kesal melihat sikap Abang pertamanya yang selalu ikut campur dengan urusannya.

.

.

.

🍃Pukul 06:30 pagi 🍃

Di hari minggu yang cerah semuanya pada bangun melakukan aktivitasnya, kecuali Yusi. Yusi sedang berada di dapur, ia menyeduh teh herbal buat Ayahnya yaitu Deni. Bibirnya tersenyum manis, tangan kanan mengaduk teh herbal sedikit di campur madu hutan.

‘Akhirnya datang juga. Aku berharap khasiat teh ini persis dengan yang di bilang penjual aneh itu. Jika tidak awas saja dirinya.’ Batin Yusi.

“Eh! Anak gadis Ibu sudah bangun.” Ucap Laras saat keluar kamar melihat Yusi tersenyum manis sambil mengaduk teh.

“Melihat perkembangan Ayah yang sudah jauh berubah, Yusi jadi bersemangat untuk terus menyeduh teh herbal ini buat Ayah.” Yusi memegang nampan kecil berisi gelas teh. “Apakah Ayah sudah bangun, ‘Bu?” Tanya Yusi bersemangat.

“Sudah.”

“Kalau begitu Yusi ke kamar Ayah, untuk memberikan teh ini sebelum sarapan pagi.” Sahut Yusi beranjak pergi membawa teh herbal yang sudah diseduh nya menuju kamar Deni.

Tok!tok.

“Masuk.” Sahut Deni dari dalam kamar.

Yusi perlahan masuk, bibirnya tersenyum manis melihat Ayahnya yang terlihat segar, duduk di kursi roda menatap pemandangan indah dari depan jendela kamar besar yang langsung menampakkan taman bunga yang ada di belakang rumah.

“Yusi senang melihat Ayah terlihat segar kembali.” Ucap Yusi, kedua kakinya terhenti di hadapan Deni, tangan kanannya mengambil teh herbal hangat dari atas nampan kecil dan memberikannya pada Deni. “Ibu sedang membuatkan kita sarapan pagi, dan Yusi waktunya membuatkan teh herbal buat Ayah.”

Deni mengambil gelas dari tangan putri kesayangannya, senyum manis ia tampilkan sebagai rasa terimakasih untuk Yusi. “Terimakasih putriku. Ayah semangat seperti ini, semua berkat putri Ayah.”

“Mumpung masih hangat, sebaiknya di minum dulu tehnya, Ayah.”

“Baik.” Sahut Deni menyeruput teh herbal hangat pemberian Yusi.

Sudut bibir Yusi menaik, tatapan senang menatap Deni yang sedang menyeruput teh herbal buatannya.

‘Terus minum Ayah, sebentar lagi perlahan-lahan rasa segar itu akan menghilang dari tubuh Ayah.’ Batin Yusi.

Di saat Yusi terlihat senang dan fokus menatap Deni, pintu kamar milik Deni tiba-tiba terbuka dan terdengar suara dari Azzam.

“Pagi, adikku yang paling cantik di rumah ini.” Ucap Azzam menyapa Yusi di dalam kamar Deni.

Yusi terkejut, tatapan bingung menatap Azzam yang berjalan ke arah dirinya, kemudian Yusi beralih pada Deni yang tampak tenang menikmati teh yang tinggal beberapa teguk lagi.

‘Gawat. Jika Abang Azzam ke sini, pasti Abang Rabbani juga akan menyusul. Aku harap Ayah sudah menghabiskan tehnya.’ Batin Yusi merasa was-was saat melihat Azzam masuk tanpa mengetuk pintu, kemudian akan hadir Abang keduanya yang selalu sigap dalam hal apa pun.

Deni meletakkan gelas teh yang sudah kosong di atas paha kanannya, tatapan suram mengarah pada Azzam yang masih separuh jalan mendekati Yusi dan Deni.

“Untung saja Ayah paham tabiat kamu yang suka nyelonong masuk saat mengetahui ada peri kecil di dalam kamar Ayah.”

“Hehehe. Maaf Ayah.” Sahut Azzam menggaruk rambut belakang yang tak gatal.

“Iya, Abang Azzam menjengkelkan.” Sambung Yusi memasang wajah kecut.

“Pagiku cerah, matahari bersinar, ‘ku gendong-‘ku gendong, La La La.” Ucap Rabbani menyandarkan tubuhnya di tiang pintu kamar sambil bernyanyi.

Azzam, Yusi dan Deni menatap heran ke Rabbani. Baju olahraga basah, rambut lepek, kedua tangan di lipat di depan dada, dan menyandarkan tubuh tegapnya di tiang pintu kamar, tak lupa nyanyian anak kecil ia nyanyikan dengan suara datarnya.

“Hahaha.” Deni tertawa renyah melihat tingkah konyol putra keduanya. Di dalam hati Deni, ia merasa bersyukur karena Allah telah memberikan anak-anak yang baik, sopan santun, dan patuh atas semua hal positif. Makanya, sesakit apa pun yang Deni rasakan saat ini, ia lebih baik di rawat di rumah daripada di rumah sakit, karena kenyamanan dan perawatan yang tak ternilai harganya dari anak-anak dan Istrinya melebih perawatan yang ia dapatkan di rumah sakit.

Itu menurut pandangan Deni dan Laras, padahal kedua orang tua itu tidak tahu jika kedua anaknya sedang merencanakan akal busuk untuk Deni, dan juga Rabbani. Manusia paling menyeramkan di muka Bumi ini adalah, manusia yang terlihat baik, polos dan sopan. Padahal dirinya adalah Iblis di atas Iblis, karena memiliki sifat seperti Azzam dan Yusi.

.

.

Yusi berjalan mendekati Rabbani, kedua tangannya membawa nampan berisi gelas teh kosong. Punggung tangan kanan Yusi menempel di dahi Abang keduanya yang berkeringat. “Abang sakit?” Tanya Yusi kepada Rabbani karena dirinya tak biasa melihat sikap aneh dari Rabbani.

Rabbani menggeleng. “Tidak.” Rabbani mendekatkan wajah penuh keringat ke wajah Yusi. “Tadi Abang lari pagi. Saat Abang lari pagi, Abang berjumpa….”

“Berjumpa dengan seorang gadis pujaan hati.” Sambung Laras memotong ucapan Rabbani.

“IBU!”

...Bersambung.......

Terpopuler

Comments

Rini Antika

Rini Antika

Dasar Anak durhaka..

2022-10-31

0

Rini Antika

Rini Antika

sepertinya itu racun deh

2022-10-31

0

Dendry Den

Dendry Den

Jangan percaya anak perempuanmu jahat

2022-09-25

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 01. Surat Warisan 1
2 Bab 02. Isi surat Warisan 2
3 Bab 03. Mengenang perjuangan
4 Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5 Bab 05. Pasrah
6 Bab 06. Hanya kamu.
7 Bab 07. Rumah Sakit
8 Bab 08. Sampai kapan?
9 Bab 09. Menghibur Istri orang.
10 Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11 Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12 Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13 Bab 13. TEROR 1
14 Bab 14. Aku akan menunggumu
15 Bab 15.
16 Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17 Bab 17. Pepet terus
18 Bab 18. Azzam di Labrak
19 Bab 19. Keluar kamu
20 Bab 20. Misi pertama Azzam
21 Bab 21. Perlahan tapi pasti
22 BAB 22. Pantulan Cermin
23 BAB 23. Rayuan Maut.
24 BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25 BAB 25. Main petak umpet di kamar
26 BAB 26. Hanya teman
27 BAB 27. Karena sakit hati
28 BAB 28. Pesan hangat
29 BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30 Bab 30. AKAL YUSI
31 BAB 31. KEKECEWAAN
32 BAB 32. RENCANA BARU
33 BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34 BAB 34. HALUSINASI
35 BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36 BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37 BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38 BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39 BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40 BAB 40. BERAKHIR
41 BAB 41. Gara-gara Clara
42 BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43 BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44 BAB 44. Hasrat Janda
45 BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46 BAB 46. Teru-Teru Buzo
47 BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48 BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49 BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50 BAB 50. Bukan Bulan Madu
51 BAB 51. Clara! wanita Malam
52 BAB 52. Jangan sampai aku!
53 BAB 53. Bantu aku, Clara
54 BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55 BAB 55. Curahan Hati
56 BAB 56. MABUK
57 BAB 57. Suruhan Rashi
58 BAB 58. Balasan buat Rashi
59 BAB 59. Kembali melamar
60 BAB 60. Menunggu Hari H
61 BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62 BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63 BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64 BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65 BAB 65. ITU HARAPANKU
66 BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67 BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68 BAB 68. SOSOK BERBULU
69 BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70 BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71 BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72 BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73 BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74 BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75 BAB 75. Arwah Clara
76 BAB 76. Kok mirip ya?
77 BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78 BAB 78. Di saat hujan petir
79 BAB 79. Berhentilah Anggun
80 BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81 BAB 81. Makanan
82 BAB 82. Aku sangat mencintai kamu
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 01. Surat Warisan 1
2
Bab 02. Isi surat Warisan 2
3
Bab 03. Mengenang perjuangan
4
Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5
Bab 05. Pasrah
6
Bab 06. Hanya kamu.
7
Bab 07. Rumah Sakit
8
Bab 08. Sampai kapan?
9
Bab 09. Menghibur Istri orang.
10
Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11
Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12
Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13
Bab 13. TEROR 1
14
Bab 14. Aku akan menunggumu
15
Bab 15.
16
Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17
Bab 17. Pepet terus
18
Bab 18. Azzam di Labrak
19
Bab 19. Keluar kamu
20
Bab 20. Misi pertama Azzam
21
Bab 21. Perlahan tapi pasti
22
BAB 22. Pantulan Cermin
23
BAB 23. Rayuan Maut.
24
BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25
BAB 25. Main petak umpet di kamar
26
BAB 26. Hanya teman
27
BAB 27. Karena sakit hati
28
BAB 28. Pesan hangat
29
BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30
Bab 30. AKAL YUSI
31
BAB 31. KEKECEWAAN
32
BAB 32. RENCANA BARU
33
BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34
BAB 34. HALUSINASI
35
BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36
BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37
BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38
BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39
BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40
BAB 40. BERAKHIR
41
BAB 41. Gara-gara Clara
42
BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43
BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44
BAB 44. Hasrat Janda
45
BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46
BAB 46. Teru-Teru Buzo
47
BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48
BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49
BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50
BAB 50. Bukan Bulan Madu
51
BAB 51. Clara! wanita Malam
52
BAB 52. Jangan sampai aku!
53
BAB 53. Bantu aku, Clara
54
BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55
BAB 55. Curahan Hati
56
BAB 56. MABUK
57
BAB 57. Suruhan Rashi
58
BAB 58. Balasan buat Rashi
59
BAB 59. Kembali melamar
60
BAB 60. Menunggu Hari H
61
BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62
BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63
BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64
BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65
BAB 65. ITU HARAPANKU
66
BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67
BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68
BAB 68. SOSOK BERBULU
69
BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70
BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71
BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72
BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73
BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74
BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75
BAB 75. Arwah Clara
76
BAB 76. Kok mirip ya?
77
BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78
BAB 78. Di saat hujan petir
79
BAB 79. Berhentilah Anggun
80
BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81
BAB 81. Makanan
82
BAB 82. Aku sangat mencintai kamu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!