Satu hari setelah Yusi membelikan obat herbal buat Ayahnya, yaitu Deni. Kini Deni terlihat tampak baik-baik saja. Deni, Azzam, Rabbani, Laras, dan Yusi sedang bercanda riang di ruang Tv keluarga.
Drrt! Ddrtt!!
Ponsel milik Yusi berdering, Yusi permisi untuk mengangkat telepon dari seseorang yang terlihat penting.
[“Apa kamu sudah gila, menelpon malam-malam begini.”]
[“Barangnya pesanan kamu sudah ada di tanganku. Mau ambil atau tidak? Kalau tidak, aku akan pergi.”]
[“Iya-ia. Tunggu aku di luar.”]
Yusi mengakhiri panggilan telepon dari orang misterius, Yusi kembali ke ruang Tv keluarga untuk berpamitan sebentar kepada Abang, Ayah dan Ibunya. Setelah berpamitan untuk menjumpai penelpon misterius yang sudah berada di depan rumahnya, Yusi berjalan cepat, sesekali ia memandang ke belakang, seperti sedang memastikan apakah ada orang lain yang sedang mengikutinya.
Sesampainya di depan gerbang terlihat seorang pria memakai jaket warna putih, topi hitam dan masker, duduk di atas kereta sport. Yusi yang masih terus berjalan, sesekali memandang ke belakang dengan wajah cemas.
Tanpa mengulur waktu, Yusi yang berada di depan gerbang mengulurkan tangan kanannya dari sela-sela gerbang.
“Mana barangnya, cepat berikan kepadaku.”
Pria tersebut turun dari sepeda motor miliknya, mengeluarkan botol seperti botol obat herbal yang pernah di beli Yusi buat Deni. Pria tersebut meletakkan botol obat herbal tersebut di atas telapak tangan Yusi.
“Pesanan sudah di terima.”
“Sudah aku bayar. Kamu boleh pergi.” Ucap Yusi.
Saat ia ingin berbalik badan, pria tersebut menarik baju Yusi, dan menariknya hingga menempel ke gerbang. Pria tersebut mendekat wajahnya yang terhalang besi gerbang. “Tidak aku sangka jika diri kamu ternyata cantik juga. Namun sayang, cantik-cantik jahat, licik, dan munafik menjadi satu tersembunyi di wajah cantik kamu.” Bisik pria tersebut.
“Lepaskan. Aku tidak mengenal kamu, dan aku tidak mau dengar apa yang kamu bicarakan. Kamu berani kurang ajar kepada pelanggan. Awas saja kamu, aku akan membuat usaha kamu tutup.” Sahut Yusi.
“Aku tunggu itu.” Pria misterius tersebut melepaskan Yusi saat ia melihat Azzam keluar dari pintu rumah. Pria misterius penjual obat dengan cepat naik ke atas sepeda motor sport miliknya, menghidupkan sepeda motor sport miliknya dan meninggalkan kediaman rumah Yusi.
“Apa yang kalian lakukan di luar sini?” Tanya Azzam sedikit meninggikan nada suaranya, karena Azzam sedang berdiri di teras rumah.
Yusi melangkah cepat menuju teras rumah, langkah Yusi terhenti saat dirinya hendak melewati Azzam. “Bukan urusan Abang.” Sahut Yusi bernada kesal. Yusi terus melangkahkan kedua kakinya memasuki rumah, bibirnya terus mengumpat kesal melihat sikap Abang pertamanya yang selalu ikut campur dengan urusannya.
.
.
.
🍃Pukul 06:30 pagi 🍃
Di hari minggu yang cerah semuanya pada bangun melakukan aktivitasnya, kecuali Yusi. Yusi sedang berada di dapur, ia menyeduh teh herbal buat Ayahnya yaitu Deni. Bibirnya tersenyum manis, tangan kanan mengaduk teh herbal sedikit di campur madu hutan.
‘Akhirnya datang juga. Aku berharap khasiat teh ini persis dengan yang di bilang penjual aneh itu. Jika tidak awas saja dirinya.’ Batin Yusi.
“Eh! Anak gadis Ibu sudah bangun.” Ucap Laras saat keluar kamar melihat Yusi tersenyum manis sambil mengaduk teh.
“Melihat perkembangan Ayah yang sudah jauh berubah, Yusi jadi bersemangat untuk terus menyeduh teh herbal ini buat Ayah.” Yusi memegang nampan kecil berisi gelas teh. “Apakah Ayah sudah bangun, ‘Bu?” Tanya Yusi bersemangat.
“Sudah.”
“Kalau begitu Yusi ke kamar Ayah, untuk memberikan teh ini sebelum sarapan pagi.” Sahut Yusi beranjak pergi membawa teh herbal yang sudah diseduh nya menuju kamar Deni.
Tok!tok.
“Masuk.” Sahut Deni dari dalam kamar.
Yusi perlahan masuk, bibirnya tersenyum manis melihat Ayahnya yang terlihat segar, duduk di kursi roda menatap pemandangan indah dari depan jendela kamar besar yang langsung menampakkan taman bunga yang ada di belakang rumah.
“Yusi senang melihat Ayah terlihat segar kembali.” Ucap Yusi, kedua kakinya terhenti di hadapan Deni, tangan kanannya mengambil teh herbal hangat dari atas nampan kecil dan memberikannya pada Deni. “Ibu sedang membuatkan kita sarapan pagi, dan Yusi waktunya membuatkan teh herbal buat Ayah.”
Deni mengambil gelas dari tangan putri kesayangannya, senyum manis ia tampilkan sebagai rasa terimakasih untuk Yusi. “Terimakasih putriku. Ayah semangat seperti ini, semua berkat putri Ayah.”
“Mumpung masih hangat, sebaiknya di minum dulu tehnya, Ayah.”
“Baik.” Sahut Deni menyeruput teh herbal hangat pemberian Yusi.
Sudut bibir Yusi menaik, tatapan senang menatap Deni yang sedang menyeruput teh herbal buatannya.
‘Terus minum Ayah, sebentar lagi perlahan-lahan rasa segar itu akan menghilang dari tubuh Ayah.’ Batin Yusi.
Di saat Yusi terlihat senang dan fokus menatap Deni, pintu kamar milik Deni tiba-tiba terbuka dan terdengar suara dari Azzam.
“Pagi, adikku yang paling cantik di rumah ini.” Ucap Azzam menyapa Yusi di dalam kamar Deni.
Yusi terkejut, tatapan bingung menatap Azzam yang berjalan ke arah dirinya, kemudian Yusi beralih pada Deni yang tampak tenang menikmati teh yang tinggal beberapa teguk lagi.
‘Gawat. Jika Abang Azzam ke sini, pasti Abang Rabbani juga akan menyusul. Aku harap Ayah sudah menghabiskan tehnya.’ Batin Yusi merasa was-was saat melihat Azzam masuk tanpa mengetuk pintu, kemudian akan hadir Abang keduanya yang selalu sigap dalam hal apa pun.
Deni meletakkan gelas teh yang sudah kosong di atas paha kanannya, tatapan suram mengarah pada Azzam yang masih separuh jalan mendekati Yusi dan Deni.
“Untung saja Ayah paham tabiat kamu yang suka nyelonong masuk saat mengetahui ada peri kecil di dalam kamar Ayah.”
“Hehehe. Maaf Ayah.” Sahut Azzam menggaruk rambut belakang yang tak gatal.
“Iya, Abang Azzam menjengkelkan.” Sambung Yusi memasang wajah kecut.
“Pagiku cerah, matahari bersinar, ‘ku gendong-‘ku gendong, La La La.” Ucap Rabbani menyandarkan tubuhnya di tiang pintu kamar sambil bernyanyi.
Azzam, Yusi dan Deni menatap heran ke Rabbani. Baju olahraga basah, rambut lepek, kedua tangan di lipat di depan dada, dan menyandarkan tubuh tegapnya di tiang pintu kamar, tak lupa nyanyian anak kecil ia nyanyikan dengan suara datarnya.
“Hahaha.” Deni tertawa renyah melihat tingkah konyol putra keduanya. Di dalam hati Deni, ia merasa bersyukur karena Allah telah memberikan anak-anak yang baik, sopan santun, dan patuh atas semua hal positif. Makanya, sesakit apa pun yang Deni rasakan saat ini, ia lebih baik di rawat di rumah daripada di rumah sakit, karena kenyamanan dan perawatan yang tak ternilai harganya dari anak-anak dan Istrinya melebih perawatan yang ia dapatkan di rumah sakit.
Itu menurut pandangan Deni dan Laras, padahal kedua orang tua itu tidak tahu jika kedua anaknya sedang merencanakan akal busuk untuk Deni, dan juga Rabbani. Manusia paling menyeramkan di muka Bumi ini adalah, manusia yang terlihat baik, polos dan sopan. Padahal dirinya adalah Iblis di atas Iblis, karena memiliki sifat seperti Azzam dan Yusi.
.
.
Yusi berjalan mendekati Rabbani, kedua tangannya membawa nampan berisi gelas teh kosong. Punggung tangan kanan Yusi menempel di dahi Abang keduanya yang berkeringat. “Abang sakit?” Tanya Yusi kepada Rabbani karena dirinya tak biasa melihat sikap aneh dari Rabbani.
Rabbani menggeleng. “Tidak.” Rabbani mendekatkan wajah penuh keringat ke wajah Yusi. “Tadi Abang lari pagi. Saat Abang lari pagi, Abang berjumpa….”
“Berjumpa dengan seorang gadis pujaan hati.” Sambung Laras memotong ucapan Rabbani.
“IBU!”
...Bersambung.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Rini Antika
Dasar Anak durhaka..
2022-10-31
0
Rini Antika
sepertinya itu racun deh
2022-10-31
0
Dendry Den
Jangan percaya anak perempuanmu jahat
2022-09-25
1