🍃🍃Di kota Jakarta🍃🍃
Rabbani akhirnya sampai di kota Jakarta. Dari Bandara, ia langsung menuju toko miliknya. Mulai dari naik pesawat, naik taksi online, dan berakhir di depan pintu toko. Rabbani terus memikirkan Ibunya yang tinggal berdua dengan adiknya. Rabbani menghela nafas panjang, wajah ia tundukkan ke bawah.
“Akh! Kenapa saat membuka toko aku tidak berpikir panjang akan meninggalkan Ibu sendirian seperti ini. Aku harap Yusi dan Abang Azzam bisa menjaga Ibu dengan baik.” Gumam Rabbani pelan.
“Selamat datang tuan muda Rabbani.” Sambut seorang wanita cantik yang baru saja keluar dari mobil.
“Hem.” Sahut Rabbani dingin. Rabbani mengulurkan tangan kanannya ke pintu masuk toko. “Silahkan masuk.”
Wanita tersebut berlari kecil, tanpa rasa malu dirinya menggandeng tangan kanan Rabbani. “Aku sudah lama menanti kamu.”
“Apaan sih.” Sahut Rabbani datar. Rabbani melepaskan gandengan tangan wanita tersebut, kedua kaki Rabbani melangkah terlebih dahulu memasuki toko. Rabbani terus berjalan dengan wajah dingin melewati semua Karyawan toko.
“Selamat siang tuan Rabbani.” Sambut karyawan toko serentak.
“Hem.” Sahut Rabbani tanpa banyak bicara. Kedua kakinya terus melangkah cepat menuju ruang kantor miliknya.
“Brondong satu ini sangat menggemaskan.” Ucap wanita tersebut mengikuti langkah kaki Rabbani menuju ruang kantor.
Para karyawan hanya melihat di balik stand mereka, melihat Rabbani diikuti wanita lebih tua dari dirinya. Wajah tampan, dingin dan datar sungguh memikat hati kaum wanita. Bukan wanita saja sih, ada pria juga yang mengagumi Rabbani. Bukan kagum karena cinta, tapi kagum melihat Rabbani bisa menjadi Pebisnis barang antik sejak dini seperti Alm. Ayahnya.
“Lihat, nona itu sepertinya sangat menyukai Bos muda kita.”
“Itu sudah pasti, Bos kita itu masih muda, segar, dan tampan lagi.”
“Bukan hanya tampan, wajah dingin dan datarnya itu membuat semua wanita yang memandangnya semakin terpesona.”
“Walaupun berwajah datar dan dingin, wajah Bos muda kita tetap tampan dan sangat imut.”
“Rasanya ingin aku terkam.”
“Aku juga, pasti rasanya masih manis.”
“Mulai deh, pasti kalian sedang berkhayal hal yang kotor.”
“Eh, mana.”
“Nggak usah ngaku. Aku juga mau mencicipi pria seperti Bos muda kita.”
“Huuuu!!!! Bubar-bubar, buat malu saja.”
Ucap salah karyawan wanita mengakhiri perdebatan mengenai kekaguman mereka tentang Rabbani.
.
.
💦💦Di ruang kerja Rabbani💦💦
“Anda mau pesan yang mana?” Tanya Rabbani mengeluarkan Tab miliknya, menunjukkan gambar barang antik dari berbagai belahan dunia kepada wanita yang sedang duduk di sisi kanannya.
Bukannya memperhatikan gambar yang ada di dalam tab, wanita tersebut malah memperhatikan Jakun Rabbani yang naik turun saat berbicara. Kedua mata wanita tersebut menimbulkan gejolak tinggi yang terlihat tidak bisa di bendung lagi. Wanita dewasa itu spontan merebahkan tubuh Rabbani, membuat dirinya duduk tanpa malu di atas Rabbani, kedua tangannya menahan bidang dada Rabbani.
“Aku akan memberikan segalanya buat kamu, asal kamu mau melayaniku.”
“Tidak semua keinginan Anda bisa di bayar dengan semua kekayaan milik Anda. Sungguh miris melihat wanita berkelas, mempunyai suami tampan dan sangat kaya raya, malah menyukai pria rendahan seperti ku. Aku tahu Anda cantik dan bisa membeli segalanya. Tapi, aku tidak tertarik dengan tawaran Anda. Hargai diri Anda sendiri sebelum orang lain melabeli diri Anda. Maaf, bisakah Anda turun dari tubuhku.” Ucap Rabbani dengan santainya.
Meski ada beberapa wanita yang ingin menawarkan tubuhnya buat Rabbani secara cuma-cuma, Rabbani tetap saja tidak bisa menerima hal itu, karena dirinya hanya ingin menjadi pria satu-satunya yang akan memberikan miliknya hanya untuk istrinya suatu hari nanti.
Wanita tersebut kembali duduk dengan benar di sisi kanan Rabbani, kepala ia tundukkan, kedua tangan mengepal ujung rok mini. “ Awalnya aku merasa bisa menjadikan kamu sebagai tempatku berlabuh. Ternyata tidak semua kekayaan membuat kita bahagia dan bisa memiliki segalanya dengan benar. Setelah menikah ada banyak hal yang baru aku sadari mengenai suamiku yang sekarang. Meski pernikahan kami baru tumbuh selama 1 tahun. Suami yang sering pergi keluar kota dan luar Negeri sering di temani wanita lain. Pernah sekali memberontak, tapi diri ini malah mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Pilih berpisah atau pilih bertahan walau semua rasa tidak wajar terlihat di depan mata. Ingin rasanya lari dari kehidupan nyata untuk memilih jalan sendiri. Namun, hutang kedua orang tua membuat kita bertahan di dalamnya.” Wanita tersebut mengalihkan pandangannya ke wajah Rabbani. “Sejujurnya statusku saja menikah, tapi diriku tidak pernah di sentuh olehnya. Suamiku hanya bisa menikmati sentuhan dari tangan wanita lain. Sungguh sakit, tapi aku tetap harus bertahan sedikit lagi.” Wanita tersebut berdiri. “Jika aku sudah melunasi hutang itu, aku akan segera kembali pada kamu. Aku akan merebut mahkota kamu, Ra-bbani.”
“Eh.”
.
.
.
🍃🍃Di sisi lain🍃🍃
Ujian kelulusan sekolah sudah di ambang mata, Rabbani tidak ingin melihat adik kecilnya lulus dengan nilai yang rendah. Sebelum keberangkatan Rabbani ke kota Jakarta, Rabbani menyempatkan diri untuk mendaftarkan Yusi ke salah satu les tambahan khusus anak SMA kelas 3 yang akan memasuki tahap ujian akhir.
Setelah pulang sekolah Yusi bergegas pergi ke les tambahan sesuai perintah Rabbani. Terlihat Yusi sedang mendengarkan guru lesnya dengan tekun di bangku nomor dua dari depan. Sedangkan dari bangku paling akhir, terlihat seorang pria terus memandang Yusi. Pria yang berada di kantin saat Yusi sedang berkelahi dengan 5 siswa perempuan.
Kringg!!!kriing..
Bel berbunyi, menandakan les hari ini sudah usai. Yusi bergegas menyusun buku di dalam tas miliknya. Tanpa banyak menyapa teman les yang ada di dalam kelas, Yusi melangkah meninggalkan kelas.
Pria yang duduk di bangku paling akhir mengikuti langkah kaki Yusi. Karena sering mengikuti Yusi, Yusi akhirnya menyadari hal itu. Yusi segera menghentikan langkah kakinya, sedangkan pria tersebut bersembunyi di balik tiang.
“Kenapa kamu terus mengikuti ku?”
“Ketahuan deh.” Ucap pria tersebut keluar dari persembunyiannya.
Yusi berbalik badan, tatapan tidak suka mengarah pada pria tersebut. “Aku tanya sekali lagi, kenapa kamu terus mengikutiku?” Yusi melangkahkan kedua kakinya dengan cepat mendekati pria tersebut. “Jangan-jangan kamu yang selalu meneror diriku?” Tanya Yusi kembali.
Sejenak pria tersebut tercengang saat melihat raut wajah Yusi terlihat depresi dan melontarkan pertanyaan yang dirinya tidak tahu. Merasa hanya pertanyaan salah paham, pria tersebut melepaskan senyum manis, tangan kanan menggaruk kepala bagian belakang yang tak gatal. “Aku tidak mengerti maksud kamu. Tapi kita ini adalah siswa SMA satu sekolah.”
“Benarkah?” Tanya Yusi merubah mimik wajahnya.
“Iya. Karena kamu selalu menyendiri dan tidak memperdulikan sekelilingmu, makanya kamu tidak mengenalku.” Ucap pria tersebut kepada Yusi yang selalu menyendiri semenjak Ayahnya jatuh sakit 1 tahun yang lalu sampai Ayahnya sudah meninggal dunia.
Yusi berbalik badan. “Aku tidak butuh teman kalau hanya untuk saling menyakiti dan mengkhianati.” Yusi melirik sedikit ke sisi kanan. “Berhentilah mengikuti ku, karena aku tidak pantas menjadi teman kamu.”
Yusi berkata seperti itu karena dirinya pernah memiliki teman yang cukup akrab, kemana-mana selalu bersama. Tapi ada satu hal yang membuat Yusi berpisah dari teman-temannya, hal itu adalah saat mendiang Ayahnya tiba-tiba jatuh sakit. Usaha mereka sempat terhenti karena Abang-abangnya belum ahli mengelola bisnis yang di kembangkan milik mendiang Deni. Isu merebak dengan cepatnya di kalangan Pebisnis dan kalangan atas lainnya yang mengenal mendiang Deni. Beberapa anak pengusaha langsung menjauhi Yusi, mereka juga menghujat Yusi dengan perkataan cukup menyakitkan. Teman-teman Yusi adalah 5 siswa perempuan yang bersekolah dan sekelas dengan Yusi.
Tak ingin ambil pusing, Yusi melangkahkan kedua kakinya dengan cepat meninggalkan pria tersebut.
“Suatu hari nanti, aku pastikan kamu tidak akan bisa berlari meninggalkan aku seperti ini lagi. Kamu akan aku miliki seutuhnya, Yusi.” Gumam pria tersebut menatap kepergian Yusi.
...Bersambung........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
~~N..M~~~
Ya Tuhan, kasih aku satu pria seperti Rabbani. 😍😍😍
2022-08-08
0