Yusi duduk di kursi meja rias, senyum manis merekah di bibir merah mudanya, tatapan penuh maksud mengarah pada botol obat herbal yang berada di genggaman tangan kanannya. “Untuk awal pemula kita kasih yang bagus, untuk selanjutnya kita akan berikan sedikit demi sedikit penghilang rasa sakit dan berakhir istirahat dengan tenang untuk selamanya.”
Tok!!
Tok!!
“Siapa sih! Ganggu orang yang sedang berkhayal saja.” Gerutu Yusi pelan. Yusi berdiri, ia berjalan menuju pintu kamar.
Ceklek!
“Abang Azzam!” Ucap Yusi membesarkan kedua matanya menatap Azzam yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Azzam menarik tangan Yusi, membawa Yusi kembali ke dalam kamar. Azzam dan Yusi berdiri saling berhadapan di tengah-tengah kamar. Azzam menatap Yusi dari atas sampai bawah.
“Mana tuh botol obat yang baru saja kamu beli?”
“Apaan sih! Kenapa Abang bertanya tentang botol obat itu?”
“Kamu mau apakan Ayah?”
“Mau buat Ayah sembuh lah.”
“Jangan bohong kamu. Cepat jujur sama Abang.”
Yusi berbalik badan, kedua kaki ia pacu mendekati meja rias, tangan kanannya mengambil botol obat yang di maksud Azzam. Yusi membuka tutup botol obat herbal, mencuil sedikit tumbuhan rempah dan memasukkan ke dalam mulutnya, kemudian mengunyahnya.
“Lihat, nih! Yusi sudah memakannya. Apa Abang sudah puas.” Tunjuk Yusi membuka lebar mulutnya, dan menjulurkan lidah yang terdapat rempah herbal.
Azzam berjalan keluar kamar, melewati Yusi, jari telunjuk tangan kanannya mengarah pada wajah Yusi. “Awas saja kamu jika terlebih dahulu merencanakan sesuatu.” Ancam Azzam kepada adik bungsunya.
Dahi Yusi mengerut, kedua tangan yang terletak di samping badan ia kepal sangat erat. Tatapan suram memandang kepergian Azzam. “Ck. Berani sekali Abang Azzam berkata seperti itu padaku.” Gumam Yusi merasa kesal melihat sikap Abang pertamanya. Kedua kaki Yusi berjalan mendekati meja rias, tangan kanan dengan cepat menyambar botol obat herbal dan membawanya keluar kamar.
Yusi terus berjalan menuruni anak tangga dengan wajah yang kesal, sangking kesalnya melihat sikap Abang pertamanya, Yusi yang melewati ruang Tv keluarga tidak menyadari jika Rabbani dan Laras duduk santai menonton sinetron. Yusi terus berjalan menuju kamar Deni dan Laras.
“Kenapa wajah Adik kecilku seperti itu ‘Bu?” Tanya Rabbani kepada Laras yang duduk di sisi kanannya.
“Gak tahu! Mungkin dia kesal dengan seseorang.”
“Tapi kenapa dirinya masuk ke dalam kamar Ayah?”
“Mau curhat mungkin.” Sahut Laras.
Rabbani berdiri. “Aku coba melihatnya langsung, ‘Bu.” Ucap Rabbani, kedua kaki beranjak pergi menuju kamar Deni yang terhubung dengan ruang Tv keluarga.
Tanpa mengetuk pintu Rabbani menyelonong masuk ke dalam kamar Deni. Rabbani menatap Yusi yang duduk di pinggiran ranjang Deni. “Apakah semuanya baik-baik saja?” Tanya Rabbani, kedua kakinya berjalan mendekati ranjang Deni.
“Yusi ingin membuat teh herbal ini buat Ayah.” Ucap Yusi menunjukkan botol obat herbal yang berada di kedua tangannya.
“Kalau begitu berikan Abang botolnya, biar Abang seduh.” Sahut Rabbani, tangan kanannya mengulur. Tatapan Rabbani beralih kepada Deni yang masih tertidur lelap, kemudian tatapan itu ia palingkan ke Yusi. “Dek. Lebih bagus kita menunggu di luar saja. Abang tidak ingin percakapan kita mengganggu Ayah yang sedang tidur.”
Yusi patuh, ia berdiri, tangan kanannya menerima uluran tangan Rabbani. Yusi dan Rabbani akhirnya keluar kamar. Sesampainya di luar pintu kamar Deni, terlihat Laras berdiri, tatapan cemas mengarah pada Yusi.
“Ibu!” Ucap Rabbani dan Yusi serentak.
“Kamu kenapa, nak?” Tanya Laras terdengar cemas kepada Yusi.
“Yusi sedang kesal.” Sahut Yusi, tatapan ia palingkan ke sisi kanan. Yusi rasanya ingin berkata jika Azzam seperti tidak mempercayainya, dan Yusi juga sebenarnya ingin berkata jika Azzam seperti mengancam dirinya. Namun, Yusi tidak bisa melakukan itu semua. Jika dirinya sempat mengadu, maka semua kebusukan dan rencananya akan terbongkar dari mulutnya sendiri.
“Mari kita mengobrol di sana.” Ajak Laras, tangan kanan mengarah ke ruang Tv keluarga.
Laras, Rabbani dan Yusi duduk santai sambil mengobrol di ruang tamu. Yusi yang tadinya kesal, kini hatinya sudah merasa tenang dan membaik karena ulah Rabbani dan Laras yang terus menghiburnya. Meski Laras dan Rabbani tidak tahu apa yang terjadi, dan tidak ingin ikut campur terlalu banyak mengenai masalah pribadi Yusi. Itulah yang ada di dalam pikiran Laras dan Rabbani saat melihat gadis kecil di rumah mereka memiliki masalah.
Yusi menatap sekeliling ruangan seperti sedang mencari seseorang. “Abang Azzam mana, ‘Bu?” Tanya Yusi ternyata sedang mencari Azzam.
“Bukannya tadi Abang Azzam sudah berpamitan sama kamu! Tadi dia bilang ingin kembali ke rumahnya, sebab ada salah satu langganan tetap nya akan datang mengunjungi rumahnya.” Ucap Laras mengingat jika saat Azzam bertanya kepada Laras di mana Yusi, karena dirinya ingin berpamitan kepada adik kecilnya sebelum pulang ke rumah.
Yusi menarik nafas diam-diam, tatapan suram ia arahkan ke Tv yang masih menyala.
‘Memang benar tadi ke kamar, tapi dirinya tidak ada berkata pamit. Dasar manusia bermulut manis.’ Keluh Yusi di dalam hati, mengingat Azzam yang tadi datang ke kamarnya hanya untuk mencurigai dirinya dan mengancam.
.
.
.
🍃🍃Di sisi lain, kota “B”. 🍃🍃
Karena Azzam membuat usaha dan rumah tak jauh dari rumah Laras dan Deni, Azzam akhirnya sudah sampai dalam waktu 3 jam. Medan-Brastagi, atau kita singkat saja kota “M” dan “B”.
Terlihat mobil berwarna putih sudah parkir di dalam halaman rumah Azzam. Sudut bibir Azzam sedikit menaik saat melihat seorang wanita yang di kenalnya duduk di bangku teras rumahnya. Kedua tangan Azzam dengan cepat membanting stir memasuki gerbang rumahnya, dan memarkirkan mobilnya di samping mobil wanita tersebut.
Azzam membuat seatbelt miliknya, tatapan masih terus tertuju kepada wanita yang kini sudah berdiri sambil berkacak pinggang.
Kedua kaki Azzam melangkah menuju teras rumah, senyum manis ia tampakkan buat wanita cantik rambut ikal bawah berwarna coklat muda. “Sudah lama?” Tanya Azzam kepada wanita yang berwajah kecut.
“Kenapa kamu lama banget di rumah orang tua kamu, sih?” Rengek wanita tersebut.
Azzam memeluk wanita tersebut, memberi kecupan manis di dahi wanita tersebut.
“Bukannya suami kamu sudah pulang, kenapa kamu harus merindukan aku?”
Wanita tersebut mengalihkan wajahnya ke sisi kanan. “Tidak berguna. Buat apa dia pulang kalau hanya menceritakan keluhan demi keluhan mengenai pekerjaannya. Aku maunya di servis, bukan mendengar keluhan seperti itu.”
“Jadi ceritanya kamu mau membalaskan dendam kepadaku, nih?” Azzam memegang dagu wanita tersebut, ciuman manis mendarat di bibir merah jambu. “Apa kamu mau lagi?” Tanya Azzam saat melepaskan ciumannya.
Wanita tersebut hanya mengangguk.
Azzam membuka pintu rumahnya, membawa wanita tersebut masuk bersama dirinya. Rumah yang sepi tanpa pembantu dan yang lainnya membuat Azzam merasa bebas dengan apa yang ingin dilakukannya.
Azzam menggendong tubuh wanita yang sudah bersuami menuju kamar miliknya yang berada di lantai dua. Tidak perlu mengunci pintu kamar, Azzam dengan cepat memberi ciuman manis kepada wanita tersebut, membuat mereka akhirnya melepaskan pakaian dan berakhir di atas ranjang.
Azzam terbaring di atas ranjang, membiarkan wanita tersebut duduk di atasnya. Azzam membelai lembut pipi kanan wanita tersebut, belaian tersebut perlahan turun dan berkahir di pinggul wanita tersebut.
“Akh! Kamu memang sangat luar biasa Azzam.”
“Lakukanlah sesuka hatimu, lampiaskan semua ha-srat yang terus kamu tahan.” Ucap Azzam.
Wanita tersebut mulai mendaratkan miliknya ke milik Azzam. Pinggul wanita tersebut perlahan berayun dengan lembut sesuai keinginannya. Rasa puas membuat masing-masing suara Azzam dan wanita tersebut melambung ke udara.
Azzam yang juga ingin menikmati perannya, Azzam bertukar posisi. Pinggul Azzam berayun dengan cepatnya, membuat wanita tersebut mengerang lembut ke udara. Tidak sampai di situ saja, Azzam mulai melakukan hal yang lain setelah membersihkan yang kotor dari tubuh wanita tersebut. Azzam memberi sentuhan lembut dengan bibirnya, dan sentuhan-sentuhan lainnya membuat wanita tersebut puas.
Azzam berani berbohong kepada Ibunya hanya ingin memberikan kepuasan tersendiri buat wanita yang sudah memiliki suami. Kenapa Azzam seperti itu, bukannya Laras sudah memberitahu jika Karma akan kembali kepada saudara sendiri jika kita melakukannya. Sepertinya ucapan Laras hanya di anggap angin lalu buat Azzam, Azzam hanya ingin meluapkan semua apa yang ia inginkan, tidak memperdulikan siapapun demi kepuasannya sendiri.
...Bersambung........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Rini Antika
Motor kali ah d Servis..🤣🤣🤣
2022-10-30
0
Rini Antika
Aku mau donk Jeruk Medan sama Brastagi..😜
2022-10-30
0
Dendry Den
Melampiaskannya sama Azzam ya? 😊
2022-09-25
0