Bab 09. Menghibur Istri orang.

Yusi duduk di kursi meja rias, senyum manis merekah di bibir merah mudanya, tatapan penuh maksud mengarah pada botol obat herbal yang berada di genggaman tangan kanannya. “Untuk awal pemula kita kasih yang bagus, untuk selanjutnya kita akan berikan sedikit demi sedikit penghilang rasa sakit dan berakhir istirahat dengan tenang untuk selamanya.”

Tok!!

Tok!!

“Siapa sih! Ganggu orang yang sedang berkhayal saja.” Gerutu Yusi pelan. Yusi berdiri, ia berjalan menuju pintu kamar.

Ceklek!

“Abang Azzam!” Ucap Yusi membesarkan kedua matanya menatap Azzam yang berdiri di depan pintu kamarnya.

Azzam menarik tangan Yusi, membawa Yusi kembali ke dalam kamar. Azzam dan Yusi berdiri saling berhadapan di tengah-tengah kamar. Azzam menatap Yusi dari atas sampai bawah.

“Mana tuh botol obat yang baru saja kamu beli?”

“Apaan sih! Kenapa Abang bertanya tentang botol obat itu?”

“Kamu mau apakan Ayah?”

“Mau buat Ayah sembuh lah.”

“Jangan bohong kamu. Cepat jujur sama Abang.”

Yusi berbalik badan, kedua kaki ia pacu mendekati meja rias, tangan kanannya mengambil botol obat yang di maksud Azzam. Yusi membuka tutup botol obat herbal, mencuil sedikit tumbuhan rempah dan memasukkan ke dalam mulutnya, kemudian mengunyahnya.

“Lihat, nih! Yusi sudah memakannya. Apa Abang sudah puas.” Tunjuk Yusi membuka lebar mulutnya, dan menjulurkan lidah yang terdapat rempah herbal.

Azzam berjalan keluar kamar, melewati Yusi, jari telunjuk tangan kanannya mengarah pada wajah Yusi. “Awas saja kamu jika terlebih dahulu merencanakan sesuatu.” Ancam Azzam kepada adik bungsunya.

Dahi Yusi mengerut, kedua tangan yang terletak di samping badan ia kepal sangat erat. Tatapan suram memandang kepergian Azzam. “Ck. Berani sekali Abang Azzam berkata seperti itu padaku.” Gumam Yusi merasa kesal melihat sikap Abang pertamanya. Kedua kaki Yusi berjalan mendekati meja rias, tangan kanan dengan cepat menyambar botol obat herbal dan membawanya keluar kamar.

Yusi terus berjalan menuruni anak tangga dengan wajah yang kesal, sangking kesalnya melihat sikap Abang pertamanya, Yusi yang melewati ruang Tv keluarga tidak menyadari jika Rabbani dan Laras duduk santai menonton sinetron. Yusi terus berjalan menuju kamar Deni dan Laras.

“Kenapa wajah Adik kecilku seperti itu ‘Bu?” Tanya Rabbani kepada Laras yang duduk di sisi kanannya.

“Gak tahu! Mungkin dia kesal dengan seseorang.”

“Tapi kenapa dirinya masuk ke dalam kamar Ayah?”

“Mau curhat mungkin.” Sahut Laras.

Rabbani berdiri. “Aku coba melihatnya langsung, ‘Bu.” Ucap Rabbani, kedua kaki beranjak pergi menuju kamar Deni yang terhubung dengan ruang Tv keluarga.

Tanpa mengetuk pintu Rabbani menyelonong masuk ke dalam kamar Deni. Rabbani menatap Yusi yang duduk di pinggiran ranjang Deni. “Apakah semuanya baik-baik saja?” Tanya Rabbani, kedua kakinya berjalan mendekati ranjang Deni.

“Yusi ingin membuat teh herbal ini buat Ayah.” Ucap Yusi menunjukkan botol obat herbal yang berada di kedua tangannya.

“Kalau begitu berikan Abang botolnya, biar Abang seduh.” Sahut Rabbani, tangan kanannya mengulur. Tatapan Rabbani beralih kepada Deni yang masih tertidur lelap, kemudian tatapan itu ia palingkan ke Yusi. “Dek. Lebih bagus kita menunggu di luar saja. Abang tidak ingin percakapan kita mengganggu Ayah yang sedang tidur.”

Yusi patuh, ia berdiri, tangan kanannya menerima uluran tangan Rabbani. Yusi dan Rabbani akhirnya keluar kamar. Sesampainya di luar pintu kamar Deni, terlihat Laras berdiri, tatapan cemas mengarah pada Yusi.

“Ibu!” Ucap Rabbani dan Yusi serentak.

“Kamu kenapa, nak?” Tanya Laras terdengar cemas kepada Yusi.

“Yusi sedang kesal.” Sahut Yusi, tatapan ia palingkan ke sisi kanan. Yusi rasanya ingin berkata jika Azzam seperti tidak mempercayainya, dan Yusi juga sebenarnya ingin berkata jika Azzam seperti mengancam dirinya. Namun, Yusi tidak bisa melakukan itu semua. Jika dirinya sempat mengadu, maka semua kebusukan dan rencananya akan terbongkar dari mulutnya sendiri.

“Mari kita mengobrol di sana.” Ajak Laras, tangan kanan mengarah ke ruang Tv keluarga.

Laras, Rabbani dan Yusi duduk santai sambil mengobrol di ruang tamu. Yusi yang tadinya kesal, kini hatinya sudah merasa tenang dan membaik karena ulah Rabbani dan Laras yang terus menghiburnya. Meski Laras dan Rabbani tidak tahu apa yang terjadi, dan tidak ingin ikut campur terlalu banyak mengenai masalah pribadi Yusi. Itulah yang ada di dalam pikiran Laras dan Rabbani saat melihat gadis kecil di rumah mereka memiliki masalah.

Yusi menatap sekeliling ruangan seperti sedang mencari seseorang. “Abang Azzam mana, ‘Bu?” Tanya Yusi ternyata sedang mencari Azzam.

“Bukannya tadi Abang Azzam sudah berpamitan sama kamu! Tadi dia bilang ingin kembali ke rumahnya, sebab ada salah satu langganan tetap nya akan datang mengunjungi rumahnya.” Ucap Laras mengingat jika saat Azzam bertanya kepada Laras di mana Yusi, karena dirinya ingin berpamitan kepada adik kecilnya sebelum pulang ke rumah.

Yusi menarik nafas diam-diam, tatapan suram ia arahkan ke Tv yang masih menyala.

‘Memang benar tadi ke kamar, tapi dirinya tidak ada berkata pamit. Dasar manusia bermulut manis.’ Keluh Yusi di dalam hati, mengingat Azzam yang tadi datang ke kamarnya hanya untuk mencurigai dirinya dan mengancam.

.

.

.

🍃🍃Di sisi lain, kota “B”. 🍃🍃

Karena Azzam membuat usaha dan rumah tak jauh dari rumah Laras dan Deni, Azzam akhirnya sudah sampai dalam waktu 3 jam. Medan-Brastagi, atau kita singkat saja kota “M” dan “B”.

Terlihat mobil berwarna putih sudah parkir di dalam halaman rumah Azzam. Sudut bibir Azzam sedikit menaik saat melihat seorang wanita yang di kenalnya duduk di bangku teras rumahnya. Kedua tangan Azzam dengan cepat membanting stir memasuki gerbang rumahnya, dan memarkirkan mobilnya di samping mobil wanita tersebut.

Azzam membuat seatbelt miliknya, tatapan masih terus tertuju kepada wanita yang kini sudah berdiri sambil berkacak pinggang.

Kedua kaki Azzam melangkah menuju teras rumah, senyum manis ia tampakkan buat wanita cantik rambut ikal bawah berwarna coklat muda. “Sudah lama?” Tanya Azzam kepada wanita yang berwajah kecut.

“Kenapa kamu lama banget di rumah orang tua kamu, sih?” Rengek wanita tersebut.

Azzam memeluk wanita tersebut, memberi kecupan manis di dahi wanita tersebut.

“Bukannya suami kamu sudah pulang, kenapa kamu harus merindukan aku?”

Wanita tersebut mengalihkan wajahnya ke sisi kanan. “Tidak berguna. Buat apa dia pulang kalau hanya menceritakan keluhan demi keluhan mengenai pekerjaannya. Aku maunya di servis, bukan mendengar keluhan seperti itu.”

“Jadi ceritanya kamu mau membalaskan dendam kepadaku, nih?” Azzam memegang dagu wanita tersebut, ciuman manis mendarat di bibir merah jambu. “Apa kamu mau lagi?” Tanya Azzam saat melepaskan ciumannya.

Wanita tersebut hanya mengangguk.

Azzam membuka pintu rumahnya, membawa wanita tersebut masuk bersama dirinya. Rumah yang sepi tanpa pembantu dan yang lainnya membuat Azzam merasa bebas dengan apa yang ingin dilakukannya.

Azzam menggendong tubuh wanita yang sudah bersuami menuju kamar miliknya yang berada di lantai dua. Tidak perlu mengunci pintu kamar, Azzam dengan cepat memberi ciuman manis kepada wanita tersebut, membuat mereka akhirnya melepaskan pakaian dan berakhir di atas ranjang.

Azzam terbaring di atas ranjang, membiarkan wanita tersebut duduk di atasnya. Azzam membelai lembut pipi kanan wanita tersebut, belaian tersebut perlahan turun dan berkahir di pinggul wanita tersebut.

“Akh! Kamu memang sangat luar biasa Azzam.”

“Lakukanlah sesuka hatimu, lampiaskan semua ha-srat yang terus kamu tahan.” Ucap Azzam.

Wanita tersebut mulai mendaratkan miliknya ke milik Azzam. Pinggul wanita tersebut perlahan berayun dengan lembut sesuai keinginannya. Rasa puas membuat masing-masing suara Azzam dan wanita tersebut melambung ke udara.

Azzam yang juga ingin menikmati perannya, Azzam bertukar posisi. Pinggul Azzam berayun dengan cepatnya, membuat wanita tersebut mengerang lembut ke udara. Tidak sampai di situ saja, Azzam mulai melakukan hal yang lain setelah membersihkan yang kotor dari tubuh wanita tersebut. Azzam memberi sentuhan lembut dengan bibirnya, dan sentuhan-sentuhan lainnya membuat wanita tersebut puas.

Azzam berani berbohong kepada Ibunya hanya ingin memberikan kepuasan tersendiri buat wanita yang sudah memiliki suami. Kenapa Azzam seperti itu, bukannya Laras sudah memberitahu jika Karma akan kembali kepada saudara sendiri jika kita melakukannya. Sepertinya ucapan Laras hanya di anggap angin lalu buat Azzam, Azzam hanya ingin meluapkan semua apa yang ia inginkan, tidak memperdulikan siapapun demi kepuasannya sendiri.

...Bersambung........

Terpopuler

Comments

Rini Antika

Rini Antika

Motor kali ah d Servis..🤣🤣🤣

2022-10-30

0

Rini Antika

Rini Antika

Aku mau donk Jeruk Medan sama Brastagi..😜

2022-10-30

0

Dendry Den

Dendry Den

Melampiaskannya sama Azzam ya? 😊

2022-09-25

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 01. Surat Warisan 1
2 Bab 02. Isi surat Warisan 2
3 Bab 03. Mengenang perjuangan
4 Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5 Bab 05. Pasrah
6 Bab 06. Hanya kamu.
7 Bab 07. Rumah Sakit
8 Bab 08. Sampai kapan?
9 Bab 09. Menghibur Istri orang.
10 Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11 Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12 Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13 Bab 13. TEROR 1
14 Bab 14. Aku akan menunggumu
15 Bab 15.
16 Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17 Bab 17. Pepet terus
18 Bab 18. Azzam di Labrak
19 Bab 19. Keluar kamu
20 Bab 20. Misi pertama Azzam
21 Bab 21. Perlahan tapi pasti
22 BAB 22. Pantulan Cermin
23 BAB 23. Rayuan Maut.
24 BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25 BAB 25. Main petak umpet di kamar
26 BAB 26. Hanya teman
27 BAB 27. Karena sakit hati
28 BAB 28. Pesan hangat
29 BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30 Bab 30. AKAL YUSI
31 BAB 31. KEKECEWAAN
32 BAB 32. RENCANA BARU
33 BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34 BAB 34. HALUSINASI
35 BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36 BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37 BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38 BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39 BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40 BAB 40. BERAKHIR
41 BAB 41. Gara-gara Clara
42 BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43 BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44 BAB 44. Hasrat Janda
45 BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46 BAB 46. Teru-Teru Buzo
47 BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48 BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49 BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50 BAB 50. Bukan Bulan Madu
51 BAB 51. Clara! wanita Malam
52 BAB 52. Jangan sampai aku!
53 BAB 53. Bantu aku, Clara
54 BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55 BAB 55. Curahan Hati
56 BAB 56. MABUK
57 BAB 57. Suruhan Rashi
58 BAB 58. Balasan buat Rashi
59 BAB 59. Kembali melamar
60 BAB 60. Menunggu Hari H
61 BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62 BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63 BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64 BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65 BAB 65. ITU HARAPANKU
66 BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67 BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68 BAB 68. SOSOK BERBULU
69 BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70 BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71 BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72 BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73 BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74 BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75 BAB 75. Arwah Clara
76 BAB 76. Kok mirip ya?
77 BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78 BAB 78. Di saat hujan petir
79 BAB 79. Berhentilah Anggun
80 BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81 BAB 81. Makanan
82 BAB 82. Aku sangat mencintai kamu
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 01. Surat Warisan 1
2
Bab 02. Isi surat Warisan 2
3
Bab 03. Mengenang perjuangan
4
Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5
Bab 05. Pasrah
6
Bab 06. Hanya kamu.
7
Bab 07. Rumah Sakit
8
Bab 08. Sampai kapan?
9
Bab 09. Menghibur Istri orang.
10
Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11
Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12
Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13
Bab 13. TEROR 1
14
Bab 14. Aku akan menunggumu
15
Bab 15.
16
Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17
Bab 17. Pepet terus
18
Bab 18. Azzam di Labrak
19
Bab 19. Keluar kamu
20
Bab 20. Misi pertama Azzam
21
Bab 21. Perlahan tapi pasti
22
BAB 22. Pantulan Cermin
23
BAB 23. Rayuan Maut.
24
BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25
BAB 25. Main petak umpet di kamar
26
BAB 26. Hanya teman
27
BAB 27. Karena sakit hati
28
BAB 28. Pesan hangat
29
BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30
Bab 30. AKAL YUSI
31
BAB 31. KEKECEWAAN
32
BAB 32. RENCANA BARU
33
BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34
BAB 34. HALUSINASI
35
BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36
BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37
BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38
BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39
BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40
BAB 40. BERAKHIR
41
BAB 41. Gara-gara Clara
42
BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43
BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44
BAB 44. Hasrat Janda
45
BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46
BAB 46. Teru-Teru Buzo
47
BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48
BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49
BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50
BAB 50. Bukan Bulan Madu
51
BAB 51. Clara! wanita Malam
52
BAB 52. Jangan sampai aku!
53
BAB 53. Bantu aku, Clara
54
BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55
BAB 55. Curahan Hati
56
BAB 56. MABUK
57
BAB 57. Suruhan Rashi
58
BAB 58. Balasan buat Rashi
59
BAB 59. Kembali melamar
60
BAB 60. Menunggu Hari H
61
BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62
BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63
BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64
BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65
BAB 65. ITU HARAPANKU
66
BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67
BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68
BAB 68. SOSOK BERBULU
69
BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70
BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71
BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72
BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73
BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74
BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75
BAB 75. Arwah Clara
76
BAB 76. Kok mirip ya?
77
BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78
BAB 78. Di saat hujan petir
79
BAB 79. Berhentilah Anggun
80
BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81
BAB 81. Makanan
82
BAB 82. Aku sangat mencintai kamu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!