Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Deni batuk tiada henti, membuat Azzam, Yusi, Rabbani dan Laras panik. Mereka kini berkumpul di dalam kamar, masing-masing wajah memasang wajah cemas melihat Deni seperti itu.
“A-ayah. Kita ke Dokter Ferry saja. Aku akan menyiapkan mobil.” Ucap Rabbani mengajak Deni untuk pergi ke Dokter yang bisa menangani dirinya, dan mengarahkan tangan kanannya ke arah pintu.
“I-iya. Yusi sangat cemas dengan keadaan Ayah.” Sambung Yusi, ia duduk di pinggiran ranjang, kedua tangan memegang kedua kaki Deni.
“Ti-tidak perlu, nak. Ayah cuman batuk biasa sa….Uhuk!Uhuk.” Ucapan Deni terhenti saat dirinya kembali batuk, dan kali ini mengeluarkan darah.
“Ayah.”
“Da-darah.”
“Sudah. Cepat kita bawa Ayah ke Dokter Ferry, aku akan siapkan mobil dulu.” Ucap Rabbani cemas, kedua kakinya dengan cepat berlari keluar kamar.
“Ayah tidak boleh keras kepala.” Sambung Azzam, ia langsung menggendong tubuh Deni, membawa Deni keluar dari kamar.
“Ibu.” Keluh Yusi menatap wajah Laras yang sedang memeluk tubuhnya sambil berjalan mengikuti langkah kaki Laras.
Laras membelai lembut puncak kepala Yusi, “Cup!cup. Kamu jangan menangis, Ayah akan baik-baik saja.” Ucap Laras menenangkan putri bungsunya.
.
.
.
🍃Di ruang VIP rumah sakit. 🍃
Laras, Rabbani, Azzam, dan Yusi menunggu di kursi luar kamar VIP. Rabbani jalan ke sana kemari dengan wajah cemas. Mereka terus menunggu dan menunggu Dokter Ferry yang masih memeriksa Deni di dalam ruangan.
Azzam menyandarkan tubuhnya di dinding, kedua tangan di lipat di depan dada, dahinya terus mengerut seperti memikirkan sesuatu.
‘Jika Ayah meninggal sekarang, sebenarnya akan lebih bagus. Aku bisa menukar harta warisan milik Rabbani dengan milikku. Lagian buat apa Rabbani banyak-banyak memegang harta, kalau kehidupannya biasa-biasa saja. Bukannya jika kita sudah memiliki banyak harta, kita bisa memiliki segalanya.’ Batin Azzam.
Dokter Ferry keluar dari ruangan, tangan kanan memegang papan hasil pemeriksaan milik Deni. Dokter Ferry menghela nafas panjang, tatapan mengarah secara bergantian ke Laras, Yusi, Azzam, dan Rabbani yang berdiri di sisi kirinya.
“Mohon maaf semuanya.”
“Kenapa Dokter Ferry?” tanya Laras segera berdiri.
“Tuan Deni sebenarnya memiliki penyakit kanker paru-paru sudah memasuki stadium akhir.” Sahut Dokter Ferry memberi keterangan, tatapan beralih pada Laras, “Apa tuan Deni tidak pernah mengeluh?”
“Ti-tidak. Suami saya tidak seperti itu, dia selalu tampak bahagia di depan kami semua dan jarang mengeluh soal penyakitnya. Jika di ajak ke rumah sakit, pasti dirinya terus menolak.”
“Hem. Melihat kondisi tuan Deni yang cukup lemah, kita tidak bisa melakukan operasi sekarang. Jika keluarga berkenan, lebih baik di lakukan kemoterapi buat mengurangi penyebaran kanker. Setidaknya kita masih punya harapan 3 atau 6 bulan ke depan buat tuan Deni.” Ucap Dokter Ferry memberi saran buat di lakukan kemoterapi.
Yusi yang masih duduk di kursi tunggu mengepal kedua tangannya, wajah ia tundukkan menatap lantai rumah sakit.
‘Kemoterapi. Bukannya Kemoterapi itu akan memakan uang yang cukup banyak setiap kali Kemoterapi. Aku tidak ingin menjadi miskin hanya karena pengobatan Ayah, bisa-bisa aku di hina kembali oleh mereka berlima di sekolah nanti. Aku berharap Ayah tetap tidak ingin melakukan kemoterapi, aku harap Ayah hanya mau minum obat saja. Obat yang akan membawanya tenang dengan cepat.’ Batin Yusi.
Sebegitu kejamnya Yusi dan Azzam menginginkan Deni cepat tiada di Dunia ini. Apa yang kurang dari Deni dan Laras saat membesarkan anak-anaknya. Keluar dari kesengsaraan untuk menempuh hidup yang layak demi anak-anaknya untuk bisa hidup nyaman sudah Deni perjuangkan. Kasih sayang yang tulus dan didikan bagus sudah di terapkan kepada Azzam, Rabbani dan Yusi sejak mereka kecil.
Didikan apa yang kurang di sini? Sudah pasti didikan Agama. Jika anak di didik dengan bagus secara Agama, maka 80% anak akan memiliki sifat baik. Tidak seperti Azzam dan Yusi, hati mereka berdua kini di selimuti awan hitam. Awan hitam hasutan dari setan yang haus akan harta, hingga membuat Yusi dan Azzam memiliki sifat SERAKAH.
“Yu-Yusi ingin bertemu Ayah.” Ucap Yusi. Ia berdiri, kedua kaki melangkah mendekati pintu ruangan Deni.
“Silahkan. Bujuklah secara perlahan tuan Deni agar dirinya mau di kemoterapi. Siapa tahu, hati tuan Deni luluh setelah mendengar ajakan dari putrinya.” Sahut Dokter Ferry. Tatapan Dokter Ferry mengarah pada Rabbani, tangan kanan memukul pelan bahu kiri Rabbani, “Saya berharap keajaiban akan datang. Kalian harus selalu berdoa kepada Tuhan, demi kesembuhan tuan Deni. Saya pamit permisi.”
“Baik. Terimakasih, Dokter Ferry.” Sahut Laras, Rabbani, dan Azzam serentak.
Azzam merangkul tubuh Yusi. “Ayo. Pasti kamu sedang memikirkan sesuatu hal yang aneh, ‘kan?”
“Apaan sih! Gak lucu tahu.” Sahut Yusi melepaskan rangkulan tangan Azzam.
“Becanda. Abang cuman bercanda adikku yang cantik.” Ucap Azzam, kedua tangan mencubit pipi tembem Yusi, sehingga terlihat bibir mengerucut ke depan.
Yusi mengalihkan pandangannya ke pintu ruangan. ‘Abang Azzam memang buat aku bertambah kesal saja. Bisa-bisanya dia bercanda seperti itu di depan Abang Rabbani dan Ibu. Untung saja tadi malam aku menolaknya saat mengajakku membuat rencana licik buat Abang Rabbani, kalau tidak. Habislah aku jadi tumbalnya.’ Gerutu Yusi di dalam hati.
“Azzam. Kamu ini memang jahil orangnya, ya.” Ucap Laras mendekati Azzam, tangan kanan menjewer daun telinga kiri Azzam.
“A-ampun ‘Bu. Habisnya raut wajah kalian semua seperti itu, kasihan Ayah jika dirinya melihat kita seperti ini.”
Laras menarik nafas dalam-dalam, tangan kanan melepaskan daun telinga Azzam. “Huft. Kamu benar juga. Kalau begitu mari kita masuk, Ibu takut jika Ayah kalian sedang bersiap-siap untuk pulang.”
Laras berjalan terlebih dahulu, tangan kanannya membuka pintu ruangan. Benar saja, saat pintu ruangan sudah terbuka lebar, mereka disuguhkan dengan pemandangan Deni yang sedang duduk di tepian ranjang. Deni tersenyum manis kepada Istri, dan anak-anaknya.
“Ayah.”
“Mas.”
Laras, Rabbani, Azzam, dan Yusi berlari masuk ke dalam ruangan. Kini mereka berempat mengelilingi ranjang Deni.
“Ayah tidak ingin melakukan Kemoterapi atau apa pun itu.” Ucap Deni memberi tahu Istri dan anak-anaknya sebelum di tanya, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri sambil mengelus lengan, “Seluruh tubuh ini sudah sakit, jadi jangan buat Ayah bertambah sakit lagi dengan bantuan Medis. Bukannya Ayah tidak menghargai usaha Medis, tapi Ayah tidak ingin membuat hidup Ayah bertambah lemah dan drop dengan semua hasil penyakit milik Ayah. Ayah hanya ingin minum obat herbal saja. Kalian tenang saja, ada kok obat Herbal tentang mengurangi perkembangan sel kanker. Ramuan yang di racik dan di kirim dari Negeri Sakura langsung.” Ucap Deni menyakinkan Istri dan anak-anaknya, jika dirinya akan baik-baik saja setelah meminum obat Herbal.
‘Kesempatan bagus buatku masuk ke dalam topik pembicaraan. Aku akan mendukung Ayah untuk membeli obat Herbal, jika satu anak sudah mendukung, pasti anak yang lainnya akan mendukung keputusan Ayah.’ Batin Yusi memiliki akal buruk buat Deni.
Yusi memeluk tubuh Deni, tatapan sendu mengarah pada kedua Abang dan Ibunya. “Yang Ayah bilang itu benar. Yusi tidak setuju jika tubuh Ayah yang sudah sakit bertambah sakit lagi. Lagian tidak semuanya orang yang di Kemoterapi itu akan beneran sehat, semua itu tergantung pada Allah dan kepercayaan kita buat bertahan hidup.” Air mata buatan milik Yusi membasahi baju tebal Deni. Kepala Yusi menggeleng, “Yusi hanya ingin melihat Ayah selalu tersenyum di rumah. Yusi tidak mengizinkan alat-alat medis menyentuh dan menembus kulit Ayah.” Rengek Yusi di depan Ibu dan kedua Abangnya.
Deni mengulas senyum tipis, tangan kanannya membelai lembut puncak kepala Yusi, “Tenang saja, Ayah akan selalu ada di dekat kamu. Harapan Ayah hanya satu, melihat kamu sampai tamat sekolah dan menjadi wanita hebat dan tangguh pemegang salah satu Mall yang sudah berkembang pesat.”
Melihat sikap putri nya, air mata Laras tak terbendung. Air mata perlahan menetes dan jatuh di pipinya. Dengan cepat Laras mengalihkan wajahnya, tangan kanan menyeka kasar air mata yang membasahi kedua pipinya.
Rabbani menarik nafas diam-diam, melihat adik perempuannya dan Ibunya bersedih, Rabbani mendekati Yusi, tangan kanan membelai lembut puncak kepala Yusi.
“Adikku yang paling cantik. Abang setuju dengan keputusan kamu. Abang akan mencari tahu di mana tempat penjualan obat Herbal yang bagus, dan Abang akan segera memesankan nya buat Ayah.” Ucap Rabbani ingin mencairkan suasana yang terasa tegang dan sedih.
“Iya. Kamu tenang saja, adikku Yusi.” Sambung Azzam. Itu yang ada di luar mulut Azzam, sedangkan di dalam hatinya. ‘Sial. Aku baru ingat wawasan Rabbani lebih luas dari diriku, jika dirinya berhasil mencari obat Herbal yang asli dan bagus, maka rencana 'ku akan sia-sia.’
...Bersambung.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Rini Antika
dasar SERAKAH..🤦♀️🤦♀️🤦♀️ Semangat terus Kak..💪💪
2022-10-18
0
Rini Antika
Astagfirullah Azam kok jahat amat sih..😭
2022-10-18
0
Dendry Den
Tidak bisa berkata-kata...hanya di sini semua pemeran sebagai anaknya membuat aku emosi. Pingin aku peras .
2022-09-12
0