🍃🍃Di dalam kamar. 🍃🍃
Laras duduk di pinggiran ranjang, kedua tangan memijat lembut kedua kaki Deni yang sedang duduk lurus. Laras terus menatap suaminya yang sedang menyandarkan tubuh di kepala ranjang.
“Mas.”
“Hem!” Sahut Deni, ia membuka perlahan kedua matanya, “Ada apa istriku?” tanya Deni lembut.
Laras menghentikan pijatannya, ia duduk dengan benar menghadap Deni. “Mas. Kenapa harus Rabbani yang meneruskan usaha Mas, kenapa tidak Azzam?” tanya Laras kepada Deni, kenapa harus anak kedua yang harus meneruskan usaha yang sudah lama ia rintis. Sedangkan anak pertama masih ada.
Deni menarik tangan kanan Laras, ia membelai lembut punggung tangan kanan Laras, “Istriku. Mungkin kamu bingung dengan semua surat warisan yang aku berikan kepada anak-anak kita. Tapi tidakkah kamu mengerti, anak pertama kita yaitu Azzam sudah aku berikan tanah dan juga perkebunan teh yang cukup luas dan terkenal. Karena aku melihat Azzam ahli di bidang perkebunan, tinggal Azzam saja yang harus meneruskan usaha yang sudah aku buat. Alasan kenapa aku memberikan perkebunan teh kepada Azzam, pasti kamu tadi sudah mendengarkannya. Sedangkan Rabbani, dia tidak aku berikan apa pun kecuali Villa yang ada di kota Bandung. Tentang usaha Kolektor barang antik yang aku rintis, cuman Rabbani yang mengerti tentang barang antik, dan barang langkah lainnya. Karena cuman Rabbani yang ahli di dalam bidang ini. Aku sudah berusaha adil, istriku. Aku harap kamu bisa mengerti keputusanku, aku memberikan karena mereka mampu dan ahli di bidangnya masing-masing.” Sahut Deni lembut.
Laras menghela nafas, wajah ia tundukkan ke bawah, “Aku pikir karena semenjak kelahiran Azzam membawa bisnis Mas menjadi lebih maju, maka Azzam lah yang cocok buat usaha Mas. Iya, aku percaya dengan keputusan Mas.”
“Terimakasih.” Sahut Deni. Tangan kanan Deni menepuk ranjang kiri yang kosong, “Mari temani aku duduk, sadarkan kepala kamu di bahuku, agar aku dan kamu bisa mengenang semua usaha kita yang tengah berjuang pada tahun itu. Aku ingin mengenang semua perjalanan hidup kita selama berumah tangga sebelum ajal menjemput 'ku.”
Tanpa di sadari Laras meneteskan air matanya, hatinya terasa teriris saat mendengar ucapan seperti salam perpisahan kepadanya. Laras menyeka kasar air matanya, ia merangkak ke ranjang dan duduk di sisi kiri suaminya dengan kepala ia sadarkan di bahu kiri Deni.
Deni membelai puncak kepala istrinya. Deni memulai ceritanya saat menikah dengan Laras di tahun 1998.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
🍃🍃Kembali ke tahun 1998.🍃🍃
Selasa 7 juli 1998. Laras dan Deni baru saja menikah, pernikahan mereka sempat tidak di setujui oleh pihak keluarga Laras karena status derajat yang jauh berbeda. Laras seorang anak kaya raya, sedangkan Deni hanya seorang anak yatim/piatu yang mempunyai usaha emas.
Karena Laras sangat mencintai Deni, dan Laras adalah anak semata wayang dari keluarga terpandang di kota “M”, kedua orang tua Laras terpaksa merestui hubungan mereka karena Laras mengancam akan bunuh diri jika dirinya tidak menikah dengan Deni.
Hampir satu tahun Laras menikah dengan Deni, mereka belum juga dikaruniai seorang anak, bisnis miliknya juga merosot. Deni dan Laras sempat tidak makan karena mereka tidak memiliki uang dan simpanan beras di dapur. Rasanya Laras ingin berlari kepangkuan kedua orang tuanya untuk memohon belas kasih dan meminta sedikit uang kepada kedua orang tuanya yang lebih dari cukup yang ada di kota “M”. Namun, Laras harus menahannya agar kedua orang tuanya tidak menyepelekan Deni.
Minggu 12 September 1999. Kedua orang tua Laras datang mengunjungi rumah Laras dan Deni yang hanya terbuat dari separuh batu dan separuh kayu. Kedatangan kedua orang tua Laras hanya untuk memberikan semua harta mereka kepada Laras, karena kedua orang tua Laras tak sanggup melihat anaknya menderita.
Dengan besar hati Laras menolak pemberian kedua orang tuanya, Laras hanya ingin meminta sedikit uang saja buat modal usaha baru yang akan di rintis Deni. Deni ingin menjadi seorang Kolektor barang antik, karena sebenarnya memang itu keahlian Deni. Cuman karena terkendala di uang, Deni hanya bisa membuka usaha jual/beli emas.
Seiring berjalannya waktu, usaha Deni mulai di kenal banyak kalangan atas. Banyak orang kaya yang mulai mencari Deni, hanya untuk membeli koleksi barang antik miliknya.
Menjelang kehamilan pertama Laras di pertengahan tahun 2000, Deni di tipu oleh salah satu pengusaha yang melarikan beberapa barang antik bernilai 1 M.
Keputusasaan melanda hati Deni dan Laras, dimana tengah mengandung anak pertama yaitu Azzam yang sudah memasuki bulan 3.
Seperti nasib sial yang terus menimpa mereka, Laras di beri kabar tentang kedua orang tuanya yang telah meninggal dalam kecelakaan mobil. Hal itu membuat Laras drop dan hampir mengalami keguguran, di sela kejadian buruk menimpa mereka, datanglah seorang pengacara utusan mendiang kedua orang tua Laras.
Tanpa sepengetahuan Laras, kedua orang tuanya memberikan warisan yang cukup banyak untuk menambah modal usaha Deni, dan untuk biaya persalinan anak pertama Laras yaitu Azzam.
Satu tahun sudah berlalu, Sabtu, 11 Agustus tahun 2001. Lahirlah anak pertama Laras dan Deni, seorang anak laki-laki berwajah tampan. Laras dan Deni menamai anak pertama mereka dengan nama Azzam. Kelahiran Azzam seperti membawa keberuntungan mereka berdua. Usaha yang susah payah di rintis Deni tiba-tiba berkembang pesat, membawa namanya sampai terkenal hampir ke Luar Negeri.
Usaha Deni pun semakin lama semakin berkembang sampai sekarang, 12 Februari tahun 2022.
...****************...
.
.
.
🍃🍃Kembali ke tahun 2022.🍃🍃
Setelah mengenai perjalanan dan perjuangan Deni dan Laras. Deni memberi kecupan manis di dahi istrinya, tatapan penuh cinta ia tunjukkan saat memandang wajah Laras yang masih terlihat lebih muda dari dirinya.
“Apa kamu tidak menyesal menikah denganku?”
Laras menggeleng, air mata kesedihan tercampur aduk menjadi satu saat memandang wajah Deni yang tampak tua dan lemah. “Sampai detik ini aku tidak pernah menyesal bersanding dan hidup bersama kamu, suamiku.” Laras melingkarkan kedua tangannya di tubuh Deni, wajah ia benamkan di bidang dada kekar yang mulai layu, “Rasanya aku ingin ikut pergi bersama kamu, suamiku. Entah bagaimana nasibku jika kamu sudah tak lagi di sampingku.”
Deni menempelkan jari telunjuknya di bibir Laras, “Jangan berkata seperti itu, kita masih memiliki anak-anak yang baik. Walau sekarang mereka sudah besar dan memiliki kehidupan masing-masing, tapi mereka masih bisa menyempatkan diri untuk mengunjungi kita. Kamu akan bahagia bersama anak-anak kita yang luar biasa hebatnya.” Ucap Deni, ia memberi kecupan sekali lagi di dahi Laras.
Laras tertawa renyah di depan suaminya, tangannya mendorong pelan bidang dada kekar Deni, “Sudah, ah.”
“Loh, kenapa rupanya jika aku terus mencium kening istriku yang licin ini?”
“Sudah malam, sebaiknya kita istirahat saja.” Ucap Laras menarik selimut.
“Baik.” Sahut Deni merebahkan tubuhnya di sisi kiri Laras, Deni memutar arah posisi tidurnya, memeluk Laras, “Selamat malam istriku.” Ucap Deni, tangan kanan menekan tombol lampu kamar berpindah ke mode redup.
.
.
🍃🍃Di ruang tamu. 🍃🍃
Terlihat seorang pria memakai jaket dan topi mengendap-endap berjalan di dalam gelapnya ruang tamu, sesekali ia menoleh ke belakang. Kemudian langkahnya semakin cepat saat melihat pintu utama sudah di depan mata. Diam-diam pria tersebut membuka kunci pintu, kedua kakinya pun melangkah dengan cepat meninggalkan rumah.
...Bersambung.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
hayoo, siapa itu
2022-11-23
0
Ana Yulia
Azzam nih kayaknya tuh orang
2022-09-07
2
Rini Antika
Aku hadir kak, nnti aku nyicil lg ya bacanya, semangat terus..💪💪
2022-08-18
1