Andra terus mengikuti kemanapun Yusi pergi. Mulai dari jam pelajaran sekolah, istirahat siang, dan kini berakhir pada usainya pelajaran sekolah. Andra terus mengikuti Yusi daring belakang, hal itu membuat Yusi tidak senang. Apa lagi wajah tampan, sifat dan sikap baik Andra sangat memikat hati para kaum siswa perempuan yang berada di SMA Negeri tersebut.
Yusi menghentikan kedua kakinya, tatapan suram mengarah pada Andra yang berdiri di belakangnya. “Apakah kamu tidak puas setelah mengemis pada wali kelas untuk duduk sebangku denganku.” Yusi melangkah cepat mendekatkan wajahnya ke wajah Andra yang terlihat lugu. “Apa kamu seorang pria mesum?”
“Kamu salah paham, mana mungkin pria sepertiku memiliki pikiran mesum seperti yang kamu pikirkan.” Ucap Andra berbangga diri. Kedua bahunya menaik. “Aku ini pria yang baik dan mampu menjaga seorang wanita dari pria jahat seperti yang kamu katakan tadi. Jika kamu tidak keberatan jika aku terus mendekati kamu, maka aku akan tetap terus mendekati kamu. Aku tidak perduli penolakan kamu, pandangan pertama telah membutakan mata dan hatiku.”
“Bodoh.” Yusi berbalik badan, kedua kaki melangkah cepat meninggalkan Andra di koridor sekolah, bibirnya terus mengumpat kesal. “Dasar pria bodoh yang aneh.” Yusi melirik sedikit belakang, melihat senyum manis Andra, tangan kanan melambai kepadanya. “Aku rasa dirinya memang sudah tidak waras, bisa-bisanya dia memberi senyum manis kepadaku. Ck. Pria aneh atau memang benar dirinya pria mesum.”
Yusi terus berjalan dengan wajah kesal sampai di depan gerbang, dan berhenti di samping dinding gerbang sekolah, tangan kanan Yusi mengambil ponsel miliknya dari saku kemeja seragam sekolah miliknya. “Nasib anak masih di bawah umur tidak boleh diberikan kendaraan sendiri buat pergi kemanapun aku mau, kecuali memesan taksi online.” Keluh Yusi, tangan kanan yang memegang benda pipih dan membuka aplikasi.
“Daripada kamu menghabiskan uang saku buat membayar taksi online setiap kamu jalan, lebih baik uang kamu buat membayar aku.” Ucap Andra nyelonong menarik benda pipih dari genggaman tangan Yusi.
“Dasar pria bertarif.” Tangan kanan Yusi mengulur. “Kembalikan ponselku.”
“Tidak mau.” Sahut pemuda tersebut, tangan kanannya menyimpan benda pipih milik Yusi kedalam saku celana sekolah. “Kalau kamu mau, ambil di sini.” Sambung pria tersebut menepuk ponsel milik Yusi di dalam saku sekolah celana kanannya.
“Na-jis.” Yusi mengulurkan tangan kanannya. “Kembalikan atau aku akan berteriak di sini, agar semua para siswa tahu jika kamu adalah pria….”
Andra segera bersujud, air mata buatan mengalir di wajah tampannya, dan suara lembut terasa pilu di dengar para siswa-siswa yang keluar dari gerbang sekolah.
“Aku mohon, aku mohon, aku mohon jangan kasar kepadaku. Aku akan melakukan apa pun asal kamu bisa menerimaku dengan lapang dada.” Andra berjalan di atas trotoar jalan dengan kedua lututnya, kedua tangannya menggenggam kedua tangan Yusi. “Aku mohon. Jangan menolak diriku untuk menjadi teman kamu.”
Perbuatan Andra menjadi pusat perhatian banyak siswa. Yusi seharusnya tidak bersalah harus menjadi bahan hujatan seluruh siswa-siswi yang lewat, hal itu membuat Yusi tidak tenang dan tidak enak saat melihat banyak pasang mata menatap dirinya suram.
“Tidak aku sangka wajah manis ternyata memiliki hati dingin.”
“Iya, jika Andra mau bersujud kepadaku seperti itu maka aku akan terus menerimanya tanpa pikir panjang.”
“Kalau aku rela melakukan apa saja asal aku terus bersama Andra.”
“Andra sungguh tampan. Tetap saja meski Yusi cantik, dirinya tidak pantas mendapatkan cinta pria setampan Andra.”
“Hust. Berhentilah menceritakan Yusi jika kalian tidak ingin di tatapan seperti itu.” Ucap salah satu wanita kepada teman-temannya untuk menghentikan percakapan mereka setelah melihat wajah Yusi yang suram.
Yusi menghela nafas panjang, tangan kanannya mengulur ke bawah, tatapan tidak suka ia alihkan ke sisi kiri jalan. “Baiklah. Aku tidak akan menjadi teman kamu, asal kamu mengembalikan kembali ponsel milikku yang kamu simpan di dalam saku celana sekolah kamu yang bau itu.”
“Benarkah?” Ucap Andra sambil berdiri, kedua mata berbintang mengarah pada Yusi, tangan kanannya mengeluarkan ponsel milik Yusi dari dalam saku celana. Andra mendekatkan bibirnya di daun telinga Yusi. “Jangan bilang bau, entar kamu ketagihan jika sudah tahu rasanya.”
Kedua mata Yusi membulat sempurna, tubuhnya segera bergerak menjauhkan wajahnya dari Andra. ‘Gila, gila, gila. Pria ini sungguh aneh, ucapan yang baru saja ia lontarkan membuat seluruh bulu halusku merinding. Pria ini seperti Vampir tampan yang sedang berusaha merayu mangsanya. Berulang kali aku tolak saja dia sudah seperti Vampir yang kehausan darah, apalagi aku terus menjadi temannya.’ Yusi menghela nafas pendek, menyambung pikirannya kembali. ‘Tidak. Aku harus biasa saja kepada pria satu ini. Permintaan dirinya juga tidak buruk, hanya teman. Ia teman.’ Batin Yusi meyakinkan kembali kepada dirinya jika semua permintaan tersebut tidaklah buruk.
“Aku lapar, sebelum lanjut pergi les aku ingin mampir ke warung mie ayam. Apa kamu mau ikut bersamaku?”
“Kamu tidak boleh makan mie, mie itu tidak bagus buat kesehatan tubuh kamu. Jika kamu mau, mari ikut aku ke rumah. Aku tadi pagi masak banyak, jika aku makan sendiri maka masakan yang aku buat pasti tidak akan habis sendiri.” Sahut Andra mengajak Yusi berkunjung ke rumahnya.
“Maaf, kita baru saja kenal.” Ucap Yusi menolak lembut.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tapi aku tidak akan pernah berbuat hal aneh dan hal buruk kepada kamu. Aku ini pria baik, mana mungkin aku menyakiti dan merusak temanku sendiri.” Sahut Andra meyakinkan Yusi jika dirinya bukan pria jahat.
Yusi terdiam, dirinya menatap Andra dari atas sampai bawah. ‘Dari raut wajahnya memang benar dirinya bukan pria jahat. Tapi, apa aku harus percaya begitu saja dengan tutur kata mulut manisnya.’ Batin Yusi menerka-nerka sikap dan sifat Andra.
“Kalau kamu tidak ingin makan masakan ku yang sudah aku masak terlalu banyak, aku tidak masalah. Aku akan buang masakannya, dan aku akan menemani kamu makan mie ayam seperti yang kamu inginkan.” Ucap Andra lembut.
Ucapan Andra ternyata meluluhkan hatinya, Yusi yang tadinya tidak mau ikut ke rumah Andra, menjadi luluh mendengar jika dirinya akan membuang semua masakan yang ia masak tadi pagi hanya demi menemani dirinya.
Yusi menundukkan pandangannya, menarik nafas diam-diam.
“Baiklah. Aku akan ke rumah kamu, sekalian aku ganti baju di rumah kamu juga.”
“Kamu tidak boleh berganti pakaian di rumahku. Kita cukup makan siang saja, setelah itu kita pergi les bersama-sama.”
“Kenapa tidak boleh, aku ini juga mau pergi les, masa iya aku memakai baju seragam sekolah yang bau lecit ini.”
“Tapi bau kamu enak kok.”
“Apa!!!” Yusi melayangkan tangan kanannya ke puncak kepala Andra dan memukuli nya dengan pelan. “Dasar penguntit.”
“He he. Mari kita pergi.” Ajak Andra, tangan kanan mengarah ke sepeda motor sport miliknya yang terparkir di depan gerbang sekolah.
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
~~N..M~~~
Kan benar
2022-08-11
0
~~N..M~~~
Di balik ke luguan pasti tersimpan hal besar.
Aku yakin jika Andra tidak sebaik yang Author pikirkan.
2022-08-11
0
mei
kok ceritanya tentang yusi terus thor... bukannya Azzam juga serakah..??
2022-08-09
0