Setelah malam itu. Laras, Azzam, Rabbani, dan Yusi setuju jika Deni di bawa pulang dan di rawat di rumah. Dokter Ferry tidak bisa berkata apa pun, karena kondisi kesehatan tubuh Deni yang lemah. Dokter Ferry hanya bisa menyetujui permintaan Yusi dan Deni untuk meminum obat Herbal.
Kini Deni dan yang lainnya sudah di rumah. Deni sedang istirahat sejenak di kamar setelah malam yang melelahkan di rumah sakit.
.
.
🍃🍃Pukul 09:30 pagi. 🍃🍃
Rabbani yang hendak bersantai di ruang Tv keluarga tak sengaja melihat Laras melamun sambil memotong sayur di atas meja dapur. Semua aktivitas dapat di lihat dengan cepat. Karena ruang Tv keluarga langsung terhubung dengan dapur, dan kamar milik Laras dan Deni.
“Ibu baik-baik saja?” tanya Rabbani, tangan kanan menghentikan pisau yang hampir menyenggol kulit halus yang mulai mengeriput.
“Eh!” Laras segera menyeka pipinya yang basah. Senyum palsu ia tampilkan pada Rabbani yang berdiri di sisi kanannya, “Kamu kenapa ke sini, nak?” tanya Laras dengan suara serak.
“Aku tadi ingin menonton Tv, tapi setelah melihat Ibu sedang memasak di dapur, sepertinya aku lebih memilih untuk menemani Ibu.”
Laras tersenyum manis, tangan kanannya memukul bahu kiri Rabbani, “Kamu ini! Masih saja suka gombalin Ibu.” Laras menyikut lengan kiri Rabbani, “Jangan-jangan pacar kamu di Jakarta ada banyak, ya?”
“Apaan sih, ‘Bu. Aku ke sana hanya berbisnis barang antik saja, dan membuka toko barang antik kecil-kecilan.” Sahut Rabbani malu-malu.
“Usaha kecil-kecilan, dan memiliki toko kecil-kecilan, tapi kenapa karyawannya ada 15 orang, ya?” gurau Laras sekali lagi, jari telunjuk tangan kanan Laras mengarah ke dagu.
“Ibu. Aku beneran tidak memiliki kekasih, coba Ibu hitung berapa umur Aku sekarang?” tanya Rabbani dengan wajah yang merona.
Laras memainkan sepuluh jari-jemarinya, bibirnya terus bergerak seperti sedang menghitung, “Kamu baru 19 tahun.”
“Tuhkan. Jadi tidak mungkin Aku memiliki kekasih di umur muda seperti itu. Sudah, ah. Aku malas mendengar pertanyaan seperti itu.”
“Hehe. Bercanda. Berarti anak Ibu masih utuh semuanya, nih?” tanya Laras sekali lagi sambil bercanda.
“Ih! Ibu. Apaan sih.”
“Nak. Apa kamu tidak masalah meninggalkan toko yang di Jakarta sampai berminggu-minggu seperti ini. Apa kamu tidak bagusan pulang saja, Ibu kuatir jika toko kamu akan bermasalah kalau kamu terus-terusan di sini.” Ucap Laras yang kuatir akan toko Rabbani yang hanya di jaga para karyawannya, tanpa di temani Rabbani.
Rabbani memegang kedua bahu Ibunya, menyandarkan dagu di bahu kiri Ibunya, “Ibu. Usaha apa pun yang saat ini Aku kelola, jika Ibu dan Ayah sedang sakit atau membutuhkan 'ku. Aku akan memilih Ibu dan Ayah daripada apa yang Aku miliki sekarang. Semua apa yang Aku miliki sekarang masih bisa di cari, besok atau lusa. Tapi kesempatan untuk berbakti kepada kedua orang tua tidak pernah bisa Aku dapatkan mau pun besok, atau lusa. Jadi jangan usir Aku dari rumah ini sampai Ayah benar-benar sembuh.”
Laras mengulas senyum tipis, air mata bahagia kembali lolos dengan mudanya, tangan kanannya membelai lembut pipi kiri putranya yang masih menyandar di bahunya.
“Ibu sangat senang karena Allah telah memberikan Ibu dan Ayah anak-anak yang berbakti dan sangat baik.”
Dari kejauhan terlihat sepasang mata menatap Laras dan Rabbani, sepasang mata itu adalah milik Azzam. Dahi Azzam mengeruk, rasa iri dan cemburu menyelimuti hatinya.
“Lagi dan lagi Rabbani. Apa Ibu tidak perduli dengan Azzam. Azzam juga memiliki usaha yang cukup bagus di kota ini. Seorang pemilik perkebunan bunga dan dekorasi taman bunga yang terkenal hampir di berbagai daerah.” Gumam Azzam pelan.
Azzam tak mau kalah dengan Rabbani, Azzam melangkahkan kedua kakinya mendekati Laras yang masih sibuk masak di dapur.
“Wah. Harum sekali masakannya, Ibu memang tiada duanya.” Ucap Azzam, menghentikan kedua kakinya di samping Rabbani yang kini duduk di kursi meja makan.
“Masakan Ibu belum matang Azzam, jadi bagaimana bisa hidung kamu mencium aroma masakan Ibu?”
“Hehehe.” Azzam menarik kursi yang bersebelahan dengan Rabbani, tatapan tajam sekilas menatap wajah Rabbani dari samping, kemudian terhenti menatap punggung Laras, “Tadi Azzam lihat dari ruang Tv keluarga, Ibu dan Rabbani sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Jika Azzam boleh tahu, pembahasan apa itu ‘Bu?”
“Ini, adik kamu yang manis ini belum punya pacar. Ibu jadi kasihan melihatnya.” Sahut Laras sedikit bercanda, tangan kanan mengaduk kuah sup buntut.
“IBU!” Ucap Rabbani malu-malu.
Azzam merangkul Rabbani, senyum palsu mengarah pada Rabbani yang terlihat malu-malu. “Benarkah itu? Apa perlu Abang kamu yang tampan ini mengajari kamu untuk menggaet wanita cantik.” Azzam menggerakkan jari-jemari kirinya seperti sedang menghitung, “Satu, dua, tiga. Wah! Pokoknya gak terhitung jumlah pacar Abang. Sesekali coba deh, rasakan gimana rasanya memiliki kekasih. Jangan jomblo dan cari uang mulu.”
“Takut. Wanita itu menurutku aneh.”
“Hahaha. Lihat anak kesayangan Ibu. Masa wanita di bilang aneh.” Ucap Azzam mengadu pada Laras.
“Benar tuh, kata Abang kamu. Jangan cari duit mulu, banyak kok pengusaha muda yang sudah menikah. Boleh banyak uang, boleh pacaran, tapi jangan merusak anak perawan orang. Ingat kalian punya adik perempuan, jika kalian tidak bisa menjaga anak perawan orang, maka karmanya akan jatuh pada adik sendiri.” Sahut Laras mengingatkan anak bujangnya, boleh pacaran asal jangan merusak harga diri anak perempuan orang lain. Sebab, Allah akan menurunkan azabnya kepada keluarganya sendiri.
“Iya-ia.” Sambung Azzam terdengar kesal.
“Assalamualaikum.” Salam Yusi terdengar cukup nyaring dari ruang Tv keluarga.
“Wa’alaikumsallam.” Sahut Azzam, Laras dan juga Rabbani. Tatapan mengarah pada Yusi yang berjalan ke arah mereka memakai seragam SMA.
“Loh, kok sudah pulang Dek?” tanya Rabbani.
“Bolos kamu, ya?” tanya Azzam sedikit bercanda.
“Tidak.” Yusi menunjukkan jam yang ada di pergelangan tangan kirinya, “Lihat. Ini hari Jum’at dan memang sudah waktunya pulang jam 11:30.” Sahut Yusi kesal.
“Astaghfirullah al-adzim. Untung Dek Yusi mengingatkan kalau ini adalah hari Jum’at, kalau tidak bisa lupa Abang untuk sholat Jum’at.” Ucap Rabbani yang lupa jika hari ini adalah hari Jum'at.
Yusi mengambil botol berwarna putih tanpa label. Meletakkan botol tersebut di atas meja. Tatapan serius mengarah pada Rabbani, Azzam dan Laras yang sedang memandang botol tersebut.
“Coba tebak, ini botol apa?” tanya Yusi.
Laras dan Azzam menggeleng.
Dahi Rabbani mengerut, ia merasa penasaran dengan isi botol tersebut, tangan kanannya membawa dirinya untuk meraih botol tersebut, dan membuka tutup botol, “Coba Abang lihat.” Dahi Rabbani kembali mengerut, tatapan serius mengarah pada Yusi, “Dari mana kamu mendapatkan ini?”
Pertanyaan Rabbani membuat Laras dan juga Azzam merasa cemas.
Yusi terdiam, wajah seperti bersalah ia tundukkan di depan Laras dan juga Azzam. Jari-jemarinya memegang baju pramuka bagian depan.
“Anu…itu….”
Rabbani berdiri, tangan kanan membelai puncak kepala Yusi, “Gadis yang baik, ini adalah obat herbal yang sangat bagus.” Rabbani memberikan kecupan manis di pipi kanan adiknya, “Terimakasih Adikku.”
“Haa!” Kedua pipi Yusi merona, kedua tangan di letakkan di kedua pipinya, kepalanya menggeleng, “Ibu. Abang Rabbani mencium pipi Yusi. Yusi tidak terima.”
Laras dan Azzam hanya tertawa geli melihat tingkah dan sikap anak-anaknya yang terlihat polos.
Laras merasa semua adegan harmonis benar-benar tulus dari dalam dasar hati kedua anaknya, yaitu Azzam dan Yusi. Sikap baik dan penuh dengan sopan santun menutupi sikap SERAKAH yang berselimut di dalam kebaikan Yusi dan Azzam.
Sampai kapan, sampai kapan semua ini terus tertutupi?
...Bersambung.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Rini Antika
Semangat terus ya, aku ampe gak bisa komentar apa" tentang cerita Author yg bagus ini..🤗
2022-10-22
0
Dendry Den
Benar. Sedikit adem baca di bab ini karena masih ada karakter anaknya yang baik.
2022-09-12
1
Dendry Den
Hanya Ibu yang mampu membuat dirinya seolah tidak memiliki masalah apa pun.
2022-09-12
0