Bab 08. Sampai kapan?

Setelah malam itu. Laras, Azzam, Rabbani, dan Yusi setuju jika Deni di bawa pulang dan di rawat di rumah. Dokter Ferry tidak bisa berkata apa pun, karena kondisi kesehatan tubuh Deni yang lemah. Dokter Ferry hanya bisa menyetujui permintaan Yusi dan Deni untuk meminum obat Herbal.

Kini Deni dan yang lainnya sudah di rumah. Deni sedang istirahat sejenak di kamar setelah malam yang melelahkan di rumah sakit.

.

.

🍃🍃Pukul 09:30 pagi. 🍃🍃

Rabbani yang hendak bersantai di ruang Tv keluarga tak sengaja melihat Laras melamun sambil memotong sayur di atas meja dapur. Semua aktivitas dapat di lihat dengan cepat. Karena ruang Tv keluarga langsung terhubung dengan dapur, dan kamar milik Laras dan Deni.

“Ibu baik-baik saja?” tanya Rabbani, tangan kanan menghentikan pisau yang hampir menyenggol kulit halus yang mulai mengeriput.

“Eh!” Laras segera menyeka pipinya yang basah. Senyum palsu ia tampilkan pada Rabbani yang berdiri di sisi kanannya, “Kamu kenapa ke sini, nak?” tanya Laras dengan suara serak.

“Aku tadi ingin menonton Tv, tapi setelah melihat Ibu sedang memasak di dapur, sepertinya aku lebih memilih untuk menemani Ibu.”

Laras tersenyum manis, tangan kanannya memukul bahu kiri Rabbani, “Kamu ini! Masih saja suka gombalin Ibu.” Laras menyikut lengan kiri Rabbani, “Jangan-jangan pacar kamu di Jakarta ada banyak, ya?”

“Apaan sih, ‘Bu. Aku ke sana hanya berbisnis barang antik saja, dan membuka toko barang antik kecil-kecilan.” Sahut Rabbani malu-malu.

“Usaha kecil-kecilan, dan memiliki toko kecil-kecilan, tapi kenapa karyawannya ada 15 orang, ya?” gurau Laras sekali lagi, jari telunjuk tangan kanan Laras mengarah ke dagu.

“Ibu. Aku beneran tidak memiliki kekasih, coba Ibu hitung berapa umur Aku sekarang?” tanya Rabbani dengan wajah yang merona.

Laras memainkan sepuluh jari-jemarinya, bibirnya terus bergerak seperti sedang menghitung, “Kamu baru 19 tahun.”

“Tuhkan. Jadi tidak mungkin Aku memiliki kekasih di umur muda seperti itu. Sudah, ah. Aku malas mendengar pertanyaan seperti itu.”

“Hehe. Bercanda. Berarti anak Ibu masih utuh semuanya, nih?” tanya Laras sekali lagi sambil bercanda.

“Ih! Ibu. Apaan sih.”

“Nak. Apa kamu tidak masalah meninggalkan toko yang di Jakarta sampai berminggu-minggu seperti ini. Apa kamu tidak bagusan pulang saja, Ibu kuatir jika toko kamu akan bermasalah kalau kamu terus-terusan di sini.” Ucap Laras yang kuatir akan toko Rabbani yang hanya di jaga para karyawannya, tanpa di temani Rabbani.

Rabbani memegang kedua bahu Ibunya, menyandarkan dagu di bahu kiri Ibunya, “Ibu. Usaha apa pun yang saat ini Aku kelola, jika Ibu dan Ayah sedang sakit atau membutuhkan 'ku. Aku akan memilih Ibu dan Ayah daripada apa yang Aku miliki sekarang. Semua apa yang Aku miliki sekarang masih bisa di cari, besok atau lusa. Tapi kesempatan untuk berbakti kepada kedua orang tua tidak pernah bisa Aku dapatkan mau pun besok, atau lusa. Jadi jangan usir Aku dari rumah ini sampai Ayah benar-benar sembuh.”

Laras mengulas senyum tipis, air mata bahagia kembali lolos dengan mudanya, tangan kanannya membelai lembut pipi kiri putranya yang masih menyandar di bahunya.

“Ibu sangat senang karena Allah telah memberikan Ibu dan Ayah anak-anak yang berbakti dan sangat baik.”

Dari kejauhan terlihat sepasang mata menatap Laras dan Rabbani, sepasang mata itu adalah milik Azzam. Dahi Azzam mengeruk, rasa iri dan cemburu menyelimuti hatinya.

“Lagi dan lagi Rabbani. Apa Ibu tidak perduli dengan Azzam. Azzam juga memiliki usaha yang cukup bagus di kota ini. Seorang pemilik perkebunan bunga dan dekorasi taman bunga yang terkenal hampir di berbagai daerah.” Gumam Azzam pelan.

Azzam tak mau kalah dengan Rabbani, Azzam melangkahkan kedua kakinya mendekati Laras yang masih sibuk masak di dapur.

“Wah. Harum sekali masakannya, Ibu memang tiada duanya.” Ucap Azzam, menghentikan kedua kakinya di samping Rabbani yang kini duduk di kursi meja makan.

“Masakan Ibu belum matang Azzam, jadi bagaimana bisa hidung kamu mencium aroma masakan Ibu?”

“Hehehe.” Azzam menarik kursi yang bersebelahan dengan Rabbani, tatapan tajam sekilas menatap wajah Rabbani dari samping, kemudian terhenti menatap punggung Laras, “Tadi Azzam lihat dari ruang Tv keluarga, Ibu dan Rabbani sedang membicarakan sesuatu hal yang penting. Jika Azzam boleh tahu, pembahasan apa itu ‘Bu?”

“Ini, adik kamu yang manis ini belum punya pacar. Ibu jadi kasihan melihatnya.” Sahut Laras sedikit bercanda, tangan kanan mengaduk kuah sup buntut.

“IBU!” Ucap Rabbani malu-malu.

Azzam merangkul Rabbani, senyum palsu mengarah pada Rabbani yang terlihat malu-malu. “Benarkah itu? Apa perlu Abang kamu yang tampan ini mengajari kamu untuk menggaet wanita cantik.” Azzam menggerakkan jari-jemari kirinya seperti sedang menghitung, “Satu, dua, tiga. Wah! Pokoknya gak terhitung jumlah pacar Abang. Sesekali coba deh, rasakan gimana rasanya memiliki kekasih. Jangan jomblo dan cari uang mulu.”

“Takut. Wanita itu menurutku aneh.”

“Hahaha. Lihat anak kesayangan Ibu. Masa wanita di bilang aneh.” Ucap Azzam mengadu pada Laras.

“Benar tuh, kata Abang kamu. Jangan cari duit mulu, banyak kok pengusaha muda yang sudah menikah. Boleh banyak uang, boleh pacaran, tapi jangan merusak anak perawan orang. Ingat kalian punya adik perempuan, jika kalian tidak bisa menjaga anak perawan orang, maka karmanya akan jatuh pada adik sendiri.” Sahut Laras mengingatkan anak bujangnya, boleh pacaran asal jangan merusak harga diri anak perempuan orang lain. Sebab, Allah akan menurunkan azabnya kepada keluarganya sendiri.

“Iya-ia.” Sambung Azzam terdengar kesal.

“Assalamualaikum.” Salam Yusi terdengar cukup nyaring dari ruang Tv keluarga.

“Wa’alaikumsallam.” Sahut Azzam, Laras dan juga Rabbani. Tatapan mengarah pada Yusi yang berjalan ke arah mereka memakai seragam SMA.

“Loh, kok sudah pulang Dek?” tanya Rabbani.

“Bolos kamu, ya?” tanya Azzam sedikit bercanda.

“Tidak.” Yusi menunjukkan jam yang ada di pergelangan tangan kirinya, “Lihat. Ini hari Jum’at dan memang sudah waktunya pulang jam 11:30.” Sahut Yusi kesal.

“Astaghfirullah al-adzim. Untung Dek Yusi mengingatkan kalau ini adalah hari Jum’at, kalau tidak bisa lupa Abang untuk sholat Jum’at.” Ucap Rabbani yang lupa jika hari ini adalah hari Jum'at.

Yusi mengambil botol berwarna putih tanpa label. Meletakkan botol tersebut di atas meja. Tatapan serius mengarah pada Rabbani, Azzam dan Laras yang sedang memandang botol tersebut.

“Coba tebak, ini botol apa?” tanya Yusi.

Laras dan Azzam menggeleng.

Dahi Rabbani mengerut, ia merasa penasaran dengan isi botol tersebut, tangan kanannya membawa dirinya untuk meraih botol tersebut, dan membuka tutup botol, “Coba Abang lihat.” Dahi Rabbani kembali mengerut, tatapan serius mengarah pada Yusi, “Dari mana kamu mendapatkan ini?”

Pertanyaan Rabbani membuat Laras dan juga Azzam merasa cemas.

Yusi terdiam, wajah seperti bersalah ia tundukkan di depan Laras dan juga Azzam. Jari-jemarinya memegang baju pramuka bagian depan.

“Anu…itu….”

Rabbani berdiri, tangan kanan membelai puncak kepala Yusi, “Gadis yang baik, ini adalah obat herbal yang sangat bagus.” Rabbani memberikan kecupan manis di pipi kanan adiknya, “Terimakasih Adikku.”

“Haa!” Kedua pipi Yusi merona, kedua tangan di letakkan di kedua pipinya, kepalanya menggeleng, “Ibu. Abang Rabbani mencium pipi Yusi. Yusi tidak terima.”

Laras dan Azzam hanya tertawa geli melihat tingkah dan sikap anak-anaknya yang terlihat polos.

Laras merasa semua adegan harmonis benar-benar tulus dari dalam dasar hati kedua anaknya, yaitu Azzam dan Yusi. Sikap baik dan penuh dengan sopan santun menutupi sikap SERAKAH yang berselimut di dalam kebaikan Yusi dan Azzam.

Sampai kapan, sampai kapan semua ini terus tertutupi?

...Bersambung.......

Terpopuler

Comments

Rini Antika

Rini Antika

Semangat terus ya, aku ampe gak bisa komentar apa" tentang cerita Author yg bagus ini..🤗

2022-10-22

0

Dendry Den

Dendry Den

Benar. Sedikit adem baca di bab ini karena masih ada karakter anaknya yang baik.

2022-09-12

1

Dendry Den

Dendry Den

Hanya Ibu yang mampu membuat dirinya seolah tidak memiliki masalah apa pun.

2022-09-12

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 01. Surat Warisan 1
2 Bab 02. Isi surat Warisan 2
3 Bab 03. Mengenang perjuangan
4 Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5 Bab 05. Pasrah
6 Bab 06. Hanya kamu.
7 Bab 07. Rumah Sakit
8 Bab 08. Sampai kapan?
9 Bab 09. Menghibur Istri orang.
10 Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11 Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12 Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13 Bab 13. TEROR 1
14 Bab 14. Aku akan menunggumu
15 Bab 15.
16 Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17 Bab 17. Pepet terus
18 Bab 18. Azzam di Labrak
19 Bab 19. Keluar kamu
20 Bab 20. Misi pertama Azzam
21 Bab 21. Perlahan tapi pasti
22 BAB 22. Pantulan Cermin
23 BAB 23. Rayuan Maut.
24 BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25 BAB 25. Main petak umpet di kamar
26 BAB 26. Hanya teman
27 BAB 27. Karena sakit hati
28 BAB 28. Pesan hangat
29 BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30 Bab 30. AKAL YUSI
31 BAB 31. KEKECEWAAN
32 BAB 32. RENCANA BARU
33 BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34 BAB 34. HALUSINASI
35 BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36 BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37 BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38 BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39 BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40 BAB 40. BERAKHIR
41 BAB 41. Gara-gara Clara
42 BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43 BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44 BAB 44. Hasrat Janda
45 BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46 BAB 46. Teru-Teru Buzo
47 BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48 BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49 BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50 BAB 50. Bukan Bulan Madu
51 BAB 51. Clara! wanita Malam
52 BAB 52. Jangan sampai aku!
53 BAB 53. Bantu aku, Clara
54 BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55 BAB 55. Curahan Hati
56 BAB 56. MABUK
57 BAB 57. Suruhan Rashi
58 BAB 58. Balasan buat Rashi
59 BAB 59. Kembali melamar
60 BAB 60. Menunggu Hari H
61 BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62 BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63 BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64 BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65 BAB 65. ITU HARAPANKU
66 BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67 BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68 BAB 68. SOSOK BERBULU
69 BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70 BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71 BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72 BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73 BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74 BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75 BAB 75. Arwah Clara
76 BAB 76. Kok mirip ya?
77 BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78 BAB 78. Di saat hujan petir
79 BAB 79. Berhentilah Anggun
80 BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81 BAB 81. Makanan
82 BAB 82. Aku sangat mencintai kamu
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 01. Surat Warisan 1
2
Bab 02. Isi surat Warisan 2
3
Bab 03. Mengenang perjuangan
4
Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5
Bab 05. Pasrah
6
Bab 06. Hanya kamu.
7
Bab 07. Rumah Sakit
8
Bab 08. Sampai kapan?
9
Bab 09. Menghibur Istri orang.
10
Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11
Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12
Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13
Bab 13. TEROR 1
14
Bab 14. Aku akan menunggumu
15
Bab 15.
16
Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17
Bab 17. Pepet terus
18
Bab 18. Azzam di Labrak
19
Bab 19. Keluar kamu
20
Bab 20. Misi pertama Azzam
21
Bab 21. Perlahan tapi pasti
22
BAB 22. Pantulan Cermin
23
BAB 23. Rayuan Maut.
24
BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25
BAB 25. Main petak umpet di kamar
26
BAB 26. Hanya teman
27
BAB 27. Karena sakit hati
28
BAB 28. Pesan hangat
29
BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30
Bab 30. AKAL YUSI
31
BAB 31. KEKECEWAAN
32
BAB 32. RENCANA BARU
33
BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34
BAB 34. HALUSINASI
35
BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36
BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37
BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38
BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39
BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40
BAB 40. BERAKHIR
41
BAB 41. Gara-gara Clara
42
BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43
BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44
BAB 44. Hasrat Janda
45
BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46
BAB 46. Teru-Teru Buzo
47
BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48
BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49
BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50
BAB 50. Bukan Bulan Madu
51
BAB 51. Clara! wanita Malam
52
BAB 52. Jangan sampai aku!
53
BAB 53. Bantu aku, Clara
54
BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55
BAB 55. Curahan Hati
56
BAB 56. MABUK
57
BAB 57. Suruhan Rashi
58
BAB 58. Balasan buat Rashi
59
BAB 59. Kembali melamar
60
BAB 60. Menunggu Hari H
61
BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62
BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63
BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64
BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65
BAB 65. ITU HARAPANKU
66
BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67
BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68
BAB 68. SOSOK BERBULU
69
BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70
BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71
BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72
BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73
BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74
BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75
BAB 75. Arwah Clara
76
BAB 76. Kok mirip ya?
77
BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78
BAB 78. Di saat hujan petir
79
BAB 79. Berhentilah Anggun
80
BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81
BAB 81. Makanan
82
BAB 82. Aku sangat mencintai kamu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!