Selama 3 hari Yusi terus-menerus memberikan Ayahnya yaitu Deni, obat herbal yang di belinya oleh pria misterius. Kesehatan Deni mendadak menurun tepat di hari kedua setelah Yusi membeli obat herbal dari pria misterius. Bukannya hari pertama saat meminum obat herbal tersebut di pagi harinya keadaan Deni sudah membaik. Kenapa di hari kedua dan ketiga kondisi Deni semakin menurun?
Yusi anak yang terlihat baik dan sopan di depan semua keluarganya, sebenarnya sudah mengganti obat herbal yang asli menjadi obat herbal yang di campur sedikit kandungan rempah berbahaya yang sudah di pesannya dari jejaring sosial penjual ilegal. Sebenarnya Yusi memang benar di hari pertama memberikan obat herbal yang asli kepada Ayahnya hanya untuk mengalihkan perhatian Rabbani yang selalu sigap dalam segala hal apa pun. Melihat semua berjalan dengan lancar, dan Yusi tidak ingin membuang waktu. Malam menjelang hari kedua Yusi yang sudah memesan obat herbal dari pria misterius, diam-diam sudah mengganti obat herbal yang asli menjadi obat herbal yang berbahaya.
Yusi, Azzam, Rabbani, dan Laras sedang berkumpul di dalam kamar Deni dan Laras. Deni terus batuk tiada henti, tubuhnya terasa dingin, bibirnya memerah karena mengeluarkan darah.
Rabbani sudah menelepon Dokter Ferry untuk segera mengecek kondisi Ayahnya. Namun nyawa Deni tidak bisa di selamatkan. Deni akhirnya menghembuskan nafas terakhir dalam pelukan istrinya.
“Ayah.” Teriak Rabbani dan Azzam serentak.
“MAS Deni.” Teriak Laras memeluk erat tubuh suaminya.
Yusi yang berdiri di belakang Azzam dan Rabbani hanya diam mematung, air mata palsu mengalir tanpa henti menatap adegan yang selama ini ia dambakan. Kedua mata Yusi mengenang semua usaha dirinya selama 3 hari ini yang ternyata tidak sia-sia.
‘Apakah aku berhasil. Ternyata rempah yang pria itu berikan sangat manjur. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyingkirkan musuhku. Meski kamu adalah Ayah yang terbaik, tapi tetap saja kamu bukanlah Ayah idamanku. Ayah, kamu tidak akan membuat Ibu, dan kami merawat dan mencemaskan kamu lagi. Tenanglah di sisi Tuhan-Mu, dan nyaman lah di Neraka.’ Batin Yusi.
Yusi hanya bisa menonton semua adegan seperti di dalam sinetron, kedua matanya melihat Dokter Ferry berlari dari pintu kamar dan duduk di tepian ranjang, tangan kanan Dokter Ferry memegang urat nadi Deni yang sudah berhenti berdetak. Tidak ingin menjadi penonton setia, Yusi mulai memerankan adegannya.
“Maaf, semuanya sudah terlambat.” Ucap Dokter Ferry penuh penyesalan, kepala ia tundukkan di depan jasad Deni.
“A-ayah.” Kedua kaki Yusi yang tak bergerak kini terjatuh di atas lantai, air mata buatan yang mudah di dapatkan terus mengalir membasahi kedua pipinya, tatapan datar dan kosong mengarah ke ranjang Deni.
“Dek.”
“Yusi.”
Isak-tangis yang terpendam di dalam hati Laras hanya bisa menampilkan wajah lirih, dan bibir yang terkunci, namun terus bergetar dengan kedua mata terpejam dengan derai air mata sambil memeluk tubuh suaminya di depan anak-anaknya.
Rabbani segera menangani Yusi yang terlihat depresi, sedangkan Azzam, dirinya menenangkan Laras yang terus menangis tanpa suara.
“Ini sudah takdir Yang Maha Kuasa, ‘Bu. Ibu harus tegar di depan jasad Ayah, jangan buat Ayah yang sudah tenang menangis dan bersedih melihat keadaan Ibu.” Ucap Azzam, kedua tangan mengelus pelan kedua bahu Laras.
Laras melepaskan pelukannya dari tubuh Deni, kedua tangannya menyeka kasar air mata di kedua pipinya. Senyum palsu di balik kepedihan ia tampilkan di depan Azzam, tatapan Laras beralih pada Yusi dan Rabbani yang duduk di sofa kamar.
“Menangis itu hal yang wajar ketika kita kehilangan seseorang yang kita anggap penting dan bisa membuat kita menjalani hidup lebih baik dan bahagia di atas Dunia ini. Untuk sejenak, sangat berat bagi Ibu merelakan kepergian Ayah, walau Ibu sering menanamkan kekuatan untuk bisa tegar saat waktu seperti ini akan datang. Tapi tetap saja tidak bisa, Ayah kamu adalah peran terpenting bagi Ibu, jika dirinya sudah tidak ada di dunia ini, apa yang harus Ibu lakukan?”
Azzam tidak bisa berkata apa pun, dirinya hanya bisa diam mendengar perkataan Ibunya yang terdengar lirih. Azzam membiarkan Laras meluapkan rasa sedih, emosi, dan yang lainnya di dalam hati.
Di sisi lain, Dokter Ferry merasa ganjil dengan kematian Deni. Dokter Ferry menarik Azzam sedikit menjauh dari Laras yang masih berduka. Tatapan serius sekilas menatap jasad Deni.
“Jika saya boleh tahu, Obat herbal apa yang diberikan kalian pada tuan Deni?”
Pertanyaan itu terdengar oleh Yusi dan lainnya, Yusi segera berdiri. Wajah tak suka terlihat jelas menatap wajah Dokter Ferry.“Apa maksud dari ucapan Dokter?” Tanya Yusi meninggikan nada suara tak suka.
“Saya hanya ingin memastikan jika kematian tuan Deni bukan karena efek obat herbal yang sering di bicarakan tuan Deni kepada saya saat kunjungan tuan Deni 3 hari yang lalu ke rumah saya.” Sahut Dokter Ferry mengingat Deni yang datang dengan wajah berseri saat menemui Dokter Ferry di rumahnya, dan membicarakan jika obat herbal yang diberikan oleh Yusi sangat manjur. Namun, botol obat itu di simpan oleh Yusi, jika ingin meminumnya, maka Yusi lah yang akan membuatkannya. Hanya itu percakapan singkat yang dapat Dokter Ferry ingat di sela kesibukannya karena ada tamu mendadak datang ke rumahnya.
“Baik. Jika Dokter tidak mempercayaiku, maka aku akan mengambil botol obat herbal tersebut.” Ucap Yusi. Yusi berlari keluar dari kamar Deni, Yusi terus mengayun cepat kedua kakinya menuju kamarnya untuk mengambil botol obat herbal yang ia simpan di dalam laci lemari meja rias. Yusi kembali berlari menuju kamar Deni yang berada di lantai bawah. Yusi berjalan mendekati Dokter Ferry, botol obat herbal yang ia pegang di serahkan kepada Dokter Ferry. “Jika Anda tidak percaya kepadaku, maka bawalah botol obat ini dan periksa, apakah rempah di dalamnya mengandung senyawa yang bersifat fatal.”
“Kalau begitu saya permisi dulu, hasilnya akan saya serahkan pada kalian secepatnya.” Dokter Ferry mendekati Laras, tangan kanannya memegang bahu kiri Laras. “Saya yakin jika tuan Deni akan tenang di sisi Yang Maha Kuasa. Saya permisi pamit pulang.”
“Terimakasih Dokter Ferry.” Sahut Laras bernada serak.
Tatapan tajam dan suram Yusi terus mengarah pada Dokter Ferry yang sudah tidak terlihat di depan mata. Sudut bibir bagian atasnya menaik, tangan kanannya mengepal rok bagian depan.
‘Sepintar-pintarnya orang yang berpendidikan, lebih pintar lagi orang yang memiliki akal busuk, dan rencana yang begitu matang. Tidak ada usaha yang sia-sia, semua akan indah pada waktunya. Selama jalan kehidupan yang terlihat lurus, dan selamat datang kesuksesan yang di gapai dengan sifat SERAKAH. Jika aku tidak SERAKAH, mungkin semua rencana ini tidak akan berhasil dan berjalan dengan mulus. Karena harta banyak tidaklah akan membuat hidup lebih nyaman lagi.’ Batin Yusi merasa puas dan bangga dengan perbuatannya.
Melihat anaknya sedikit tertekan terlihat dari raut wajah polos Yusi. Laras segera berdiri, dengan langkah rapuh Laras terus berjalan dan memeluk tubuh Yusi dari belakang. Laras meletakkan dagunya di atas bahu kiri Yusi.
“Putriku, aku tidak menyalahkan diri kamu mengenai obat herbal yang kamu beli. Abang Azzam dan Abang Rabbani juga tidak akan menyalahkan kamu mengenai hal ini. Kami semua percaya kepada kamu, kamu anak yang baik, karena anak yang baik tidak mungkin mencelakai orang tua yang menyayangi nya. Dokter Ferry juga tidak mungkin menuduh kamu, ia mungkin hanya ingin mendalami obatnya herbal yang kamu berikan adalah beneran aman atau tidak. Kamu jangan bersedih seperti ini, ya.”
“Kalau begitu mari kita siapkan pemakaman buat Ayah.” Sambung Azzam.
“Hem, apa tidak mau melakukan autopsi?” Tanya Yusi sedikit kaku.
“Semua itu sudah takdirnya, jadi jangan berpikir buruk tentang keadaan yang membuat kamu terguncang. Pasrahkan kepada Allah karena ini memang jalan yang terbaik buat Ayah.” Ucap Rabbani.
...Bersambung.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Rini Antika
jahat bgt sih..
2022-11-14
0
Rini Antika
tuh kan benar dugaanku kalau itu racun
2022-11-14
0
Dendry Den
takutkan ...anak ajg
2022-10-18
0