🍃Hari kedua setelah kepergian Deni🍃
Pesan singkat terus masuk di benda pipih milik Rabbani, pesan singkat dari salah satu karyawan toko yang terus menanyakan kapan dirinya akan kembali ke Jakarta karena ada beberapa langganan tetap Rabbani yang terus menunggu dan mencari Rabbani.
Laras yang baru saja keluar dari kamar tak sengaja melihat Rabbani terlihat suntuk menatap layar ponselnya di ruang Tv keluarga. Laras berjalan mendekati Rabbani, dan duduk di sisi kanan Rabbani. Tangan kanan Laras memegang bahu Rabbani, senyum manis di balik wajah sebab ia tampilkan untuk menghibur anaknya.
“Kamu kenapa Nak?”
“Hem, tidak ada ‘Bu.” Sahut Rabbani berbohong, tangan kanannya segera meletakkan benda pipih di atas meja.
“Baiklah, Ibu tidak bisa memaksa kamu untuk berbicara.”
Drrtt!! Drttt!!
Rabbani melirik benda pipih yang baru saja ia letakkan, Laras juga ikut melirik sedikit tanpa sepengetahuan Rabbani. Tangan kanan Rabbani dengan cepat menyambar benda pipih yang terus berdering, dan mematikan ponsel miliknya.
“Kenapa di matikan?”
“Ada langganan tetap yang terus menelponku, ia terus datang ke toko karena dirinya ingin membeli barang antik yang baru saja aku pesan dari Thailand. Namun, aku tidak bisa meninggalkan Ibu di sini sendirian. Aku masih ingin menemani Ibu dan Yusi, terlebih lagi Abang Azzam akan pulang sore ini ke rumahnya karena dia juga sudah di tunggu oleh langganannya. Jadi, biarkan aku menemani Ibu dan Laras beberapa hari ini di sini.”
Laras meletakkan tangan kanannya di bahu kanan Rabbani. “Tidak. Kamu harus segera pulang, Ibu dan Yusi akan baik-baik saja di sini. Lagian rumah Azzam dan rumah Ibu tidak jauh, kamu jangan mengkuatirkan soal itu.”
“Tapi ‘Bu.”
“Pulanglah nak, karena kehidupan kamu bukan hanya tentang Ibu dan adik kamu. Kehidupan kamu adalah milik kamu karena kamu sekarang sudah menjadi pria dewasa. Jadi, pulanglah nak, jangan buat Ibu menyesal karena membiarkan dirimu terlalu lama di sini dan kamu kehilangan para pelanggan setia kamu.”
“Baik Bu. Nanti siang Rabbani akan memesan tiket untuk penerbangan besok siang.” Sahut Rabbani tanpa komentar apa pun.
.
.
.
.
🍃🍃Di sekolah SMA🍃🍃
Saat Yusi menikmati bakso sebagai santap makan siang di kantin sekolah, 5 siswa wanita yang biasa mengolok dirinya berdiri di samping meja Yusi. Wanita yang berdiri di tengah melipat kedua tangannya, senyum manis ia tampilkan di hadapan Yusi.
“Ayah tercinta sudah meninggal dunia, harta warisan sudah di bagikan. Tapi kenapa seorang pewaris kecil yang memegang Mall terkenal dan terbesar di kota ini tetap menjadi rakyat biasa.” Wanita tersebut menutup mulutnya memakai tangan kanannya sendiri. “Upss!” Tangan kanannya melambai. “Pasti harta kamu sudah habis untuk mengobati penyakit Ayah kamu, ‘kan?”
“Hahaha. Mis-kin. Ha ha ha.” Sambung keempat teman dari wanita tersebut sambil tertawa renyah.
Yusi mengepal erat kedua tangan yang memegang sendok dan garpu. Yusi berdiri, kedua tangannya memegang mangkuk bakso dan melemparkannya kuah bakso ke wa-jah 5 siswa wanita yang terus menghujatnya.
Byuurr!!!
“Akh! Dasar gadis miskin.” Teriak wanita yang berada di tengah.
Keempat teman yang berdiri di sisi kanan dan kiri langsung membersihkan mie dan bakso yang menempel di rambut, wajah dan baju sekolah.
“Nona muda.” Ucap keempat teman dari wanita yang berdiri di tengah, masing-masing tangan mereka memungut mie dan bakso.
Semua siswa-siswi yang berada di dalam kantin tercengang melihat sikap Yusi. Bibir mereka terus bergerak dan mengumpat tanpa suara. Di sisi lain, terlihat seorang siswa laki-laki duduk santai, kedua kaki di letakkan di atas meja, kedua mata yang terpejam menyipit, menatap perkelahian Yusi dan kelima wanita tersebut.
“Menarik.” Ucap siswa pria tersebut.
Yusi berbalik badan, bibirnya mengumpat kesal. “Ganggu orang makan saja.”
“Kamu ke mana?” Tanya siswi wanita menahan pergelangan tangan kanan Yusi.
“Mau kemana aku, bukan urusan kamu.”
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Yusi, tamparan yang menghebohkan seisi kantin.
Tanpa banyak bicara Yusi melayangkan bogem mentah di pelipis siswa wanita tersebut.
Bam!!
“Auw!” Ucap siswa pria yang duduk di sudut kantin.
“Yusi, Yusi, Yusi.”
“Lima bunga, lima bunga, lima bunga.”
Terdengar sorak semangat dari beberapa siswa yang ada di kantin. Suasana semakin panas saat kedua teman dari wanita tersebut memegang masing-masing tangan Yusi.
“Beraninya main keroyokan, kalau berani main tunggal.” Ucap Yusi seperti menantang.
“STOP!” Ucap seorang guru dari depan pintu kantin.
“Ck. Ganggu saja.” Keluh wanita yang berada di tengah. Wanita tersebut melambaikan tangan kananya. “Lepaskan gadis miskin itu.” Ucap wanita tersebut memerintah keempat teman-temannya untuk meninggalkan Yusi.
Yusi merapihkan baju yang berantakan, dengan kesal ia juga pergi meninggalkan kantin sekolah menuju toilet. Sesampainya di dalam toilet, Yusi membasuh wajah kesalnya di wastafel. Baru saja selesai mencuci wajahnya, Yusi di kagetkan dengan tulisan, “ANAK DURHAKA” di depan cermin. Tulisan merah dan besar hampir memenuhi cermin. Kedua kaki Yusi perlahan mundur, tatapan waspada mengarah ke sekeliling ruangan toilet.
“Si-siapa yang kamu maksud?” Tanya Yusi sedikit kaku, tatapan waspada mengarah ke sekeliling ruangan, tapi tak melihat siapa pun di dalamnya kecuali dirinya. Melihat tidak ada satupun di dalam kamar mandi kecuali dirinya, Yusi mengayun kedua kakinya untuk meninggalkan kamar mandi. Namun, kedua matanya melihat botol obat herbal seperti yang ia berikan kepada Ayahnya. Hal itu membuat Yusi syok, ia mengarahkan kedua matanya kembali pada cermin untuk melihat tulisan berdarah tersebut. Namun tulisan tersebut sudah menghilang, ia kembali menatap botol obat herbal yang berada di atas wastafel. Bertapa terkejutnya dirinya jika botol tersebut sudah tidak ada lagi. Dengan cepat ia melangkahkan keluar, wajah ia tundukkan dan dirinya mencoba untuk tenang saat melihat beberapa orang melintasi toilet.
Yusi terus melangkahkan kedua kakinya dengan cepat menuju kelas, sesekali ia memandang ke belakang untuk memastikan jika tidak ada yang sedang mengikutinya dari belakang. Saat Yusi masuk ke dalam kelas, terlihat sepasang mata memandang dirinya dari kejauhan. Sepasang mata seperti dari seorang siswa pria yang memakai seragam sekolah.
Di tengah pelajaran terakhir di mulai, Yusi menundukkan wajahnya, kedua tangan ia kepal di atas rok sekolahnya, sudut bibirnya menaik.
‘Sial. Siapa yang sedang menerorku. Botol obat itu sama persis seperti botol obat yang aku beli dari pria misterius. Botol obat itu juga sudah aku bakar dan aku buat di dalam toilet, jadi mana mungkin bisa kembali utuh seperti itu. Sedangkan botol obat yang asli masih berada di tangan Dokter Ferry. Aku pasti sedang di guna-guna sama seseorang.’ Batin Yusi.
Yusi teringat dengan perbuatan sesaat sebelum kondisi Ayahnya menurun. Sesaat setelah mengalami kejanggalan aneh sehabis minum teh herbal buatan dirinya, Deni mendadak batuk tiada henti, Yusi yang masih menggenggam barang bukti awalnya sedikit panik karena takut ketahuan Abang-abangnya. Yusi yang ingin membuang barang bukti, segera berteriak di luar kamar, teriakkan Yusi membuat Rabbani, Azzam dan Laras berlari menuju kamar. Setelah semuanya berkumpul di situ Yusi berlari menuju kamarnya, segera mengamankan botol obat yang ia beli dari pria misterius, dengan cara membakar dan membuangnya ke dalam toilet. Sejak saat itu Yusi masih merasa aman karena perbuatannya tidak di ketahui Abang-abangnya dan Ibunya. Namun kenapa setelah beberapa hari kepergian Ayahnya yaitu Deni, banyak teror muncul di hadapannya, membuat Yusi sedikit frustasi dan panik.
...Bersambung......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Rini Antika
kalau org yg punya dosa pasti ketakutan
2022-11-18
0
Rini Antika
Ibunya pengertian banget
2022-11-18
0
Dendry Den
Di teror
2022-10-24
0