Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.

🍃Hari kedua setelah kepergian Deni🍃

Pesan singkat terus masuk di benda pipih milik Rabbani, pesan singkat dari salah satu karyawan toko yang terus menanyakan kapan dirinya akan kembali ke Jakarta karena ada beberapa langganan tetap Rabbani yang terus menunggu dan mencari Rabbani.

Laras yang baru saja keluar dari kamar tak sengaja melihat Rabbani terlihat suntuk menatap layar ponselnya di ruang Tv keluarga. Laras berjalan mendekati Rabbani, dan duduk di sisi kanan Rabbani. Tangan kanan Laras memegang bahu Rabbani, senyum manis di balik wajah sebab ia tampilkan untuk menghibur anaknya.

“Kamu kenapa Nak?”

“Hem, tidak ada ‘Bu.” Sahut Rabbani berbohong, tangan kanannya segera meletakkan benda pipih di atas meja.

“Baiklah, Ibu tidak bisa memaksa kamu untuk berbicara.”

Drrtt!! Drttt!!

Rabbani melirik benda pipih yang baru saja ia letakkan, Laras juga ikut melirik sedikit tanpa sepengetahuan Rabbani. Tangan kanan Rabbani dengan cepat menyambar benda pipih yang terus berdering, dan mematikan ponsel miliknya.

“Kenapa di matikan?”

“Ada langganan tetap yang terus menelponku, ia terus datang ke toko karena dirinya ingin membeli barang antik yang baru saja aku pesan dari Thailand. Namun, aku tidak bisa meninggalkan Ibu di sini sendirian. Aku masih ingin menemani Ibu dan Yusi, terlebih lagi Abang Azzam akan pulang sore ini ke rumahnya karena dia juga sudah di tunggu oleh langganannya. Jadi, biarkan aku menemani Ibu dan Laras beberapa hari ini di sini.”

Laras meletakkan tangan kanannya di bahu kanan Rabbani. “Tidak. Kamu harus segera pulang, Ibu dan Yusi akan baik-baik saja di sini. Lagian rumah Azzam dan rumah Ibu tidak jauh, kamu jangan mengkuatirkan soal itu.”

“Tapi ‘Bu.”

“Pulanglah nak, karena kehidupan kamu bukan hanya tentang Ibu dan adik kamu. Kehidupan kamu adalah milik kamu karena kamu sekarang sudah menjadi pria dewasa. Jadi, pulanglah nak, jangan buat Ibu menyesal karena membiarkan dirimu terlalu lama di sini dan kamu kehilangan para pelanggan setia kamu.”

“Baik Bu. Nanti siang Rabbani akan memesan tiket untuk penerbangan besok siang.” Sahut Rabbani tanpa komentar apa pun.

.

.

.

.

🍃🍃Di sekolah SMA🍃🍃

Saat Yusi menikmati bakso sebagai santap makan siang di kantin sekolah, 5 siswa wanita yang biasa mengolok dirinya berdiri di samping meja Yusi. Wanita yang berdiri di tengah melipat kedua tangannya, senyum manis ia tampilkan di hadapan Yusi.

“Ayah tercinta sudah meninggal dunia, harta warisan sudah di bagikan. Tapi kenapa seorang pewaris kecil yang memegang Mall terkenal dan terbesar di kota ini tetap menjadi rakyat biasa.” Wanita tersebut menutup mulutnya memakai tangan kanannya sendiri. “Upss!” Tangan kanannya melambai. “Pasti harta kamu sudah habis untuk mengobati penyakit Ayah kamu, ‘kan?”

“Hahaha. Mis-kin. Ha ha ha.” Sambung keempat teman dari wanita tersebut sambil tertawa renyah.

Yusi mengepal erat kedua tangan yang memegang sendok dan garpu. Yusi berdiri, kedua tangannya memegang mangkuk bakso dan melemparkannya kuah bakso ke wa-jah 5 siswa wanita yang terus menghujatnya.

Byuurr!!!

“Akh! Dasar gadis miskin.” Teriak wanita yang berada di tengah.

Keempat teman yang berdiri di sisi kanan dan kiri langsung membersihkan mie dan bakso yang menempel di rambut, wajah dan baju sekolah.

“Nona muda.” Ucap keempat teman dari wanita yang berdiri di tengah, masing-masing tangan mereka memungut mie dan bakso.

Semua siswa-siswi yang berada di dalam kantin tercengang melihat sikap Yusi. Bibir mereka terus bergerak dan mengumpat tanpa suara. Di sisi lain, terlihat seorang siswa laki-laki duduk santai, kedua kaki di letakkan di atas meja, kedua mata yang terpejam menyipit, menatap perkelahian Yusi dan kelima wanita tersebut.

“Menarik.” Ucap siswa pria tersebut.

Yusi berbalik badan, bibirnya mengumpat kesal. “Ganggu orang makan saja.”

“Kamu ke mana?” Tanya siswi wanita menahan pergelangan tangan kanan Yusi.

“Mau kemana aku, bukan urusan kamu.”

Plak!

Tamparan keras mendarat di pipi kiri Yusi, tamparan yang menghebohkan seisi kantin.

Tanpa banyak bicara Yusi melayangkan bogem mentah di pelipis siswa wanita tersebut.

Bam!!

“Auw!” Ucap siswa pria yang duduk di sudut kantin.

“Yusi, Yusi, Yusi.”

“Lima bunga, lima bunga, lima bunga.”

Terdengar sorak semangat dari beberapa siswa yang ada di kantin. Suasana semakin panas saat kedua teman dari wanita tersebut memegang masing-masing tangan Yusi.

“Beraninya main keroyokan, kalau berani main tunggal.” Ucap Yusi seperti menantang.

“STOP!” Ucap seorang guru dari depan pintu kantin.

“Ck. Ganggu saja.” Keluh wanita yang berada di tengah. Wanita tersebut melambaikan tangan kananya. “Lepaskan gadis miskin itu.” Ucap wanita tersebut memerintah keempat teman-temannya untuk meninggalkan Yusi.

Yusi merapihkan baju yang berantakan, dengan kesal ia juga pergi meninggalkan kantin sekolah menuju toilet. Sesampainya di dalam toilet, Yusi membasuh wajah kesalnya di wastafel. Baru saja selesai mencuci wajahnya, Yusi di kagetkan dengan tulisan, “ANAK DURHAKA” di depan cermin. Tulisan merah dan besar hampir memenuhi cermin. Kedua kaki Yusi perlahan mundur, tatapan waspada mengarah ke sekeliling ruangan toilet.

“Si-siapa yang kamu maksud?” Tanya Yusi sedikit kaku, tatapan waspada mengarah ke sekeliling ruangan, tapi tak melihat siapa pun di dalamnya kecuali dirinya. Melihat tidak ada satupun di dalam kamar mandi kecuali dirinya, Yusi mengayun kedua kakinya untuk meninggalkan kamar mandi. Namun, kedua matanya melihat botol obat herbal seperti yang ia berikan kepada Ayahnya. Hal itu membuat Yusi syok, ia mengarahkan kedua matanya kembali pada cermin untuk melihat tulisan berdarah tersebut. Namun tulisan tersebut sudah menghilang, ia kembali menatap botol obat herbal yang berada di atas wastafel. Bertapa terkejutnya dirinya jika botol tersebut sudah tidak ada lagi. Dengan cepat ia melangkahkan keluar, wajah ia tundukkan dan dirinya mencoba untuk tenang saat melihat beberapa orang melintasi toilet.

Yusi terus melangkahkan kedua kakinya dengan cepat menuju kelas, sesekali ia memandang ke belakang untuk memastikan jika tidak ada yang sedang mengikutinya dari belakang. Saat Yusi masuk ke dalam kelas, terlihat sepasang mata memandang dirinya dari kejauhan. Sepasang mata seperti dari seorang siswa pria yang memakai seragam sekolah.

Di tengah pelajaran terakhir di mulai, Yusi menundukkan wajahnya, kedua tangan ia kepal di atas rok sekolahnya, sudut bibirnya menaik.

‘Sial. Siapa yang sedang menerorku. Botol obat itu sama persis seperti botol obat yang aku beli dari pria misterius. Botol obat itu juga sudah aku bakar dan aku buat di dalam toilet, jadi mana mungkin bisa kembali utuh seperti itu. Sedangkan botol obat yang asli masih berada di tangan Dokter Ferry. Aku pasti sedang di guna-guna sama seseorang.’ Batin Yusi.

Yusi teringat dengan perbuatan sesaat sebelum kondisi Ayahnya menurun. Sesaat setelah mengalami kejanggalan aneh sehabis minum teh herbal buatan dirinya, Deni mendadak batuk tiada henti, Yusi yang masih menggenggam barang bukti awalnya sedikit panik karena takut ketahuan Abang-abangnya. Yusi yang ingin membuang barang bukti, segera berteriak di luar kamar, teriakkan Yusi membuat Rabbani, Azzam dan Laras berlari menuju kamar. Setelah semuanya berkumpul di situ Yusi berlari menuju kamarnya, segera mengamankan botol obat yang ia beli dari pria misterius, dengan cara membakar dan membuangnya ke dalam toilet. Sejak saat itu Yusi masih merasa aman karena perbuatannya tidak di ketahui Abang-abangnya dan Ibunya. Namun kenapa setelah beberapa hari kepergian Ayahnya yaitu Deni, banyak teror muncul di hadapannya, membuat Yusi sedikit frustasi dan panik.

...Bersambung......

Terpopuler

Comments

Rini Antika

Rini Antika

kalau org yg punya dosa pasti ketakutan

2022-11-18

0

Rini Antika

Rini Antika

Ibunya pengertian banget

2022-11-18

0

Dendry Den

Dendry Den

Di teror

2022-10-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 01. Surat Warisan 1
2 Bab 02. Isi surat Warisan 2
3 Bab 03. Mengenang perjuangan
4 Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5 Bab 05. Pasrah
6 Bab 06. Hanya kamu.
7 Bab 07. Rumah Sakit
8 Bab 08. Sampai kapan?
9 Bab 09. Menghibur Istri orang.
10 Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11 Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12 Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13 Bab 13. TEROR 1
14 Bab 14. Aku akan menunggumu
15 Bab 15.
16 Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17 Bab 17. Pepet terus
18 Bab 18. Azzam di Labrak
19 Bab 19. Keluar kamu
20 Bab 20. Misi pertama Azzam
21 Bab 21. Perlahan tapi pasti
22 BAB 22. Pantulan Cermin
23 BAB 23. Rayuan Maut.
24 BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25 BAB 25. Main petak umpet di kamar
26 BAB 26. Hanya teman
27 BAB 27. Karena sakit hati
28 BAB 28. Pesan hangat
29 BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30 Bab 30. AKAL YUSI
31 BAB 31. KEKECEWAAN
32 BAB 32. RENCANA BARU
33 BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34 BAB 34. HALUSINASI
35 BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36 BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37 BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38 BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39 BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40 BAB 40. BERAKHIR
41 BAB 41. Gara-gara Clara
42 BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43 BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44 BAB 44. Hasrat Janda
45 BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46 BAB 46. Teru-Teru Buzo
47 BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48 BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49 BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50 BAB 50. Bukan Bulan Madu
51 BAB 51. Clara! wanita Malam
52 BAB 52. Jangan sampai aku!
53 BAB 53. Bantu aku, Clara
54 BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55 BAB 55. Curahan Hati
56 BAB 56. MABUK
57 BAB 57. Suruhan Rashi
58 BAB 58. Balasan buat Rashi
59 BAB 59. Kembali melamar
60 BAB 60. Menunggu Hari H
61 BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62 BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63 BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64 BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65 BAB 65. ITU HARAPANKU
66 BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67 BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68 BAB 68. SOSOK BERBULU
69 BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70 BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71 BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72 BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73 BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74 BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75 BAB 75. Arwah Clara
76 BAB 76. Kok mirip ya?
77 BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78 BAB 78. Di saat hujan petir
79 BAB 79. Berhentilah Anggun
80 BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81 BAB 81. Makanan
82 BAB 82. Aku sangat mencintai kamu
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 01. Surat Warisan 1
2
Bab 02. Isi surat Warisan 2
3
Bab 03. Mengenang perjuangan
4
Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5
Bab 05. Pasrah
6
Bab 06. Hanya kamu.
7
Bab 07. Rumah Sakit
8
Bab 08. Sampai kapan?
9
Bab 09. Menghibur Istri orang.
10
Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11
Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12
Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13
Bab 13. TEROR 1
14
Bab 14. Aku akan menunggumu
15
Bab 15.
16
Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17
Bab 17. Pepet terus
18
Bab 18. Azzam di Labrak
19
Bab 19. Keluar kamu
20
Bab 20. Misi pertama Azzam
21
Bab 21. Perlahan tapi pasti
22
BAB 22. Pantulan Cermin
23
BAB 23. Rayuan Maut.
24
BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25
BAB 25. Main petak umpet di kamar
26
BAB 26. Hanya teman
27
BAB 27. Karena sakit hati
28
BAB 28. Pesan hangat
29
BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30
Bab 30. AKAL YUSI
31
BAB 31. KEKECEWAAN
32
BAB 32. RENCANA BARU
33
BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34
BAB 34. HALUSINASI
35
BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36
BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37
BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38
BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39
BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40
BAB 40. BERAKHIR
41
BAB 41. Gara-gara Clara
42
BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43
BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44
BAB 44. Hasrat Janda
45
BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46
BAB 46. Teru-Teru Buzo
47
BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48
BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49
BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50
BAB 50. Bukan Bulan Madu
51
BAB 51. Clara! wanita Malam
52
BAB 52. Jangan sampai aku!
53
BAB 53. Bantu aku, Clara
54
BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55
BAB 55. Curahan Hati
56
BAB 56. MABUK
57
BAB 57. Suruhan Rashi
58
BAB 58. Balasan buat Rashi
59
BAB 59. Kembali melamar
60
BAB 60. Menunggu Hari H
61
BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62
BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63
BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64
BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65
BAB 65. ITU HARAPANKU
66
BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67
BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68
BAB 68. SOSOK BERBULU
69
BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70
BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71
BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72
BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73
BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74
BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75
BAB 75. Arwah Clara
76
BAB 76. Kok mirip ya?
77
BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78
BAB 78. Di saat hujan petir
79
BAB 79. Berhentilah Anggun
80
BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81
BAB 81. Makanan
82
BAB 82. Aku sangat mencintai kamu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!