🍃Di kediaman Rumah Azzam🍃
Azzam yang sudah berjanji akan bertemu dengan klien untuk melakukan rapat mengenai karangan bunga buat pernikahan, harus tertunda karena seorang pria berumur berdiri di samping mobil miliknya. Pria berwajah sangar, kemeja kotak-kotak di buka kancing baju bagian atas dan tak lupa kalung perak melingkar di jenjang lehernya.
Azzam melangkahkan kedua kakinya mendekati pria tersebut, bibirnya menolak halus seorang pria yang sedari tadi menatapnya tajam. “Mohon maaf, bisakah Anda datang nanti siang.” Ucap Azzam seolah dirinya mengetahui pria tersebut ingin bertemu dengannya.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Azzam, pria tersebut meraih leher kemeja Azzam dan menggenggamnya sangat kuat, membuat wajah mereka saling bertatap muka. “Ternyata kamu pria yang selalu di sebut-sebut istriku ketika ia sedang tidur.”
“Maaf, mungkin Anda salah orang.” Sahut Azzam, kedua tangannya perlahan menurunkan kedua tangan pria tersebut yang menggenggam erat leher kemeja Azzam. “Jika memang itu aku, maka sebaiknya Anda berkaca dulu. Bisa tidak Anda memberikan kepuasan lebih buat….”
Bam!!
Satu bogem mentah menghentikan ucapan Azzam.
Azzam menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, tubuh dan kepala yang sempat miring kini ia tegakkan kembali. Sudut bibir yang masih terlihat noda darah tersenyum puas. “Aku tidak tahu siapa nama dan wajah istri kamu. Banyak wanita yang tidur menemaniku, membuat aku tidak bisa menghafal wajah mereka.”
“Bre*ngsek.”
Pria tersebut hendak melayangkan bogem mentah kembali, dengan cepat tangan kanan Azzam menahan lengan kekar pria tersebut, dan tangan kirinya melayangkan bogem mentah di perut kotak-kotak pira tersebut.
Bam!!!
“Itu akibatnya jika kamu mengganggu jalanku. Kamu tidak tahu siapa aku, tapi aku akan cari tahu siapa istri kamu dan apa yang ia miliki. Jika dia seperti berlian, maka aku akan terus menyimpan berlian tersebut hingga dirinya kehilangan harganya. Jika dia hanya batu krikil yang mudah di dapatkan, maka aku akan membuangnya, tapi aku pastikan dirinya akan menerima semua perlakuan seperti suaminya memperlakukanku.” Ucap Azzam dengan nada suara sedikit menekan. Setelah puas berkata seperti itu, Azzam masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan pria tersebut sendirian di halaman rumahnya.
Sepanjang perjalan menuju tempat rapat sesuai permintaan klien, Azzam terus berdecak kesal. Ia merasa kesal karena dirinya yang baru saja memulai aktivitas di kejutkan dengan seorang pria yang mengaku sebagai suami dari salah satu seorang wanita yang menemani dirinya tidur. Bukan hanya mengaku, pria tersebut juga memberikan Azzam bogem mentah yang membuat dirinya masih merasakan perih dan nyeri di sekitar kulitnya.
Mobil Azzam yang terus melaju selama 2 jam lamanya harus terhenti di sebuah kafe pondok yang berada di tepian pantai. Sebelum turun dari mobil, Azzam membersihkan bekas luka yan ia dapat dengan tisu basah yang selalu tersedia di dalam mobil miliknya. Darah memang bisa di bersihkan, tapi bekas luka tidak dapat di tutupin dan dihilangkan dengan mudahnya hanya dengan tisu basah.
Azzam keluar dari mobil dengan sudut bibir yang lebam. Kedua kaki Azzam perlahan berjalan di atas pasir pantai.
“Akhir-akhir aku banyak mengeluarkan uang. Mana Ayah sudah meninggal dunia. Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan uang dengan tanpa menyiksa diri dan menunggu hasil panen dan pembayaran dari klien yang memakai bungaku.” Azzam menggeleng pelan. “Ah! Nanti saat aku pikirkan itu, yang terpenting sekarang aku harus menyelesaikan pekerjaan ini.”
Apalagi yang akan di rencanakan Azzam. Warisan usaha perkebunan teh dan dan tanah yang cukup luas sudah diberikan oleh mendiang Deni kepada Azzam. Perkebunan teh juga sedang naik daun, hingga mencapai target bermiliyaran di setiap kali panen. Usaha bunga yang ia buat juga sedang laku keras, mulai dari pesanan yang kecil hingga pesanan yang meraup omset jutaan rupiah.
Dasar Azzam manusia kurang bersyukur, memiliki sifat SERAKAH mengantarkan dirinya akan terus kekurangan dan ingin memiliki segalanya yang ada pada Bumi ini, dan seluruh manusia yang ada di muka Bumi ini.
.
.
.
💫💫 4 jam kemudian💫💫
Azzam menghabiskan waktu selama 4 jam, mulai dari rapat sampai pulang ke rumah. Klien yang banyak tuntutan buat karangan bunga dan dekor pelaminannya dengan bunga asli membuat Azzam sedikit lelah. Rasa lelah yang ia alami membuat dirinya tidak perduli ke sekeliling kediaman rumahnya. Kedua kaki Azzam terus melangkah, mata yang lelah membuat pandangan menjadi buram.
“Azzam.” Panggil seorang wanita cantik dari sisi kanan sudut teras rumah.
Azzam menolehkan wajah lelahnya ke sisi kanan. “Maaf, aku lagi tidak menerima klien di malam hari.” Ucap Azzam sopan. Tangan kanan Azzam mengambil kunci rumah dari dalam saku kemeja miliknya, dan membuka pintu rumah. Sebelum masuk ke dalam rumah Azzam memberitahu wanita tersebut agar kembali lagi besok pagi atau siang, karena malam ini dirinya sangat lelah. “Sekeras apa pun Anda meminta untuk di berikan buket bunga, aku tetap tidak akan membuatnya. Pulanglah.” Ucap Azzam menyuruh wanita tersebut sekali lagi.
Wanita tersebut berlari kecil, ia memeluk Azzam dari samping tanpa rasa malu. Kepala ia sandarkan di lengan kekar Azzam, air mata perlahan membasahi kedua pipinya. “Azzam, bisakah aku menemani kamu tidur untuk yang terakhir kalinya?”
“Tidak. Aku tidak ingin berurusan dengan wanita yang sudah memiliki pasangan hidup.” Tegas Azzam, tangan kirinya perlahan melepaskan pelukan wanita tersebut. “Sebaiknya kamu pulang! Aku tidak mau kejadian buruk seperti tadi pagi menimpaku kembali.” Ucap Azzam kepada wanita beristri agar tidak mengunjunginya lagi, karena dirinya tak ingin wajah tampannya kembali mendapatkan bogem mentah.
Wanita tersebut berdiri dengan kedua kakinya, kedua tangannya menggenggam erat celana Azzam, kepala mendongak, terlihat jelas air mata bercucuran tanpa henti. “Maafkan suamiku. Maafkan dirinya telah membuat luka di wajah kamu. Pria yang tadi pagi datang itu adalah suamiku. Aku sudah mengatakan akan berpisah dengannya, tapi dirinya tidak pernah mau menandatangani surat perceraian yang sudah aku berikan mulai dari 1 tahun yang lalu. Dia adalah suami yang tak berguna, kerjaannya hanya bisa menghabiskan harta warisan dari kedua orang tuaku saja. Aku mohon izinkan aku untuk tidur satu malam ini saja di rumah kamu, sebelum aku berangkat ke Luar Negeri.”
Sudut bibir Azzam menaik setelah mendengar penuturan dari wanita tersebut. Azzam tidak menyangka jika pertemuannya 3 bulannya yang lalu dengan wanita tajir tersebut sangat membuahkan hasil bagi dirinya. Azzam juga tidak menyangka jika istri dari pria tersebut adalah seorang wanita sukses yang terkenal di kota ia tinggal. Azzam juga tidak menyangka jika ternyata wanita ini sudah lama menggugat suaminya. Semua penuturan dari wanita tersebut membuat Azzam mengingat akan rencananya sewaktu di pantai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
semangat 😍
2022-08-12
1
~~N..M~~~
Azzam memang benar-benar brutal. Yang mirip dengan kedua orang tuanya hanya Rabbani.
2022-08-11
1
~~N..M~~~
Mampus...
2022-08-11
1