Setelah pulang mengantar Yusi pergi ke sekolah, Rabbani singgah ke minimarket yang tak jauh dari sekolah Yusi. Baru saja memarkirkan mobilnya di pinggiran jalan toko, Rabbani melihat seorang wanita cantik duduk di bangku jalan. Terlihat wanita tersebut sedang menundukkan kepalanya, rambut panjang menutupi sebagian wajahnya. Tetesan air mata membasahi rok miliknya. Melihat wanita yang bersedih seperti itu, Rabbani masuk ke minimarket, membeli es krim coklat.
“Jika menangis bisa menyelesaikan masalah, maka menangislah sepuasnya. Jika tidak ada sandaran buat menangis, maka aku akan bersiap meminjamkan bahuku untukmu. Meski aku tidak mengenalmu.” Ucap Rabbani, tangan kanan memegang es krim mengulur panjang di sisi kiri wanita tersebut.
Wanita tersebut menyeka air mata dari rambut panjang yang menutupi wajahnya, tangan kanan mengambil topi putih yang ia letakkan di bangku sisi kanan, dan memakai topi untuk menutupi sebagian wajahnya. Wajah yang tertutup sebagian topi menoleh ke sisi kiri, bibir merah jambu tersenyum manis kepada Rabbani.
“Terimakasih. Aku memang butuh sandaran untuk meluapkan semua kekesalan yang ada di hatiku. Tapi, tidak semudah itu menerima uluran dan bahu seseorang yang tidak aku kenal. Aku sudah terbiasa seperti ini, dan terimakasih atas kebaikan Anda.” Sahut wanita tersebut lembut, tangan kanan mengambil es krim cokelat dari tangan Rabbani, “Terimakasih.” Ucap wanita itu sekali lagi. Wanita tersebut berdiri, ia sedikit menundukkan tubuhnya kepada Rabbani. Kedua kakinya ia ayunkan meninggalkan Rabbani yang masih berdiri di samping bangku jalan.
“Gadis yang aneh.” Ucap Rabbani. Melihat wanita tersebut yang sudah berjalan jauh tanpa menoleh, Rabbani melangkahkan kakinya menuju mobil.
.
.
.
🍃🍃Sekolah SMA🍃🍃
Yusi duduk santai di bangku yang berada di depan kelas, tubuh menyandar ke tiang sekolah, tangan kanan memegang ponsel. Terlihat jari-jemari Yusi membuka Google, menulis kalimat ‘Bagaimana caranya menyingkirkan musuh’. Sebelum jawabannya terbuka dari Google, 5 orang wanita mendekati Yusi. Yusi pun mematikan layar ponselnya, menyimpan benda pipih tersebut ke dalam saku kemeja sekolah miliknya.
“Hai, Yusi. Aku dengar dari Manager Papaku, kamu sekarang yang menggantikan posisi pemilik Mall terbesar yang ada di kota ‘M’?” tanya salah seorang wanita berambut pirang sebahu, yang berdiri di tengah 5 orang wanita atau teman SMA Yusi.
“Wah! Kalau begitu bisa diskon, dong. Iyakan, Yusi?”
Yusi mengulas senyum tipis, ia berdiri. “Diskon! Belum apa-apa kalian mau minta murah. Maaf, aku tidak butuh teman seperti kalian, memang aku pemiliknya sekarang, tapi bukan berarti kalian bisa memanfaatkan kesempatan ini dan terus berpura-pura baik kepadaku, hanya untuk sebuah barang.” Tegas Yusi di kalimat terakhir sedikit menekan nada suaranya. Yusi berbalik badan, tangan kanan melambai, “Daaa.”
Yusi melangkah pergi meninggalkan 5 wanita tersebut. Sudut bibir bagian atasnya menaik, kedua matanya teringat tentang penghinaan dari 5 wanita tersebut yang sempat menghina dirinya akibat Ayahnya, yaitu Deni tiba-tiba sakit parah 1 tahun yang lalu, membuat semua para pengusaha dan pebisnis menghina Deni yang akan hancur dan bangkrut sebelum meninggal dunia. Dan 5 orang wanita tersebut adalah anak-anak dari pengusaha dan pebisnis yang mengenal Ayahnya yaitu Deni.
Melihat kepergian Yusi begitu saja, 5 orang wanita tersebut menatap suram Yusi yang sudah berjalan jauh di koridor sekolah.
“Ck. Awas saja kamu, Yusi.” Ucap wanita yang berambut pirang.
.
.
.
🍃Di kediaman rumah Deni dan Laras. 🍃
Laras dan Deni duduk di bangku taman belakang, menikmati matahari pagi. Udara sejuk terus menerpa baju Deni dan Laras, membuat rambut mereka yang mulai di penuhi rambut berwarna putih terbang mengikuti arah angin.
“Istriku.” Panggil Deni, tangan kanan memegang punggung tangan kanan Laras, tatapan serius ia alihkan pada istrinya yang tersenyum manis kepadanya.
“Iya, Mas.”
“Jika aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku berharap kamu akan hidup bahagia dengan seseorang yang bisa melindungi kamu sampai kamu menua.”
“Mas.”
“Aku suami yang payah, belum apa-apa aku sudah menyusahkan kamu.” Sambung Deni tanpa memberikan kesempatan Laras untuk berbicara. Deni menengadah wajahnya, kedua mata menatap awan biru. “Setelah semua kesulitan yang kita alami, aku sempat berjanji tidak akan pernah menyusahkan kamu lagi. Tapi, 1 tahun ini aku mengingkari janji itu. Aku terus membuat kamu menangis, merawat diriku, dan selalu menemani kemana pun aku ingin pergi.” Deni menundukkan pandangannya, tangan kanannya menggenggam erat punggung tangan kanan Laras, “Seharusnya aku yang menemani kamu, mengajak kamu berbelanja, membawa kamu SPA, membawa kamu….”
Air mata Laras lolos dengan mudahnya, kedua tangannya memeluk tubuh suaminya yang tampak kurus dan semakin lemah, wajahnya ia benamkan di dada suaminya, yaitu Deni. “Tidak. Aku tidak pernah keberatan dengan semua apa yang aku lakukan untuk kamu, Mas. Aku ikhlas, cintaku hanya untuk kamu, kekuatanku, senyumku, waktuku, tawaku, dan masakan 'ku. Semuanya aku lakukan untuk kamu, suamiku. Jangan pernah katakan kepadaku hal menyakitkan itu lagi, aku hanya ingin bersama kamu sampai maut memisahkan kita.” Laras menaikkan pandangannya, tatapan penuh cinta berselimut air mata memandang lekat wajah Deni yang terlihat bahagia. “Tunggu aku, tunggulah aku di sisi Allah. Aku hanya ingin menjadi bidadari Dunia dan Akhiratmu. Dan aku hanya ingin kamu menjadi Pangeran Dunia dan akhiratku.”
Prok!
Prok!!
Rabbani dan Azzam melangkah secara bersamaan menuju taman belakang, kedua tangan mereka serentak memberi tepuk tangan buat Ayah dan Ibunya, yaitu Deni dan Laras.
“Wah! Wah. Ada yang pacaran di sini.” Ucap Azzam, menatap Deni dan Laras yang terlihat malu.
Rabbani mengembangkan kedua tangannya, meletakkannya di atas bahu Deni dan Laras dari belakang. “Aku senang melihat Ayah dan Ibu seperti ini. Aku harap hanya maut yang dapat memisahkan kita semua.”
Dahi Azzam mengerut, tatapan suram memandang wajah Rabbani yang terletak di tengah-tengah wajah Deni dan Laras.
‘Ck. Lagi dan lagi dia mengambil posisi paling penting. Apa hebatnya hanya bisa berbicara seperti itu. Dasar tukang cari muka.’ Batin Azzam tidak senang.
Melihat sikap Rabbani yang baik dan memiliki tutur kata yang sopan, Azzam kurang menyukainya. Beda dengan Yusi, ia hanya iri melihat prestasi yang di miliki Rabbani. Membuat Rabbani selalu di agungkan di rumah, dan selalu di bandingkan dengan Yusi.
Kenapa ada keluarga seperti ini? Terlihat romantis dan perduli di depannya, tapi mempunyai banyak sisi ketidaksukaan di belakangnya. Ibarat seorang munafik, dia bisa menutupi ketidaksukaannya hanya karena dia masih ingin berteman dengan orang tersebut, dan masih membutuhkan bantuannya. Tapi sikap yang di miliki Azzam dan Yusi lebih dari munafik, karena mereka sedang merencanakan hal buruk buat Rabbani, yaitu saudaranya sendiri yang berusaha baik kepada mereka dan selalu ingin mencoba dekat dengan satu sama lain, meski kadang kebaikannya tidak pernah terlihat baik di mata kedua saudaranya.
...Bersambung........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Rini Antika
Aku salfok sama ice cream nya..🤭
2022-10-14
0
mei
lanjut
2022-08-02
1
~~N..M~~~
Perasaan hidup nih bocah biasa aja, tapi knpa dia terus ingin menyingkirkan musuh.
Penasaran sama nih bocah
2022-07-31
0