Bab 05. Pasrah

Azzam merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang empuk di dalam ruang karoke yang redup dengan lampu penuh warna. Kedua matanya menatap langit-langit redup yang berhias lampu penuh warna.

“Sudah sampai di sini, ucapan Ayah mengenai harta warisan masih belum bisa aku terima. Sangat menjengkelkan. Apa yang harus aku perbuat kepada mereka semua agar aku bisa mendapatkan harta yang lebih banyak lagi daripada mereka.” Keluh Azzam, Azzam meraih remot yang ada di atas meja, tangannya terus menekan-nekan tombol lagu, “Sangat membosankan.” Ucap Azzam, kedua mata perlahan terpejam.

Pintu ruangan perlahan terbuka, terlihat Clara masuk, kedua tangan memegang nampan kecil yang berisi 1 botol minuman bir, dan satu gelas kecil berisi es batu petak. Senyum manis mengarah pada Azzam yang masih terbaring di atas sofa panjang. Clara menghentikan kedua kakinya di depan meja, kedua tangan meletakkan nampan. Clara menunduk, tangan kanan menggoyangkan pelan lengan kiri Azzam, “Permisi.”

Merasakan goyangan pelan, kedua mata Azzam perlahan terbuka. Azzam segera duduk, tangan kanan menepuk bangku kosong yang ada di sisi kanan, “Duduk. Sajikan aku minuman.”

“Baik.” Sahut Clara. Clara duduk di samping Azzam, menyediakan minuman dan menyalakan lagu.

Azzam meneguk terus-menerus minuman yang selalu di sajikan Clara. Wajah Azzam mulai berubah, ia merangkul tubuh Clara dan mendekatkan ke wajah Clara.

“Kamu tahu tidak, hari ini Ayah baru saja membacakan surat warisan buat kami. Aku sebagai anak pertama hanya mendapatkan tanah seluas 30.000 Ha, dan perkebunan teh 27 koma berapa hektar gitu, aku lupa. Sedangkan adek aku! Sih, Rabbani itu mendapatkan Villa yang ada di Bandung, dan usaha Kolektor barang antik. Adil tidak seperti itu?” ucap dan tanya Azzam dalam keadaan setengah sadar.

‘Jadi pria ini sedang frustasi karena harta warisan, bukannya warisannya lebih besar dari adik keduanya. Dasar manusia SERAKAH.’ Batin Clara.

“Ma-maaf, menurut saya harta milik Anda lebih besar daripada milik adik Anda.” Sahut Clara dengan ragu-ragu.

Azzam memegang dagu Clara, tatapan suram mengarah pada Clara, “Memang benar, tapi harta itu masih kurang buatku.” Ucap Azzam menekan nada suaranya.

Wajah Clara mendadak berubah, panik dan takut menjadi satu menatap wajah Azzam. Clara ingin memberontak, tapi dirinya tidak bisa melakukan apa pun karena dirinya sedang bekerja.

“Buat aku senang malam ini.” Ucap Azzam, kedua tangannya merebahkan tubuh Clara.

Clara mendorong pelan bidang dada kekar milik Azzam, “Tu-tuan. Ja-jangan seperti ini, tugas saya hanya untuk menemani Anda, bukan yang lain.”

“Diam. Saya akan memberi lebih buat kamu.” Ucap Azzam, tangan kanan memegang kedua pergelangan tangan Clara, tangan kiri menyelinap masuk ke dalam rok span.

Clara memalingkan wajahnya ke sisi kanan, ia hanya diam saat tangan kiri Azzam mulai menjalari ke dalam bagian segitiga miliknya.

Semakin naik, hingga tangan Azzam mulai menjalar ke bagian sen-si-tive, dan sedikit bermain di sana.

“Tu-tuan. Anda….Akh!” Keluh Clara menggigit bibir bagian bawahnya.

“Saya akan memainkan dengan lembut.” Azzam membuka gesper miliknya, melepaskan segitiga milik Clara.

“Kenapa susah banget masuknya.” Keluh Azzam setengah sadar, rudal miliknya berusaha menembus gua sempit milik Clara.

“Sa-sakit.” Ucap Clara menahan perih pada bagian gua sempit, yang terus di terobos masuk.

Azzam masih terus berusaha masuk, hingga akhirnya rudal miliknya mendarat sempurna. Pinggul Azzam perlahan berayun, semakin lama semakin kuat.

.

.

.

🍃🍃Pukul 06:45 pagi. 🍃🍃

Di ruang makan.

Deni, Rabbani, Yusi, dan Laras sedang santap sarapan pagi. Laras terus mengarahkan pandanganya ke ruang Tv keluarga.

“Azzam kenapa belum turun, ya?” tanya Laras melihat Azzam yang biasanya sudah bangun dan berolah pagi kini belum memunculkan wajahnya.

“Abang Azzam pergi tadi malam.” Sahut Yusi, tangan kanan terus menciduk nasi goreng yang berada di dalam piringnya masuk ke dalam mulut.

“Kenapa tidak berpamitan kepada Ibu?”

Deni memegang pergelangan tangan kiri Laras, kepala menggeleng seperti ingin berkata ‘Sudah jangan di lanjutkan karena kita masih makan’.

Di tengah ketegangan karena membahas tentang Azzam. Terdengar suara Azzam dari Tv ruang keluarga.

“Pagi semua.”

Laras, Deni, Rabbani dan Yusi mengarahkan pandangannya ke arah Azzam yang berjalan cepat. Lengan tangan kiri terselip jaket miliknya. Azzam menghentikan langkahnya di samping Laras. Ciuman manis mendarat di kedua pipi Laras.

“Pagi Ibuku yang cantik dan selalu sabar.” Ucap Azzam merayu Ibunya.

“Kenapa kamu bau alkohol?” tanya Deni dengan tegas.

Azzam nyengir, tangan kanan menggaruk rambut bagian belakang yang tak gatal, “Maafkan Azzam, Ayah. Tadi malam Azzam kumpul dengan teman-teman, jadi teman-teman Azzam memaksa buat minum bersama mereka. Kalau tidak seperti itu, mereka tidak akan berteman dengan Azzam.” Sahut Azzam berbohong.

“Ada noda lipstik, dan seperti ada sedikit bercak darah di celana kamu.” Ucap Laras, jari telunjuk tangan kanan mengarah pada kemeja putih kotak-kotak milik Azzam, dan berakhir pada celana krem miliknya.

‘Sial. Karena tidak ada tisu, aku membersihkan jariku di celana. Tapi lumayan, dapat yang masih tersegel.’ Batin Azzam, kejadian tadi malam menari-nari di kedua kelopak matanya.

Yusi berdiri, “Yusi sudah selesai sarapan, dan mau berangkat pergi ke sekolah dulu.” Ucap Yusi memutus ketegangan yang terjadi.

“Biar Abang saja yang antar kamu.” Ucap Azzam menawarkan tumpangan kepada Yusi.

“Tidak. Lebih baik aku naik taksi online saja.” Sahut Yusi menolak tumpangan Azzam.

“Biar Abang saja yang mengantarkan Yusi berangkat ke sekolah. Tidak bagus anak gadis sering pergi naik taksi online sendirian, apa lagi sekarang musim pemerkosaan.” Sambung Rabbani.

Merasa tersindir dengan ucapan Rabbani, tatapan suram dan tajam Azzam mengarah pada Rabbani yang duduk di kursi tak jauh dari bangku Laras.

‘Apa dia tahu perbuatan 'ku tadi malam. Dasar tukang cari muka.’ Batin Azzam.

Yusi dan Rabbani menyalin punggung tangan kanan Deni dan Laras.

“Kami berangkat dulu.” Ucap Yusi dan Rabbani serentak.

“Hati-hati di jalan, nak.” Sahut Laras dan Deni secara bersamaan.

.

.

🍃🍃Di dalam mobil.🍃🍃

Karena jarang pergi bersama, Rabbani, dan Yusi sedikit kaku saat pergi bersama. Mulai keluar dari rumah sampai di pertengahan jalan menuju sekolah, Yusi dan Rabbani hanya saling diam. Sesekali Rabbani melirik adik kecilnya yang kini mulai tumbuh menjadi gadis dewasa.

“Yusi.” Panggil Rabbani, kedua tangan fokus di stir kemudi.

“Iya, bang.” Sahut Yusi menolehkan wajahnya menatap wajah Rabbani dari samping.

“Kalau Abang boleh bertanya, setelah tamat sekolah, kamu mau kuliah di mana?”

“Belum terpikirkan Bang, kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa, Abang hanya ingin melihat adik cantik Abang ini menjadi wanita sukses di kemudian harinya. Tentang biaya kuliah, biar Abang yang menanggungnya.”

“Serius?”

“Iya. Abang cuman punya satu adik perempuan, yaitu kamu. Bisnis yang Abang kelola di Jakarta juga sudah lumayan, jadi Abang akan bertanggung jawab penuh atas diri kamu sebagai seorang Abang.”

“Benarkah?” tanya Yusi semangat, kedua mata berbinar menatap wajah Rabbani dari samping.

Rabbani tersenyum manis, membuat jejeran gigi putih terlihat. Tangan kirinya membelai puncak kepala Yusi.

...Bersambung.......

Terpopuler

Comments

Dendry Den

Dendry Den

Karakter pria sepertinya saja sudah buat aku naik darah.

Thor, buat pemeran lebih jahat lagi, biar aku buang hp ini!😏😏

2022-08-28

1

Dendry Den

Dendry Den

Awas nanti kenak penyakit HIV kamu Azzam. Main celap-celup aja. Macam bubuk teh.

2022-08-28

1

mei

mei

hadeeh... Azzam Azzam 🤦

2022-08-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 01. Surat Warisan 1
2 Bab 02. Isi surat Warisan 2
3 Bab 03. Mengenang perjuangan
4 Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5 Bab 05. Pasrah
6 Bab 06. Hanya kamu.
7 Bab 07. Rumah Sakit
8 Bab 08. Sampai kapan?
9 Bab 09. Menghibur Istri orang.
10 Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11 Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12 Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13 Bab 13. TEROR 1
14 Bab 14. Aku akan menunggumu
15 Bab 15.
16 Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17 Bab 17. Pepet terus
18 Bab 18. Azzam di Labrak
19 Bab 19. Keluar kamu
20 Bab 20. Misi pertama Azzam
21 Bab 21. Perlahan tapi pasti
22 BAB 22. Pantulan Cermin
23 BAB 23. Rayuan Maut.
24 BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25 BAB 25. Main petak umpet di kamar
26 BAB 26. Hanya teman
27 BAB 27. Karena sakit hati
28 BAB 28. Pesan hangat
29 BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30 Bab 30. AKAL YUSI
31 BAB 31. KEKECEWAAN
32 BAB 32. RENCANA BARU
33 BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34 BAB 34. HALUSINASI
35 BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36 BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37 BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38 BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39 BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40 BAB 40. BERAKHIR
41 BAB 41. Gara-gara Clara
42 BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43 BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44 BAB 44. Hasrat Janda
45 BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46 BAB 46. Teru-Teru Buzo
47 BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48 BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49 BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50 BAB 50. Bukan Bulan Madu
51 BAB 51. Clara! wanita Malam
52 BAB 52. Jangan sampai aku!
53 BAB 53. Bantu aku, Clara
54 BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55 BAB 55. Curahan Hati
56 BAB 56. MABUK
57 BAB 57. Suruhan Rashi
58 BAB 58. Balasan buat Rashi
59 BAB 59. Kembali melamar
60 BAB 60. Menunggu Hari H
61 BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62 BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63 BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64 BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65 BAB 65. ITU HARAPANKU
66 BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67 BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68 BAB 68. SOSOK BERBULU
69 BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70 BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71 BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72 BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73 BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74 BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75 BAB 75. Arwah Clara
76 BAB 76. Kok mirip ya?
77 BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78 BAB 78. Di saat hujan petir
79 BAB 79. Berhentilah Anggun
80 BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81 BAB 81. Makanan
82 BAB 82. Aku sangat mencintai kamu
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 01. Surat Warisan 1
2
Bab 02. Isi surat Warisan 2
3
Bab 03. Mengenang perjuangan
4
Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5
Bab 05. Pasrah
6
Bab 06. Hanya kamu.
7
Bab 07. Rumah Sakit
8
Bab 08. Sampai kapan?
9
Bab 09. Menghibur Istri orang.
10
Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11
Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12
Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13
Bab 13. TEROR 1
14
Bab 14. Aku akan menunggumu
15
Bab 15.
16
Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17
Bab 17. Pepet terus
18
Bab 18. Azzam di Labrak
19
Bab 19. Keluar kamu
20
Bab 20. Misi pertama Azzam
21
Bab 21. Perlahan tapi pasti
22
BAB 22. Pantulan Cermin
23
BAB 23. Rayuan Maut.
24
BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25
BAB 25. Main petak umpet di kamar
26
BAB 26. Hanya teman
27
BAB 27. Karena sakit hati
28
BAB 28. Pesan hangat
29
BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30
Bab 30. AKAL YUSI
31
BAB 31. KEKECEWAAN
32
BAB 32. RENCANA BARU
33
BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34
BAB 34. HALUSINASI
35
BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36
BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37
BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38
BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39
BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40
BAB 40. BERAKHIR
41
BAB 41. Gara-gara Clara
42
BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43
BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44
BAB 44. Hasrat Janda
45
BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46
BAB 46. Teru-Teru Buzo
47
BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48
BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49
BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50
BAB 50. Bukan Bulan Madu
51
BAB 51. Clara! wanita Malam
52
BAB 52. Jangan sampai aku!
53
BAB 53. Bantu aku, Clara
54
BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55
BAB 55. Curahan Hati
56
BAB 56. MABUK
57
BAB 57. Suruhan Rashi
58
BAB 58. Balasan buat Rashi
59
BAB 59. Kembali melamar
60
BAB 60. Menunggu Hari H
61
BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62
BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63
BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64
BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65
BAB 65. ITU HARAPANKU
66
BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67
BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68
BAB 68. SOSOK BERBULU
69
BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70
BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71
BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72
BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73
BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74
BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75
BAB 75. Arwah Clara
76
BAB 76. Kok mirip ya?
77
BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78
BAB 78. Di saat hujan petir
79
BAB 79. Berhentilah Anggun
80
BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81
BAB 81. Makanan
82
BAB 82. Aku sangat mencintai kamu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!