Azzam merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang empuk di dalam ruang karoke yang redup dengan lampu penuh warna. Kedua matanya menatap langit-langit redup yang berhias lampu penuh warna.
“Sudah sampai di sini, ucapan Ayah mengenai harta warisan masih belum bisa aku terima. Sangat menjengkelkan. Apa yang harus aku perbuat kepada mereka semua agar aku bisa mendapatkan harta yang lebih banyak lagi daripada mereka.” Keluh Azzam, Azzam meraih remot yang ada di atas meja, tangannya terus menekan-nekan tombol lagu, “Sangat membosankan.” Ucap Azzam, kedua mata perlahan terpejam.
Pintu ruangan perlahan terbuka, terlihat Clara masuk, kedua tangan memegang nampan kecil yang berisi 1 botol minuman bir, dan satu gelas kecil berisi es batu petak. Senyum manis mengarah pada Azzam yang masih terbaring di atas sofa panjang. Clara menghentikan kedua kakinya di depan meja, kedua tangan meletakkan nampan. Clara menunduk, tangan kanan menggoyangkan pelan lengan kiri Azzam, “Permisi.”
Merasakan goyangan pelan, kedua mata Azzam perlahan terbuka. Azzam segera duduk, tangan kanan menepuk bangku kosong yang ada di sisi kanan, “Duduk. Sajikan aku minuman.”
“Baik.” Sahut Clara. Clara duduk di samping Azzam, menyediakan minuman dan menyalakan lagu.
Azzam meneguk terus-menerus minuman yang selalu di sajikan Clara. Wajah Azzam mulai berubah, ia merangkul tubuh Clara dan mendekatkan ke wajah Clara.
“Kamu tahu tidak, hari ini Ayah baru saja membacakan surat warisan buat kami. Aku sebagai anak pertama hanya mendapatkan tanah seluas 30.000 Ha, dan perkebunan teh 27 koma berapa hektar gitu, aku lupa. Sedangkan adek aku! Sih, Rabbani itu mendapatkan Villa yang ada di Bandung, dan usaha Kolektor barang antik. Adil tidak seperti itu?” ucap dan tanya Azzam dalam keadaan setengah sadar.
‘Jadi pria ini sedang frustasi karena harta warisan, bukannya warisannya lebih besar dari adik keduanya. Dasar manusia SERAKAH.’ Batin Clara.
“Ma-maaf, menurut saya harta milik Anda lebih besar daripada milik adik Anda.” Sahut Clara dengan ragu-ragu.
Azzam memegang dagu Clara, tatapan suram mengarah pada Clara, “Memang benar, tapi harta itu masih kurang buatku.” Ucap Azzam menekan nada suaranya.
Wajah Clara mendadak berubah, panik dan takut menjadi satu menatap wajah Azzam. Clara ingin memberontak, tapi dirinya tidak bisa melakukan apa pun karena dirinya sedang bekerja.
“Buat aku senang malam ini.” Ucap Azzam, kedua tangannya merebahkan tubuh Clara.
Clara mendorong pelan bidang dada kekar milik Azzam, “Tu-tuan. Ja-jangan seperti ini, tugas saya hanya untuk menemani Anda, bukan yang lain.”
“Diam. Saya akan memberi lebih buat kamu.” Ucap Azzam, tangan kanan memegang kedua pergelangan tangan Clara, tangan kiri menyelinap masuk ke dalam rok span.
Clara memalingkan wajahnya ke sisi kanan, ia hanya diam saat tangan kiri Azzam mulai menjalari ke dalam bagian segitiga miliknya.
Semakin naik, hingga tangan Azzam mulai menjalar ke bagian sen-si-tive, dan sedikit bermain di sana.
“Tu-tuan. Anda….Akh!” Keluh Clara menggigit bibir bagian bawahnya.
“Saya akan memainkan dengan lembut.” Azzam membuka gesper miliknya, melepaskan segitiga milik Clara.
“Kenapa susah banget masuknya.” Keluh Azzam setengah sadar, rudal miliknya berusaha menembus gua sempit milik Clara.
“Sa-sakit.” Ucap Clara menahan perih pada bagian gua sempit, yang terus di terobos masuk.
Azzam masih terus berusaha masuk, hingga akhirnya rudal miliknya mendarat sempurna. Pinggul Azzam perlahan berayun, semakin lama semakin kuat.
.
.
.
🍃🍃Pukul 06:45 pagi. 🍃🍃
Di ruang makan.
Deni, Rabbani, Yusi, dan Laras sedang santap sarapan pagi. Laras terus mengarahkan pandanganya ke ruang Tv keluarga.
“Azzam kenapa belum turun, ya?” tanya Laras melihat Azzam yang biasanya sudah bangun dan berolah pagi kini belum memunculkan wajahnya.
“Abang Azzam pergi tadi malam.” Sahut Yusi, tangan kanan terus menciduk nasi goreng yang berada di dalam piringnya masuk ke dalam mulut.
“Kenapa tidak berpamitan kepada Ibu?”
Deni memegang pergelangan tangan kiri Laras, kepala menggeleng seperti ingin berkata ‘Sudah jangan di lanjutkan karena kita masih makan’.
Di tengah ketegangan karena membahas tentang Azzam. Terdengar suara Azzam dari Tv ruang keluarga.
“Pagi semua.”
Laras, Deni, Rabbani dan Yusi mengarahkan pandangannya ke arah Azzam yang berjalan cepat. Lengan tangan kiri terselip jaket miliknya. Azzam menghentikan langkahnya di samping Laras. Ciuman manis mendarat di kedua pipi Laras.
“Pagi Ibuku yang cantik dan selalu sabar.” Ucap Azzam merayu Ibunya.
“Kenapa kamu bau alkohol?” tanya Deni dengan tegas.
Azzam nyengir, tangan kanan menggaruk rambut bagian belakang yang tak gatal, “Maafkan Azzam, Ayah. Tadi malam Azzam kumpul dengan teman-teman, jadi teman-teman Azzam memaksa buat minum bersama mereka. Kalau tidak seperti itu, mereka tidak akan berteman dengan Azzam.” Sahut Azzam berbohong.
“Ada noda lipstik, dan seperti ada sedikit bercak darah di celana kamu.” Ucap Laras, jari telunjuk tangan kanan mengarah pada kemeja putih kotak-kotak milik Azzam, dan berakhir pada celana krem miliknya.
‘Sial. Karena tidak ada tisu, aku membersihkan jariku di celana. Tapi lumayan, dapat yang masih tersegel.’ Batin Azzam, kejadian tadi malam menari-nari di kedua kelopak matanya.
Yusi berdiri, “Yusi sudah selesai sarapan, dan mau berangkat pergi ke sekolah dulu.” Ucap Yusi memutus ketegangan yang terjadi.
“Biar Abang saja yang antar kamu.” Ucap Azzam menawarkan tumpangan kepada Yusi.
“Tidak. Lebih baik aku naik taksi online saja.” Sahut Yusi menolak tumpangan Azzam.
“Biar Abang saja yang mengantarkan Yusi berangkat ke sekolah. Tidak bagus anak gadis sering pergi naik taksi online sendirian, apa lagi sekarang musim pemerkosaan.” Sambung Rabbani.
Merasa tersindir dengan ucapan Rabbani, tatapan suram dan tajam Azzam mengarah pada Rabbani yang duduk di kursi tak jauh dari bangku Laras.
‘Apa dia tahu perbuatan 'ku tadi malam. Dasar tukang cari muka.’ Batin Azzam.
Yusi dan Rabbani menyalin punggung tangan kanan Deni dan Laras.
“Kami berangkat dulu.” Ucap Yusi dan Rabbani serentak.
“Hati-hati di jalan, nak.” Sahut Laras dan Deni secara bersamaan.
.
.
🍃🍃Di dalam mobil.🍃🍃
Karena jarang pergi bersama, Rabbani, dan Yusi sedikit kaku saat pergi bersama. Mulai keluar dari rumah sampai di pertengahan jalan menuju sekolah, Yusi dan Rabbani hanya saling diam. Sesekali Rabbani melirik adik kecilnya yang kini mulai tumbuh menjadi gadis dewasa.
“Yusi.” Panggil Rabbani, kedua tangan fokus di stir kemudi.
“Iya, bang.” Sahut Yusi menolehkan wajahnya menatap wajah Rabbani dari samping.
“Kalau Abang boleh bertanya, setelah tamat sekolah, kamu mau kuliah di mana?”
“Belum terpikirkan Bang, kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa, Abang hanya ingin melihat adik cantik Abang ini menjadi wanita sukses di kemudian harinya. Tentang biaya kuliah, biar Abang yang menanggungnya.”
“Serius?”
“Iya. Abang cuman punya satu adik perempuan, yaitu kamu. Bisnis yang Abang kelola di Jakarta juga sudah lumayan, jadi Abang akan bertanggung jawab penuh atas diri kamu sebagai seorang Abang.”
“Benarkah?” tanya Yusi semangat, kedua mata berbinar menatap wajah Rabbani dari samping.
Rabbani tersenyum manis, membuat jejeran gigi putih terlihat. Tangan kirinya membelai puncak kepala Yusi.
...Bersambung.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Dendry Den
Karakter pria sepertinya saja sudah buat aku naik darah.
Thor, buat pemeran lebih jahat lagi, biar aku buang hp ini!😏😏
2022-08-28
1
Dendry Den
Awas nanti kenak penyakit HIV kamu Azzam. Main celap-celup aja. Macam bubuk teh.
2022-08-28
1
mei
hadeeh... Azzam Azzam 🤦
2022-08-02
1