Taksi online yang di tumpangi Yusi berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Sore itu setelah selesai melakukan pembayaran, Yusi memasukkan dompet miliknya ke dalam tas sling bag miliknya. Yusi berbalik badan, kedua kakinya melangkah menuju gerbang rumah. Sesampainya di dalam halaman rumah, kedua mata Yusi membesar, dan langkah kakinya pun terhenti.
“Ti-tidak mungkin.” Ucap Yusi saat melihat sekelebatan orang berjalan di koridor teras rumah mirip mendiang Ayahnya yaitu Deni. Yusi mengucek kedua kelopak matanya, ia memastikan kembali apakah benar itu arwah mirip mendiang Ayahnya. “HAA! Tidak ada.” Sambung Yusi kembali saat tidak bisa melihat bayangan mirip mendiang arwah Ayahnya. “Aku harus mengejarnya, aku sangat yakin jika ada seseorang yang sedang mengerjai diriku.” Gumam Yusi pelan, kedua kakinya berlari menuju koridor teras terhubung dengan samping rumah mereka.
“Ada apa dengan Yusi?” Tanya Laras sendiri dari balik taman bunga yang sedang tumbuh mekar. Ternyata dari tadi Laras sedang berada di taman bunga halaman depan tanpa diketahui Yusi. Kegiatan sehari-hari Laras di sore hari menyiram tanaman bunga yang di taman oleh anak pertamanya yaitu Azzam. Laras meletakkan dan mematikan selang air, kedua kakinya berjalan mengikuti langkah kaki Yusi. Laras menghentikan kedua kakinya saat melihat putrinya menunduk di teras belakang rumah, kedua tangan di letakkan di depan lututnya. Tangan kanan Laras di letakkan di atas bahu kanan Yusi. “Nak.”
“HAA!” Yusi yang terlihat lelah terkejut melihat kedatangan Laras, ia segera menepis tangan kanan Laras. Raut wajah Yusi terlihat pucat dan panik. “I-ibu.” Ucap Yusi dengan nafas berat.
“Kamu kenapa berlari?”
“Ti-tidak ada ‘Bu. Yusi berpikir tadi ada seseorang yang menyelinap masuk ke dalam rumah saat Yusi sedang tidak ada di rumah.” Sahut Yusi berbohong.
Laras menatap sekeliling taman bunga di halaman belakang, kedua mata Laras tidak melihat ada seorang pun yang datang. Laras hanya melihat kucing liar, burung-burung dan kupu-kupu yang singgah di taman belakang halaman rumah mereka.
“Mungkin kamu hanya kelelahan, dari tadi Ibu di rumah tidak melihat siapapun.” Ucap Laras menepis adanya kedatangan orang lain di rumahnya kecuali, mereka berdua. Laras meletakkan tangan kananya di bahu kiri Yusi. “Sebaiknya kamu segera mandi agar tubuh kamu terasa lebih segar lagi.”
“Tapi ‘Bu!”
“Sudah, mari masuk.” Ajak Laras menggandeng tangan kanan putrinya dan membawa Yusi masuk ke dalam rumah dari pintu belakang.
‘Sial. Kenapa harus aku saja yang bisa melihat arwah mirip dengan mendiang Ayah. Awas saja jika aku bertemu kembali dengan arwah tersebut. Aku pastikan dirinya tidak akan kembali ke Neraka.’ Batin Yusi.
Begitu sampai di ruang tamu, Yusi pamit kepada Laras untuk mandi. Sedangkan Laras membuat menu makan malam buat mereka berdua.
“Hari ini sangat melelahkan, kalau saja aku tidak ingin mengambil hati kepada Abang Rabbani agar hidupku ke depannya lebih bagus lagi, mungkin aku tidak akan mau disuruhnya untuk melakukan les tambahan setelah pulang sekolah.” Gerutu Yusi, kedua kaki melangkah perlahan naik ke atas anak tangga. Betapa terkejutnya Yusi saat kedua kakinya sampai di depan pintu kamar miliknya. Kedua matanya membulat sempurna melihat botol obat Herbal milik mendiang Ayahnya terletak di depan pintu kamarnya. “Ck. Berani sekali dirinya mengerjai diriku.” Yusi menundukkan tubuhnya, tangan kanan hendak meraih botol obat herbal. Namun sayang, botol obat herbal nya menghilang secara misterius. Yusi menjadi panik, tatapan liar berselimut ketakutan ia arahkan ke koridor lantai dua yang terhubung dengan kamarnya, Azzam dan kamar Rabbani. Tangan kanannya dengan cepat membuka pintu kamar, dan masuk. Yusi menyandarkan badannya di pintu kamar, wajah mendongak dengan kedua mata terpejam. “Haaa!! Kenapa jadi seperti ini?”
“Sudah pulang Nak?” Tanya seorang pria tanpa wujud, suara mirip mendiang Ayahnya.
“Siapa kamu?” Tanya Yusi kembali kepada suara tanpa wujud. Tatapan liar mengarah ke sekeliling kamar. “Keluar.” Ucap Yusi meninggikan nada suaranya.
Bam!!!
Swiissshhh!!!!
Mendadak angin kencang masuk membuka paksa daun pintu jendela kamar, menerbangkan kain gorden bunga-bunga berwarna ungu tua. Antara ketakutan, penasaran, dan cemas menjadi satu. Yusi perlahan melangkahkan kedua kakinya mendekati kain gorden bunga-bunga berwarna ungu tua.
“Tidak biasanya angin sore sekencang ini.” Ucap Yusi, kedua tangan menarik kembali daun jendela kamar yang terbuka lebar. Kedua mata Yusi kembali membulat sempurna saat melihat pemandangan dari kamarnya yang terhubung langsung ke taman belakang. Pemandangan itu adalah seorang pria mirip dengan mendiang Ayahnya yaitu Deni, duduk di kursi roda yang jelas-jelas kursi rodanya sudah diberikan ke rumah sakit. “Ti-tidak mungkin.” Yusi segera mengunci daun jendela, menutup rapat-rapat kain gordennya. Yusi menepuk kedua pipinya. “Sadar Yusi, mungkin ini efek kelelahan yang kamu rasakan.” Ucap Yusi menyingkirkan pikiran aneh yang sedang menguasai dirinya.
.
.
💫💫1 jam kemudian 💫💫
Yusi dan Laras sedang menikmati santap makan malam. Terlihat ada 3 bangku yang kosong, bangku tersebut adalah bangku milik mendiang Ayah yaitu Deni, Azzam dan Rabbani yang kini sudah sibuk di dunia Bisnis mereka masing-masing.
Yusi merasa lelah dengan semua teror yang beberapa hari ini menghantui dirinya. Tatapan Yusi terus mengarah pada bangku utama, bangku milik mendiang Deni. Tatapan itu membuat Laras heran. Laras merasa heran semenjak suaminya meninggal dunia, Yusi terlihat berbeda, seperti ada yang sedang di sembunyikan dari putrinya itu.
Laras mengulurkan tangan kanannya, dan melambai. “Yusi! Kamu kenapa terus memandang kursi milik mendiang Ayah?”
“Eh.” Yusi menarik pandangannya, memberi senyum manis kepada Laras. “Yusi berpikir jika Ayah masih terus menemani kita.” Ucap Yusi sengaja berkata seperti itu karena dirinya ingin tahu kebenaran yang asli jika Deni beneran sudah meninggal atau kematiannya di palsukan hanya untuk membuka kedok Yusi.
Laras meletakkan sendok dan garpu di samping piringnya. Laras menarik nafas panjang, pandangan mengarah ke kursi utama. “Tadinya Ibu juga berpikir seperti itu, Ibu seperti tidak menerima kenyataan jika Ayah kalian sudah meninggalkan Ibu untuk selamanya. Tapi Ibu sadar, Ibu sadar jika semua keputusan Allah itu baik. Allah lebih sayang kepada Ayah daripada kita, jadi Allah mencabut rasa sakit yang selama ini Ayah rasakan dengan cara mengambil Ayah dari kita untuk selamanya.”
‘Tuh 'kan benar, mana mungkin Ayah bisa kembali lagi setelah aku membeli ramuan herbal yang di racik buat Ayah tertidur untuk selamanya. Berarti semua yang aku lihat itu adalah efek kelelahan. Tapi jika memang benar itu efek gangguan SETAN, aku harus segera mencari dukun sakti buat memberikan aku tanggal agar aku terhindar dari gangguan SETAN tersebut. Tapi dimana aku bisa mencari dukun sakti buat memberikan aku jimat?’ Batin Yusi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
~~N..M~~~
Yusi seperti manusia berkepribadian banyak. Tapi aku suka lihat dirinya sedikit menderita thor.
2022-08-08
0
mei
makin sesat yusi 🤦
2022-08-08
0