Tatapan serius ia alihkan ke masing-masing wajah anak-anaknya yang terlihat serius dan tegang. Laras menarik tatapannya, ia mulai menurutkan pandangannya menatap surat warisan yang berada di hadapannya. Baru saja melihat isi surat warisan yang di buat oleh suaminya, Laras membulatkan kedua matanya dengan sempurna.
‘Apa Mas Deni tidak salah memberi surat warisan? Kenapa di sini surat warisan Rabbani lebih besar ketimbang surat warisan Azzam. Bukankah anak pertama seharusnya memiliki harta yang lebih besar dari anak kedua dan ketiga. Sebaiknya aku tanyakan perihal ini kepada Mas Deni.’ Batin Laras. Ia mengalihkan pandangan keliru ke wajah suaminya yang sedang tersenyum kepadanya.
“Mas.”
“Aku sudah tahu, pasti kamu ingin bertanya perihal surat warisan yang aku buat, ‘kan?” sambung Deni menyela ucapan Laras.
Laras mengalihkan pandangan bingung kepada Rabbani, Azzam dan Yusi. Tangan kanan yang masih memegang kertas dan amplop coklat ia genggam sangat erat.
“Ada apa Bu?” tanya Yusi.
“Iya, apakah isi surat itu tidak benar?” tanya Azzam.
“Jika tidak memungkinkan untuk membaca suratnya, sebaiknya tidak perlu di baca 'Bu. Aku juga tidak perduli mengenai surat warisan yang akan Ayah berikan kepadaku.”
Azzam, dan Yusi menatap tajam Rabbani, sudut bibir mereka bergerak seperti sedang menahan amarah, kedua tangan yang di letakkan di bawah meja mereka kepal dengan erat.
‘Ck. Masih bisa dia berbicara santai seperti itu di depan Ayah dan Ibu. Awas saja kamu, Rabbani.’ Gerutu Azzam di dalam hati.
‘Dasar, sih tukang cari muka. Aku sangat yakin jika warisan miliknya pasti lebih besar dari kami. Terlihat dari raut wajahnya. Awas saja kamu, Abang Rabbani.’ Gerutu Yusi di dalam hati.
Laras mengalihkan pandangannya ke kumpulan kertas berwarna putih yang berada di genggaman tangan kanannya. Sebelum membaca surat warisan, ia terus menarik nafas panjang sebanyak 2 kali.
“Istriku, cepat bacakan. Nanti aku akan menjelaskan kepada anak-anak kita.” Ucap Deni memberi perintah sekali lagi pada Laras.
Laras mengangguk, kedua tangannya mulai mendekatkan surat warisan ke hadapannya. Laras pun mulai membaca isi dari surat warisan tersebut.
...****************...
...ISI SURAT WARISAN DARI DENI....
“Anak-anakku yang tercinta, Azzam, Rabbani dan Yusi. Kalian bertiga adalah permata dan berlian yang pernah mengisi semangat hari-hariku yang sempat gundah dan terpuruk. Bukan hanya kalian bertiga, aku juga sangat bersyukur karena Allah mengirimkan aku bidadari dunianya kepadaku. Bidadari duniaku adalah Ibu kalian bertiga, yaitu Laras.
Istriku, dan anak-anakku yang tercinta. Jika surat wasiat ini sudah di bacakan, berarti hidupku sudah tidak akan lama lagi. Maafkan Ayah tidak bisa selalu menemani kalian sampai memiliki keturunan, istri dan suami buat pelindung hidup kalian.
Buat istriku tercinta, maafkan aku.
Surat warisan buat Azzam
Buat Azzam anakku, Ayah sudah memberikan kamu tanah seluas 30.000 Ha, dan perkebunan yang ada di kota “B” seluas 25. 740 Ha.
Surat warisan buat Rabbani
Buat Rabbani anakku, Ayah sudah memberikan kamu Villa beserta tanahnya seluas 35.000 Ha, dan usaha Ayah sebagai seorang kolektor barang antik sudah Ayah alihkan ke kamu, di kota Bandung.
Surat warisan buat Yusi
Buat Yusi anakku tersayang, karena kamu adalah anak perempuan. Ayah tidak bisa memberikan kamu banyak warisan karena suatu saat kamu pasti akan ikut pergi bersama suami kamu. Tapi Ayah sudah memberikan kamu warisan tanah seluas 25.000 Ha yang ada di pinggiran kota “M” dan 1 pusat perbelanjaan yang terbesar yang ada di kota "M".
Ayah harap kalian semua bisa merasa puas dengan keputusan Ayah.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Laras menarik nafas dalam-dalam, ia menatap wajah suaminya yang tersenyum manis memandang anak-anaknya.
“Terimakasih istriku, kamu sudah bersedia membacakan semua isi surat warisan yang sudah aku buat. Sekarang silahkan kamu bagikan kepada anak-anak kita, suruh mereka tanda tangan.” Ucap Deni memberi perintah kepada Laras untuk membagikan surat warisan yang sudah dibuatnya kepada masing-masing anaknya.
Braak!
Azzam berdiri, tangan kanannya dengan kuat menggebrak meja makan, tatapan suram mengarah pada Deni.
“Kenapa Ayah tidak membagikan surat itu dengan adil?” Azzam menepuk dadanya, “Kenapa tidak Azzam saja yang melanjutkan bisnis usaha kolektor Ayah.” Azzam mengarahkan jari telunjuknya ke arah Rabbani, “Kenapa harus anak itu, anak yang selalu suka cari muka kepada Ayah.”
Laras menghempaskan amplop coklat dan surat warisan di atas meja. Kedua kaki Laras terus melangkah mendekati Azzam. Tangan kanan Laras dengan cepat menaik.
Plaak!!!
Laras mendaratkan tamparan keras ke pipi kanan Azzam, “Berani sekali kamu meninggikan nada suara seperti itu kepada Ayah kamu, Azzam.”
“Ibu.”
“Cukup Ibu.” Ucap Rabbani berusaha menahan kedua tangan Laras seperti hendak melayangkan tamparan kembali pada Azzam.
Azzam mendorong bidang dada kekar milik Rabbani, “Alah! Jangan sok baik kamu. Bukannya kamu senang mendapatkan ini semua.”
“Bang. Aku tidak seperti itu, jika kamu ingin bertukar surat denganku, aku bersedia kok. Lagian aku juga sudah memiliki usaha yang ada di Jakarta, meski itu hanya usaha kecil-kecilan.” Sahut Rabbani. Rabbani melepaskan kedua tangannya, ia berbalik badan, kedua kakinya melangkah menuju surat warisan yang terletak di tengah meja.
“Stop.” Ucap Deni meninggikan nada suaranya yang sedikit serak. Deni mengarahkan tatapannya kepada Azzam.
“Azzam. Jika di hitung sekali lagi dengan pengacara, surat tanah kamu dan usaha yang Ayah berikan tetap lebih besar milik kamu. Ayah sengaja membagi seperti itu karena tidak semua daerah dan kota bisa memiliki usaha yang kalian inginkan. Semua usaha itu sudah Ayah teliti. Ayah juga tahu mana yang cocok buat kalian pegang dan mana yang tidak. Jadi Ayah harap keputusan surat warisan ini sudah berlaku adil, kalian tinggal melanjutkan apa yang sudah Ayah kerjakan. Hanya satu pintaku, jangan buat apa yang sudah Ayah gapai dengan susah payah berakhir tragis.”
“Ta-tapi Ayah, Azzam ingin menjadi kolektor barang antik dan yang lainnya seperti Ayah.” Sambung Azzam memberontak ucapan Deni.
“Azzam. Kamu tidak cocok memegang usaha itu, kedua tangan kamu hanya cocok untuk berkebun. Ayah sangat senang sewaktu kamu sedang menanam bunga yang indah di taman rumah kita. Bukannya kamu sudah merasakan betapa hebatnya kedua tangan kamu yang ahli dalam berkebun. Ayah yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi pengusaha teh dan lainnya yang cukup terkenal.”
“Kalau Yusi! Kenapa Yusi hanya mendapatkan warisan paling sedikit? Tidakkah Ayah kasihan kepada Yusi jika suatu hari nanti Yusi hanya tinggal dan memiliki usaha seperti itu.” Sambung Yusi.
Deni mengalihkan kedua matanya menatap wajah Yusi yang sedang cemberut. Bibir yang putih seperti di beri beda mengulas senyum manis melihat anak bungsunya cemberut seperti anak kecil. “Putriku. Kamu sekarang baru berusia 16 tahun, masa depan kamu masih panjang. Ayah sengaja membuat usaha seperti itu karena kamu adalah seorang wanita yang terlihat cantik dan pintar memilih barang bagus sejak kamu berusia 1 tahun. Ayah harap suatu hari nanti kamu akan mendapatkan suami yang lebih baik, kaya, mapan dan pekerja keras.” Sahut Deni dengan santai, kedua matanya perlahan menatap Laras, Azzam, dan Rabbani. Sejenak ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengarahkan tatapan serius kepada anak-anaknya, “Aku berharap usaha yang sudah aku rintis belasan tahun akan berkembang pesat di kedua tangan kalian, anak-anakku.”
“Ayah, aku tidak masalah jika aku tidak mendapatkan warisan. Warisan milikku biar aku berikan kepada Abang Azzam saja. Sedangkan aku biar mengurus usahaku sendiri yang ada di kota Jakarta.” Ucap Rabbani. Ia sengaja berkata seperti itu karena dirinya tidak ingin berkelahi dengan saudara kandung hanya karena harta warisan. Karena harta bisa di cari, tapi saudara kandung tidak bisa di cari.
Deni memainkan kedua tangannya memutar roda kursinya, kepalanya menggeleng, “Jangan kecewakan Ayah, Rabbani.”
Melihat Deni mendorong kursi rodanya sendiri dengan kedua tangannya, Laras segera berlari mendekati Deni. “Mas. Berhenti di situ.” Ucap Laras berusaha menghentikan suaminya yang terlihat susah mendorong kursi roda dengan kedua tangan yang menggerakkan roda kursi duduk.
“Kamu memang bidadari duniaku.”
...Bersambung ......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
gak di kehidupan nyata dan novel, warisan memang meresahkan
2022-11-23
0
Ana Yulia
harta dapat memberi kesenangan kebahagiaan, tpi juga dapat membawa malapetaka dan kehancuran....
2022-09-06
0
Rini Antika
Aku hadir Kak..👋👋
2022-08-14
0