Bab 02. Isi surat Warisan 2

Tatapan serius ia alihkan ke masing-masing wajah anak-anaknya yang terlihat serius dan tegang. Laras menarik tatapannya, ia mulai menurutkan pandangannya menatap surat warisan yang berada di hadapannya. Baru saja melihat isi surat warisan yang di buat oleh suaminya, Laras membulatkan kedua matanya dengan sempurna.

‘Apa Mas Deni tidak salah memberi surat warisan? Kenapa di sini surat warisan Rabbani lebih besar ketimbang surat warisan Azzam. Bukankah anak pertama seharusnya memiliki harta yang lebih besar dari anak kedua dan ketiga. Sebaiknya aku tanyakan perihal ini kepada Mas Deni.’ Batin Laras. Ia mengalihkan pandangan keliru ke wajah suaminya yang sedang tersenyum kepadanya.

“Mas.”

“Aku sudah tahu, pasti kamu ingin bertanya perihal surat warisan yang aku buat, ‘kan?” sambung Deni menyela ucapan Laras.

Laras mengalihkan pandangan bingung kepada Rabbani, Azzam dan Yusi. Tangan kanan yang masih memegang kertas dan amplop coklat ia genggam sangat erat.

“Ada apa Bu?” tanya Yusi.

“Iya, apakah isi surat itu tidak benar?” tanya Azzam.

“Jika tidak memungkinkan untuk membaca suratnya, sebaiknya tidak perlu di baca 'Bu. Aku juga tidak perduli mengenai surat warisan yang akan Ayah berikan kepadaku.”

Azzam, dan Yusi menatap tajam Rabbani, sudut bibir mereka bergerak seperti sedang menahan amarah, kedua tangan yang di letakkan di bawah meja mereka kepal dengan erat.

‘Ck. Masih bisa dia berbicara santai seperti itu di depan Ayah dan Ibu. Awas saja kamu, Rabbani.’ Gerutu Azzam di dalam hati.

‘Dasar, sih tukang cari muka. Aku sangat yakin jika warisan miliknya pasti lebih besar dari kami. Terlihat dari raut wajahnya. Awas saja kamu, Abang Rabbani.’ Gerutu Yusi di dalam hati.

Laras mengalihkan pandangannya ke kumpulan kertas berwarna putih yang berada di genggaman tangan kanannya. Sebelum membaca surat warisan, ia terus menarik nafas panjang sebanyak 2 kali.

“Istriku, cepat bacakan. Nanti aku akan menjelaskan kepada anak-anak kita.” Ucap Deni memberi perintah sekali lagi pada Laras.

Laras mengangguk, kedua tangannya mulai mendekatkan surat warisan ke hadapannya. Laras pun mulai membaca isi dari surat warisan tersebut.

...****************...

...ISI SURAT WARISAN DARI DENI....

“Anak-anakku yang tercinta, Azzam, Rabbani dan Yusi. Kalian bertiga adalah permata dan berlian yang pernah mengisi semangat hari-hariku yang sempat gundah dan terpuruk. Bukan hanya kalian bertiga, aku juga sangat bersyukur karena Allah mengirimkan aku bidadari dunianya kepadaku. Bidadari duniaku adalah Ibu kalian bertiga, yaitu Laras.

Istriku, dan anak-anakku yang tercinta. Jika surat wasiat ini sudah di bacakan, berarti hidupku sudah tidak akan lama lagi. Maafkan Ayah tidak bisa selalu menemani kalian sampai memiliki keturunan, istri dan suami buat pelindung hidup kalian.

Buat istriku tercinta, maafkan aku.

Surat warisan buat Azzam

Buat Azzam anakku, Ayah sudah memberikan kamu tanah seluas 30.000 Ha, dan perkebunan yang ada di kota “B” seluas 25. 740 Ha.

Surat warisan buat Rabbani

Buat Rabbani anakku, Ayah sudah memberikan kamu Villa beserta tanahnya seluas 35.000 Ha, dan usaha Ayah sebagai seorang kolektor barang antik sudah Ayah alihkan ke kamu, di kota Bandung.

Surat warisan buat Yusi

Buat Yusi anakku tersayang, karena kamu adalah anak perempuan. Ayah tidak bisa memberikan kamu banyak warisan karena suatu saat kamu pasti akan ikut pergi bersama suami kamu. Tapi Ayah sudah memberikan kamu warisan tanah seluas 25.000 Ha yang ada di pinggiran kota “M” dan 1 pusat perbelanjaan yang terbesar yang ada di kota "M".

Ayah harap kalian semua bisa merasa puas dengan keputusan Ayah.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Laras menarik nafas dalam-dalam, ia menatap wajah suaminya yang tersenyum manis memandang anak-anaknya.

“Terimakasih istriku, kamu sudah bersedia membacakan semua isi surat warisan yang sudah aku buat. Sekarang silahkan kamu bagikan kepada anak-anak kita, suruh mereka tanda tangan.” Ucap Deni memberi perintah kepada Laras untuk membagikan surat warisan yang sudah dibuatnya kepada masing-masing anaknya.

Braak!

Azzam berdiri, tangan kanannya dengan kuat menggebrak meja makan, tatapan suram mengarah pada Deni.

“Kenapa Ayah tidak membagikan surat itu dengan adil?” Azzam menepuk dadanya, “Kenapa tidak Azzam saja yang melanjutkan bisnis usaha kolektor Ayah.” Azzam mengarahkan jari telunjuknya ke arah Rabbani, “Kenapa harus anak itu, anak yang selalu suka cari muka kepada Ayah.”

Laras menghempaskan amplop coklat dan surat warisan di atas meja. Kedua kaki Laras terus melangkah mendekati Azzam. Tangan kanan Laras dengan cepat menaik.

Plaak!!!

Laras mendaratkan tamparan keras ke pipi kanan Azzam, “Berani sekali kamu meninggikan nada suara seperti itu kepada Ayah kamu, Azzam.”

“Ibu.”

“Cukup Ibu.” Ucap Rabbani berusaha menahan kedua tangan Laras seperti hendak melayangkan tamparan kembali pada Azzam.

Azzam mendorong bidang dada kekar milik Rabbani, “Alah! Jangan sok baik kamu. Bukannya kamu senang mendapatkan ini semua.”

“Bang. Aku tidak seperti itu, jika kamu ingin bertukar surat denganku, aku bersedia kok. Lagian aku juga sudah memiliki usaha yang ada di Jakarta, meski itu hanya usaha kecil-kecilan.” Sahut Rabbani. Rabbani melepaskan kedua tangannya, ia berbalik badan, kedua kakinya melangkah menuju surat warisan yang terletak di tengah meja.

“Stop.” Ucap Deni meninggikan nada suaranya yang sedikit serak. Deni mengarahkan tatapannya kepada Azzam.

“Azzam. Jika di hitung sekali lagi dengan pengacara, surat tanah kamu dan usaha yang Ayah berikan tetap lebih besar milik kamu. Ayah sengaja membagi seperti itu karena tidak semua daerah dan kota bisa memiliki usaha yang kalian inginkan. Semua usaha itu sudah Ayah teliti. Ayah juga tahu mana yang cocok buat kalian pegang dan mana yang tidak. Jadi Ayah harap keputusan surat warisan ini sudah berlaku adil, kalian tinggal melanjutkan apa yang sudah Ayah kerjakan. Hanya satu pintaku, jangan buat apa yang sudah Ayah gapai dengan susah payah berakhir tragis.”

“Ta-tapi Ayah, Azzam ingin menjadi kolektor barang antik dan yang lainnya seperti Ayah.” Sambung Azzam memberontak ucapan Deni.

“Azzam. Kamu tidak cocok memegang usaha itu, kedua tangan kamu hanya cocok untuk berkebun. Ayah sangat senang sewaktu kamu sedang menanam bunga yang indah di taman rumah kita. Bukannya kamu sudah merasakan betapa hebatnya kedua tangan kamu yang ahli dalam berkebun. Ayah yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi pengusaha teh dan lainnya yang cukup terkenal.”

“Kalau Yusi! Kenapa Yusi hanya mendapatkan warisan paling sedikit? Tidakkah Ayah kasihan kepada Yusi jika suatu hari nanti Yusi hanya tinggal dan memiliki usaha seperti itu.” Sambung Yusi.

Deni mengalihkan kedua matanya menatap wajah Yusi yang sedang cemberut. Bibir yang putih seperti di beri beda mengulas senyum manis melihat anak bungsunya cemberut seperti anak kecil. “Putriku. Kamu sekarang baru berusia 16 tahun, masa depan kamu masih panjang. Ayah sengaja membuat usaha seperti itu karena kamu adalah seorang wanita yang terlihat cantik dan pintar memilih barang bagus sejak kamu berusia 1 tahun. Ayah harap suatu hari nanti kamu akan mendapatkan suami yang lebih baik, kaya, mapan dan pekerja keras.” Sahut Deni dengan santai, kedua matanya perlahan menatap Laras, Azzam, dan Rabbani. Sejenak ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengarahkan tatapan serius kepada anak-anaknya, “Aku berharap usaha yang sudah aku rintis belasan tahun akan berkembang pesat di kedua tangan kalian, anak-anakku.”

“Ayah, aku tidak masalah jika aku tidak mendapatkan warisan. Warisan milikku biar aku berikan kepada Abang Azzam saja. Sedangkan aku biar mengurus usahaku sendiri yang ada di kota Jakarta.” Ucap Rabbani. Ia sengaja berkata seperti itu karena dirinya tidak ingin berkelahi dengan saudara kandung hanya karena harta warisan. Karena harta bisa di cari, tapi saudara kandung tidak bisa di cari.

Deni memainkan kedua tangannya memutar roda kursinya, kepalanya menggeleng, “Jangan kecewakan Ayah, Rabbani.”

Melihat Deni mendorong kursi rodanya sendiri dengan kedua tangannya, Laras segera berlari mendekati Deni. “Mas. Berhenti di situ.” Ucap Laras berusaha menghentikan suaminya yang terlihat susah mendorong kursi roda dengan kedua tangan yang menggerakkan roda kursi duduk.

“Kamu memang bidadari duniaku.”

...Bersambung ......

Terpopuler

Comments

💞Amie🍂🍃

💞Amie🍂🍃

gak di kehidupan nyata dan novel, warisan memang meresahkan

2022-11-23

0

Ana Yulia

Ana Yulia

harta dapat memberi kesenangan kebahagiaan, tpi juga dapat membawa malapetaka dan kehancuran....

2022-09-06

0

Rini Antika

Rini Antika

Aku hadir Kak..👋👋

2022-08-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 01. Surat Warisan 1
2 Bab 02. Isi surat Warisan 2
3 Bab 03. Mengenang perjuangan
4 Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5 Bab 05. Pasrah
6 Bab 06. Hanya kamu.
7 Bab 07. Rumah Sakit
8 Bab 08. Sampai kapan?
9 Bab 09. Menghibur Istri orang.
10 Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11 Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12 Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13 Bab 13. TEROR 1
14 Bab 14. Aku akan menunggumu
15 Bab 15.
16 Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17 Bab 17. Pepet terus
18 Bab 18. Azzam di Labrak
19 Bab 19. Keluar kamu
20 Bab 20. Misi pertama Azzam
21 Bab 21. Perlahan tapi pasti
22 BAB 22. Pantulan Cermin
23 BAB 23. Rayuan Maut.
24 BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25 BAB 25. Main petak umpet di kamar
26 BAB 26. Hanya teman
27 BAB 27. Karena sakit hati
28 BAB 28. Pesan hangat
29 BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30 Bab 30. AKAL YUSI
31 BAB 31. KEKECEWAAN
32 BAB 32. RENCANA BARU
33 BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34 BAB 34. HALUSINASI
35 BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36 BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37 BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38 BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39 BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40 BAB 40. BERAKHIR
41 BAB 41. Gara-gara Clara
42 BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43 BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44 BAB 44. Hasrat Janda
45 BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46 BAB 46. Teru-Teru Buzo
47 BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48 BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49 BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50 BAB 50. Bukan Bulan Madu
51 BAB 51. Clara! wanita Malam
52 BAB 52. Jangan sampai aku!
53 BAB 53. Bantu aku, Clara
54 BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55 BAB 55. Curahan Hati
56 BAB 56. MABUK
57 BAB 57. Suruhan Rashi
58 BAB 58. Balasan buat Rashi
59 BAB 59. Kembali melamar
60 BAB 60. Menunggu Hari H
61 BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62 BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63 BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64 BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65 BAB 65. ITU HARAPANKU
66 BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67 BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68 BAB 68. SOSOK BERBULU
69 BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70 BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71 BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72 BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73 BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74 BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75 BAB 75. Arwah Clara
76 BAB 76. Kok mirip ya?
77 BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78 BAB 78. Di saat hujan petir
79 BAB 79. Berhentilah Anggun
80 BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81 BAB 81. Makanan
82 BAB 82. Aku sangat mencintai kamu
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 01. Surat Warisan 1
2
Bab 02. Isi surat Warisan 2
3
Bab 03. Mengenang perjuangan
4
Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5
Bab 05. Pasrah
6
Bab 06. Hanya kamu.
7
Bab 07. Rumah Sakit
8
Bab 08. Sampai kapan?
9
Bab 09. Menghibur Istri orang.
10
Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11
Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12
Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13
Bab 13. TEROR 1
14
Bab 14. Aku akan menunggumu
15
Bab 15.
16
Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17
Bab 17. Pepet terus
18
Bab 18. Azzam di Labrak
19
Bab 19. Keluar kamu
20
Bab 20. Misi pertama Azzam
21
Bab 21. Perlahan tapi pasti
22
BAB 22. Pantulan Cermin
23
BAB 23. Rayuan Maut.
24
BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25
BAB 25. Main petak umpet di kamar
26
BAB 26. Hanya teman
27
BAB 27. Karena sakit hati
28
BAB 28. Pesan hangat
29
BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30
Bab 30. AKAL YUSI
31
BAB 31. KEKECEWAAN
32
BAB 32. RENCANA BARU
33
BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34
BAB 34. HALUSINASI
35
BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36
BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37
BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38
BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39
BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40
BAB 40. BERAKHIR
41
BAB 41. Gara-gara Clara
42
BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43
BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44
BAB 44. Hasrat Janda
45
BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46
BAB 46. Teru-Teru Buzo
47
BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48
BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49
BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50
BAB 50. Bukan Bulan Madu
51
BAB 51. Clara! wanita Malam
52
BAB 52. Jangan sampai aku!
53
BAB 53. Bantu aku, Clara
54
BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55
BAB 55. Curahan Hati
56
BAB 56. MABUK
57
BAB 57. Suruhan Rashi
58
BAB 58. Balasan buat Rashi
59
BAB 59. Kembali melamar
60
BAB 60. Menunggu Hari H
61
BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62
BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63
BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64
BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65
BAB 65. ITU HARAPANKU
66
BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67
BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68
BAB 68. SOSOK BERBULU
69
BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70
BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71
BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72
BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73
BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74
BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75
BAB 75. Arwah Clara
76
BAB 76. Kok mirip ya?
77
BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78
BAB 78. Di saat hujan petir
79
BAB 79. Berhentilah Anggun
80
BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81
BAB 81. Makanan
82
BAB 82. Aku sangat mencintai kamu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!