...Ilustrasi kamar redup...
“I-ibu, A-abang Azzam, A-abang Rabbani. Kenapa kalian semua melihat Yusi seperti itu?” Tanya Yusi kepada Ibu, dan kedua Abangnya yang sedang berdiri di depan ranjang seperti milik ranjang mendiang Deni. Mereka menatap dirinya dengan tatapan kosong dan wajah pucat. Pandangan Yusi mengedar ke sekeliling kamar seperti kurang pencahayaan. “Ti-tidak biasanya kamar Ayah dan Ibu redup seperti ini.” Ucap Yusi gugup, jari telunjuk tangan kanan mengarah pada tombol lampu yang berada di dekat pintu. “Ka-kalau begitu biar Yusi saja yang menghidupkannya.” Yusi berbalik badan, saat kaki kanannya hendak melangkah terdengar suara dari Ibu dan kedua Abangnya yang berkata.
“Pembunuh.”
“Anak durhaka.”
“Manusia SERAKAH.”
Yusi perlahan melirik ke sisi kanan. “A-apa maksud ka….” Ucapan Yusi terhenti, kedua matanya membesar melihat arwah mendiang Ayahnya berdiri tepat di belakang dirinya. Sedangkan Laras, Azzam dan Rabbani sudah pergi entah ke mana. Saat ini yang terlihat hanya kabut tebal. Yusi yang tadinya seperti berdiri di dalam kamar mendiang Deni, kini dirinya berdiri di tengah-tengah kuburan. “Ti-tidak mungkin.” Ucap Yusi menatap arwah Deni yang di tutupi kabut di tengah kuburan.
“HA HA HA. Kenapa kamu tidak ikut bersama denganku, PU TRI KU.” Arwah Deni berjalan seperti zombie mendekati Yusi, baju tebal yang mulai robek menampilkan kulit yang melepuh berbalut lumpur. “Di alam ini kamu bisa menikmati hal yang tidak bisa kamu nikmati di dunia manusia. Ikutlah denganku, PU TRI KU.”
“TIDAK! Kamu bukan Ayahku. Kamu adalah SETAN yang menyerupai Ayahku. TIDAK! PERGI, PERGI KAU SETAN.” Sahut Yusi meninggikan nada suaranya dan berteriak, kedua kakinya mundur perlahan kebelakang.
Yusi terus berjalan mundur hingga kedua kakinya terhenti di kuburan yang memiliki pohon besar. Kedua kakinya tidak bisa di gerakkan sama sekali, seperti ada benda yang sedang menahan kedua kakinya. Yusi menurunkan pandangannya. “Haaa! Lepaskan, lepaskan, lepaskan.” Teriak Yusi melihat kedua pergelangan kakinya di genggam 6 tangan yang keluar dari gundukan kuburan.
...Ilustrasi...
Yusi terus memberontak, membuat 6 tangan tersebut keluar dari dalam gundukan tanpa tubuh. “TOLONG. SIAPA SAJA TOLONG SAYA.” Teriak Yusi sekuat tenaga, kedua kaki yang masih ditempeli 6 tangan tanpa tubuh masih menggenggam erat kedua kaki Yusi.
Yusi terus berlari, hingga dia melihat ada secuil cahaya di balik gelapnya malam berselimut kabut. Kedua kaki Yusi yang masih ditempeli 6 tangan langkah kakinya akhirnya melemah. Yusi merasa tidak sanggup lagi menahan ketakutan yang sedari tadi dirinya tahan. Yusi tersungkur jatuh tepat di atas kuburan milik mendiang Ayahnya yaitu Deni.
.
.
Saat kedua mata Yusi terbuka ternyata semua yang ia lalui hanyalah mimpi. Keringat jagung membasahi seluruh tubuh dan pakaiannya, dan nafas memburu tak karuan. Secuil cahaya terang yang ia lihat di dalam mimpi ternyata berasal dari kain gorden jendela miliknya yang disingkap Laras.
“I-ibu.” Ucap Yusi kaku, kedua mata menatap punggung Laras yang berdiri di depan meja rias.
“Sepertinya kamu bermimpi buruk?” Tanya Laras sambil membersihkan meja rias Yusi.
“Ti-tidak. Mungkin hanya efek kelelahan.” Sahut Yusi berbohong, tangan kanannya menyingkap selimut, kaki kanan yang terasa pegal perlahan ia turunkan ke lantai, di susul kaki kiri. Yusi terdiam, matanya terus menatap kedua kaki yang ia letakkan di atas lantai. Kedua kaki yang terlihat memar dan terlihat ada beberapa bekas genggaman tangan, mengingatkan dirinya jika mimpi itu adalah benar. Yusi mengalihkan pandangannya ke Laras, tidak ingin Laras mengetahui mimpi buruk yang ia alami, Yusi segera berlari menuju kamar mandi sambil berkata, “Yusi mandi dulu, ‘Bu.”
.
.
.
3 jam kemudian Yusi turun dari taksi online, wajah lesu tak bersemangat terlihat jelas di raut wajahnya saat ini. Rambut panjang tak di sisir tergerai begitu saja, kedua kakinya berjalan perlahan memasuki gerbang sekolah.
‘Ayah sudah mati tapi tetap menyusahkan. Tahu jika hal buruk ini akan terus menimpaku, lebih baik aku akhir dengan cara yang instan dan cepat saja.’ Keluh Yusi di dalam hati mengingat arwah Deni terus menghantui dirinya.
Brum!! Brum.
Seorang siswa laki-laki ngegas kereta sportnya tepat di belakang Yusi. Siswa laki-laki bertubuh berisi, kulit putih bersih, dan tinggi.
Yusi berbalik badan, suasana hati yang tak karuan dibuat menjadi suasana suram. Sudut bibir Yusi menaik. “CK.” Yusi mengepal tangan kanannya yang ia junjung setinggi kepalanya. “Cari jalan kamu sendiri.” Jari telunjuk tangan kanan mengarah ke sisi kiri. “Mata kamu buta! Lihat jelas di sana jalannya masih kosong. Dasar manusia aneh.” Yusi berbalik badan, kedua kakinya melangkah kesal meninggalkan siswa laki-laki yang masih duduk di sepeda motor sport miliknya.
Pria tersebut hanya diam menatap kepergian Yusi dari helm sport miliknya, bibirnya tersenyum manis sambil berkata, “Sungguh wanita yang sangat menarik.”
.
.
💫💫Di dalam kelas💫💫
Karena jam pelajaran belum di mulai dan kelas masih sunyi, Yusi duduk membelakangi pintu kelas. Salah satu kakinya naik di kursi sebelah, perlahan-lahan Yusi menurunkan kaos kakinya yang panjang sampai ke betis.
“Duh. Kenapa bekasnya terasa sangat sakit.” Keluh Yusi melihat bekas genggaman tangan para setan tanpa tubuh yang berada di dalam mimpi terbawa ke alam nyata.
“Kenapa kamu tidak mengobati bekas luka itu?” Tanya seorang siswa laki-laki yang duduk di atas meja Yusi.
Yusi tidak mendengar ucapan dari siswa laki-laki tersebut, karena Yusi sedang fokus dengan pikiran dan mimpinya. Pria tersebut mangangkat tangan kanannya dan menggebrak meja.
Bam!
Yusi terkejut, dirinya spontan bergerak membuat dengkul kanannya terhempas kuat di pinggiran meja bagian bawah. “Auw.” Keluh Yusi memegang dengkul kanannya.
“Maaf telah membuat kamu terkejut.”
“Kamu! Bukannya kamu anak laki-laki yang ada di les kemarin sore?” Tanya Yusi mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke wajah pria yang duduk di atas meja kelas.
“Iya. Sebaiknya kamu tidak usah bertanya soal itu, lebih baik aku bawa kamu ke ruang UKS untuk mengobati luka memar kamu.” Ajak siswa laki-laki tersebut.
“Tidak perlu. Aku sudah terbiasa terluka.” Sahut Yusi seperti sering tersakiti.
“Baiklah kalau seperti itu, aku tidak bisa memaksa kamu.” Siswa laki-laki tersebut mengulurkan tangan kanannya. “Perkenalkan, namaku, Andra.”
“Yusi.” Sahut Yusi singkat.
Andra menarik kembali uluran tangan kanannya. “Baiklah. Karena aku selalu duduk di belakang sendirian, mulai hari ini aku akan duduk bersama kamu.” Ucap Andra mendorong pelan tubuh belakang Yusi, membuat Yusi duduk di kursi sudut dekat dinding.
“Aku tidak butuh teman sebangku.”
“Tapi aku butuh teman sebangku.” Andra mendekatkan bibirnya di daun telinga kanan Yusi. “Mulai hari ini aku yang akan menjaga kamu.”
“Eh.” Yusi memalingkan wajahnya yang merona. “Aku tidak butuh seseorang buat menjaga diriku.”
Pria tersebut duduk menyamping, mendekatkan wajah dan tubuhnya ke lengan kanan Yusi. “Jangan menolak kebaikan dari pria tampan.”
“Heee.” Yusi mendorong pelan wajah Andra. “Lebih tampan Abang-abang ku daripada kamu. Orang asing.”
...Ilustrasi foto Andra...
...Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
mei
thor jangan pakai ilustrasi yang seram dong...ngeri tau 😩
2022-08-09
0
Elisabeth Ratna Susanti
like 👍
2022-08-09
0
~~N..M~~~
Kaget pas aku scrol kebawah nampak tangan Thor. Selain buat aku emosi,kamu juga bisa membuat aku hampir kehilangan jantung.
2022-08-08
1