Bab 16. Terbawa ke alam nyata

...Ilustrasi kamar redup...

“I-ibu, A-abang Azzam, A-abang Rabbani. Kenapa kalian semua melihat Yusi seperti itu?” Tanya Yusi kepada Ibu, dan kedua Abangnya yang sedang berdiri di depan ranjang seperti milik ranjang mendiang Deni. Mereka menatap dirinya dengan tatapan kosong dan wajah pucat. Pandangan Yusi mengedar ke sekeliling kamar seperti kurang pencahayaan. “Ti-tidak biasanya kamar Ayah dan Ibu redup seperti ini.” Ucap Yusi gugup, jari telunjuk tangan kanan mengarah pada tombol lampu yang berada di dekat pintu. “Ka-kalau begitu biar Yusi saja yang menghidupkannya.” Yusi berbalik badan, saat kaki kanannya hendak melangkah terdengar suara dari Ibu dan kedua Abangnya yang berkata.

“Pembunuh.”

“Anak durhaka.”

“Manusia SERAKAH.”

Yusi perlahan melirik ke sisi kanan. “A-apa maksud ka….” Ucapan Yusi terhenti, kedua matanya membesar melihat arwah mendiang Ayahnya berdiri tepat di belakang dirinya. Sedangkan Laras, Azzam dan Rabbani sudah pergi entah ke mana. Saat ini yang terlihat hanya kabut tebal. Yusi yang tadinya seperti berdiri di dalam kamar mendiang Deni, kini dirinya berdiri di tengah-tengah kuburan. “Ti-tidak mungkin.” Ucap Yusi menatap arwah Deni yang di tutupi kabut di tengah kuburan.

“HA HA HA. Kenapa kamu tidak ikut bersama denganku, PU TRI KU.” Arwah Deni berjalan seperti zombie mendekati Yusi, baju tebal yang mulai robek menampilkan kulit yang melepuh berbalut lumpur. “Di alam ini kamu bisa menikmati hal yang tidak bisa kamu nikmati di dunia manusia. Ikutlah denganku, PU TRI KU.”

“TIDAK! Kamu bukan Ayahku. Kamu adalah SETAN yang menyerupai Ayahku. TIDAK! PERGI, PERGI KAU SETAN.” Sahut Yusi meninggikan nada suaranya dan berteriak, kedua kakinya mundur perlahan kebelakang.

Yusi terus berjalan mundur hingga kedua kakinya terhenti di kuburan yang memiliki pohon besar. Kedua kakinya tidak bisa di gerakkan sama sekali, seperti ada benda yang sedang menahan kedua kakinya. Yusi menurunkan pandangannya. “Haaa! Lepaskan, lepaskan, lepaskan.” Teriak Yusi melihat kedua pergelangan kakinya di genggam 6 tangan yang keluar dari gundukan kuburan.

...Ilustrasi...

Yusi terus memberontak, membuat 6 tangan tersebut keluar dari dalam gundukan tanpa tubuh. “TOLONG. SIAPA SAJA TOLONG SAYA.” Teriak Yusi sekuat tenaga, kedua kaki yang masih ditempeli 6 tangan tanpa tubuh masih menggenggam erat kedua kaki Yusi.

Yusi terus berlari, hingga dia melihat ada secuil cahaya di balik gelapnya malam berselimut kabut. Kedua kaki Yusi yang masih ditempeli 6 tangan langkah kakinya akhirnya melemah. Yusi merasa tidak sanggup lagi menahan ketakutan yang sedari tadi dirinya tahan. Yusi tersungkur jatuh tepat di atas kuburan milik mendiang Ayahnya yaitu Deni.

.

.

Saat kedua mata Yusi terbuka ternyata semua yang ia lalui hanyalah mimpi. Keringat jagung membasahi seluruh tubuh dan pakaiannya, dan nafas memburu tak karuan. Secuil cahaya terang yang ia lihat di dalam mimpi ternyata berasal dari kain gorden jendela miliknya yang disingkap Laras.

“I-ibu.” Ucap Yusi kaku, kedua mata menatap punggung Laras yang berdiri di depan meja rias.

“Sepertinya kamu bermimpi buruk?” Tanya Laras sambil membersihkan meja rias Yusi.

“Ti-tidak. Mungkin hanya efek kelelahan.” Sahut Yusi berbohong, tangan kanannya menyingkap selimut, kaki kanan yang terasa pegal perlahan ia turunkan ke lantai, di susul kaki kiri. Yusi terdiam, matanya terus menatap kedua kaki yang ia letakkan di atas lantai. Kedua kaki yang terlihat memar dan terlihat ada beberapa bekas genggaman tangan, mengingatkan dirinya jika mimpi itu adalah benar. Yusi mengalihkan pandangannya ke Laras, tidak ingin Laras mengetahui mimpi buruk yang ia alami, Yusi segera berlari menuju kamar mandi sambil berkata, “Yusi mandi dulu, ‘Bu.”

.

.

.

3 jam kemudian Yusi turun dari taksi online, wajah lesu tak bersemangat terlihat jelas di raut wajahnya saat ini. Rambut panjang tak di sisir tergerai begitu saja, kedua kakinya berjalan perlahan memasuki gerbang sekolah.

‘Ayah sudah mati tapi tetap menyusahkan. Tahu jika hal buruk ini akan terus menimpaku, lebih baik aku akhir dengan cara yang instan dan cepat saja.’ Keluh Yusi di dalam hati mengingat arwah Deni terus menghantui dirinya.

Brum!! Brum.

Seorang siswa laki-laki ngegas kereta sportnya tepat di belakang Yusi. Siswa laki-laki bertubuh berisi, kulit putih bersih, dan tinggi.

Yusi berbalik badan, suasana hati yang tak karuan dibuat menjadi suasana suram. Sudut bibir Yusi menaik. “CK.” Yusi mengepal tangan kanannya yang ia junjung setinggi kepalanya. “Cari jalan kamu sendiri.” Jari telunjuk tangan kanan mengarah ke sisi kiri. “Mata kamu buta! Lihat jelas di sana jalannya masih kosong. Dasar manusia aneh.” Yusi berbalik badan, kedua kakinya melangkah kesal meninggalkan siswa laki-laki yang masih duduk di sepeda motor sport miliknya.

Pria tersebut hanya diam menatap kepergian Yusi dari helm sport miliknya, bibirnya tersenyum manis sambil berkata, “Sungguh wanita yang sangat menarik.”

.

.

💫💫Di dalam kelas💫💫

Karena jam pelajaran belum di mulai dan kelas masih sunyi, Yusi duduk membelakangi pintu kelas. Salah satu kakinya naik di kursi sebelah, perlahan-lahan Yusi menurunkan kaos kakinya yang panjang sampai ke betis.

“Duh. Kenapa bekasnya terasa sangat sakit.” Keluh Yusi melihat bekas genggaman tangan para setan tanpa tubuh yang berada di dalam mimpi terbawa ke alam nyata.

“Kenapa kamu tidak mengobati bekas luka itu?” Tanya seorang siswa laki-laki yang duduk di atas meja Yusi.

Yusi tidak mendengar ucapan dari siswa laki-laki tersebut, karena Yusi sedang fokus dengan pikiran dan mimpinya. Pria tersebut mangangkat tangan kanannya dan menggebrak meja.

Bam!

Yusi terkejut, dirinya spontan bergerak membuat dengkul kanannya terhempas kuat di pinggiran meja bagian bawah. “Auw.” Keluh Yusi memegang dengkul kanannya.

“Maaf telah membuat kamu terkejut.”

“Kamu! Bukannya kamu anak laki-laki yang ada di les kemarin sore?” Tanya Yusi mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke wajah pria yang duduk di atas meja kelas.

“Iya. Sebaiknya kamu tidak usah bertanya soal itu, lebih baik aku bawa kamu ke ruang UKS untuk mengobati luka memar kamu.” Ajak siswa laki-laki tersebut.

“Tidak perlu. Aku sudah terbiasa terluka.” Sahut Yusi seperti sering tersakiti.

“Baiklah kalau seperti itu, aku tidak bisa memaksa kamu.” Siswa laki-laki tersebut mengulurkan tangan kanannya. “Perkenalkan, namaku, Andra.”

“Yusi.” Sahut Yusi singkat.

Andra menarik kembali uluran tangan kanannya. “Baiklah. Karena aku selalu duduk di belakang sendirian, mulai hari ini aku akan duduk bersama kamu.” Ucap Andra mendorong pelan tubuh belakang Yusi, membuat Yusi duduk di kursi sudut dekat dinding.

“Aku tidak butuh teman sebangku.”

“Tapi aku butuh teman sebangku.” Andra mendekatkan bibirnya di daun telinga kanan Yusi. “Mulai hari ini aku yang akan menjaga kamu.”

“Eh.” Yusi memalingkan wajahnya yang merona. “Aku tidak butuh seseorang buat menjaga diriku.”

Pria tersebut duduk menyamping, mendekatkan wajah dan tubuhnya ke lengan kanan Yusi. “Jangan menolak kebaikan dari pria tampan.”

“Heee.” Yusi mendorong pelan wajah Andra. “Lebih tampan Abang-abang ku daripada kamu. Orang asing.”

...Ilustrasi foto Andra...

...Bersambung...

Terpopuler

Comments

mei

mei

thor jangan pakai ilustrasi yang seram dong...ngeri tau 😩

2022-08-09

0

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

like 👍

2022-08-09

0

~~N..M~~~

~~N..M~~~

Kaget pas aku scrol kebawah nampak tangan Thor. Selain buat aku emosi,kamu juga bisa membuat aku hampir kehilangan jantung.

2022-08-08

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 01. Surat Warisan 1
2 Bab 02. Isi surat Warisan 2
3 Bab 03. Mengenang perjuangan
4 Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5 Bab 05. Pasrah
6 Bab 06. Hanya kamu.
7 Bab 07. Rumah Sakit
8 Bab 08. Sampai kapan?
9 Bab 09. Menghibur Istri orang.
10 Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11 Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12 Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13 Bab 13. TEROR 1
14 Bab 14. Aku akan menunggumu
15 Bab 15.
16 Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17 Bab 17. Pepet terus
18 Bab 18. Azzam di Labrak
19 Bab 19. Keluar kamu
20 Bab 20. Misi pertama Azzam
21 Bab 21. Perlahan tapi pasti
22 BAB 22. Pantulan Cermin
23 BAB 23. Rayuan Maut.
24 BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25 BAB 25. Main petak umpet di kamar
26 BAB 26. Hanya teman
27 BAB 27. Karena sakit hati
28 BAB 28. Pesan hangat
29 BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30 Bab 30. AKAL YUSI
31 BAB 31. KEKECEWAAN
32 BAB 32. RENCANA BARU
33 BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34 BAB 34. HALUSINASI
35 BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36 BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37 BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38 BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39 BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40 BAB 40. BERAKHIR
41 BAB 41. Gara-gara Clara
42 BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43 BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44 BAB 44. Hasrat Janda
45 BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46 BAB 46. Teru-Teru Buzo
47 BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48 BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49 BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50 BAB 50. Bukan Bulan Madu
51 BAB 51. Clara! wanita Malam
52 BAB 52. Jangan sampai aku!
53 BAB 53. Bantu aku, Clara
54 BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55 BAB 55. Curahan Hati
56 BAB 56. MABUK
57 BAB 57. Suruhan Rashi
58 BAB 58. Balasan buat Rashi
59 BAB 59. Kembali melamar
60 BAB 60. Menunggu Hari H
61 BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62 BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63 BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64 BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65 BAB 65. ITU HARAPANKU
66 BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67 BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68 BAB 68. SOSOK BERBULU
69 BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70 BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71 BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72 BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73 BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74 BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75 BAB 75. Arwah Clara
76 BAB 76. Kok mirip ya?
77 BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78 BAB 78. Di saat hujan petir
79 BAB 79. Berhentilah Anggun
80 BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81 BAB 81. Makanan
82 BAB 82. Aku sangat mencintai kamu
Episodes

Updated 82 Episodes

1
Bab 01. Surat Warisan 1
2
Bab 02. Isi surat Warisan 2
3
Bab 03. Mengenang perjuangan
4
Bab 04. Apa yang harus aku lakukan?
5
Bab 05. Pasrah
6
Bab 06. Hanya kamu.
7
Bab 07. Rumah Sakit
8
Bab 08. Sampai kapan?
9
Bab 09. Menghibur Istri orang.
10
Bab 10. Pria dan botol Obat Misterius.
11
Bab 11. Mencoba Ikhlas.
12
Bab 12. Hari kedua kepergian Ayah.
13
Bab 13. TEROR 1
14
Bab 14. Aku akan menunggumu
15
Bab 15.
16
Bab 16. Terbawa ke alam nyata
17
Bab 17. Pepet terus
18
Bab 18. Azzam di Labrak
19
Bab 19. Keluar kamu
20
Bab 20. Misi pertama Azzam
21
Bab 21. Perlahan tapi pasti
22
BAB 22. Pantulan Cermin
23
BAB 23. Rayuan Maut.
24
BAB 24. Peluk Ibumu, Nak!
25
BAB 25. Main petak umpet di kamar
26
BAB 26. Hanya teman
27
BAB 27. Karena sakit hati
28
BAB 28. Pesan hangat
29
BAB 29. Awal ketidaksukaan Yusi
30
Bab 30. AKAL YUSI
31
BAB 31. KEKECEWAAN
32
BAB 32. RENCANA BARU
33
BAB 33. TIDAK BEKERJA, tidak Berupah
34
BAB 34. HALUSINASI
35
BAB 35. APAKAH IBU INGIN KE SURGA?
36
BAB 36. Kedatangan ARWAH LARAS
37
BAB 37. JASAD YANG MEMBENGKAK
38
BAB 38. HANTU di tempat KARAOKE
39
BAB 39. KECURIGAAN RABBANI
40
BAB 40. BERAKHIR
41
BAB 41. Gara-gara Clara
42
BAB 42. Menebus kesalahan Azzam
43
BAB 43. WANITA PATUT DIHARGAI
44
BAB 44. Hasrat Janda
45
BAB 45. Dibalik Penolakan Ben
46
BAB 46. Teru-Teru Buzo
47
BAB 47. Aku seperti Seorang PELAKOR
48
BAB 48. Kekuatan KEK RUSDI
49
BAB 49. Demi, Pelet Jaran Goyang
50
BAB 50. Bukan Bulan Madu
51
BAB 51. Clara! wanita Malam
52
BAB 52. Jangan sampai aku!
53
BAB 53. Bantu aku, Clara
54
BAB 54. Di dunia ini Semuanya Nyata
55
BAB 55. Curahan Hati
56
BAB 56. MABUK
57
BAB 57. Suruhan Rashi
58
BAB 58. Balasan buat Rashi
59
BAB 59. Kembali melamar
60
BAB 60. Menunggu Hari H
61
BAB 61. Satu hari menjelang Pernikahan
62
BAB 62. Menjelang Pernikahan.
63
BAB 63. KEMURKAAN Rabbani
64
BAB 64. Kehamilan di hari pernikahan.
65
BAB 65. ITU HARAPANKU
66
BAB 66. Tidak akan pernah menyerah
67
BAB 67. APA KALIAN YAKIN?
68
BAB 68. SOSOK BERBULU
69
BAB 69. 1 minggu setelah Syarat
70
BAB 70. Pak Ustad dan KEK RUSDI
71
BAB 71. Rasa sakit dan sikap berbeda
72
BAB 72. Meja aja bisa basah apa lagi yang lain
73
BAB 73. AKU ADALAH AKU. KAMU ADALAH KAMU!
74
BAB 74. Teror 1 buat Anggun
75
BAB 75. Arwah Clara
76
BAB 76. Kok mirip ya?
77
BAB 77. Bagaimana bisa Usus Mengandung?
78
BAB 78. Di saat hujan petir
79
BAB 79. Berhentilah Anggun
80
BAB 80. Aku akan melakukan apa pun Kek
81
BAB 81. Makanan
82
BAB 82. Aku sangat mencintai kamu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!