"Sial. Kenapa aku jadinya takut seperti ini. Tulisan dan teror botol obat Herbal yang aku temui di toilet sekolah tadi membuat aku terus berpikir keras hingga aku tak bisa tidur malam ini.” Keluh Yusi menarik selimut menutupi seluruh tubuh hingga wajahnya.
...Ilustrasi tidur Yusi...
Jam terus berdetak hingga pukul 02:30 pagi dini hari. Yusi yang mulai lelah karena terus terjaga, kedua mata yang perlahan berat membawa dirinya tertidur. Saat Yusi baru saja terpejam, ia harus membuka matanya di suatu tempat yang berbeda.
.
.
🍃Di alam mimpi🍃
Yusi berdiri di tengah gelapnya malam, serta kabut tebal menutupi setiap langkah kaki Yusi. Malam yang gelap, kabut tebal, dan hanya cahaya bulan yang menemani pandangannya.
...Ilustrasi ...
“Halo! Apakah ada orang di sini?” Tanya Yusi sedikit berteriak, tatapan waspada menatap sekeliling gelapnya malam berselimut kabut.
“Dasar manusia SERAKAH. Manusia SERAKAH. Manusia SERAKAH. Manusia SERAKAH.” Ucap seorang Pria berdiri di belakang Yusi, di balik gelapnya malam berselimut kabut.
“Siapa kamu?” Tanya Yusi kepada seorang pria yang bersembunyi di balik kabut.
“Manusia SERAKAH. Manusia SERAKAH. Manusia SERAKAH.” Ucap pria itu kembali sebanyak 3 kali, kemudian menghilang di dalam gelapnya kabut yang semakin menebal.
Ucapan pria tersebut menari-nari di kedua telinga Yusi, membuat kedua telinganya dipenuhi suara pria tersebut. Yusi berbalik badan, ia merasa takut saat mendengar suara pria yang terus menghantui kedua telinganya.
Yusi yang mulai depresi, menjawab bayang-bayang suara pria yang terus mengusik kedua telinga. Kedua kaki yang terasa berat terpaksa ia bawa melangkah menembus kabut yang semakin tebal di dalam gelapnya malam, dan jalan seperti tidak berujung.
“A-aku bukan manusia SERAKAH. Aku tidak seperti itu. Ka-kamu siapa?”
.
.
🍃Di alam Nyata🍃
Yusi ngigau, ia terus bergelut di dalam selimut lembut yang menutupi seluruh tubuhnya. Rabbani yang ingin turun ke dapur untuk minum tak sengaja mendengar rintihan Yusi dari dalam kamarnya. Rabbani berbalik badan, kedua kakinya melangkah menuju kamar Yusi.
Tok!Tok.
Rabbani mengetuk pintu kamar Yusi pelan, karena dirinya tak ingin membangunkan Laras.
“Dek.” Panggil Rabbani lembut dari depan pintu, tangan kanannya membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci. “Yusi pasti lupa mengunci pintu kamarnya.” Gumam Rabbani pelan, Rabbani menekan tombol lampu. “Yusi!”
Melihat Yusi bergelut di dalam selimut lembut yang tebal, Rabbani segera berlari mendekati Yusi. Dengan cepat Rabbani membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Yusi, dan segera memeluk tubuh Yusi seperti sedang ketakutan.
“Dek. Bangun, Yusi.” Ucap Rabbani membelai lembut wajah Yusi yang penuh keringat.
Yusi langsung membuka kedua matanya, nafasnya terasa berat, tatapan waspada mengarah ke sekeliling kamar miliknya, dan terhenti pada Rabbani yang masih memeluk dirinya. Yusi segera duduk, ia menarik selimut menutup seluruh tubuhnya dan hanya tersisa wajahnya.
“Si-siapa kamu?”
“Kamu pasti bermimpi buruk.” Ucap Rabbani seperti mengetahui jika adik kecilnya itu baru saja bermimpi buruk, sehingga tidak percaya jika dirinya adalah Rabbani. Rabbani berdiri, tangan kanannya mengarah ke pintu. “Abang mau membuat teh di dapur, jika kamu tidak bisa tidur, lebih baik kamu temani Abang minum di bawah sambil sedikit bercerita.”
“Baik.” Sahut Yusi, kedua tangan perlahan menurunkan selimut dari kepalanya.
.
.
🍃🍃Di dapur🍃🍃
Rabbani sedang membuat coklat panas buat Yusi. Setelah minuman kesukaan Yusi dan Rabbani selesai, mereka berdua duduk berdampingan. Yusi yang duduk di kursi meja makan terus menatap wajah Rabbani yang terlihat tenang sambil menyeruput teh hangat miliknya.
“Bang.” Panggil Yusi membuka suaranya.
“Hem. Jika masih belum ingin berbicara, lebih baik kamu menenangkan diri kamu terlebih dahulu.”
“Maafkan Yusi, tadi Yusi berfikir Abang bukanlah Abangnya Yusi.” Sahut Yusi, pandangan ia arahkan ke cangkir berisi coklat panas yang masih mengepul asapnya.
Rabbani meletakkan telapak tangan kanannya di dahinya. “Pantas saja tidak ada wanita yang mau mendekati Abang. Ternyata wajah Abang seseram itu.” Keluh Rabbani polos.
“Bu-bukan. Abang itu manis dan tampan kok.” Yusi memijat lembut pelipisnya. “Hanya saja tadi Yusi bermimpi buruk. Yusi seperti sedang di kejar-kejar oleh seorang pria dan berkata hal buruk kepada Yusi. Perkataan yang masih Yusi ingat sampai sekarang.” Sambung Yusi mengeluhkan mimpi yang baru saja ia alami. Tapi Yusi tidak ingin membicarakan ucapan pria di dalam mimpinya kepada Rabbani, karena Yusi takut jiga Abangnya yang satu ini mewaspadai dirinya dan kembali mengorek kematian Ayah mereka yaitu mendiang Deni.
.
.
Teringat saat kematian mendiang Deni. Dokter Ferry sempat mencurigai obat herbal pemberian Yusi. Setelah di cek dan di telusuri lebih dalam, ternyata obat herbal pemberian Yusi, 100 % aman. Yusi memang masih berumur 16 tahun, tapi tingkat kelicikan, keSERAKAHAN, dan kejahatannya jauh lebih pintar dari Abang pertamanya yaitu Azzam.
.
.
.
🍃🍃Di sisi lain🍃🍃
💦Kediaman rumah Azzam💦
Azzam yang baru saja siap merangkai bunga buat di kirim kepada kliennya besok siang.
Azzam berdiri, ia merenggangkan kedua tangannya. “Akhirnya selesai juga buket bunga mawar yang indah ini.” Ucap Azzam merasa puas melihat rangkaian bunga ia ciptakan sangat cantik.
Ddrrtt!!! Drtt!!
Ponsel milik Azzam yang berada di dalam saku kemeja miliknya berdering, sambil berjalan keluar dari ruang kerja, Azzam menatap nomor panggilan suara dari layar ponselnya. Sudut bibir bagian atasnya menaik saat menatap nomor berlambang bunga anggrek. Azzam melangkahkan kedua kakinya menuju pintu utama, tangan kanan Azzam membuka pintu.
“Sudah ku duga.” Ucap Azzam menatap seorang wanita cantik berbaju kurang bahan di tengah lingkungan berudara dingin.
“Azzam, aku membutuhkan kamu.” Ucap wanita tersebut memeluk tubuh Azzam.
“Baiklah. Aku akan membuat kamu melepaskan rasa kebutuhan sesaat yang kamu inginkan.” Sahut Azzam membawa wanita tersebut masuk ke dalam rumah. Azzam mengarahkan tangan kananya ke sofa ruang tamu. “Silahkan duduk, aku akan membuatkan teh hangat buat kamu.”
Bukannya duduk di sofa, wanita tersebut malah memeluk tubuh Azzam. “Aku tidak butuh teh hangat. Aku hanya butuh diri kamu yang terasa hangat di setiap sentuhannya.”
Azzam perlahan melepaskan pelukan wanita tersebut. “Seorang wanita yang akan segera menikah tidak baik memeluk pria lain selain tunangannya.” Ucap Azzam karena dirinya tidak ingin terlibat dalam urusan hubungan sepasang kekasih yang mau menikah. Azzam berbalik badan, ia menoleh sedikit ke sisi kanan. “Tunggu aku di sana, aku akan membuatkan teh hangat buat kamu.”
“Tidak.” Tahan wanita tersebut kembali memeluk tubuh Azzam dari belakang. Wanita tersebut menggeleng. “Sepertinya aku sudah tidak mencintai calon suamiku. Aku kini sedang terpikat oleh seorang pria yang memiliki banyak wanita. Tapi, perbuatan pria tersebut sangat membuat diriku nyaman saat bersama dirinya. Pria itu adalah kamu, Azzam.”
Azzam tersenyum manis, ia berbalik badan, tangan kanan memegang dagu wanita tersebut. “Aku bukan pria yang akan memilih hubungan serius kepada setiap wanita yang aku ajak tidur. Aku hanya pria yang ingin menikmati kesenangan di dunia ini selagi aku muda. Kamu akan segera menikah, dan aku tidak ingin terlibat dan merusak pernikahan orang lain hanya karena hal buruk.” Azzam melepaskan tangan kanannya dari dagu wanita tersebut. “Luapkan semuanya kepada calon suami kamu, bukan kepadaku.”
Wanita tersebut tak menghiraukan nasehat Azzam. Wanita tersebut menempelkan telapak tangannya di jenjang leher bagian belakang Azzam, membuat tubuh Azzam sedikit menunduk. Wanita tersebut melayangkan ciuman manis, kemudian melepaskannya.
“Maaf, semua ini salahku.” Wanita tersebut berbalik badan. “Terimakasih atas waktunya. Aku pamit pulang dulu.”
Azzam menahan pergelangan tangan wanita tersebut. “Kamu pikir, kamu bisa pulang semudah itu setelah melakukan perbuatan yang membuat aku harus melanjutkannya sendiri. Kamu telah memancingku, maka kamu akan menerima balasan pancingan tersebut.” Ucap Azzam, ia menarik wanita tersebut masuk ke dalam kamar.
...Bersambung........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Dendry Den
Dari sini aku harus lebih berhati-hati mencari calon Istri.
2022-10-24
0
Dendry Den
Cuman Rabbani anak paling baik
2022-10-24
0
Dendry Den
Lantas manusia apa?
2022-10-24
0