Diam-diam seorang pria melangkah keluar dari pintu utama rumah. Pria tersebut juga menutup pintu rumah dengan pelan, seolah tidak ingin membangunkan pemilik rumah yaitu Deni dan Laras, beserta ketiga anaknya.
“Kamu siapa?” tanya Yusi berdiri di belakang pemuda misterius.
Pemuda misterius spontan berbalik badan, tangan kanannya mengelus pelan dadanya yang bidang, “Ukh! Aku pikir siapa. Ternyata kamu, dek Yusi.” Ucap pemuda tersebut ternyata Azzam.
Merasa penasaran dengan tingkah Abang pertamanya seperti seorang maling yang diam-diam keluar dari rumah, Yusi mendekatkan wajahnya, tangan kanan yang memegang bungkusan plastik bening berisi sate.
“Abang mau kemana? Dan kenapa Abang keluar seperti seorang maling?” tanya Yusi tanpa titik dan koma.
Azzam menarik lengan kiri Yusi, membawanya turun dari teras rumah. Kedua mata Azzam penuh waspada sesekali melihat pintu rumah yang masih tertutup rapat. Azzam mendekatkan wajah adiknya ke bibirnya, tatapan waspada masih terus mengarah pada pintu rumah.
“Abang kesal lihat Ayah. Abang ini, ‘kan anak pertama mereka, kenapa Ayah memberi warisan lebih besar kepada Rabbani dari pada Abang, anak pertamanya.”
“Mending kalian dapat tanah yang lebih besar, daripada aku. Aku hanya mendapatkan 25% dari milik kalian. Tidak adil.” Sahut Yusi seperti tidak senang.
“Abang hanya ingin usaha Kolektor barang antik milik Ayah menjadi milikku. Buat apa Ayah memberikan perkebunan itu untuk Abang, malas banget mengelolanya.”
“Gak tahu lah. Bukan urusan Yusi, bukannya Abang tadi sudah dengar kenapa Ayah memberi perkebunan buat Abang Azzam. Karena Abang Azzam lebih mampu menjalankannya daripada Abang Rabbani. Sudahlah, Abang buat Yusi bertambah bete.” Sahut Yusi menepis tubuh Azzam.
Azzam menahan pergelangan tangan kiri Yusi, “Dek. Apa kamu tidak ingin membuat rencana untuk menguasai harta milik Rabbani?” tanya Azzam mencoba merayu Yusi untuk ikut serta membuat rencana buruk buat Rabbani.
Yusi menghempaskan genggaman tangan Azzam, “Apaan sih, Yusi tidak mau ikut campur tentang urusan pribadi Abang. Yusi sudah kelas 3 SMA bang, dan sebentar lagi akan memasuki tahap akhir ujian. Kalau Abang mau membuat rencana, buat saja sendiri. Yusi tidak ingin ikut campur.” Tegas Yusi kepada Azzam.
“Apa kamu yakin dengan penolakan kamu itu?”
“Iya. Lagian warisan yang di beri Ayah sudah cukup buat Yusi.” Ucap Yusi berbohong. Padahal dalam hati Yusi dirinya juga ingin menguasai usaha Kolektor barang antik milik Rabbani, cuman karena dirinya masih sedang bersekolah dan tak ingin terganggu dengan urusan pribadi, Yusi mengurungkan niatnya sampai tamat sekolah.
Azzam berbalik badan, ia menolehkan pandangan sedikit ke sisi kiri, “Baiklah. Abang mau ke kota dulu, Abang mau bersenang-senang sejenak. Apa kamu tidak ingin ikut?” tanya Azzam mengajak adik kecilnya.
“Tidak. Yusi mau menikmati sate kacang yang baru saja di beli dari mamang.” Sahut Yusi, tangan kanan menunjukkan bungkusan plastik bening berisi satu bungkus sate kacang.
“Oh! Abang pergi dulu, pintu rumah kunci saja.”
“Iya.” Sahut Yusi, melihat Azzam berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah, Yusi melangkahkan kedua kakinya menuju rumah.
.
.
.
🍃🍃Di tempat hiburan malam. 🍃🍃
Azzam memasukkan mobilnya ke dalam tempat hiburan malam seperti tempat karaoke. Terlihat dari depan karaoke berjejer perempuan memakai rok span, baju seperti kurang bahan, dan rambut panjang atau ikal berwarna-warni.
Azzam keluar dari mobil, kedua kakinya melangkah menuju tempat karaoke. Sesampainya di teras karaoke, Azzam disambut hangat oleh 3 orang wanita.
“Hai, tampan. Kamu mau di temani sama kami bertiga?” tanya salah satu wanita yang berdiri di samping kiri Azzam.
Kedua mata Azzam menatap liar ke semua tempat yang di penuhi pria dan wanita, “Aku ingin yang baru dan masih segar.”
“Ck. Tahu aja kamu kalau di sini ada yang baru.” Sahut wanita tersebut. Tangan kanan wanita tersebut melambai ke salah satu wanita yang duduk sendirian di sudut ruang tunggu yang kurang penerangan, “Hei, anak baru! Ke sini kamu.” Panggil wanita tersebut meninggikan sedikit nada suaranya.
Wanita tersebut berdiri, berjalan penuh ragu ke arah Azzam. Kedua kaki wanita tersebut berhenti tepat di depan Azzam.
“Ada apa Mami?” tanya wanita tersebut kepada seorang wanita yang berdiri di samping Azzam.
“Pemuda ini mau kamu temani. Hari ini hari pertama kamu bekerja di sini, dan kamu harus membuat pelayanan terbaik bagi pelanggan pertama kamu. Apa kamu sudah paham?” Ucap dan tanya wanita yang disebut Mami.
“Baik, Mami.” Sahut wanita tersebut.
Azzam mengulas senyum tipis, tatapan penuh tanya mengarah pada wanita yang berdiri di hadapannya. Wanita cantik, kulit putih bersih, dan rambut panjang.
‘Lumayan juga wanita satu ini. Terlihat masih sangat segar.’ Batin Azzam, pikiran kotor mulai menyelimuti kepalanya.
“Mari saya temani Anda bernyanyi.” Ajak wanita tersebut mengarahkan tangan kanannya ke pintu masuk ruang karaoke.
“Mari.” Sahut Azzam melangkahkan kedua kakinya mendekati wanita tersebut.
Azzam dan wanita tersebut berjalan seirama menuju ruang karoke. Terlihat di dalam ruang karoke banyak kamar dan suara lagu yang memenuhi tempat tersebut. Karena Azzam memilih ruangan VIP, ruangan tersebut berada jauh dari ruangan kelas regular. Sambil berjalan Azzam mulai pembicaraan mereka, agar suasana tidak terlalu kaku dan canggung.
“Kalau boleh tahu siapa nama kamu?” tanya Azzam lembut.
“Saya Clara.” Sahut wanita tersebut lembut.
“Clara. Nama yang bagus sesuai wajahnya.”
Langkah Clara terhenti di sudut koridor yang di penuhi beberapa ruang VIP yang terlihat mewah. Clara memberikan senyuman manis kepada Azzam yang berdiri di sisi kanannya. “Terimakasih. Kita sudah sampai, silahkan masuk terlebih dahulu.” Ucap wanita tersebut, tangan kanan membuka pintu ruangan.
...Ilustrasi ruang Karaoke....
Azzam masuk, ia memegang pergelangan tangan kanan Clara. Tatapan serius memandang wajah cantik Clara, “Aku hanya pesan minuman yang paling enak di sini, dan paling bagus buat merilekskan pikiran. Clara, kamu jangan lama-lama, karena aku sangat membutuhkan kamu.”
“Baik. Saya akan kembali dengan cepat.” Sahut Clara sopan. Clara menutup pintu ruangan, di depan pintu ruangan terlihat wajah yang sedari tadi memberi senyum tulus berubah cemas. Clara menghela nafas panjang, tatapan mengarah pada pintu ruangan, “Maafkan aku.”
.
.
Azzam merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang empuk di dalam ruang karoke yang redup dengan lampu penuh warna. Kedua matanya menatap langit-langit redup yang berhias lampu penuh warna.
“Sudah sampai di sini, ucapan Ayah mengenai harta warisan masih belum bisa aku terima. Sangat menjengkelkan. Apa yang harus aku perbuat kepada mereka semua agar aku bisa mendapatkan harta yang lebih banyak lagi daripada Rabbani.” Keluh Azzam, Azzam meraih remote yang ada di atas meja, tangannya terus menekan-nekan tombol lagu, “Sangat membosankan.”
...Bersambung.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
💞Amie🍂🍃
orang serakah kuburannya sempit lohh😂
2022-11-23
0
Rini Antika
jgn serakah Zam, harta tidak akan dibawa mati
2022-09-16
0
Ana Yulia
sama sama jahatnya mereka, jadi sesama saudara pun tidak boleh Terlalu percaya kalau soal harta
2022-09-07
0