Setelah Niko pamit ke kamar mandi lantas ia mengambil kunci motornya, dan entah dia akan keluar kemana karena ia tak pamit dan bertegur sapa dengan Intan.
"Nin, Niko, kenapa?"
"Tau, kalau lu tanya gue lantas gue tanya siapa dong." Sambil bersindakap Anin pun menjawab ucapan sang teman.
"Eh, lu kenapa jalannya biasa ya? dan gak sama kek waktu gue dulu?" apa yang di katakan Intan, membuat Anin bingung apa yang di maksud dengan pertanyaannya.
"Gue gak ngerti ngomong apa sih lu,"
"Dasar ogeb, lu belum ke bobol ya?"
Seketika membuat wajah gadis itu terlihat sangat kesal dan tak suka atas apa yang di ucapkan oleh Intan, dan Anin langsung melempar bantal kearah tepat di mukanya.
"Lu apaan sih, main lempar sakit tau!" teriaknya pada Intan.
"Dasar omes lu, makanya jangan kebanyakan di atas lu gini kan jadinya gesrek."
Aku sangat kesal padanya, bisa-bisanya dia ngomong seperti itu, dikira gue dia kali yang mau saja digagahi oleh pacarnya yang pengangguran. Iya kalau dapat uang! makan saja Intan yang jatah itu lelaki, dasar bodoh banget si Intan itu.
"Emang kalian gak ngelakuin ya?"
"Ya gak lah."
Stttt.."Ada Kak Niko dateng mending lu balik ke kamar sono."
"Iya, iya gue balik ya."
"Nin, sarapan dulu. Dan lekas lah kamu siap-siap ya? karena kita berangkat setelah ini biar gak terlalu malam nyampainya."
Lantas aku pun mengangguk dan segara berdiri untuk mengambil piring serta mengisi gelas dan menuangkan air kedalamnya yang ku pegang saat ini.
"Beli apa Kakak?" tanyaku padanya.
"Nasi rames gak papa Kan, Kakak bingung mau beli apa tadinya. Akhirnya lihat penjual nasi rames ya sudah Kakak berhenti dan membelinya." Jelasnya pada Anin.
"Gak papa kok, ini saja sudah terasa nikmat banget Kak."
"Oh iya nanti ada yang aku omongin ke elu, jadi buruan makan."
Akhirnya kami berdua makan dengan Nasi rames yang di belikan oleh Niko, dan hanya ada dentingan suara sendok yang terdengar.
"Alhamdulillah" lirihku karena merasa kenyang atas nikmat yang telah di berikan oleh tuhan lewat Niko.
"Nin apa gak sebaiknya kamu pindah dari tempat ini."
Lantas Anin pun mengerutkan keningnya, bukankah dia dulu yang mencarikan kos untuknya lantas sekarang ia malah di suruh pindah dari kos, yang selama ini sebagai tempat dirinya berteduh.
"Memangnya ada masalah apa? kok Kakak tiba-tiba nyuruh pindah,"
Anin pun segera menanyakannya karena menurutnya tak masuk akal, bukankah selama ini ia juga tau kalau kos ini tak pernah ada masalah.
"Kos ini penuh dengan saiton, dan gak cocok untuk kamu tinggali lagi Nin, dan mending kamu pindah deh, entar coba Kakak carikan lagi."
"Tapi aku sudah nyaman berada di tempat ini, kalaupun di sini banyak saiton nya, aku mah gak peduli yang penting kan akunya gak ikut-ikutan seperti mereka." Sungut Anin, yang menanggapi apa yang di katakan oleh Niko.
"Tapi suara tadi malam."
"Itu mah Kakak saja yang omes, wong aku sudah terbiasa jadi ya udah gak kaget."
Aku tau apa yang akan di katakan olehnya, namun sebelum melanjutkan percakapan yang unfaidah aku langsung memotongnya.
Aduh kenapa sih dengan semua orang heran sendiri dah, 0tak kok pada m*e***sum semua. gak bisa apa pagi-pagi gak bahas yang begituan. Kesalku dalam hati seraya menahan agar tak sampai aku mengeluarkan apa yang aku ucapkan dalam hati barusan.
"Ya sudah aku percaya kok sama kamu,"
"Gak percaya juga kagak apa-apa kok, itu kan hak asasi manusia."
"Elah sok bijak lu."
"Eh resek banget sih."
Siapa yang gak kesal coba, rambut yang sudah aku sisir dibrantakin lagi olehnya.
"Ya sudah aku pamit Intan bentar ya Kak!"
Niko pun hanya mengangguk saat Anin keluar kamar karena akan berpamitan dengan Intan sahabatnya.
Sesampainya di dalam kamar Intan.
ternyata pintunya terbuka, dan Anin pun segera menghampiri Intan yang kini berada di depan meja rias.
"Ntan, gue pamit dulu ya,"
"Iya lu hati-hati di jalan."
"Siap bos."
🍀🍀🍀
Sedang di kediaman Bu Indah.
"Anin jadi pulang hari ini?"
"Iya Bu, hari ini katanya." Ujar Edi.
"Yah lebih cepat lebih baik, biar dia juga cepet-cepet nikah mumpung ada orang kaya yang mau sama Adik kamu."
"Ibu, serius mau nikahin Anin sama itu orang?"
"Ya iyalah serius."
Jawabnya enteng.
"Apa Ibu yakin melakukan semua ini?" Edi pun masih tak percaya akan rencana ibunya yang akan menikah kan Anin, anak perempuannya satu-satunya. Apa sebegitu buruk kah Anin di mata Ibunya! hingga sang Ibu tega bersikap seperti itu kepada sang Anak, yang tak lain darah dagingnya sendiri.
"Udah lah kamu jangan ikut campur urusan Ibu, yang penting itu anak mau pulang ngerti!" teriakan Bu Indah begitu lantang, hingga tanpa sengaja Anin pun mendengar apa yang dikatakan nya bersama sang putra sulung.
Sedang di ambang pintu. Anin yang akan masuk diurungkan nya karena mendengar sesuatu dari mulut sang Ibu.
"Kak, Apa maksud semua ini," dengan nada yang gemetar Anin bertanya pada Niko, perihal ucapan dari sang Ibu, dan Kakaknya.
"Tunggulah sebentar, kamu jangan gegabah! biar jelas kita tungguin saja apa maksud dari ini semua, dan mengapa Ibu kamu terlihat bugar, bukan kah kata Intan, jika kamu di suruh pulang karena Ibumu sedang sakit!"
"Aku pun tak tau juga Kak, apa yang terjadi dengan semua ini, tapi nampaknya Ibu sedang merencanakan sesuatu hingga membuat aku terpaksa pulang."
"Itu artinya Anin, akan mempunyai anak tiri, sedangkan kan Pak Danu, duda yang mempunyai anak perempuan."
"Itu urusan Anin, dengan Danu yang penting mereka akan segera menikah walau pernikahan ini hanya pernikahan di bawah tangan, atau nikah Sirih karena aku tak mempermasalahkan itu semua!"
"Apa Ibu bilang NiKAH.."
Saat aku berteriak maka semua mata tertuju padaku mungkin mereka juga sangat terkejut, karena aku tiba-tiba sudah berada di rumah sedari tadi dan tanpa mereka sadari bahwa aku sudah mendengar pengakuan mereka terhadapku. Dan mereka pun sudah menyusunnya serta merencanakan untuk menikah kan ku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tuhan mengapa semua ini harus terjadi padaku, apa aku tak boleh bahagia, apa aku tak boleh merasakan mencintai dan di cintai. Apa aku tak berhak mendapatkan semua ini! Kejam, mengapa mereka begitu kejam! apa salah dan dosaku hingga aku harus menerima karma ini. Andai aku jadi kura-kura maka sejenak aku akan bersembunyi di balik tempurungnya. Dan jika saja aku Burung maka saat ini aku akan pergi dan terbang jauh di atas sana, namun aku hanyalah manusia biasa..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
mom mimu
bawa Anin pergi Ko... ibu gada akhlak emang, bisa2nya serahin anak cewenya gitu aja sama duda anak satu, nihak sirih pula 🤦🏻♀️
2022-11-12
0
auliasiamatir
lawan yah nin
2022-10-10
0