Waktu bergulir begitu cepat seiring berjalannya waktu aku tumbuh sebagai gadis remaja dan usiaku pun sudah 15 tahun saat ini. Dan aku tetaplah menjadi Anin yang dulu, bekerja keras demi sebuah keinginan, bertambah usiaku tak mengurangi rasa pilih kasih terhadapku, dan masih tetaplah seperti yang sudah-sudah. Semakin aku mengerti dan semakin aku dewasa aku hanyalah sapi perah bagi mereka! sedang Bang Edi, tak pernah sekalipun terlihat akan membantu perekonomian keluarga.
Aku pun tumbuh menjadi gadis cantik itu kata orang-orang yang melihatku meski kulitku berbeda dengan Ibu dan saudaraku yang lain. Karena aku mempunyai mata yang sayu hidung bangir dan muka yang chubby dan cukup tinggi, karena segi keturunan yang aku dapat dari almarhum Bapak. Namun aku tak pernah merasa risih jika ada yang mempertanyakan jika aku anaknya atau bukan. karena kulitku matang sawo sedang kulit saudaraku yang lain mempunyai kulit putih yang ia dapatkan dari Ibu.
Karena aku sudah terbiasa dengan orang-orang yang membandingkan aku, jadi buat apa risih..
"Nin, mana uang gaji kamu! bukan kah hari ini hari sabtu itu tandanya kamu sudah gajian?"
Uang dan uang yang ada di isi kepala Ibu batinku. Sambil berlalu masuk kamar dan mengambil uang gajiku yang di pertanyakan.
Jika aku dulu di jauhi karena hitam, dekil, dan lusuh, maka sekarang tak ada lagi yang menjauhiku. Semenjak aku bekerja di pabrik lollipop, sebagian aku sisihkan untuk membeli apa yang di butuhkan perempuan, serta membeli keperluan lain. Meski Ada pun barang yang aku kenakan sudah tak layak pakai, karena aku pun harus bisa berhemat.
"kok cuma segini?" tanya Ibu.
"terus mau Ibu berapa," lantas aku mengeluarkan suara ketusku. Bukan salahku jika aku tumbuh dan menjadi gadis pembangkang dan berani menjawab setiap ucapannya. Ini semua kan salah mereka, yang menanamkan semua terhadapku, apa aku yang harus di salah kan juga.
"Bisa gak kamu bicara dengan nada halus," timpal Ibu.
"Udah lah Bu, jangan menasehati aku, cukup gak cukup itu uang mau buat apa terserah! selama ini kan aku juga gak pernah makan di rumah, masih untung aku inget sama Ibu!" selaku yang memotong setiap perkataannya.
Dulu aku hanya bisa diam dan menunduk jika Ibu berucap kasar saat memarahiku, tapi sekarang! yang ada di otak ku adalah kebencian.
biarlah jika ia marah bodoh amat pikirku.
"Durhaka kamu ya sama orang tua,"
bisa-bisanya Anin berkata kasar padaku. Dan tak menghormati aku sebagai orang tuanya.
Sesalah apapun orang tua tetaplah orang tua yang pernah melahirkan kita bukan, namun rasa hormat itu pudar bagaikan diterpa angin yang menghadang, mungkin kelak kalau rasa sakit ini hilang maka aku bisa menghormatinya lagi. Lagian siapa suruh pilih kasih sekarang malah minta di hormati biar tak kualat katanya..
Lalu aku berjalan ke kamar dan melanjutkan tidurku, dengan senyuman yang menyimpan perih aku berusaha tegar.
...****************...
Seharusnya uang yang di berikan Anin bukan lah jumlahnya yang seharusnya ia berikan padaku. Dan memang selama dia bekerja aku tak pernah melihat Anin makan walau itu hanya sekali. Rasa sayang suamiku terhadap Anin begitu luar biasa hingga aku pun iri melihatnya, sedangkan anakku yang lain tak pernah mendapat kasih sayang dari Bapaknya. Makanya sekarang giliran ku yang memberikannya terhadap mereka tapi tak termasuk Anindiyah nama pemberian dari almarhum suamiku, dengan begitu Anin pun juga akan merasakan apa yang dulu pernah di alami anak-anakku yang lain.
"Ed, Edi!" teriakku pada Edi Abangnya Anin.
"Ada apa sih Buk, teriak-teriak kagak budek telinga Edi Buk."
"Itu aku belikan bakso buruan di makan keburu dingin, dan mumpung Anin masih di kamarnya biar dia tak tau,"
Jahat bukan seorang Ibu bisa seperti itu.
"iya, Buk."
"karena Anin tak ku belikan, jadi hanya kalian berdua yang ibu belikan jadi segeralah Makan."
Karena Riki di asuh oleh orang lain kini hanya mereka bertiga yang ikut denganku.
Di dalam kamar..
Aku hanya merenungi nasib kenapa aku harus menerima ketidak adilan dari orang tuaku, sedangkan apa salahku hingga aku mengalami nasib seperti ini.
tak terasa malam pun tiba aku sudah bersiap untuk mencari uang lagi.
"Mau kemana kamu?" tanya Bang Edi
"Keluar."
"Jangan malam-malam kalau pulang!" hardiknya padaku.
"Tenang saja Bang, paling-paling besok baru pulang." Jawabku dengan nada acuh pada Bang Edi yang selisih 5 tahun denganku umurnya saat ini.
"Kamu ya! kalau di bilangin, gak pernah nurut,"
"Udah, ceramahnya. Kalau sudah aku keluar kasian temenku pada nungguin." Sergah ku padanya, karena aku malas berbicara sesungguhnya.
Di luar rumah.
"Kamu lama banget habis ngapain, Nin?" tanya Niko sambil melirik kearah ku.
"Biasa,"
"Ok, temani aku buat manasi si Rika, nanti aku kasih uang sebagai gantinya. Ucap Niko, lelaki yang lebih tua dariku dan saat ini usianya 20 tahun, sedangkan aku masih 15 tahun terpaut 5 tahun bukan. Namun tak membuat aku mundur demi uang.
Aku yang mengenakan celana panjang dan di padukan dengan hem lengan panjang juga, serta dalamnya terdapat tank top jadi tak ku kancing kan, dan tak lupa juga sandal seharga 10ribu yang aku pakai sekarang. Tak ada bedak yang menempel di wajahku, dan aku ingin tampil apa adanya lagian aku juga tomboi jadi wajar kan.
" Ekhem,"
"Kenapa?"
"Gak papa,"
Biarpun pakaian yang di kenakan Anin terlihat seperti seorang lelaki namun pandangan Niko tak lepas dari Anin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa mampir di karya Author ya🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Nur Khasanah
kasihan Anin. mampir juga kak ke Anah.
2022-11-13
0
mom mimu
ko tega ya ibunya anin... dia bilang mau balas dendam sama anaknya sendiri karena iri 🤦🏻♀️ ibu macam apa itu??? jangan2 Anin beneran bukan anak nya lagi...
2022-10-24
0
R.F
itu kn belajar dari si ibu yang selalu minta uang, jadi anaknya ketus
2022-10-21
1