Kejadian demi kejadian di masa kecil Anin, membuat ia menjadi gadis mandiri dan tak mudah ditindas. Karena merasa tersisih dari keluarga dan di bedakan sebagai anak oleh Ibunya? membuat Anin masa bodoh juga dengan keluarganya, dan ia hanyalah sapi perah bagi mereka. Dan segala pekerjaan ia lakoni demi mendapat uang agar tak kena marah oleh Ibunya, jadi Anin pun setiap pulang harus membawa uang biarpun sedikit nominalnya. Dan karena itulah hingga ia terpaksa membuat dosa menjadi halal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menjelang dan sang mentari telah siap menjemput sang embun. Pagi pukul 05:00. Anin pun sudah bangun, jika telat bangun maka Ibunya akan memarahinya dengan alasan malas! jadi Anin lekas bangun dan mengerjakan pekerjaan rumah sebelum ia berangkat bekerja nantinya.
Tuhan kapan aku di anggap ada oleh mereka, dan di akui sebagai anak. Dalam diam dan tatapan yang kosong . Anin mencoba tak mengeluarkan tetesan air mata yang ia bendung agar tak membanjiri pipinya.
"Hye, pakai ngelamun awas itu masakan gosong!" teriak Ibunya dari ujung dapur, dan Anin pun memasak bukanlah di kompor melainkan di tungku.
Dan sontak hal itu membuat Anin kelabakan.
"Bu, bisakah sehari saja Ibu tak marah padaku?" aku yang baru saja terkena gertakan mencoba memberanikan diri untuk membalas perkataan Ibu.
"Kamu memang pantas di marahi! orang suruh masak malah ngelamun, terus dengan kamu ngelamun itu membuat semua kelar, kagak kan."
"Di kira aku gak capek apa Bu! setiap hari aku harus ngerjain semua sendiri dan setelah itu lekas berangkat kerja! apa Ibu tak kasihan padaku. Sedari kecil apa belum cukup dengan apa yang ibu perbuat padaku! lantas di mana hati nurani anda sebagai orang, hanya karena kasih yang di berikan oleh bapak berkurang untuk kalian. Kenapa pula aku yang harus menerima akibatnya."
Aku yang tersulut emosi tak bisa menahan amarah yang kian membuncah dari dalam hatiku. Sudah sekian tahun aku mencoba untuk tak berbicara terlalu berlebihan terhadap Ibu, namun keadaan yang membuat aku harus berkata demikian.
"Eh, durhaka ya kamu! orang tua di gertak. Sudah sukur kamu aku rawat dari kecil meski ada yang mau meminta kamu, aku sebagai orang tua mencoba mempertahan kamu rupanya ini balasan kamu terhadap Ibu."
Rupanya Bu Indah sama halnya dengan Anin sama-sama tersulut emosi.
"Jika berakhir seperti ini maka aku pun meminta untuk di berikan pada orang lain, lantas durhaka yang bagaimana yang Ibu maksud! sedang Ibu pun sama sekali tak menunjukkan sebagai orang tua yang benar, lantas apa aku harus tetap menghormati Ibu, jawab aku Bu!"
kemarahan ku kian menjadi kala mendengar penuturan darinya.
Kehidupan yang keras lah membuat aku bersikap tegas karena di balik ceritaku bukan lah seperti kebanyakan yang ada di novel.
"Ada apa ini! kenapa pagi-pagi sudah berantem kalian!" gertak Bang Edi kepada kami berdua karena antara aku dan Ibu sedang adu mulut.
"Ini nih Ed, Anin sudah berani sama Ibu, dia sudah berani gertak Ibu juga? sakit Ed, Ibu di buat begini.
Nah kan mulai sandiwaranya.
" Benar gitu Nin! apa yang di katakan Ibu?"
"Udah ya, lebih baik Abang diam! lagipula percuma aku jelasin mau sampai aku matipun itu semua tak akan merubah keadaan puas kalian."
Setelah mengucapkan kata-kata itu aku langsung menyelonong pergi, karena aku sudah muak. dan lagi aku harus kerja.
Seandainya Ibu tak pernah menaruh dendam padaku mungkin ini semua tak akan terjadi, dan aku pun akan lebih menghormatinya sebagai Ibuku, bukan sebagai musuh. Aku pun lelah di perlakukan seperti ini oleh mereka hingga terciptalah Anin yang penuh ketegasan, yang tak mudah ditindas biar itu keluarganya sendiri, jika dia di perlakukan tak sepantasnya. Dan sosok Anin yang cengeng takut jika di marahi sewaktu dulu namun kini telah tiada! dan sosok Anin kini berubah menjadi sosok yang tak mudah menyerah dengan segala masalah yang ada. Karena masa kecil yang membuat ia seperti ini. Kuat dalam hidup, kuat dalam hinaan serta cacian.
Setelah aku sampai di kamar buru-buru aku melihat jam dari Hp jadul ku, yang ku beli dengan menyelipkan sisa uang yang aku berikan pada Ibu.
Dan yang terpampang jelas bahwa sekarang sudah menunjukkan pukul 6:30, karena aku bekerja dengan berjalan kaki jadi sebelum jam delapan aku harus sudah berada di gudang. Dan tanpa pamit aku pun langsung meninggalkan rumah serta dapur yang masih berantakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sejatinya hidup bukanlah diratapi melainkan di jalani! mungkin dengan ini kelak Anin akan berubah menjadi seseorang yang beruntung dalam menjalani hidup yang penuh lika liku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
mom mimu
makin curiga kalo Anin bukan anaknya Bu indah nih, masa tega banget sih aduin Anin sama Edi, kalo ibu normal kan pasti sembunyiin perasaannya meski sesakit apa pun d bentak anak, tapi ini malah d adu2in sama anak sulungnya sendiri 😬
2022-10-25
0
Dewi
Jadi ada sebab akibatnya kenapa Anin berlaku seperti itu, ya, karena perlakuan ibunya
2022-10-21
1
Inru
Kuat-kuat buat Anin 💪
2022-09-23
2