Sesampainya aku di rumah. Aku langsung merebahkan badanku di tempat tidur yang sudah tak layak untuk di tiduri. Saat aku dan Kak Niko akan masuk kedalam kamar, namun di cekal pergelangan tangan ku oleh Ibu.
"Dasar Anak manja! buktinya kamu kuat kan jalan tanpa terjatuh, sakit gitu saja sudah ngeluh."
Mereka berdua pun sama-sama diam dan tak ingin menanggapi ucapan Bu Indah.
Apa Ibunya tak melihat bahwa Anin berjalan dengan menahan Kakinya agar tak terjatuh, dan Anin pun berjalan dengan langkah Kaki yang lunglai, apa Ibunya pun tak dapat melihat itu. Dan mereka pun tak memperdulikan Bu Indah yang terus saja mengomel bagai burung Kutilang yang baru saja di beri pisang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu sudah Anin terbaring sakit, dan kini ia telah sembuh dari penyakit yang teramat menyiksanya. Dan itu membuat ia tak mendapatkan uang! dan otomatis penghasilannya berkurang banyak.
Setelah sembuh dari sakitnya kini ia menjalani hari-hari seperti biasanya. Dan kini ia bertambah semangat untuk lebih giat lagi dalam bekerja, bukan tanpa alasan karena uang simpanannya semakin menipis karena itu sebagai uang yang nantinya untuk ia mencari kos dan keluar dari rumah. Karena keputusannya sudah bulat bahwa ia akan pergi dari kediaman Ibunya lalu memulai dengan kehidupan barunya tanpa ada gangguan yang menjadikannya sapi perah! karena Niko pun terus memaksanya agar segera pergi dari rumahnya.
Pukul 20:09 saat ini. Entah kenapa Aku ingin memakan Nasi goreng di ujung perempatan yang berada di rumah ku, dan jadilah aku berjalan kaki untuk menuju ke pangkalan nasi goreng.
Di rasa sepi tak ada yang melihat kini Anin telah keluar dengan cara mengendap-endap agar tak kepergok oleh Ibunya, berjalan menyusuri terangnya lampu jalanan? Namun mengapa hidupnya tak seterang lampu yang terpasang di jalanan yang begitu sangat cerah, akan pantulan Cahaya yang di dapat dari lampu itu sendiri.
"Ais.. Ngapain sih pakai berkhayal dan membayang kan hidup gue seterang lampu! dasar otak somplak bisa-bisanya mikir sampai sejauh itu. Ini kan kehidupan nyata bukan cerita yang berada di novel-novel itu " Anin yang ngedumel sambil berjalan seakan hampir semua orang meliriknya.
Dasar gak waras.
Dasar Orgil.
Seperti itulah yang di bicarakan orang-orang para pengendara yang melihat kelakuan Anin.
Bodoh amat batinnya. Dengan ocehan orang sekitarnya.
Tak berapa lama sampai di tempat pangkalan nasi goreng juga.
"Pak! bungkus Satu ya," pintanya pada sang penjual.
"Iya Mbak, di tunggu ya."
"Sendirian saja Dek?" tanya seseorang yang berada di sampingku, yang tiba-tiba menegurku, dan sedikit membuat aku terkejut.
"lah emang Bapak, gak lihat apa! atau memang ada orang di belakangku yang tak terlihat." Jawabku yang penuh rasa kesal pada orang itu.
"Bungkus berapa memangnya kamu Dek," tanya dia lagi yang aku perkirakan kisaran 30 keatas.
"Dua, memang kenapa! apa Bapak mau bayarin juga punya saya? sehingga Bapak bertanya." Aku berlagak acuh, dan tak mau genit.
" Berapa lah harga dua bungkus nasi goreng itu, nanti biar saya yang bayar! dan jangan panggil saya Bapak, karena saya belum tua?"
"Beneran Bapak mau bayarin nasi goreng saya,"
"Panggil saya Om Bagas, beneran saya yang akan membayar. apalagi kalau kamu mau ikut Om jalan, pasti apa yang kamu minta bakal Om kasih."
Anin pun merasa sangat gembira karena mendapat tawaran oleh seseorang yang memintanya memanggil dengan sebutan Om itu.
"Wahh.. Anin mau Om, kalau gitu."
"Jadi kamu namanya Anin ya?"
"Iya, Om."
"Kalau deal besok kita bisa pergi! cukup temani Om, jalan saja, Ok."
"Baik."
"Mbak ini nasi gorengnya, dan sudah di bayar sama Mas, ini."
"Baik Pak, makasih ya." penjual nasi goreng pun mengangguk sambil tersenyum kepada Anin.
"Om! saya duluan ya, dan makasih sudah di bayari."
"Sama-sama, dan besok saya tunggu jam 6 sore." Bisik nya padaku.
Dan aku pun mengangguk tanda bahwa aku mengerti..
Dengan hati berbunga aku membawa dua bungkus nasi goreng, dan yang satunya bisa ku gunakan untuk besok bekal kerja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya.
Sesuai perjanjian Anin dan orang yang di panggilnya Om Bagas, mereka kini sedang mengadakan pertemuan. Dan apa yang di katakan oleh Om Bagas bahwa Anin hanya cukup menemaninya jalan tanpa ada permintaan lebih dari Om Bagas, dan itu membuat Anin semakin semangat dan begitu sangat gencar akan mencari Mangsa lagi. Karena tanpa melakoni hubungan yang tak selayaknya di lakukan, sebagai mana pekerjaan yang ia lakoni seperti menemani Om-om, hingga menjadi simpanan.
Sedang di lain tempat Niko yang kelabakan karena sudah dua hari ini Anin tak bisa di hubungi sama sekali, karena takut akan Anin yang kenapa-kenapa akhirnya, Niko menuju kerumahnya sepulang dari kerja lembur nanti.
"Anin kamu kemana sih, di hubungi susah banget" Batin Niko, karena Niko sama sekali tak fokus dalam bekerja karena merasa di acuhkan oleh Anin.
Sedangkan di rumahnya Anin.
"Mana jatah uang belanja Ibu! kamu gak lupa kan."
Anin pun memberikan Uang pecahan namun totalnya ada seratus ribu.
"Jika kurang maka carilah sendiri." Sambil mengatakan lantas Anin pun berlalu dan langsung masuk kedalam kamar. Belum juga ia merebahkan badannya, terdengar suara sepeda motor dengan kenalpot suara khas, Anin pun bisa menebaknya siapa yang malam-malam bertamu.
"Assalamualaikum Nin! Anin." Teriak Niko di depan rumah.
"Waalaikumsalam Kak Niko, tumben kesini kak ada apa?" karena Anin merasakan ada sesuatu yang membuat Niko bisa sampai disini.
"Nin! ikut aku keluar bentar ya?"
"Kemana?"
"Gak usah banyak tanya dulu, lekas lah masuk ambil jaket gue tunggu disini." Kata Niko.
"Sebenarnya kita mau kemana sih Kak?"
"Udah nanti saja tanya nya, buruan naik dan jangan lupa pegangan."
Anin pum menuruti apa yang di ucapkan oleh Niko, tanpa membantah perintahnya.Tak berapa lama sampailah mereka di taman. Hembusan Angin yang yang masuk dalam pori-pori kulitku seakan membawa aku dalam keheningan malam ini, kala kami berdua hanya duduk tanpa berkata apapun.
Setelah beberapa menit kemudian terdengar suara Niko yang cukup keras.
"Kamu dua hari kemana saja Nin!" Suara keras Niko mampu mengalihkan perhatian para pengunjung, hingga semua orang menoleh kearah ku dan Kak Niko.
"Di rumah dan gak kemana-mana," ucapku. Padahal dua hari ini aku menemani Om-om jalan, dan aku terpaksa berbohong padanya.
"Kamu bohong!"
"Iya Kak! beneran."
"Aku bukan lah bocah seperti kamu yang pandai berbohong, Nin."
"Jujur kamu!"
"Maaf."
"Kesalahan apa yang kamu perbuat hingga kamu meminta maaf,"
Dalam tangis aku meminta maaf pada Kak Niko, dan aku mencoba berkata jujur dengannya.
"Kemaren waktu aku beli Nasi goreng karena lapar, gak sengaja bertemu dengan Om-om,"
"Maksud kamu?"
Cukup lama ku pandangi wajah Kak Niko dan benar saja dia tau apa yang tersirat di wajahku.
"Tapi kamu sama sekali gak ngelakuin itu kan, Nin!"
"Kakak tenang saja, sama sekali tak ada yang mereka pinta, selain ingin di temani Kak."
"Syukur lah kalau begitu."
...----------------...
Pundi-pundi rupiah mulai mengalir di kantong Anin, dengan ia menemani Om-om? Dan Anin pun mulai menikmatinya karena hasil yang ia dapat cukup lumayan. Makasih ya buat para reader yang telah sudi mampir di karya receh saya🥰🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Dewi
Niko sayang banget sama Anin cuma ada batas diantara mereka berdua
2022-11-18
0
mom mimu
Anin kayanya beneran anak pungut nih... ibunya ko tegannya pake kebangetan ya... tiap hari mintain uang sama Anin 😢
2022-11-06
0
Lina Zascia Amandia
Ibunya persis pemeras....
2022-09-17
0