"Aku mau kamu menyerahkan hati kamu untuk Kakak!"
"Huh, apa aku tak salah dengar?"
"Apa kamu merasa jika telinga kamu bermasalah."
"Tidak!"
"Mendekat lah." Perintah Niko pada Anin.
"Aku mencintai kamu, mau kah kamu menjadi pacar sementara ku sebelum aku halalkan."
Uhuk..Uhuk..Aku Pun langsung tersedak, di saat aku menelan air yang barusan aku minum yang berada di hadapan ku saat ia membisikkan sesuatu.
"Gila kamu! bukan kah kamu bilang kalau kita hanya akan menjadi saudara, lantas bagaimana kamu bilang bahwa kamu menaruh hati padaku, bener-bener ya."
Tak bisa ku percaya bahwa tadi sempat aku berpikir Niko sedang meminta balas budi dengan menukar tubuhku untuknya, namun aku salah!.
Dan kali ini dia membisikkan kata indah di telingaku, saat kita bertemu di malam ini saat itu pula ia mengucapkan kata cinta padaku. Yang tak tau aku harus berbuat apa?
Sebetulnya pun aku tak mau berpisah dengannya, untuk menjalani kehidupan yang nyata ini, aku tak mampu melangkah sendiri di kehidupan yang teramat nyata dan menyakitkan. Aku tak sanggup berpisah meski di kehidupan sekarang ini pun, aku sungguh tak kuat jika melangkah sendiri tanpa dia sebagai kakiku. Namun semua ini bagiku seperti mimpi.
Tuhan jika ini mimpi buruk untukku maka sirna kan dan bangun kan aku dari ini semua. Dan jika ini nyata adanya, berarti engkau sudah mempersiapkan dirinya untuk aku.
"Memang aku sedang gila karena kamu, aku memang gila karena aku terjebak dari kisah ini, dan aku benar-benar gila jika kamu menolak ku."
"Tapi ini terlalu cepat Kak! lagian orang tuamu tak akan setuju jika kamu menjalin hubungan denganku, dengan seorang anak yang tak pernah di harapkan kehadirannya, puas Kakak!"
Aku pun langsung berdiri dan meninggalkannya begitu saja.
"Nin, Anin tunggu! aku mohon tolong mengerti lah tentang perasaan ini Nin."
"Lepas Kak, lantas Kakak, ingin aku mengerti tentang perasaan Kakak, sedang aku! aku sama sekali tak di harapan di keluargaku lalu siapa yang akan mengerti tentang perasaan aku."
Hiks..hiks..hiks..
"Apa Kakak, tak malu mempunyai pacar seperti aku! apa kamu ingin mempermalukan diri kamu sendiri dengan menjalin kasih denganku tidak kan."
"Aku hanya perempuan bodoh, aku perempuan tak berpendidikan, aku-."
"Stop Nin, jangan kamu berbicara seperti itu lagi ya."
Anin yang menangis sesenggukan hingga dirangkul lah tubuh ramping milik Anin, dan Niko pun memeluknya sangat erat dan sepertinya tak akan mau kehilangan sosok perempuan yang di anggapnya saudara, namun entah sejak kapan perasaan itu hadir dari dalam diri Niko, dan rasa kasian pun menjadi cinta.
Tubuh Anin di bawa di dekapan sang pemilik tubuh tegap itu, di bawa sinar lampu yang menyinari seluruh jalanan. Seakan mereka menjadi saksi akan kisah mereka berdua, yang kini sama-sama berperang dengan rasa yang mereka miliki.
"Mungkin ini terlalu cepat bagi kamu, tapi makin lama makin sesak saat Kakak mencoba menahan dan mencoba menghilangkan rasa yang ada di sini ,di hati ini."
"Dan kamu dengar baik-baik ya? kamu Anindiyah Qoirunisa, dan aku ,Niko putra pratama, bahwa aku sangat mencintai kamu dan berharap kamu yang mengisi di kehidupan ku nanti hingga ajal menjemput."
"Apa Kakak, serius dengan ucapan yang barusan?"
"Aku serius dan Ibuku, merestui kita berdua, jadi aku kesini pun atas support dari mereka."
"Apa kamu yakin dengan pilihan yang kamu ambil sekarang Kak, dan kamu pun tau sendiri apa pekerjaanku!.
"Aku tau, kamu seorang simpanan Om-om, dan sekaligus pelayan di dunia malam."
"Jika aku tak perawan apa kamu kekeh akan semua ini," Aku berharap Niko, akan jijik denganku karena aku sudah tak perawan lagi.
"Itu urusan nanti, yang kita bahas saat ini tentang perasaan yang tertanam di hati ini."
Sesungguhnya aku merasa terkejut akan apa yang diungkapkannya barusan, namun aku mencoba tetap tenang dalam menyikapinya. mengingat memang pekerjannya sebagai simpanan Om-om, dan bukannya selama ini ia sangat teguh akan pendiriannya, namun apa yang kudengar saat ini! Anin mengakuinya jika mahkota yang ia jaga terenggut! aku sungguh tak percaya itu.
Wajah bingungnya menghiasi mataku, aku pun tau apa yang ada dalam pikirannya, karena aku sang penakluk Om-om, jadi dari sorot matanya pun sudah terlihat olehku, kalau Niko pun sebetulnya ragu saat aku mengatakan bahwa aku sudah tak suci, dan sengaja aku menguji dengan kata-kata itu. Bukan kah semua lelaki hampir sama! jika mengetahui bahwa perempuan yang dicintainya sudah tak suci maka akan meninggalkannya, karena semua insan mendamba akan malam pertama dengan harapan wanitanya masih suci.
Di rasa Anin mulai cukup tenang, Niko, pun melepaskan pelukannya. Meski begitu wajah mereka tetap saling beradu pandang.
"Kita kembali ke kos ya, udah jam sebelas. Baiknya kamu istirahat karena besok akan pulang kampung jadi siapkan mental kamu! buat ngeladenin keluarga kamu itu."
Yang di katakan Niko ada benarnya, tujuan mereka menyuruh Anin pulang pastinya ada maksud terselubung. Namun Anin berusaha untuk menghilangkan sisi negatif yang ada di dalan otaknya itu. Sedang di perjalanan menuju ke arah kos, mereka berdua hanya terdiam mungkin saja sedang meredam perasaan yang bergejolak saat ini.
Sesampainya di kos.
Kini mereka sudah berada di halaman kos tempat dimana Anin merebahkan diri di kala sepulang kerja, karena hanya di tempat ini lah iya merasa damai dengan keadaan yang sekarang, walau ia hidup tanpa keluarga yang menganggap keberadaannya namun Anin mencoba mengusir rasa itu dan membuangnya jauh-jauh. Karena Anin sudah tak berharap akan di anggapnya atau tidak, dan kini pun ia tak perduli walau tanpa mereka toh nyatanya Anin bisa memenuhi gizi perutnya walau dengan cara lain.
Ceklek..
"Eh, ngapain Kakak, ikut masuk."
"Mau tidur lah masa ia mau buat kue,"
"Dasar edan keluar gak kamu."
"Ogah, orang ngantuk malah di suruh keluar."
"Biasanya kan kamu tidur di hotel, ngapain sih pakai mau tidur di sini."
"Woi..Berisik tau gak! udah kek pasar malam aja kalian gak tau ya kalau ini waktunya orang tidur!"
"Kamu sih"
"Kamu"
"Kamu yang salah"
"Kamu"
"Bisa diam gak kalian berdua! gua kawinin juga lu."
"Boleh Mbak, sekarang juga gak ape-ape."
"Dasar wong edan."
"Ngapain sih kalian berantem?" saat kami bertengkar kecil, namun di kejutkan oleh suara dari kamar sebelah yang bernama Mbak weni, dan pekerjaannya jangan di tanya yang ada nanti kalian bisa panas dingin kalau denger..
"Ini Mbak, saya mau tidur gak di bolehin sama nih bocah."
"Alah orang Niko numpang tidur semalem wes diributin to yo? kasih aja ijin napa sih Nin, kasian tuh udah ngantuk."
"Tapi Mbak!"
"Yo wes aku mau keluar mau tidur, awas kalian kalau ribut." Sambil berlalu pergi Mbak weni mengancam ku karena aku tak mengizinkan Niko tidur disini.
Kalaupun jadi tidur disini bisa berabe nih urusannya, bagaimana tidak! orang di kamar sebelah tepatnya di kamar Mbak Weni, setiap malam selalu ada suara yang membuat aku merinding sehingga bulu kudukku berdiri, lantas apa jadinya kalau si Niko denger, apa gak adem panas tuh orang.
"Ya sudah Kakak mau tidur dulu."
"Tunggu!"
"Ada apa sih sayangku,"
saat aku mendengar Niko, memanggilku dengan sebutan sayang, serasa di awang-awang, dan membuat panas dingin di seluruh tubuhku.
"Hye, kenapa!"
"Eum, gak papa " aku tadi sempat melamun karena jadi deh lupa apa yang mau aku omongin.
"Kenapa itu pipi, kayak kepiting rebus aja."
"Berisik."
"Aku cuma mau bilang, nanti waktu kamu tidur terus dengar suara tokek nyanyi, kalau bisa itu kuping sumpal pakai Headset, ngerti kan Kakak."
"Emang sekeras apa sih suara tokek, sampai Kakak harus jaga-jaga?"
"Nanti juga bakal tau."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
mom mimu
jiahhahaha.. dikira tokek nyanyi katanya 🤣🤣🤣
2022-11-12
0
Inru
Pengennya langsung halal!
2022-10-20
0
Lina Zascia Amandia
Mau dong Anin...
2022-10-05
0