Seperti biasa pukul dua dini hari aku baru pulang dari bekerja bersama Intan. Dengan di antar oleh ojek langganan kami, agar memudahkan perjalanan kami tanpa harus gonta ganti ojek.
"Mbak Anin, kemaren Mbak viral loh,"
"Huh, kok bisa, Bang?" tanyaku kepada Bang Heru ojek langganan ku.
"Iya, kemaren aku lihat FB, kalau gak percaya nanti sampai rumah cek saja Mbak.
" Iya Bang, makasih infonya ya,"
Kok jadi penasaran ya, terus siapa yang berani ngevidio? tar dah ku mau lihat dan sekalian nyuruh dia buat hapus tuh Vidio. Gumam ku dalam hati, karena aku tak terima jika semua orang tau.
Selepas berganti pakaian aku yang hendak naik ke ranjangku, namun aku urungkan karena kedipan dari arah ponsel yang sengaja aku Silence. Dengan cepat segera aku menyambarnya dan terpampang nama Niko yang berada di layar Ponselku.
["Halo Kak, kenapa malam-malam begini telepon?"] tanyaku pada Niko.
]"Maaf Nin, aku mau tanya sesuatu sama kamu boleh?"]
["Gak harus malam-malam gini kan Kak!"] aku pun cukup lumayan kesal karena pukul tiga dini hari, ingin bertanya yang aku tak tau soal apa? namun sepertinya cukup penting karena di jam segini meneleponku.
["Gak bisa! harus sekarang,"]
["Baik lah, mau tanya soal apa memangnya. Dan sepertinya ada yang penting?"]
["Kamu kok bisa ketemu sama Erika?"]
["Kakak tau darimana? apa jangan-jangan Kakak udah liat vidio yang di sebar di sosmed ya,"]
["Jawab dulu, itu nanti saja di bahas."]
Lantas aku pun menceritakan semuanya tanpa ku tambahi dan aku kurangi sedikit pun, bagaimana aku bisa bertemu dengan si ulet bulu itu.
["Nah gitu ceritanya."]
["Hahahaha."] Terdengar suara tawa dari Niko begitu nyaring dan membuat telingaku ngilu karena tawanya yang sangat keras.
["Udah ketawanya."]
["Hahaha maaf Nin, kelepasan. Tapi kamu gak papa kan gak ada yang luka kan,"]
["Idih, sok perhatian kamu, menurutmu apa aku gampang terluka?"]
["Aih, iya aku lupa? lu kan cewek pemberani jadi gak mungkin kan ya kalau lu terluka,"] pekiknya.
["Ya udah tidur lah udah mau pagi, besok aku telepon lagi."]
"Iya." Tutt. Lantas aku mematikan ponselku dan segera beranjak tidur.
🍀🍀🍀🍀🍀
Beberapa tahun silam awal aku mengenal Niko.
Aku yang berjalan gontai karena sedang mencari pekerjaan namun seharian penuh tak kunjung aku mendapatkannya. Rasa lelah dan perut yang teramat sakit karena dari pagi hingga sore menjelang aku belum memakan nasi sama sekali. Hanya satu roti yang ku makan untuk mengganjal perutku saat akan berangkat mencari pekerjaan.
Namun di usiaku yang masih terbilang kecil karena umurku baru 13 tahun waktu itu, secara mana ada yang mau menerimaku biarpun aku melamar jadi seorang babu sekalipun tak ada yang mau menerima. Karena di usia yang masih bocah, maka yang ada di benak orang dewasa hanya lah bermain dan sekolah tanpa mengerti memasak dan beberes, padahal semua itu telah menjadi makananku sehari-hari.
Dan entah waktu itu jam berapa aku tak tau, karena langkah kakiku terus saja berjalan sampai aku mendengarkan suara tarkim dari arah masjid, dan tandanya sudah hampir masuk magrib.
Tiiiinnnn..Seorang pria berhenti tepat di hadapan dengan membunyikan klakson.
"Adik, mau kemana? bukanya ini sudah mau masuk magrib?" ucap lelaki itu.
"Mau pulang Om, dari cari kerja," Aku menjawabnya dengan suara lemah dan aku tak berani menatapnya juga.
"Memangnya kamu gak sekolah?" sambil mengerutkan dahinya lelaki itu bertanya.
"Emang penting ya Om, sekolah itu." ucapku polos, karena memang kata Ibu sekolah itu tak penting karena menghabiskan banyak duit, jadi jika harus sekolah maka anak lelaki lah yang akan bersekolah, seperti saudaraku Bang Edi, dan Riki.
"Huff, kamu namanya siapa?" terdengar helaan nafas berat dari lelaki itu.
"Anindiyah Om, tapi orang manggilnya Anin."
"Jangan panggil saya Om, panggil saja Kakak. Ok,"
Lalu aku mengangguk tanda bahwa aku mengerti.
Kruuukk.. krukkk.
"Hahaha, kamu lapar ya,"
Aku yang tak punya rasa malu lantas aku pun menjawabnya dengan gamblang.
"Ya udah ikut Kakak, cari warung dan kita makan ya,"
"Aku yang ditawarinya sedikit pun tak punya rasa takut, dan aku tak perduli jika orang yang mengajak ku bicara saat ini pun adalah orang jahat.
Dan dalam benakku, lebih baik aku di bawah oleh orang jahat, entah di siksa ataupun di ambil organ tubuhku untuk di jualnya. Karena bagiku lebih baik seperti itu, daripada aku harus merasakan sakit namun tak berdarah. Akibat siksaan mental yang di torehkan Ibu.
Dan karenanya lah aku seharian berusaha mencari pekerjaan karena dianggap tak berguna dan bisanya hanya menyusahkan, dan dalam seharian ini aku tak mendapat pekerjaan maka aku harus siap di usir dari rumah.
Di dalam warung aku yang tadinya lapar kini menjadi kenyang, dan entah darimana datangnya air mata ini tiba-tiba membasahi pipiku,
"Kenapa nangis," tanya laki-laki itu
Aku yang tak kuasa menahan sesak yang teramat sakit, akhirnya ku peluk erat lelaki yang berada di sampingku. Hingga tanpa malu aku meluapkan semua isi hatiku kepadanya dengan di iringi isak tangis.
"Kamu yang tenang ya, sekarang lebih baik kamu makan dulu." Titahnya.
"Kak, habis ini bawa aku ya."
Aku yang bernama Niko Saputra, sungguh tak tega melihat gadis belia ini, yang sedang berjuang melawan hidup. Dan betapa mirisnya kehidupan yang di berikan oleh orang tuanya, jika ia tak ingin mempunyai anak mengapa harus di buat sengsara? lebih baik di berikan pada orang yang tak bisa mempunyai keturunan bukan. Dan tak harus menjadikannya tulang punggung untuk mereka selaku keluarganya. Untungnya aku adalah orang baik, bagaimana jika orang jahat menemukannya berjalan menyusuri jalanan yang penuh dengan lahan tebu, dan jalanan pun begitu sepi, tak bisa ku bayangkan jika saja ia bertemu dengan orang jahat. Kebetulan aku adalah pemilik pabrik Lollipop, yang di dirikan oleh orang tuaku, namun aku tak mau jika orang-orang tau akan statusku. dan aku ingin menjadi orang biasa tanpa Embel-embel kekayaan dari orang tuaku. Dan sifat orang tuaku pun menurun padaku agar selalu menolong sesama jika di butuhkan, dan jangan lah memandang kasta orang, itulah pesan yang di berikan pada orang tuaku.
"Kak kenapa diam gak mau ya,"
"Kamu Kakak antar pulang ya, besok Kakak jemput kerumah kamu buat kerja mau kan."
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah," ucap ku dengan rasa syukur.
"Udah buruan makan nanti keburu malam dan takutnya nanti kamu tambah di marahi."
Aku pun mengulum senyum dan menggelengkan kepala karena merasa lucu, akan sifatnya yang ceplas-ceplos dan keberaniannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di situlah awal mereka bertemu hingga menjadi sebuah sahabat. Sifat rendah hati Niko membuat Anin tak terima jika sahabatnya itu di sakiti. Karena tanpa Niko, kini Anin bukanlah siapa-siapa dan bisa di pastikan jika Anin akan menjadi gembel, jika saja waktu itu Niko tak menolongnya dan memberikan pekerjaan padanya, maka akibatnya di usir oleh ibunya, jika pulang tanpa membawa berita tentang pekerjaan yang ia cari selama seharian penuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
mom mimu
jadi Niko sebenernya orang kaya ya, tapi dia gak suka pamer dan sombong... sempurna deh, aku padamu lah Nik 😍😍😅👍🏻
2022-11-10
1