Belum juga Anin masuk ke dalam rumah, tapi lagi-lagi ia mendengar suara Ibunya, akibat kejadian tadi pagi, namun tak di gubrisnya.
"Eh anak malas! baju kotor sudah menumpuk dasar anak pemalas, dari kemaren ngerjain pekerjaan di rumah sama sekali tak becus! dan buruan keluar dari kamarmu." Teriak Ibu dari arah dapur terdengar jelas di telingaku.
Sepulang dari kerja memang aku langsung masuk kamar karena tiba-tiba kepalaku pusing, sayangnya belum sempat merebahkan diri terdengar suara Ibu yang meneriaki ku dengan sangat nyaring.
"Anindiyah, keluar kamu! teriak ibuku lagi. lekas aku bangun dan berdiri setelah itu aku keluar kamar untuk menemuinya di ruang tengah.
Untuk ketiga kalinya Ibu berteriak dengan suara keras.
" Ada Bu?"
"Budeg ya kamu! gak denger ibu teriak-teriak manggil kamu."
Anin yang di marahi pun hanya bisa diam dan tertunduk, dan kali ini dia tak melawan perkataan Ibunya karena kepalanya yang berat dan teramat pusing membuat ia memilih diam.
"Ibu gak mau tau cucian di bak udah penuh dan kamu dari kemaren belum mencucinya, dan segeralah ke kamar mandi untuk mencuci semua baju-baju kotor yang berada di bak."
Anin tanpa menjawab bergegas menuju kamar mandi dan segera mencuci pakaian yang berada di bak. Tak ingin mendengar ocehan dari sang Ibu, Anin pun segera melaksanakan tugas yang di perintah kan oleh Bu Indah.
Dengan buliran air mata yang jatuh membasahi pipi gadis berusia 15 tahun itu, mencoba tegar akan perilaku Ibunya! dengan rasa kepala yang berdenyut Anin menahan sakit berusaha kuat agar pekerjaannya terselesaikan dengan begitu dia dapat beristirahat dengan cepat.
Tuhan berikan hidayah serta kesadaran untuk Ibu dalam memperlakukan aku, aku juga anaknya Ya Allah. Aku juga ingin di anggap anak oleh Ibu, apa salahku hingga aku harus menjalani hidup seperti ini . Dalam deraian air mata Anin hanya bisa mengeluh dalam batin.
Pukul 18:00, Anin sudah selesai mencuci lekas ia mandi dan tak berapa lama ia sudah keluar dengan mata yang sembab akibat menangis. Lalu ia gegas masuk ke dalam kamar hendak beristirahat, namun perutnya teramat lapar dan tak ada makanan yang di tawarkan oleh Ibunya padahal ia sangat lapar.
"Ah, ia aku kan punya mie sisa kemaren lebih baik aku memasaknya karena perutku sangat lapar dan segera minta di isi" Anin yang berbicara sendiri langsung mengambil Mie yang berada di meja samping tempat tidurnya yang sudah lusuh itu, dan keluar kamar menuju kearah dapur.
Tak berapa lama mie yang di masaknya sudah siap untuk di lahap, tak ingin mie yang sudah susah payah di masaknya akan di ketahui oleh Ibunya, maka ia berlalu masuk kamar lagi dan akan memakannya di dalam kamar.
Uap panas yang masih mengebul dan kuah yang di irisi beberapa potongan cabe membuat Anin tak sabar untuk segera menikmatinya.
Saat ia akan menyendok kan mie kedalam mulutnya tiba-tiba getaran gawai mengagetkannya.
Drett..drett.
Anin pun lekas mengecek siapa tahu ada yang penting jadi ia buru-buru melihat isi pesan, dan meletakkan sendok yang kini di pegang nya.
"Bocah lu lagi ngapain?" Isi pesan dari Niko.
"Gak lagi ngapa-ngapain, memangnya kenapa?" tanya Anin pada Niko.
"Eh, ada temenku yang minta di temani Ngopi mau gak kamu,"
"Cuma ngopi doang kan kak! gak adak maksud yang lain." Ucapku pada Niko, dan aku hanya berjaga-jaga bila mana ada yang meminta lebih dan di pastikan aku akan menolaknya.
"Tenang aja Nin, aku yang bakal jamin kalau temen Kakak hanya minta di temani,"
"Baiklah, jam berapa nanti acaranya ?"
"Nanti kakak yang akan jemput jadi bersiap-siaplah,"
"Ok, ya udah aku mau makan dulu perutnya uda gak sabar pengen buru-buru minta asupan."
"Eh bentar, jangan bilang kalau lu makan mie lagi?"
karena Niko pun sudah tau latar belakang Anin. Dan Niko pun sudah hafal kesehariannya seperti apa dan begitu juga Anin yang sedang makan apa.
"Sok tau lu kak,"
"udahlah jangan bohong gue tau lu lagi makan mie, memangnya kamu gak takut kalau sampai kamu sakit!"
Aku terdiam sejenak melihat isi pesan dari Niko, bagaimana bisa dia hanya orang luar yang begitu peduli dengan hidupku, namun tidak dengan keluargaku! biarpun aku Mati sekalipun mereka tak akan peduli.
Kepala yang baru saja sudah agak mendingan kini berdenyut hebat bagaikan di hantam oleh batu, sakit, sesak, kecewa, menjadi satu, Perut yang semula lapar kini terasa kenyang bersama datangnya sakit yang aku rasa.
Drett..Drett. Ku lirik suara getaran panjang dari arah gawai yang berada di sebelahku, sekilas ku lirik terpampang jelas tertera Nama Kak Niko.
"Halo Nin, kamu gak papa kan,"
"Memangnya aku kenapa Kak?"
aku mencoba kuat agar suara isakan ku tak terdengar olehnya, namun bukan Niko namanya yang tak mengetahui apa yang sedang terjadi padaku.
"Kalau kamu pengen nangis maka Menangis lah, ada aku di sini Nin, jangan lah kamu merasa sendiri. Aku Niko, selalu berusaha ada buat kamu buat tempat kamu mencurahkan segala isi hati kamu, menangis lah agar rasa sesak yang kamu rasakan berkurang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Dewi
Niko memang laki-laki yang baik
2022-11-04
0
mom mimu
udah fix suka nih Niko... semangat kak, aku mampir lagi... 💪🏻💪🏻💪🏻
2022-10-27
0
Rini Antika
So sweat nya..🤗
2022-09-14
0