Anin pulang dengan membawa uang sebesar 50ribu di tambah cemilan ringan yang di belikan oleh Erik. Dan betul saja mereka meminta Anin untuk sekedar menemaninya jalan untuk bertemu dengan teman-teman semasa sekolah waktu itu, karena Erik yang baru lulus SMA. Anin pun merasa puas dan senang karena pulang membawa uang dan satu kantung makanan yang di belinya bersama Erik di minimarket, dan setelah itu di antarnya pulang juga.
Tumben kemana mereka kok sepi, batin Anin.
Benar saja mereka sudah masuk kedalam kamar masing-masing, karena Anin pun bisa mengintipnya di karenakan kamar yang mereka gunakan terbuat dari bambu yang telah di buat Anyaman.
Aku menggeliat kan badan yang berada di kasur lusuh ku karena merasakan lelah dan capek.
"Aaaa, enaknya ini tulang bautnya pada copot semua kali ya, capek banget ini hari, udah gitu kenapa pula pusing dari tadi gak ilang-ilang" keluh anin pada diri sendiri.
Tak terasa malam ini sudah menunjukkan di angka 23:00 dan malam yang semakin larut dan sunyi hanya terdengar suara jangkrik yang saling bersahutan, bertambah pula semilir angin yang masuk lewat sela-sela yang berada di dalam kamar. Membuat badanku semakin kedinginan dan rasa pusing yang semakin menjadi.
"Tuhan, kenapa pusing yang sedari sore aku tahan kini malah menjadi" suara lirihnya di barengi dengan menahan sesuatu agar tak jatuh dari matanya.
Ya Allah, sakit sekali, di saat aku seperti ini apa ada yang masih perduli denganku, apa ada yang mengasihi aku. Hiks..Hiks.. Anin hanya bisa bersuara dalam hati dan menangis dalam batin, dan tak terasa buliran kristal yang semula ia tahan akhirnya runtuh juga dalam tangisannya. Dan Anin mencoba memejamkan mata berharap esok pagi akan segera datang dengan begitu siapa tahu sakit kepala akan hilang.
"Anin! cepat bangun sudah siang masih saja tidur!"
"Nin! jangan berlagak gak dengar ya kamu,"
"Bener-bener ini anak ya! minta di guyur kayaknya" bentaknya karena sedari tadi Bu Indah terus berteriak namun Anin masih belum bangun juga karena pagi ini sudah berada di pukul 7:00.
Bu Indah mencoba masuk kedalam kamar anaknya, dan terlihat Anin masih berada di dalam selimut yang sudah tak layak pakai, dan sudah waktunya untuk di bakar. Namun apalah daya Anin tak mampu untuk membeli selimut karena pasti harganya juga mahal.
"Hye anak sial, bangun kamu! saking enaknya ya yang semalam keluyuran sampai lupa waktu dan sekarang sok jadi orang kaya!"
"Dan jam segini pun kamu belum bangun, enak ya gak ngurusin rumah udah berlagak jadi orang kaya ya."
Namun yang di teriaki dan di maki-maki masih tak bergerak.
BU Indah pun jadi heran.
Apa Anin mati ya, di teriaki masih tak merespon.
Seperti itulah yang di pikiran Ibunya, bukan rasa kuatir malah bisa-bisanya mengira bahwa Anin meninggal.
Dengan rasa penasaran Bu Indah memegang tangannya dan mengecek nadinya.
Hangat masih hidup juga, batinnya lagi.
Dan kini tangan Bu Indah, beralih ke keningnya dan mengecek suhunya.
"Rupanya demam ini anak" suara lirihnya dan tangan yang masih menempel membuat Anin membuka mata sedikit demi sedikit.
"Maaf Bu, Anin lagi gak enak badan boleh kah Anin beristirahat sampai badan Anin enakan lagi?" dengan suara berat ,Anin memohon pada Ibunya agar bisa beristirahat karena bukan tambah enakan yang di rasakan nya malah sakit di sekujur tubuhnya.
"Baik, Ibu kasih keringanan dan setelah itu kerjakan tugasmu seperti biasa, lagian aku tak mau hanya karena kamu sakit tak ada pemasukan ngerti kamu!" setelah berbicara dengan nada marah Bu Indah keluar dari kamarnya Anin.
Sedangkan Anin hanya bisa menangis meratapi nasibnya saat ini, karena ibunya hanya peduli dengan uangnya tanpa memikirkan keadaan Anin yang terbaring sakit.
Suara dering Handphone membuat ia seketika menghentikan tangisannya dan mengusap butiran bening yang berada di pipinya.
Ternyata yang menelpon adalah sahabatnya ,Niko.
["Halo Nin, kamu gak ada masuk hari ini kenapa?"] tanya Niko, pada Anin, dan memang Anin tak ada izin untuk libur kerja di karenakan ia baru saja bangun.
["Maaf Kak, gak sempet minta izin. Aku lagi gak enak badan hari ini jadi izin tidak masuk."] Suara parau Anin membuat sang sahabat curiga karena tak seperti biasanya, mendengar suara seseorang yang berada di balik telepon itu yang sudah di anggap saudaranya, terdengar lirih dan seperti orang yang sehabis menangis.
["Ok, baik lah kamu istirahat saja biar cepat sembuh."] Tuut.
Panggilan langsung di putus oleh Niko.
Kenapa Kak Niko tiba-tiba main putusin sambungan telepon? apa Kak Niko marah denganku, karena tak ada izin untuk libur kerja.
Aku yang saat ini tengah memikirkan Kak Niko yang marah denganku. Di tambah kepalaku yang teramat sakit membuat aku tak bisa berpikir, apa karena aku sebelumya tak meminta izin atau kah ada hal lainnya yang membuatnya marah, entah lah.
Sedangkan di gudang, Niko sama sekali tak bisa berkonsentrasi terhadap pekerjaannya karena pikirannya tertuju pada Anin, dan ia takut kalau Anin mengalami sesuatu karena sewaktu di telepon tadi terdengar suaranya yang parau, dan begitu sangat loyo sewaktu menjawab ucapan dari Niko.
Semoga Anin tak kenapa-kenapa, dan sepertinya gue harus mastiin sendiri bahwa dia sedang baik-baik saja. Batin Niko, karena ia tak tenang jika tak melihat secara langsung keadaan dari sang sahabat rasa saudara itu.
"Eh, lu dari tadi ngelamun saja dari tadi gue perhatiin. Ucap salah satu temannya.
" Siapa yang ngelamun?" tanya balik Niko pada teman kerjanya.
"Kalau lu gak ngelamun, gak mungkin lu mantengin itu komputer dan tangan lu diam di atas keyboard." Ck..Ck.. terdengar suara decikan dari sang teman, namun yang di ajak bicara masih terfokus di lain tempat.
"Nah loh ngelamun kan, apa gue bilang. ngaku gak lu sekarang?" goda temanya yang bernama Adam.
"Bukan urusan kamu pergi sana! gangguin orang yang lagi kerja saja lu," sewot Niko.
"Apa yang lu kerjain dari tadi otak kamu berkelana terus." Sahut Adam yang tak terima dengan ucapannya, sedang yang dilihatnya memang sesuai kenyataan. Dan Adam pun bertambah yakin bahwa Niko sedang ada masalah.
"Kalau gue lagi mikirin cewek emang napa lu, udah pergi sono! liat lu ngebuat mata tambah sepet tau gak."
"Eh buset , di kira apaan gue."
"Hye, baru nyadar gue kalau Anin gak ada di gudang ya?"
"Iya, tadi minta izin gak masuk katanya lagi gak enak badan."
"Oh, gue tau sekarang lu gak fokus karena Anin gak masuk kan. Tega lu ya macarin bocah inget lu udah berumur,"
"Sekali lagi lu ngomong gue timpuk pakai buku ya? pergi gak lu." Belum sempat Adam melanjutkan ucapannya, sudah keburu di potong oleh Niko, karena ia sangat kesal dengan temannya yang suka kepo urusan orang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
mom mimu
aku mampir lagi kak, semangat 💪🏻
2022-10-30
0
auliasiamatir
Mak durhaka
2022-09-16
0