Ada rasa lega yang di rasakan Anin saat ini. Karena merasa puas dengan ia mengeluarkan segala isi hatinya kepada Niko.
Dan mie yang di masaknya tadi kini dia memakan sedikit demi sedikit setelah kata-kata wejangan yang di berikan oleh Niko terhadap Anin.
Akhirnya satu mangkok berisikan mie kini telah tandas olehnya, dan sekarang ia akan bersiap-siap untuk mencari tambahan uang dengan cara menemani seseorang entah itu tua atau muda bagi Anin itu tak penting dan masa bodoh! yang terpenting kini dia akan mendapatkan uang lagi.
"Mau kemana kamu malam-malam dasar keluyuran saja bisanya!" suara Ibunya yang menggema di seluruh ruangan membuat ia langsung menghentikan kakinya yang sedang berjalan, karena Niko sudah menunggu yang tak jauh dari rumahnya.
"Keluar cari angin, biar gak sesak."
Jawabku pada Ibu dengan nada ketus.
"Dasar anak durhaka! ngomong sama orang tua gak ada sopan-sopan nya."
"Sudah kalau ceramah, kalau sudah aku mau keluar di depan sudah ada yang menunggu." Karena aku yang malas berdebat dengan Ibu memilih kata singkat untuk menjawabnya.
"Dasar anak tak punya sopan kamu ya! orang tua lagi bicara main nyelonong keluar!" teriaknya pada Anin. Lantas Anin pun yang sudah berjalan untuk membuka kenop yang berada di pintu lantas ia putar badan dan menghampiri Ibunya.
"Lantas di sini yang harus di salah kan siapa? jika aku menjadi anak tak beradab apa salahku juga, dan jika aku menjadi anak tak berpendidikan apa itu salahku juga, dan sekarang pun menjadi seorang anak tanpa mempunyai sopan santun apa itu kesalahan untukku, jawab aku! dan jangan hanya bisa diam dam marah karena keteledoran anda sendiri."
"Lagi pula selama ini apa pernah Ibu mengajarkan tata krama, selama ini apa pernah Ibu mengajarkan soal kesopanan, dan selama ini apa pernah ibu mendidik aku dengan segala ilmu pengetahuan yang Ibu miliki untuk di tanamkan di sini! sama sekali tidak!"
Sambil menunjuk kepalaku sendiri aku meluapkan emosiku lagi dan lagi.
Dan Ibu hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun yang terlontar di mulutnya.
Sesungguhnya aku lelah di perlakukan seperti ini, ingin rasanya keluar dari rumah dan memulai kehidupan baru tanpa ada yang mengusikku. Mengganggu ketenangan ku serta menjadi sapi perah bagi mereka. Namun aku belum cukup uang untuk keluar dari rumah itu.
Setelah Anin puas mengeluarkan kata-kata yang menurutnya pantas untuk di lontarkan pada Ibunya, kini dia berjalan lagi menuju pintu keluar karena Niko takut akan menunggunya lebih lama.
Dan terlihat Bu Indah diam beribu bahasa, seakan kata demi kata yang di ucapkan sang anak, seperti sembilah pisau yang menancap tepat di jantungnya, karena Bu Indah tak pernah mengira bahwa Anin akan berkata seperti itu, Namun nyatanya Anin dengan lantang dan berani serta sama sekali tak mengeluarkan air mata membalas ucapan dari sang Ibu.
"Nin, lama amat habis ngapain sih?" tanya Niko pada Anin.
Namun yang di tanya hanya diam.
"Nin, jawab aku,"
"Anin pun masih diam, dan tiba-tiba memeluk erat seseorang yang berada di hadapannya.
" Hye, coba bilang kenapa? jangan nangis gini kakak kan jadi bingung."
"Hiks..hiks..hiks..kenapa Kak, kenapa mereka jahat sama aku Kak, apa salah aku sampai aku menerima semua ini."
"Sudah ya, jangan nangis lagi di sini ada Kakak, yang selalu ada buat kamu. Jadi usah kamu bersedih,"
"Tapi mereka kak, dan Ibu, Ibu begitu tega denganku, apa aku memang bukan anaknya hinga mendapat hal yang berbeda di antara yang lain."
"Doakan semoga Ibu kamu sadar bahwa kamu pun berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayang, dan jangan lupa bahwa kamu pun terlahir dari rahimnya yang bagaimana kamu pun harus tetap menghargai pengorbanannya saat melahirkan kamu."
"Jika ada pilihan maka aku tak pernah minta di hadirkan Kak! jika aku pun harus menerima ketidak adilan, apa belum cukup dengan menyiksa batinku sedari kecil hingga saat ini, apa belum puas jika aku benar-benar terjatuh hingga nyawaku terpisah dari ragaku."
Seakan tak ada habisnya penderitaan yang di lalui oleh Anin, Ibu mana yang tega menorehkan luka setiap hari pada anaknya? sejatinya anak adalah titipan sang illahi, namun berbanding dengan apa yang di rasakan Anindiyah. Hanya luka kecewa sakit hati yang ia dapatkan dari sang Ibu.
"Udah jangan nangis nanti cantiknya ilang loh, ya udah kita berangkat ya?"
"Maaf."
"Sstt, udah jangan minta maaf. Kakak tau apa yang kamu rasakan, jadikan ini menuju impianmu dan raih lah kebahagiaan di masa mendatang.
Mereka pun akhirnya menuju tempat di mana Anin harus menemani seseorang, dan semoga saja apa yang di katakan Niko pada Anin itu memang benar, jika ia hanya minta di temani tak lebih dari itu.
Sekitar 20 menit sesampainya di tempat.
"Hye bro, gue udah bawa apa yang lu cari, kenalin ini Anindiyah. Dan Nin kenalin ini temen Kakak namanya Erik.
" Hye gue Erik."
"Saya Anin."
"Ya udah makasih ya bro, udah mau cariin apa yang gue butuhin, dan lu tenang saja sesuai perjanjian awal, Ok."
"Beneran lu ya, gue gak mau ada yang lebih karena gue penjaganya Anin, jadi gue gak mau kalau dia kenapa-kenapa?"
"Iya, lu tenang saja."
Saat pertemuan itu Niko pun memberi peringatan pada temannya Erik, agar menjalankan sesuai kesepakatan pertama di mana Erik meminta Niko di carikan teman untuk di ajak jalan. karena Erik selalu mendapat olokan dari para temannya karena tak mempunyai gebetan.
Sedangkan di rumahnya Anin.
"Lama-lama aku usir itu anak, berani-beraninya sok nasehatin orang tua lihat saja nanti kamu ya"
Bu Indah berbicara sendiri seraya tak terima akibat jawaban yang di lontarkan Anin, mampu membuat ia mati kutu.
"Eh, tapi kalau ku usir siapa dong yang cari uangnya" sambil mondar-mandir dengan jemari di taruh nya di dagu serta berdecak pinggang, Bu Indah memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba Bruk..
"Ibu apaan sih udah kek setrikaan! pakai nabrak pula," sungut Edi kepada Ibunya.
"Kamu juga ngapain pakai jalan sambil mainan Handphone, kalau nabrak Ibu juga yang di salain dasar."
"Emang Ibu, ngapain sih pakai mondar-mandir?" karena aku penasaran makanya aku bertanya pada Ibu, dan ada yang di pikirkan olehnya.
"Pusing mikirin si anak sialan itu,"
"Lah emang apa yang di lakuin sama dia ke, Ibu?" Edi pun bertanya penuh selidik, dan entah kapan mereka berdua akan akur dan tak seperti tikus dan kucing lagi.
"Ia tadi aku maki-maki dan ku bilang kalau dia gak punya sopan dan tata krama terhadap orang yang lebih dewasa, eh jawabannya malah bikin geleng."
"Lagian udahan napa sama Anin musuhan nya lama-lama aku kasian juga sama itu anak Bu!"
"Alah kamu diam sajalah sekarang gak perlu ikut campur sama urusan ,Ibu."
Bu Indah yang mendapat teguran dari putra bungsunya malah ganti memarahinya, dan itu membuat Edi bergeleng kepala atas kelakuannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akan kah Bu Indah dapat sadar atas kelakuannya, dan yang telah menyakiti mental anaknya yang tak lain adalah Anindiyah Qoirunisa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
mom mimu
2 bab dulu untuk hari ini kak, semangat terus 💪🏻
2022-10-27
0
Saudah14
Aku stay tune kak 😃🙏
semangat up nya
2022-10-22
0
auliasiamatir
jangan jangan Anin bukan anak nya Bu indah ya Thor, jahat amat
2022-09-03
1