Sedang di lain tempat, tepatnya di rumah Anin. Ibunya seharian marah-marah tak jelas karena merasa kesal seharian ini di penuhi oleh pekerjaan yang ia kerjakan sendiri. Sambil menghentak kan kakinya ia menuju tempat tidur dimana Sulaiman sedang terbaring menunggu sepiring Nasi. Sedang di dalam kamar Anin yang merasakan perutnya sakit dan lama kelamaan semakin sakit karena sedari pagi ia belum memakan apa-apa. Dan Ibunya pun sama sekali tak memikirkan Anin yang sedang terbaring lemah hingga sore menjelang.
Brum..brum..Suara sepeda motor Sport yang terparkir di depan rumah Anin, membuat Ibunya yang berada di dalam keluar karena penasaran kira-kira kendaraan siapa?.
"Assalamualaikum, permisi,"
"Waalaikumsalam, oh kamu to, ada apa?"
"Saya mau bertemu Anin, apa anaknya ada Bu,"
"Ada masuk saja, palingan juga itu Anak sekarat di dalam kamar."
Deg.. Astagfirullah aku hanya bisa membatin bagaimana bisa seorang anak yang sedang sakit, bukan malah di berikan perhatian malah ucapan yang tak pantas di lontarkan oleh seorang Ibu.
Sambil berjalan masuk aku mengelus Dada, karena merasa simpati atas Ibunya Anin.
"Itu kamarnya."
Sambil telunjuknya menuding ke arah kanan lantas aku mengikuti apa yang di katakan olehnya.
"Ya Allah Anin! kamu kenapa bisa seperti ini,"
"Kak Niko! dari kapan Kakak di rumah?"
"Kamu gak perlu ngeles dengan pertanyaan yang gak penting! sekarang kita periksa ya, terus kamu udah makan apa belum,"
namun yang di tanya hanya diam tanpa menjawabnya.
"Ja-jadi kamu belum makan seharian ini,"
Anin hanya menggelengkan kepala saat pertanyaan kedua yang di berikan oleh Niko.
Bagaimana bisa seorang Ibu tega menelantarkan Anak yang sedang sakit! sungguh keterlaluan dan sudah di luar batas kelakuannya. Dalam batin Niko mengumpat habis-habisan karena kesal atas perilaku yang di tujukan untuk Anin.
"Sekarang bangun ya, aku tadi beli bubur dan setelah itu kita periksa! dan Kakak gak nerima penolakan ngerti kamu!"
Saat aku masuk dan melihat kondisi Anin yang lemas serta wajah yang pucat aku pun tak tega melihatnya. Di tambah lagi seharian ini Anin sama sekali tak memakan Apa-apa meski itu hanya sekedar roti.
Sungguh berat beban hidup kamu Nin, dan aku berdoa kelak kamu akan menjadi seseorang yang berguna serta bermanfaat untuk orang lain.
Hiks..hiks..hiks..
"Kenapa nangis hem, coba bilang apa ada yang sakit,"
Sambil menangis Anin memeluk erat tubuh seseorang yang berada di hadapannya, dan orang itu pun membalas pelukan Anin serta mengelus lembut pundak yang saat ini di peluknya.
"Udah ya jangan nangis lagi,"
Huhuhu.. "Maaf sudah merepotkan kamu,"
"Jika kamu mau kata maaf dariku, maka kamu harus menurut sama gue ya?"
Aku pun tak tau nasibku akan seperti apa! jika saja Niko tak datang menengok ku, bisa di pastikan keesokan harinya aku sudah terbujur kaku bak Bangkai yang terbuang. Aku pun sangat berterimakasih terhadap Niko, yang sudi merawatku saat ini. Dan semoga kelak aku bisa membalas jasanya yang sudah terlalu banyak yang di berikan padaku.
Dan di saat mereka keluar kamar itupun belum sampai di ambang pintu, kini mereka di hadang oleh Ibunya Anin.
"Mau kemana kalian?" ketusnya.
"Saya Izin membawa Anin untuk periksa Bu, kasian Anin, udah kesakitan,"
"Alah itu mah akal-akalan dia doang."
"Dasar anak manja." Makinya lagi terhadap Anin.
"Sudah Bu, kami permisi dulu."
Tak ada jawaban yang terlontar dari bibir Ibunya Anin, saat mereka berpamitan kepadanya.
Sesampainya di klinik Anin di suruh duduk, sedang Niko mengambil nomor antrian, dan Niko mendapat nomor antrian 5.
"Kamu kuat kan Nin, kalau gak kuat rebahan saja di paha Kakak biar kepala kamu gak sakit,"
"Insya Allah kuat kok Kak." Jawab ku pada Kak Niko dengan suara yang lirih namun masih bisa terdengar olehnya.
"Nin, apa gak sebaiknya kamu ngekos saja, biar nanti Kakak carikan kosan yang dekat dengan pabrik?"
"Makasih Kak, tapi biarlah begini dulu, nanti kalau aku sudah menyerah maka aku akan keluar dari rumah itu,"
"Tapi aku tak tega jika kamu di perlakukan seperti itu, dan Ibu kamu sama sekali tak punya hati nurani sedikit pun terhadap kamu, dan kelakuannya tak menggambar ia sebagai orang tua."
"Aku pun sudah terbiasa dengan apa yang di lakukan Ibu padaku Kak, jadi kamu jangan kuatir. Aku bisa mengatasi sendiri,"
"Ingat Nin, kamu masih punya Kakak. Dan anggap aku sebagai Abang kamu, jadi jika kamu butuh sesuatu bilang sama Kakak, dan selama Kakak mampu dan bisa! maka aku akan berusaha membantu kamu."
"Dengan Antrian nomor lima." Sara suster yang sedang memanggil mereka berdua.
"Maaf Mas ini siapanya pasien ya?" tanya si suster.
"Saya Abangnya Sus."
"Ya sudah boleh temani masuk,"
"Baik sus terimakasih."
"Sama-sama."
"Dok, sakit apa ya Adik saya?"
"Adik Mas, terkena tifus akibat telat makan dan banyak pikiran, jadi usahakan jangan sampai telat makan jika tak mau bertambah parah, dan nanti saya akan jelaskan mengenai makanan apa saja yang boleh di makan dan yang tidak boleh di makan." Terang Dokter yang memeriksa Anin.
"Ya sudah ini resep obatnya mohon di tebus."
"Kak!" panggilku pada Kak Niko.
"Kenapa Nin?" tanya nya pada Anin.
"Pasti mahal administrasinya aku gak punya uang Kak, buat bayar,"
"Kamu jangan mikir itu dulu, itu biar Kakak yang urus! yang terpenting kesehatan kamu."
"Ta-"
"Stop! jangan bicara lagi, dan lebih baik kamu diam!" dengan nada kesal dan aku pun Belum selesai berkata namun sudah terpotong oleh ucapan Kak Niko. Dan akhirnya aku memilih diam takut terkena bentakannya lagi.
Tak berapa lama setelah Niko mengambil obat yang sudah diresepkan sang Dokter, Niko pun berceloteh lataran memberi penjelas kepada Anin, makan apa saja yang boleh di makan dan tidak boleh di makan, begitu pula dengan minuman. Karena penyakit yang di derita Anin cukup parah.
"Paham kan, apa yang Kakak jelasin barusan,"
"Paham Kak."
"Ya sudah kita pulang, tapi sebelum itu kita mampir ke minimarket dulu.
...****************...
Anin kuat karena ada setitik penyemangat untuk ia menjalani hari-harinya, dan Anin pun tak bisa membayangkan jika saja dia tak mengenal Niko, kemungkinan Anin sudah depresi akibat tekanan batin yang di berikan keluarganya sedari kecil. Dan Abangnya pun Acuh terhadapnya tanpa ingin membela Adik perempuannya satu-satunya. Dan ia hanya bisa diam dan menyalahkan Anin juga. Awal Anin menikmati menjadi seorang yang Hina menjadikan berkah dan ladang pencariannya. Akan kah kehidupannya akan berubah atau malah ia menikmati sebagai perannya!.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 99 Episodes
Comments
Dewi
Niko jauh lebih baik dibandingkan ibunya Anin, salut aku sama Niko baik banget...
2022-11-18
0
mom mimu
Anin aku mampir lagi, semangat 💪🏻💪🏻
2022-11-06
0
auliasiamatir
alasan Mak nya membenci anin kurang masuk akal kak, masa ia cuma karena Anin di sayang bapaknya ... 😔 dasar nak di Ting
2022-09-16
0